
Adeline menoleh ke belakang dan mendapati sang suami menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Hal itu sedikit membuat perempuan dewasa itu sedikit merinding.
"Aku tidak punya kriteria suami," elak Adeline yang langsung bangkit dari duduknya. "Kau sudah selesai, bukan? Kita berangkat sekarang." Adeline sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
"Jangan buru-buru. Kamu masih perlu menjelaskan ucapanmu barusan! Jelas-jelas aku mendengar kamu bilang kriteria selama ini. Jangan mencoba membodohiku, Sayang."
Adeline yang sudah hampir melangkahkan kaki mengurungkan niatnya. Perempuan dewasa yang baru saja melepas predikat Perawan tua itu menarik napas dalam seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak peduli jika nanti make up di wajahnya itu akan tersapu dan berantakan oleh tangannya.
"Aku malas sekali membahas hal-hal tidak penting, Nendra. Kau mau kita lanjutkan pernikahan ini atau tidak?" ancam Adeline yang sudah frustasi.
Dia saja masih berusaha berdamai dengan masa lalu serta meyakinkan diri bahwa mungkin inilah takdir terbaik untuknya. Namun, suaminya itu justru menekannya dengan permasalahan tidak penting.
"Apa susahnya memberitahu suami, sih? Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu ingin aku bersikap."
Adeline membalikkan tubuhnya menghadap pada suaminya. "Aku hanya ingin kau bersikap dewasa, Nendra. Usiamu memang jauh di bawahku, tapi harusnya kamu tidak perlu kekanak-kanakan seperti ini!"
"Memangnya aku kekanak-kanakan seperti apa?" tanya Nendra menuntut.
"Kau selalu saja merengek seperti bayi jika menginginkam sesuatu. Aku jadi sanksi jika kau memang memegang jabatan sebagai CEO sebuah perusahaan ternama," jawab Adeline dengan suara sedikit meninggi.
Dia sudah sangat lelah menjalani kehidupannya yang selalu saja berjalan tidak seperti keinginannya. Entah kenapa dia merasa selalu sial dengan segala yang terjadi dalam dunianya.
"Aku merengek meminta apa? Jika kamu tidak percaya dengan jabatanku, tidak apa-apa. Bagiku itu tidak penting. Lebih bagus jika kamu sama sekali tidak tahu tentang aku yang sebenarnya," ujar Danendra yang ikut terpancing emosi.
"Oh, jadi itu maumu. Baiklah! Rahasiakan saja semuanya dariku. Aku sudah tidak terkejut dengan itu. Karena apa? Karena bahkan aku tahu namamu saat kita mengucapkan janji suci, kau sama sekali tidak berniat memberitahu aku tentang identitas mu sebenarnya." Adeline yang semakin kesal, akhirnya mengayunkan langkahnya masuk ke kamar.
Setelah kepergian adeline, Danendra baru tersadar oleh kesalahan yang sudah dia perbuat. Mungkin sang istri sampai detik ini belum mau memberikan haknya karena permasalahan itu. Dia merasa tidak dihargai oleh suaminya sendiri.
"Maaf, Adel. Aku memang bersalah padamu," gumamnya seraya mengejar langkah sang istri, akan tetapi kamar istrinya itu sudah dalam keadaan terkunci.
"Sayang, buka pintunya." Nendra mengetuk pintu kamar sang istri pelan.
"Jangan ganggu aku. Tinggalkan aku sendiri!" bentak Adeline dari dalam.
Perempuan dewasa itu memutuskan untuk menyetel musik dengan keras. Bermaksud untuk mengusir pria itu dari depan kamarnya.
__ADS_1
"Aduh, kenapa perutku sakit, yah?" gumam Adeline sambil meremas perutnya sendiri. "Ini tanggal berapa, sih?" Perempuan itu mengambil ponsel untuk melihat kalender.
"Sayang, aku tunggu disini, yah? Kalau ada apa-apa keluar saja," teriak Nendra yang sama sekali tidak di dengar oleh Adeline.
"Ah, pantas saja. Harusnya hari ini aku mendapatkan tamu bulananku," gumamnya seraya menaruh kembali ponselnya.
Sudah kebiasaan jika Adeline akan mendapatkan tamu bulanannya, perempuan dewasa itu selalu kesakitan di bagian perut.
Benar saja tidak lama kemudian dia merasakan ada yang keluar dari bagian intinya. Biasanya jika sudah mulai keluar rasa sakit itu akan perlahan menghilang.
"Aku harus segera memakai pemb*lut." Perempuan itu beranjak lalu mengobrak-abrik koper miliknya, akan tetapi tidak menemukan benda yang dicari olehnya itu. "Aku pasti lupa membawanya, lalu bagaimana ini? Tidak mungkin aku keluar untuk membelinya, 'kan?"
Adeline mondar-mandir di dalam kamarnya, bingung harus bagaimana. Tidak mungkin dia keluar untuk membeli barang tersebut ketika darah itu sudah menghalangi segala kegiatannya.
"Atau aku minta tolong pada Nendra saja? Tapi apa dia mau? Apa lagi kami baru saja bertengkar," ujarnya seraya menimang keputusan.
Akhirnya saat merasakan tamunya semakin banyak, Adeline memberanikan diri dan mengesampingkan gengsinya untuk meminta tolong pada sang suami. Perempuan dewasa itu membuka pintu kamar, dan seketika terkejut saat ada sosok yang tiba-tiba terjengkang ke belakang.
"Sayang," lirihnya yang langsung bangkit.
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan kepala Nendra. "Aku ngantuk sekali, Sayang. Entah kenapa, padahal aku tidak pernah tidur siang."
"Tidur kenapa tidak di kamar, malah nongkrong di depan pintu?" tanya Adeline heran.
"Aku sudah bilang akan menjagamu, jadi aku tidur disini."
Adeline menggeleng cepat, tingkah pria yang kini sudah menjadi suaminya itu memang benar-benar menguji kesabaran. "Terserah padamu. Aku butuh sesuatu, tolong belikan di supermarket terdekat!"
"Mau beli apa, Sayang? Biar Gerry yang belikan," ucap Nendra yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya. "Sakit, Adel," pekik Nendra seraya berusaha melepaskan cubitan maut sang istri.
"Aku minta kamu yang beli, kenapa harus menyuruh Gerry?" tanyanya kesal seraya melepaskan cubitan di perut sang suami.
Nendra mengelus bekas cubitan istrinya itu. Dia yakin, pasti kulitnya memerah atau bahkan terkelupas karena ulah Adeline.
"Dia kan asistenku," jawab Danendra yang masih tidak peka.
__ADS_1
Seketika kedua mata Adeline melotot. "Lalu untuk apa aku menikahimu jika semua kebutuhanku Gerry yang mengurus?"
"Memangnya kamu mau minta belikan apa?" tanyanya dengan wajah tertekuk.
"Belikan aku pemb*lut! Tamuku datang hari ini," ujar Adeline yang langsung berniat menutup pintu.
"Tamu, apa hubungannya tamu dengan benda itu?" tanyanya sedikit bergumam.
"Nendra! Cepat belikan." Teriakan Adeline membuat Danendra langsung lari terbirit-birit, pria itu takut jika sang istri akan marah-marah lagi.
Kini Danendra sudah sampai di sebuah minimarket terdekat. Pria itu berkeliling tempat perbelanjaan itu untuk mencari barang yang di minta oleh istrinya. Namun, mata tajamnya sama sekali tidak dapat menemukan barang yang disebutkan oleh sang istri.
"Pemb*lut itu yang seperti apa? Aku sudah berkeliling tidak menemukan barang itu." Danendra menggerutu kesal.
Tidak menemukan barang yang diminta Adeline, pria itu memutuskan untuk menghubungi istrinya tersebut. Baru dering pertama, telepon langsung tersambung.
"Ada apa?" tanya Adeline dengan suara galaknya.
"Aku tidak tahu dimana tempat penyimpanan barang yang kamu mau, Sayang. Aku sudah berkeliling tapi tidak ketemu," jawabnya seperti anak kecil yang takut di marahi oleh ibunya.
Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. Danendra yakin bahwa saat ini istrinya itu akan berubah menjadi singa garang yang siap mencabik mangsa.
"Baiklah, baik. Biar aku tanya pada pelayan saja," ujarnya seraya mematikan sambungan telepon.
Danendra akhirnya memutuskan untuk bertanya pada pelayan di supermarket tersebut. Dimana letak barang yang di cari olehnya.
"Ada di sebelah sana, Pak." Pelayan menunjuk salah satu sudut barisan.
"Kau antarkan saja. Aku sudah malas membuang-buang waktu disini," ujar Danendra dengan nada dingin.
"Baik, mari saya antar," ucap si pelayan yang tetap ramah meski mendapatkan pelanggan menyebalkan seperti pria di depannya.
Pelayan itu mengantarkan Nendra ke tempat dimana rak barang yang di cari oleh pelanggan juteknya itu. "Silahkan, Pak. Mau yang bersayap atau tanpa sayap?" tanya si pelayan yang semakin membuat Danendra kesal berkali-kali lipat.
"Kau pikir istriku burung sampai harus memakai sayap?" bentaknya dengan suara lantang, bahkan beberapa pengunjung lain ikut menoleh ke arahnya.
__ADS_1