Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Pendarahan


__ADS_3

Seorang pria mengerjapkan matanya yang masih terpejam. Tidurnya terganggu oleh suara dering ponsel miliknya. Sudah berkali-kali dia mengubah posisi bahkan menutup telinganya menggunakan bantal. Namun, sepertinya orang yang menghubunginya tidak juga menyerah. 


Tangan kanan Danendra terulur meraih ponselnya yang masih saja berdering. Tanpa memeriksa siapa yang menghubunginya, laki-laki itu menerima panggilan tersebut. 


"Apa?" bentaknya dengan suara serak. 


"Dasar anak kurang aj*r." 


Suara makian itu seketika membuat kedua mata Danendra yang tadinya lengket seperti diberi perekat terbuka lebar. Dia langsung bangkit dari posisi telungkupnya karena terkejut oleh suara yang begitu memekakkan telinga. 


"Mama." 


"Iya ini mama. Aku pikir kau sudah lupa jika memiliki keluarga di sini," sindir Silvia. 


Danendra mengucek matanya bergantian. "Mama kok bilang gitu, Nendra di sini cuma kerja, Mam." 


"Aku tidak butuh uang recehmu, Nendra. Sekarang pulang! Istrimu sedang berjuang di ruang operasi." 


"Apa, Mam? Adel kenapa?" 


Rasa kantuk itu seakan lenyap begitu saja saat mendengar kabar sang istri yang masuk ruang operasi. 


"Masih tanya kenapa. Kau tidak sadar kalau istrimu itu sudah hamil tua!" pekik wanita itu geram. 


"Adel melahirkan?" tanya Danendra memastikan apa yang kini terlintas di otaknya.


"Iya. Cepat pulang sekarang atau kau akan menyesal." 

__ADS_1


"Oke. Aku pulang sekarang," jawab Danendra cepat. 


Dia melemparkan ponselnya ke kasur lalu bergegas masuk ke kamar mandi hanya untuk membasuh mukanya. Rasanya akan semakin membuang-buang waktu jika dia mandi lebih dulu. 


Danendra mengambil tas kerjanya yang berisi berkas-berkas penting serta laptop. Tidak mau repot membawa barang, Danendra meninggalkan semua pakaian serta kopernya. 


Antara sedih dan senang bercampur menjadi satu di hati laki-laki muda itu. Dia tentu saja senang karena akhirnya bayi yang sudah hampir 9 bulan berada di rahim Adeline akan melihat dunia, tetapi dia juga merasa sedih karena tidak dapat menemani wanita tercintanya itu untuk berjuang. 


Begitu panggilan berakhir Silvia bergabung dengan Nabila yang duduk dengan gelisah di kursi tunggu. 


"Belum selesai?" tanya Silvia setelah melihat lampu di atas pintu ruangan itu masih menyala. 


"Belum, Sil. Semoga saja Elin dan cucu kita sehat," jawab Nabila dengan ekspresi cemas. 


Keduanya duduk berdampingan dengan tangan saling bertaut. Saling menguatkan satu sama lain menunggu kehadiran sang cucu pertama. 


Wajahnya yang sudah ada beberapa kerutan meski tidak terlalu mencolok terlihat sangat cemas. Alefosio tentu saja langsung datang ketika sang istri mengabari bahwa Adeline akan melahirkan. Bukan hanya mengkhawatirkan keadaan cucu mereka, tetapi tuan besar Alefosio itu justru lebih mengkhawatirkan keadaan sang menantu. 


Dia sudah menganggap Adeline seperti putri kandungnya. Kasih sayang yang dia berikan bahkan lebih besar dari pada rasa sayangnya kepada Danendra, sang putra kandung. 


"Ma, gimana keadaan Elin?" tanya Alefosio cemas. 


"Dokter belum selesai melakukan operasi, Pa. Mama juga takut kalau Elin kenapa-kenapa," jawab Silvia tidak kalah cemas. 


Wajah Alefosio mendadak murka setelah benar-benar tidak melihat keberadaan sang putra di sana. 


"Nendra benar-benar belum pulang?" tanyanya dengan suara angkuh. 

__ADS_1


"Tadi mama udah telpon, katanya akan langsung terbang." 


"Lihat saja nanti, aku tidak akan memberikan sepeserpun hartaku untuknya. Dia benar-benar keterlaluan. Istri hamil besar malah di tinggal pergi." 


Silvia bangkit lalu menepuk pelan punggung sang suami sedang tangan kanannya membelai lembut dada bidang suaminya. "Sudah pa, jangan terlalu emosi. Ingat kesehatan papa juga penting," tutur Silvia menasehati. 


"Aku yakin, anakku adalah wanita yang kuat," timpal Nabila. 


Tidak lama berselang ketika tuan besar Alefosio bahkan belum bisa mengontrol amarahnya, lampu ruang operasi padam. Menandakan bahwa kegiatan itu telah selesai. 


Ketiga orang itu langsung berlari mendekat kepada dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Ketiganya sama-sama memasang ekspresi tegang. 


"Bagaimana, Dok?" tanya Alefosio memimpin. 


"Tuan muda sudah lahir dengan selamat, Tuan. Sementara itu, Nyonya muda mengalami pendarahan. Kami harus secepatnya melakukan transfusi darah," tutur sang dokter. 


"Kalau begitu lakukan yang terbaik untuk menantu serta cucuku. Aku tidak mau mendapat kabar buruk setelah ini." 


Sang dokter langsung berubah ekspresi menjadi tegang. Inilah yang dia takutkan ketika menangani keluarga dari pria penguasa itu. Mereka seolah tidak pernah mau menerima kabar buruk. Padahal semua itu tergantung pada takdir. 


"Tapi …." 


"Ambil darah saya, Dok!" seru Nabila menyela. 


Wanita itu seakan paham jika sang dokter mendapatkan masalah pada pendonor ataupun stok darah di rumah sakit tersebut. 


"Baik, Nyonya. Silahkan ikuti saya." 

__ADS_1



__ADS_2