
Danendra baru saja memerintahkan anggotanya untuk mencari Gerry. Mereka pun melacak posisi terakhir sang tangan kanan Danendra itu. Namun, mereka tidak menemukan keberadaan Gerry.
Mereka pun memutuskan untuk menggali informasi di titik terakhir terpancarnya sinyal dari ponsel si sekretaris. Berdasarkan informasi dari warga sekitar, dua hari lalu terjadi kecelakaan tunggal di tempat itu.
"Jadi korbannya di bawa ke rumah sakit mana, Tuan?" tanya salah satu utusan Danendra.
"Saya kurang tahu, Tuan. Tapi coba cari saja di rumah sakit terdekat daerah sini," jawab si pemberi informasi.
"Baiklah, kami permisi dulu."
Utusan Danendra yang berjumlah tiga orang itu benar-benar mencari ke rumah sakit terdekat. Namun, mereka sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun tentang atasan mereka.
Para utusan Danendra itu kembali menemui sang tuan muda untuk melaporkan informasi tentang Gerry. Saat mendapat informasi tersebut, Danendra semakin pusing karena sama sekali tidak ada tanda-tanda ke mana sekretarisnya itu sekarang.
"Tenang, Sayang. Semoga saja Gerry secepatnya kembali. Mungkin saja dia sedang membutuhkan waktu sendirian," kata Adeline berusaha menenangkan hati suaminya.
"Tapi kalau terjadi apa-apa, bagaimana?"
"Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Doakan saja agar Gerry baik-baik saja," timpal Adeline.
Wanita itu tahu, Danendra sangat mengkhawatirkan orang kepercayaannya itu. Namun, Adeline juga tidak ingin suaminya sakit hanya karena memikirkan keberadaan Gerry.
"Aku tidak berpikir negatif, Sayang. Aku hanya … menarik kemungkinan terburuknya," ucap Danendra lemah.
"Sudahlah, tidur saja dulu, Sayang. Sejak kemarin kamu sibuk mengurus pekerjaan terus, loh! Aku tidak mau kamu sakit."
*****
Keesokan harinya Danendra berangkat menuju kantornya. Dia sebenarnya sangat kelelahan. Namun, kewajibannya sebagai seorang pemimpin perusahaan tentu tidak bisa dikesampingkan.
Saat dalam perjalanan, beberapa kali Danendra berusaha menghubungi Gerry. Sayang, hasilnya masih belum jelas. Ponsel Gerry belum bisa dihubungi.
"Ke mana sebenarnya kau, Ger? Tidak biasanya seperti ini," gumam Danendra galau, sudah seperti seorang remaja yang baru putus cinta.
Danendra membawa kegundahan hatinya hingga ke perusahaan. Setiap karyawan yang menyapanya sama sekali tidak dia pedulikan. Dia seperti kembali pada jati diri awal yang dingin dan tidak tersentuh.
Dari belakang, tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Reflek, Danendra menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang berani sekurang ajar itu sampai menepuk bahu pemimpin ALF Group.
"Gerry!" serunya dengan mata mendelik.
"Tuan Muda," sapa Gerry, sadar bahwa dia telah berlaku kurang ajar, dia pun segera menurunkan tangannya.
Di luar prediksi, Danendra sama sekali tidak memarahinya. Bosnya itu justru memeluknya dengan sangat erat. Beberapa karyawan bahkan menatap mereka dengan ekspresi cengo.
"Tuan muda, jaga nama baik anda. Mereka menatap kita dengan –"
Belum selesai Gerry berbisik, Danendra buru-buru melepaskan pelukannya. Dia bergidik saat sadar perbuatannya tadi memancing perhatian khalayak ramai.
"Ke ruanganku sekarang!" perintahnya sebelum dia berlalu pergi dari sana.
Usai kepergian Danendra, Gerry menatap para karyawan yang tadi menatap mereka, "Kerja! Jangan cuma bisa makan gaji buta."
Pria yang sudah sepuluh tahun menjadi sekretaris Danendra itu segera menyusul bosnya ke ruangan. Dia tahu, Danendra pasti akan menceramahinya karena menghilang selama beberapa hari.
"Tuan muda," sapa Gerry setelah masuk ke ruangan CEO.
Si pemimpin perusahaan sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen yang sudah beberapa hari berada di meja. Pria itu menoleh sekilas pada si sekretaris.
"Kenapa malah berdiri di sana?" tanyanya, "Sini, bantu selesaikan pekerjaan. Kau benar-benar keterlaluan, Gerr."
Mulut laki-laki itu memang mengomel, tapi matanya melirik ke arah kepala sang sekretaris yang masih terbungkus kain perban.
"Maaf, Tuan." Gerry segera membantu memeriksa dokumen-dokumen penting perusahaan. Dia berdiri tepat di samping sang tuan muda.
"Kepalamu kenapa?" tanya Danendra tanpa melepas fokusnya pada dokumen di tangan.
"Terbentur setir mobil, Tuan," jawab Gerry yang juga masih fokus pada dokumen di tangannya.
"Kau kecelakaan?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat.
"Bagaimana bisa?" tanya Danendra yang kini menatap lekat-lekat sang sekretaris.
"Saya hanya manusia biasa, Tuan. Wajar jika saya melakukan kesalahan," jawabnya apa adanya.
Danendra kembali melanjutkan pekerjaannya, "Kau pesimis sekali, yah!" sindirnya sinis.
"Maaf, Tuan." Hanya itulah yang diucapkan oleh Gerry.
Ujung mata Danendra melirik sang sekretaris yang agak lain dari biasanya. Laki-laki yang biasanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi itu kini tiba-tiba berubah lebih insecure. Entah apa yang menjadi penyebabnya.
"Kau ada masalah, Ger?" tanya Danendra setelah sekian lama hanya memperhatikan diam-diam si sekretarisnya.
"Tidak, Tuan," jawab Gerry masih seadanya saja.
"Aku tidak percaya, Gerr. Kau berusaha membohongiku, yah!"
Gerry menghentikan kegiatannya yang tadi sedang memeriksa beberapa dokumen. Dia menatap tuan mudanya dengan raut frustasi.
"Saya putus dengan Indira, Tuan," ungkap Gerry pada akhirnya.
"Hah! Putus? Bukankah kau berniat melamarnya dua hari yang lalu?"
"Ya, saya memang akan melamarnya. Tapi, ternyata dia tidak pantas bersanding dengan saya," kata Gerry, dia menjatuhkan dirinya di kursi putar di depan tuan mudanya.
"Alasannya?" tanya Danendra, alisnya bertaut.
"Dia mengkhianati cinta saya, Tuan."
*****
Sementara itu, di gedung perusahaan lain yang tidak kalah pamor dari perusahaan Danendra. Seorang wanita berjalan lesu menuju ruang kerjanya. Dia terpaksa tidak sarapan demi menghemat uang.
Ketika sudah sampai di ruangan pribadinya, dia menjatuhkan diri di kursi kerja. Terlalu lemas, dia bahkan hendak menjatuhkan kepalanya di meja kerja. Namun, suara telepon kantor yang berbunyi membuat dia terpaksa mengurungkan niat.
"Iya, Bos," sapa si wanita kepada si bos yang menghubunginya.
Begitu panggilan berakhir dia segera beranjak menuju ruangan bosnya. Wanita itu melupakan hal yang biasanya dia lakukan yaitu mengetuk pintu sebelum membukanya.
Tanpa permisi dia masuk ke dalam ruangan sang bos. Malik sedikit kesal saat ada seseorang yang masuk tanpa meminta izin darinya lebih dulu. Dia pun hendak memarahi karyawannya itu. Namun, saat melihat raut wajah wanita yang menjadi sekretarisnya itu muram, Malik pun lupa dengan niat awalnya.
"Kamu kenapa, Cell?" tanya Malik yang tiba-tiba saja khawatir.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawabnya singkat, "Ada apa anda menyuruh saya datang?" tanyanya lesu.
"Loh! Kamu lupa kalau hari ini ada meeting? Seharusnya kamu yang mengingatkan saya, kenapa sekarang malah sebaliknya?" tanya Malik heran.
"Hah, meeting?" tanyanya terkejut.
"Kamu lupa?" tanya balik Malik curiga.
"Hemh, tidak, Tuan. Saya ambil dokumen yang diperlukan dulu," jawabnya gugup.
Usai Celine mengambil dokumen penting yang diperlukan untuk meeting dengan klien mereka pun bergegas menuju tempat yang sudah disepakati bersama klien perusahaan. Selama meeting berlangsung Celine banyak melakukan kesalahan. Beruntung Malik sigap mengambil alih, sehingga mereka tidak mengecewakan klien.
"Baik, kalau begitu kami permisi, Tuan Malik. Senang bekerja sama dengan anda," ucap si klien sambil mengulurkan tangannya.
Malik menerima uluran tangan si klien, dan mereka pun berjabat tangan. Begitu juga dengan Celine yang ikut bergantian menjabat tangan sang klien.
"Terima kasih karena sudah bersedia bergabung dengan kami, Tuan," kata Malik sebelum berpisah dengan kliennya hari ini.
Kini di ruangan VVIP sebuah resto ternama itu hanya tinggal Malik dan Celine. Sekretaris tomboi andalan Malik itu hanya bisa merunduk malu. Dia sadar akan kesalahannya yang hampir merugikan perusahaan.
Malik memperhatikan Celine yang memang bersikap aneh sejak di kantor tadi, "Cel, sebenarnya ada apa? Kamu punya masalah?" tanya Malik curiga.
"Em, maaf atas kesalahan saya tadi, Bos. Saya janji tidak akan mengulanginya," ujarnya, dia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Malik.
"Sebaiknya kamu jujur, Cel. Saya tidak ingin masalah kamu itu mempengaruhi kinerja kamu. Lihat tadi, kamu yang biasanya perfeksionis sekarang justru melakukan kesalahan yang cukup fatal."
__ADS_1
"Ma-af, Bos," katanya semakin merunduk malu.
"Saya akan memaafkan kamu jika kamu mau jujur pada saya, Cel," timpal Malik dengan raut wajah seriusnya.
"Adik saya perlu uang, Bos …," ucapnya menggantung.
"Lalu?" tanya Malik dengan cepat.
"Uang saya tidak cukup untuk biaya kuliah dia, Bos. Jadi, saya –"
"Kirim saja!" Malik mengulurkan ponsel miliknya yang sudah masuk pada aplikasi Mobile banking.
"Bos serius?" tanya Celine yang kini sedikit mengangkat wajahnya.
"Tulis saja rekening adikmu dan jumlah yang harus kamu kirimkan," balas Malik.
"Tapi, Bos–"
"Cepatlah, kita harus segera kembali ke kantor!"
Meski ragu-ragu, tetapi Celine terpaksa mengambil ponsel atasannya. Dia mengetikkan nomor rekening serta jumlah yang diperlukan oleh sang adik.
"Bos bisa potong gaji saya bulan depan," kata Celine seraya mengulurkan ponsel Malik.
"Tidak perlu. Anggap saja ini bonus dariku," sahut Malik.
Celine seketika menatap tak percaya pada atasannya itu. Padahal, dia belum lama bekerja dengan pria itu. Namun, bosnya ini sangatlah baik padanya.
"Terima kasih, Bos. Saya pasti akan meningkatkan kinerja saya agar tidak mengecewakan bos Malik," ucapnya dengan senyum sumringah. Dia lega karena masalahnya kali ini bisa terselesaikan dengan cepat berkat sang atasan.
"Lain kali jika punya masalah, jangan disembunyikan, Celine. Saya tidak ingin karyawan saya melakukan kesalahan yang dapat mengecewakan klien. Kalau ada apa-apa jangan sungkan, beri tahu saya!" peringat Malik kepada sekretarisnya.
"Baik, Bos. Sekali lagi terima kasih," ucapnya tulus.
Malik bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar dari ruangan VVIP itu diikuti oleh Celine. Keduanya kini hendak kembali ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Di dalam perjalanan menuju kantor, Malik sempat melirik Celine yang duduk di sebelahnya. Ada sedikit rasa penasaran karena baru kali ini sekretarisnya itu mengeluh perkara uang.
"Celine," panggil Malik tanpa melepas fokus dari jalanan di depannya.
"Ya, Bos," sahut Celine, dia menoleh ke arah Malik.
"Boleh saya bertanya?" tanya Malik dengan hati-hati.
"Tanya apa, Bos?"
"Apakah gaji yang saya berikan padamu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu?" tanyanya langsung pada poin penting.
Celine cepat-cepat menggeleng, "Bukan begitu, Bos. Tapi dua tiga hari yang lalu saya mendapat musibah," ungkap Celine.
"Musibah?" Kini Malik sejenak melihat raut wajah sekretarisnya, Celine terlihat jujur dan tidak main-main atas ucapannya barusan.
"Iya, Bos. Saat saya menyebrang jalan, saya hampir ditabrak oleh sebuah mobil. Tapi, mobil itu banting setir dan menabrak pohon." Celine mengambil jeda untuk menarik napas, "Korbannya tidak sadarkan diri. Makanya saya bawa ke rumah sakit. Setiap hari saya datang ke sana untuk mengecek kondisinya, tetapi kemarin dia sadar dan langsung kabur. Alhasil, saya lah yang harus membayar biaya rumah sakitnya," sambung Celine menyelesaikan ceritanya.
"Oh, mungkin dia dari orang tidak punya, Cel. Makanya dia kabur," sahut Malik mengungkapkan tebakannya.
"Mana ada. Dia orang kaya, Bos."
"Kamu tahu dari mana kalau dia orang kaya?" tanya Malik heran, karena sekretarisnya itu terlihat sangat yakin.
"Dari dompet ini. Di dalam sini ada black card seperti milik anda, Bos." Celine mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat milik laki-laki menyebalkan menurut Celine.
"Coba lihat," pinta Malik.
Si sekretaris segera menyerahkan dompet itu kepada atasannya. Malik yang penasaran pun membukanya. Di dalam sana ternyata juga ada kartu nama yang kemudian diambil oleh Malik untuk diperiksa.
"Gerry Reynaldi, sekretaris direktur PT ALF Group" gumam Malik.
"Bos kenal dengan cowok nyebelin itu?" tanya Celine saat atasannya terus melihat kartu nama itu.
__ADS_1
"Ini sekretaris Danendra, sepupuku, Cel," jawab Malik memberi tahu Celine.