Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Terima kasih


__ADS_3

Danendra turun dari mobil ketika sampai di area permakaman elit yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Grasiella dan Antonio. Laki-laki bertubuh gagah itu berjalan tergesa menuju tempat dimana makam mertua serta iparnya berada.


Seorang ayah beranak satu itu menghela napas lega saat melihat sang istri sedang berjalan kearahnya dengan merangkul Monica. Danendra bergegas menghampiri istrinya.


"Sayang," panggil Danendra semakin mempercepat langkahnya.


Adeline melepaskan rangkulannya pada Monica. Zico dengan sigap menggantikan sang kakak menggandeng ibunya. Zico, Queen dan Monica berjalan mendahului Adeline yang terpaksa menghentikan langkah saat Danendra datang ke sana.


"Kita duluan ya, Kak," pamit Zico yang diangguki oleh Adeline.


Kini hanya tertinggal Danendra dan Adeline. Laki-laki itu memerhatikan setiap jengkal tubuh istrinya. Tatapan Malik tentu membuat Adeline semakin bingung.


"Nendra, kamu kok ke sini?" tanya Adeline heran.


"Aku khawatir sama kamu, Sayang," jawab Danendra, laki-laki itu membolak-balikkan tubuh istrinya untuk memastikan bahwa sang wanita tercinta benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.


"Kamu ngapain, sih?" tanya Adeline kesal karena suaminya itu terlalu berlebihan.


"Tadi mama kamu enggak ngamuk lagi, 'kan?"


"Nggak! Mama udah bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian papa dan Ella, kok!"


"Beneran?" tanya Danendra sedikit tidak percaya.


"Kamu tadi lihat sendiri mama baik-baik saja, ngapain tanya-tanya? Memangnya kamu enggak bisa menilai sendiri apa yang kamu lihat dengan mata kamu?"


"Apa salahnya aku memastikan? Semalam bahkan mama kamu masih mengamuk."


"Nggak ada salahnya, Ndra. Tapi jangan terlalu berlebihan. Udahlah, aku mau pulang, capek!"


Adeline berjalan lebih dulu, disusul oleh Danendra di belakang. Saat Adeline akan masuk ke mobil Zico, Danendra dengan cepat melarangnya.


"Kamu pulang bareng aku saja!"


"Tapi, mama –"

__ADS_1


"Ada Zico," potong Danendra cepat.


"Kamu bisa, 'kan, Co?" tanya Danendra beralih pada Zico.


"Bisa, Kak. Kak Elin bareng Kak Nendra saja! Biar mama bareng kita," jawab Zico paham dengan keposesifan kakak iparnya.


"Mama enggak apa-apa kalau Elin pulang sama Nendra?" tanya Adeline pada Monica yang sudah duduk di kursi penumpang.


"Nggak apa-apa, Elin. Kamu enggak usah khawatir, mama baik-baik saja," jawab Monica disertai senyum hangat.


"Kamu tenang aja, Sayang. Ada orang-orangku yang aku tugaskan untuk mengawal mereka."


Seketika Adeline melihat ke arah mobil yang terparkir di belakang mobilnya. Tiga orang bertubuh besar dan tinggi menjulang sedang berdiri disana dengan pakaian serba hitam, khas pengawal.


"Loh, ini kenapa tiba-tiba ada pengawalan lagi? Bukankah sudah tidak ada lagi ancaman untukku?"


"Hanya untuk jaga-jaga saja, Sayang. Aku enggak mau kecolongan," balas Danendra tegas.


*****


"Malik, rasanya baru kemarin kamu masih manja sama mami, tidak pernah mau makan jika tidak mami yang menyuapi kamu. Sekarang, kamu sudah akan memiliki anak," ujar Riani dengan lengkungan indah tidak luntur dari bibirnya.


"Iya, Mi. Sebentar lagi mami akan menimang cucu. Nanti dia yang akan menggantikan Daddynya," balas Malik yang juga ikut tersenyum.


Riani mengangkat tangan kirinya untuk menggapai wajah sang putra. Wanita paruh baya itu membelai lembut pipi Malik yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Sebentar lagi kamu akan memiliki tanggung jawab baru, Malik. Selain Rihanna, kamu juga harus menjaga, membesarkan, dan mendidik anak kalian dengan baik," tutur Riani menasehati.


"Malik akan berusaha memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anak Malik, Mam. Tapi, Malik juga masih butuh bantuan mami dan papi," terang Malik seraya ikut meraba punggung tangan sang ibu yang masih mengelus wajah tampannya.


"Mami dan papi akan dengan senang hati membantu kalian, Malik. Mami pesan pada kamu, didik dia dengan cara yang lembut, tapi juga tegas. Kamu harus bisa lebih mengerti dan peka dengan perasaan orang-orang tersayang kamu. Jangan lukai mereka dengan cara apapun, bahkan hanya sebuah teriakan emosi kamu sekalipun," ujar Riani memberi wejangan untuk putranya agar dapat lebih sabar ketika akan memasuki babak baru kehidupannya.


"Malik akan ingat selalu pesan dari mami," timpal Malik tanpa ragu.


Tangan yang sejak tadi membelai wajah Malik kini terlepas. Malik pun membenarkan posisinya menjadi tegak.

__ADS_1


"Malik, apakah sampai hari ini Rihanna tidak ngidam?" tanya Riani yang tiba-tiba mengingat bahwa menantunya itu tidak pernah memiliki keinginan yang aneh.


"Enggak tahu, Mam. Tapi emang Kayla tidak pernah meminta apapun, sih!"


"Dia yang enggak pernah minta atau kamu yang tidak peka?"


"He-he, dua-duanya, Mam. Nanti Malik coba tanyain ke Kayla, deh!"


Setelah menikmati senja di taman belakang mereka pun masuk mansion karena harus segera menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Malik langsung masuk ke kamarnya. Saat sudah berada di dalam kamar, Malik melihat Rihanna sedang bercermin dengan mukenanya. Wanita itu tidak menyadari kehadiran sang suami.


"Ternyata aku lebih cantik saat auratku tertutup begini," gumam Rihanna lirih.


Malik tersenyum saat mendengar ucapan istrinya barusan. Laki-laki itu merasa sang istri mulai memiliki ketertarikan untuk menutup auratnya.


"Hunny," panggil Malik seraya berjalan menghampiri Rihanna.


"Malik!" pekik Rihanna terkejut, dia bergegas kembali ke sajadah yang sudah dia gelar.


"Loh, kok manggilnya Malik lagi!" protes Malik.


"Hm, maaf, Hubby. Aku lupa," balas Rihanna yang langsung merevisi panggilannya.


Malik tersenyum senang saat kembali mendengar panggilan khusus dari istrinya. Sementara itu, Rihanna justru tersipu malu.


"Kamu mau sholat,Tunggu bentar, yah! Aku mandi dulu," pinta Malik buru-buru masuk ke kamar mandi.


Rihanna menunggu Malik yang masih membersihkan diri. Beberapa saat kemudian setelah Malik selesai mensucikan dirinya mereka pun menunaikan ibadah sholat magrib.


Mulai dari niat, takbir hingga salam, Rihanna sudah sangat mahir. Sebenarnya dia pun sudah bisa melakukan sholat seorang diri. Namun, sholat bersama sang suami tentunya lebih baik dan lebih. Begitu selesai melaksanakan sholat, mereka berdua sama-sama berdoa.


"Ya Allah, terima kasih karena telah memberikan hamba suami sebaik dan sesabar Malik. Dia lah yang menuntun hamba sampai di titik ini. Dia yang menyadarkan hamba bahwa perasaan hamba kepada Kak Nendra hanyalah sebuah obsesi saja. Bantulah hamba menjadi muslimah yang lebih baik lagi." Doa yang dilantunkan oleh Rihanna dalam hati.


"Ya Allah, engkaulah dzat yang maha kuasa. Maha mengetahui segalanya. Hamba sebagai seorang manusia, tiada henti meminta pengampunan atas segala dosa yang disengaja maupun tidak disengaja. Hamba mohon, jagalah istri dan calon anak hamba. Berkahilah setiap hembusan napas kami, dan tuntunlah kami di jalan-Mu." Suara Malik terdengar bergetar saat mengucapkan doa tersebut.


"Kamu sangat mencintai kami, Malik. Terima kasih atas semua rasa kasih dan cinta dari kamu dan keluarga. Awalnya aku sama sekali tidak berpikir bahwa aku akan mendapatkan ini semua," batin Rihanna terharu.

__ADS_1



__ADS_2