Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Datang ke markas


__ADS_3

Mau tidak mau, Danendra terpaksa membawa sang istri untuk mengurus keperluan mendesaknya itu. Meskipun sebenarnya dia juga belum ingin jika identitas diri di dunia gelap diketahui oleh sang istri. 


Danendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal. Adeline sampai mencengkram erat-erat sabuk pengamannya karena takut jika mereka mengalami kecelakaan. 


"Nendra! Kalau memang tidak ikhlas mengajakku pergi ya bilang saja! Jangan malah mau mengajakku ke neraka." 


Pria yang sejak tadi fokus pada jalan di depannya kini menoleh ke arah sang istri yang memang terlihat ketakutan. Perlahan-lahan sang suami mengurangi laju mobil agar sang istri tidak merasa terancam. 


"Maaf, aku buru-buru." 


"Buru-buru sampai tidak ingat jika membawa istri. Kau sengaja ingin memb*nuhku dan cepat mendapatkan gelar Duka, yah!" tuduh Adeline dengan berani. 


"Duka?" tanya Danendra dengan mata memicing. 


"Iya, Duda Kaya!" gerutu Adeline masih saja kesal. 


"Mana mungkin, Sayang? Aku mencintai kamu, loh!" Danendra menjawab sambil kembali fokus pada jalan di depan. 


Menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai di sebuah gedung dengan suasana mengerikan. Bulu-bulu halus Adeline meremang seketika. Entah apa yang ada di dalam gedung tersebut, Adeline sudah merasa takut duluan. 


Buru-buru Adeline turun dari mobil begitu melihat sang suami sudah lebih dulu turun. Wanita dewasa itu langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami dengan erat. Pandangannya berkeliling memantau keadaan sekitar. 


Mereka terus berjalan hingga sampai di pintu masuk gedung. Adeline tersentak kaget saat tiba-tiba pintu itu terbuka otomatis. Sementara Danendra tersenyum jahat saat melihat kepanikan sang istri. Namun, dia masih enggan mengajak wanita keras kepala itu untuk mengobrol agar menetralisir ketakutannya. 

__ADS_1


Danendra terus berjalan masuk ke dalam gedung yang tampak kosong itu, sedangkan Adeline otomatis terus mengikutinya. 


"Kamu datang ke tempat seperti ini, mau apa, Nendra?" tanya Adeline yang semakin ketakutan. 


"Ada urusan." Danendra menjawab singkat. 


"Urusan apa sampai harus datang ke tempat seperti ini?" 


"Kamu akan tahu, nanti." 


"Tuan!" panggil seseorang dari depan dengan tiba-tiba, kedatangannya sampai membuat Adeline terlonjak. 


"Gerry! Sial*n. Kau mengagetkan aku!" gerutu Adeline ketika Gerry datang mendekat. 


"Dia memaksa ikut, jika aku tidak mau mengajaknya, dia bilang akan mengunciku di dalam kamar." Danendra menyela yang langsung mendapat sikutan dari Adeline. 


"Jangan mengada-ada! Aku hanya curiga kau akan datang ke sarang kupu-kupu malam." 


"Untuk apa datang ke sarang kupu-kupu, kalau aku memiliki kupu-kupu indah pribadiku sendiri," jawabnya santai. 


Gerry dengan terpaksa mendengarkan perdebatan antara Adeline dan Danendra. Mereka sedang dalam keadaan genting, dan sang pemimpin masih sempat berdebat dengan istri yang baru di nikahinya itu. 


Danendra berjalan dengan langkah tegasnya, di setiap langkah terlihat sangat mengintimidasi orang-orang di sekitarnya. Dengan pertimbangan yang matang, Adeline terpaksa menunggu sang suami di dalam ruangan yang lebih nyaman. Namun, wanita itu tetap meminta seseorang yang bersedia menemaninya di tempat tersebut. 

__ADS_1


"Dimana mata-mata itu, Ger? Beraninya dia masuk ke markas kita." 


"Dia sedang di introgasi di ruangan khusus, Tuan." 


Mereka akhirnya berjalan menuju ruangan khusus untuk mengintrogasi tawanannya. Danendra memasang wajah datar saat melihat seseorang yang berani memata-matai kegiatannya. Namun, sebenarnya tatapan mata elang Danendra saja sudah cukup membuat si lawan ketakutan. 


"Kau suruhan siapa?" tanya Danendra mengintimidasi. 


"Saya tidak akan pernah mengatakannya. Selamat menikmati kegagalan kalian malam ini," ujarnya yang langsung memilih mengakhiri hidupnya dengan mengambil paksa pistol seseorang yang sejak awal mengintrogasinya itu lalu menembak m*ti dirinya sendiri. 


"Kurang aj*r! Bedebah ini lebih memilih m*ti dari pada mengkhianati bosnya," ujar Danendra emosi. 


"Dia bukan tidak mau mengkhianati bosnya, Tuan. Tapi menurut saya, dia memilih mat* dengan cepat dari pada merasakan siksaan dari anda. Siapapun pasti memilih mengakhiri hidupnya dengan cepat dari pada m*ti secara perlahan di tangan anda," ucap Gerry tanpa filter. 


Di markas itu memang hanya Gerry yang berani menjawab tuan mudanya. Dia yang sudah sejak kecil ikut dengan keluarga Alefosio sudah di anggap sebagai kerabat dan memiliki tempat khusus di keluarga sang tuan. 


"Padahal aku sedang sangat ingin menyiksa orang!" gerutu Danendra yang langsung membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana. 


Ketika Danendra kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Adeline, istrinya itu justru tidak ada di tempat tersebut. Di sana hanya ada seorang yang tadi menemani Adeline yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. 


"Sial! Aku kecolongan. Adeline dalam bahaya." Danendra dengan cepat segera pergi ke ruang kontrol CCTV. 


Setiap anggota kini sibuk mencari sang nyonya muda di sekitar markas. Sedangkan Gerry masih sibuk memeriksa may*t pria yang sudah menyusup ke markasnya tersebut. Dia meraba-raba seluruh kantong pakaian yang di gunakan oleh orang itu, berharap dia akan menemukan sedikit petunjuk. 

__ADS_1


"Astaga! Bukankah ini cincin milik Nona Rihanna," ujar Gerry yang menemukan sebuah cincin yang berada di saku pria yang tergeletak tanpa nyawa itu. 


__ADS_2