
Ucapan si pria awalnya hanya dianggap angin lalu atau gurauan semata oleh Adeline. Namun, ternyata ucapan pria itu merupakan titah tak terbantahkan untuk semua bawahnya. Terbukti hari ini juga pernikahan antar Adeline dengannya berlangsung.
Lebih parahnya lagi, perempuan yang mengenakan gaun berwarna putih, lengan pendek sebatas siku dan memiliki ekor panjang menjuntai itu baru mengetahui nama pria yang akan bersanding bersama selamanya itu setelah mengucap janji suci.
Adeline terpaksa memasang raut wajah bahagia meski dalam hatinya penuh dengan makian. Bagaimana tidak, pernikahan ini terlalu mendadak untuknya. Tidak ada sedikitpun persiapan seperti pengantin pada umumnya. Walaupun pernikahannya ini terkesan sangatlah mewah dan glamor, bahkan tamu yang hadir juga bukan dari kalangan masyarakat biasa. Banyak sekali selebriti maupun pejabat serta pengusaha terkenal di negara itu yang khusus datang untuk memberikan selamat kepadanya. Namun, sebagai seorang wanita, tentu Adeline memiliki impiannya sendiri pada saat hari bahagia.
"Kau kenapa cemberut, Sayang?" bisik pria yang kini sudah resmi menjadi suami Adeline.
Adeline yang masih sibuk menyalami tamu yang bergantian mengucapkan selamat kepadanya itu sejenak menoleh lalu memalingkan wajahnya dari pria yang sama sekali tidak merasa bersalah itu.
Hingga acara hampir selesai Adeline masih saja mendiamkan suaminya. Dia masih merasa kesal karena pernikahan dadakan ini serta ulah sang suami yang melebihi dari kata misterius.
Seseorang menatap sepasang suami istri yang baru mengucapkan janji suci itu dengan wajah penuh rasa tidak terima. Pria itu tidak menyangka bahwa Adeline akan menikah dengan orang lain, dan ada sesuatu yang membuatnya terkejut. Adeline tidak menikah dengan seseorang yang dia kira adalah selingkuhan perempuan itu.
"Kak Ichad, suami Kak Elin ternyata tampan sekali, yah? Dia juga merupakan orang terpandang di negara ini. Kekayaannya sudah tidak diragukan lagi. Setelah ini, Kak Elin pasti menyandang gelar nyonya muda," oceh Grasiella yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Richard.
Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Kedua mata itu menyiratkan adanya dendam, kedua tangan yang tersembunyi di bawah meja juga terkepal erat.
"Kak Ichad!" pekik Grasiella yang merasa kesal dengan sikap acuh suaminya.
"Apa, sih! Kau ini cerewet sekali." Richard bangkit dan langsung meninggalkan sang istri yang sejak tadi sibuk mengoceh hingga telinganya terasa berdengung.
"Kau semakin melunjak, Kak. Beraninya mengacuhkan aku. Lihat saja nanti!" batinnya seraya menatap kepergian sang suami.
"Kak Ella, ayo naik dan berikan selamat untuk Kak Elin," ajak Zico yang tiba-tiba berdiri di sampingnya menggandeng Queen yang perutnya sudah semakin membesar.
"Ah, baiklah, ayo." Grasiella bangkit lalu hendak berjalan, tetapi terhenti ketika sang adik mempertanyakan keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Kemana suamimu, Kak? Bukankah tadi dia duduk bersamamu?" Zico bertanya serta menatap sekelilingnya.
"Em, Kak Ichad sedang ke toilet sebentar," elak Grasiella yang tidak mungkin mengungkapkan hubungannya dengan sang suami.
"Oh, ya sudah. Kita duluan saja," ujar Zico yang akhirnya menggandeng dua perempuan di sisi kanan dan kiri.
Mereka menemui Adeline dan kakak ipar baru mereka. Zico yang merasa tidak pernah cocok dengan suami kembarannya kini justru langsung memiliki rasa ingin dekat dengan suami kakak sulungnya.
"Kak Elin selamat menempuh hidup baru, yah!" ucap Zico dengan ekspresi wajah bahagia dan langsung memeluk erat tubuh sang kakak.
Pria yang sudah resmi menjadi suami Adeline membiarkan pelukan antara adik dan kakak itu meski dalam hatinya merasa tidak rela.
"Terima kasih, Co."
Kedua perempuan yang naik bersama Zico juga ikut bergantian mengucapkan selamat kepada Adeline, Sedangkan Zico beralih pada kakak iparnya. Bungsu dari tiga bersaudara itu tanpa aba-aba langsung memeluk pria yang kini menjadi kakak iparnya itu serta menyelipkan sesuatu di saku celana kakak iparnya.
"Nendra, panggil saja Nendra." potong suami Adeline dengan cepat.
"Ah, iya, Kak Nendra, Zico titip Kak Elin yang keras kepala ini, yah. Kalau dia bandel, gunakan saja barang yang aku taruh di saku celana kakak barusan." Zico berkata sambil menaik turunkan alisnya.
Pria yang ternyata bernama Nendra itu hanya tersenyum tipis serta menganggukkan kepalanya. Jika di depan umum seperti ini memang Nendra terkenal dengan sikap dingin dan tidak banyak bicara. Hanya ketika bersama sang pujaan saja sifat slengean dan suka berbual itu muncul.
Setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai mereka pun turun dari pelaminan dengan perasaan mereka masing-masing. Jika Zico sangat bahagia, berbeda dengan kedua perempuan yang bersamanya itu. Salah satu merasa malu sementara yang lain sedikit memiliki dendam kepada si mempelai perempuan.
Kini giliran kedua orang tua Adeline yang menghampiri anak sulung mereka. Keduanya tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca. Setelah usia menginjak 35 tahun sang putri akhirnya melepas masa lajangnya. Suami dari putri sulungnya juga bukan orang sembarangan.
"Elin, papa bahagia akhirnya bisa melihat kamu menikah. Setelah ini, berusahalah menjadi istri yang baik untuk suamimu, Nak." Disela-sela pelukannya sang ayah memberi nasihat.
__ADS_1
"Terima kasih, Pa. Doakan Elin ya," jawab Adeline disertai mata yang sudah mendung.
"Nak Nendra, titip Elin. Kalau dia keras kepala dan susah diatur maklumi saja. Sejak kecil dia sudah mandiri," ujar Antonio beralih kepada menantunya.
"Baik, Pa."
Sang ibu mendekat dan tanpa mengucapkan apapun langsung memeluk putrinya. Hubungan mereka yang memburuk selama sepuluh tahun terakhir membuatnya merasa bersalah. Sebagai seorang ibu dia tidak bisa bersikap adil pada kedua anak perempuannya. Dia selalu membela Grasiella dengan alasan anak itu lebih penurut dari pada sang kakak. Namun, apapun alasannya tidak membenarkan sikapnya selama ini.
"Ma-af," hanya itu saja yang terucap dari bibir sang ibu.
"Tidak perlu meminta maaf, Ma. Elin paham posisi mama," lirih Adeline seraya mengelus lembut punggung sang ibu.
Cukup lama mereka berbincang hingga tiba-tiba ada dua orang paruh baya yang naik ke atas pelaminan. Raut wajah mereka datar seakan tidak ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.
"Mama, Papa. Kenapa datang terlambat?" tanya Nendra menuntut.
Adeline langsung menyebut kedua orang yang dipanggil dengan sebutan Mama dan papa oleh suaminya dengan sedikit maju ke depan bersiap memeluk sang mertua. Namun, langkahnya terhenti saat ucapan tidak menyenangkan menyapa telinganya.
"Harusnya kamu tidak perlu bertanya, Nendra. Sejak awal kami sudah menentang pernikahan ini bukan?" Si wanita paruh baya melirik sinis ke arah Adeline. "Demi menikahi peraw*n tua seperti dia, kamu tega mau menarik fasilitas kami."
Adeline mematung di tempatnya, kakinya terasa lemas ketika mendengar hinaan itu ternyata harus dia dengar dari orang tua suaminya. Namun, Adeline berusaha kuat. Toh, selama ini memang status itu yang tersemat di dalam dirinya.
"Mama! Jaga ucapan mama." Nendra menatap sang ibu dengan ekspresi sulit diartikan.
"Danendra Alefosio! Sejak kapan aku mengejarkanmu bersikap kurang ajar pada istriku!"
"Lihatlah, demi dia kau berani membentak mamamu sendiri!"
__ADS_1