
"Isinya apa, sih, Hunny?" tanya Malik penasaran.
"Bukan apa-apa, cuma belanjaan cewek aja, Hubby. Besok juga kamu lihat, kok!"
"Hm, yaudah suka hati kamu, lah! Ayo istirahat!" ajak Malik, seraya berjalan ke arah ranjang.
"Kamu istirahat dulu, aku mau mandi dan sholat bentar," balas Rihanna yang diangguki oleh Malik.
Rihanna masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dari firus jahat yang mungkin menempel saat dia diluar tadi. Sementara itu, Malik yang baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang, justru langsung terjatuh ke dalam mimpi.
Wanita hamil itu melaksanakan ibadah sholat isya sebelum tidur. Beberapa saat kemudian, Rihanna telah selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dia tersenyum lembut saat melihat wajah damai sang suami yang sudah terlelap.
Rihanna berjalan mendekati suaminya, lalu duduk di pinggiran ranjang. Netranya menatap dalam-dalam wajah tampan itu yang sudah berhasil merebut seluruh hati dan pikirannya.
Tangan kanan Rihanna terulur, lalu membelai lembut kening suami tercinta. "Kamu adalah berkah Tuhan yang berhasil menjungkirbalikkan seluruh kehidupanku, Malik. Terima kasih sudah berusaha mendidikku dengan baik," gumam Rihanna, wanita itu menurunkan sedikit demi sedikit kepalanya hingga mengikis jarak antara wajah cantiknya dengan rupa tampan sang suami. Rihanna mengecup singkat bibir laki-laki yang tertidur pulas di sisinya.
Rasa lelah dan tidak enak badan membuat Malik sama sekali enggan membuka matanya, padahal dia dapat merasakan sentuhan lembut dari tangan mulus, beserta kecupan singkat di bibirnya. Namun, Malik mengira itu hanyalah mimpi.
*****
Malik mengerjapkan kedua matanya yang sejak tadi masih terpejam saat merasakan silau. Sinar matahari menembus masuk melalui kaca jendela yang tirainya sengaja dibuka. Ketika kedua mata itu terbuka sempurna, Malik terkejut. Dia segera beranjak dari ranjang saat melihat seseorang berhijab yang sedang berdiri memunggunginya dengan pandangan mengarah keluar jendela.
Seorang wanita itu berpakaian gaun panjang berwarna biru langit dengan hijab warna senada. Meskipun dari belakang, Malik yakin bahwa wanita itu bukanlah sang ibu – Riani.
"Siapa kamu?" tanya Malik dengan nada sedikit meninggi.
Malik berkacak pinggang, sorot matanya menunjukkan rasa keterkejutan karena mengira wanita lain yang masuk ke kamarnya. Dia menoleh ke arah pintu kamar yang sialnya dalam keadaan tertutup. Malik semakin panik, akan tetapi saat dia kembali melihat ke arah si wanita, dia semakin terkejut ketika wanita itu membalik badannya.
__ADS_1
Kedua matanya terbuka lebar dengan mulut menganga. Bagaimana tidak, seorang wanita yang dia kira adalah orang lain ternyata istrinya sendiri. Namun, dalam penampilan yang berbeda. Wanita yang biasanya membiarkan rambutnya tergerai indah itu, kini terlihat menyembunyikannya dalam balutan hijab berwarna biru langit.
Rihanna berjalan mendekati Malik yang masih dalam keadaan terpaku. Suaminya itu terus menatapnya dengan ekspresi cengo.
"Hubby," panggil Rihanna dengan suara lembutnya, tetapi Malik sama sekali tidak merespon. Dia masih sibuk dengan dunianya sendiri sepertinya. Rihanna yang ikut bingung terus mengulang memangil nama sang suami. Namun, yang dia dapatkan hanya diamnya seorang Malik.
"Malik!" seru Rihanna, sambil menepuk pelan dada bidang suaminya. Kini, barulah Malik tersadar.
"Iya," jawabnya singkat, Malik masih bingung untuk merangkai kata.
"Kamu kenapa?" tanya Rihanna dengan dahi berkerut.
"C-co-ba cu-bit a-ku, Kay!"
"Ha!"
"Cubit aku, Hunny."
"Aw … sakit, Kay!" jerit Malik mengasuh kesakitan.
"Ya kan kamu yang minta," ucap Rihanna dengan cengiran khasnya.
"Ya tapi jangan keras-keras." Malik mengusap-usap bekas cubitan Rihanna.
"Maaf, Malik, sakit, yah?" tanya Rihanna merasa bersalah.
"Sakit, Hunny."
__ADS_1
"Memangnya kamu minta aku cubit buat apa?" tanya Rihanna yang masih belum mendapat jawaban atas rasa bingungnya.
"Buat mastiin, aku lagi mimpi apa enggak."
"Kamu udah bangun, Hubby!"
"Berarti aku enggak mimpi? Ini beneran kamu?" Malik memegang bahu sang istri dan memutar tubuh Rihanna pelan-pelan, Rihanna yang diputar-putar oleh Malik, pun merasa kesal.
"Malik, lepas!" pekik Rihanna kesal, dia merasa pusing karena diputar beberapa kali oleh suaminya sendiri.
"Kayla, ini beneran kamu, istriku, loh!"
"Ya emang aku istri kamu, Malik."
"Aku kira bidadari nyasar tadi," ucap Malik yang seketika menciptakan rona merah di pipi Rihanna.
"Mana ada bidadari kaya aku."
"Tapi bener deh, kamu kaya gini jadi seperti bidadari tak bersayap," puji Malik berlebihan.
"Malik, enggak usah lebay gitu, ah. Nanti aku terbang gimana?"
"Ya enggak mungkin, Hunny. Kamu kan bidadari tak bersayap. Mana bisa terbang?"
"Terus kamu Malik apa kelinci, sih?"
"Kok kelinci?"
__ADS_1
"Ya habisnya kamu sekarang jago ngegombal. Mau jadi playboy?"