Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Pisah Kamar


__ADS_3

Gara-gara persoalan ulat bulu Danendra benar-benar apes. Selain tidak mendapatkan jatah untuk melakukan ritual pengantin baru yang sudah mereka sepakati, sang istri juga ngambek habis-habisan. Perempuan dewasa itu memaksa untuk pulang dari pada terus stay di hotel. Padahal, dia belum menyiapkan apa-apa dan masih belum dapat membuat kedua orang tuanya mau menerima sang istri. 


Berondong itu akhirnya kebingungan akan membawa sang istri pulang kemana. Meskipun dia memiliki kuasa atas segala harta yang di miliki, akan tetapi dia juga tidak mau terus-terusan bermasalah dengan sang ibu. 


Atas kesepakatan bersama akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke apartment dengan alasan Nendra tidak ingin ada satu orangpun yang mengganggu kedekatan mereka sekarang. 


"Aku masih belum mau tidur sekamar denganmu!" Keputusan Adeline sudah bulat untuk tidur terpisah dari sang suami. 


"Enggak mau! Kalau aku tidur sendirian lagi, pasti aku bakal gelisah lagi. Pokonya kita tidur bareng." Nendra masih merengek seperti anak kecil terus menerus. 


"Aku masih kesal padamu, Nendra. Bisakah jangan membangkang sebentar saja?" pinta Adeline frustasi. 


"Aku tidak salah apa-apa kenapa kamu menghukumku? Kita hanya salah paham, Sayang." Dia tetap bersikeras untuk tidur bersama. 


"Pokoknya aku mau tidur sendiri selama seminggu. Tidak ada bantahan, atau kamu mau aku kembali ke bar saja?" tawar Adeline yang sudah bingung menghadapi suami berondongnya itu. 


Nendra mendengus kesal, segala bayangan tentang kegiatan mengasikkan di atas ranjang bersama sang istri pupus sudah. Seminggu bukan waktu yang sebentar untuknya yang sudah menunggu momen itu selama berbulan-bulan. 


 Baru kali ini dia mendapat seorang wanita yang justru menolak melayaninya, padahal diluar sana banyak sekali wanita yang berlomba-lomba ingin menghangatkan ranjangnya walau secara cuma-cuma. 


"Ya sudah! Tapi hanya seminggu, yah! Tidak ada alasan apapun untuk mengundur lagi. Aku sudah tidak sabar, Sayang." 


"Iya. Kau ini pria tapi cerewet sekali," jawab Adeline malas. 


"Aku cerewet hanya jika sedang berduaan denganmu saja. Memang apa salahnya?" tanyanya seraya masuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar utama apartment. 


Setelah si suami masuk ke kamar, Adeline menghela napas lega. "Untung aku menemukan alasan agar tidak cepat-cepat melayani dia," ujarnya seraya mengelus pelan bagian dad*nya. 

__ADS_1


Sebenarnya hal ini hanyalah strategi Adeline untuk mengulur waktu. Dia masih belum siap untuk melakukan hal intim bersama suaminya. Meski usianya sudah sangat matang dan memiliki bisnis yang sering dipandang buruk oleh kalangan masyarakat, akan tetapi secara pribadi dia belum pernah melakukan hal-hal seperti itu dengan siapapun. 


Bisnisnya juga hanya menyediakan layanan DJ profesional, Karaoke, serta minuman beralkohol tanpa menyediakan layanan wanita penghibur. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa di tempat bisnisnya itu tidak terdapat kupu-kupu malam yang rela menjajakan tubuh mereka kepada pelanggan. 


"Setidaknya aku memiliki waktu seminggu untuk fokus pada perasaanku sendiri. Aku tidak mungkin bisa berakting seperti menikmati permainan jika tidak ada sedikitpun perasaan di hatiku untuknya, 'kan?" gumamnya sedikit merasa bersalah. 


Karena tadi acara makannya terganggu oleh ulah ulat bulu tidak tahu malu itu, akhirnya perut Adeline masih merasa kelaparan. Perempuan itu memeriksa bahan makanan di dapur serta kulkas. Namun, tidak menemukan apapun disana. Hanya ada dua bungkus mi instan dan satu butir telur ayam. 


"Ya sudah. Makan mi dengan telur dulu tidak apa-apa, dari pada mengganggu istirahat berondong gila itu." Adeline akhirnya memasak bahan makanan yang ada. 


Setelah berkutat dengan mi instan dan telur ayam yang kini sudah tersaji di mangkuk besar, Adeline juga mengambil air putih. Asap yang keluar dari mi tersebut menandakan bahwa mi itu masih sangat panas. Namun, mi instan memang lebih lezat jika di santap dengan keadaan masih panas. 


Perempuan cantik itu segera menyantap mi instan buatannya tanpa memperdulikan sekitar. Kuah panas itu dia seruput dengan nikmat bergantian dengan mi panjang yang begitu menggoda. Sungguh kenikmatan tiada tara ketika perut dalam keadaan kosong. Saking menikmati mie instan itu, Adeline sampai tidak sadar jika ada seseorang yang duduk di sampingnya sambil menaruh tangannya di meja serta pandangan yang memperhatikan ekspresi wajahnya itu. 


"Enak ya, sampai tidak teringat dengan suami sama sekali." 


"Kau mau?" tawarnya seraya mengalihkan mangkuknya ke samping. 


Nendra melihat isi mangkuk yang hanya tinggal sedikit itu. "Makanlah! Aku tidak tertarik makan makanan tidak sehat itu," jawabnya seraya mendorong kembali mangkuk tersebut. 


"Benar? Padahal enak, loh!" 


Adeline akhirnya melanjutkan kegiatannya menyantap mie instan buatannya sendiri. Dan cara makan Adeline itu pada akhirnya meruntuhkan dinding pertahanan Nendra. Pria itu tanpa permisi menarik mangkuk berisi mi yang hanya tinggal sedikit itu dan langsung menyantap. 


Adeline hanya menerbitkan senyum remeh saat melihat sang suami begitu lahap menikmati makanan yang dia bilang tidak sehat itu hingga tandas. 


"Makanan tidak sehat konon!" sindir Adeline seraya mengambil mangkuk yang sudah kosong itu untuk segera dia cuci. 

__ADS_1


"Ternyata enak kalau kamu yang buat, Sayang." 


"Alasan saja! Kalau kamu tidak suka makanan ini, kenapa disini sampai ada mi instan coba?" 


"Itu mungkin persediaan Gerry. Dia sering menemaniku menginap disini, Sayang." 


"Ya-ya-ya. Kau memang raja kibul," jawab Adeline mengalah. 


"Sayang, bikin lagi, dong. Aku masih lapar," pinta Nendra tanpa rasa malu, padahal baru saja dia membuat banyak alasan. 


"Sayangnya sudah habis. Di apartment ini tidak ada sedikitpun bahan makanan. Aku heran, kau kaya tapi kenapa apartment kosong seperti rakyat jelata seperti ini?" hina Adeline yang sudah selesai mencuci bekas makanannya. 


"Kau menghinaku, Sayang. Ayo kita belanja sekarang!" ajaknya sambil menarik tangan sang istri. 


Adeline menahan langkahnya sehingga membuat Nendra berhenti. "Kenapa?" tanya Nendra bingung. 


"Kau mau mengajakku berbelanja dengan pakaian seperti itu? Kau mau memamerkan sangkar burungmu kepada siapa?" tanya Adeline sambil melirik bagian bawah suaminya yang hanya memakai celana kolor sebatas paha saja. 


"He-he, aku lupa." Nendra langsung melarikan diri ke kamar untuk berganti pakaian. 


Adeline menggeleng cepat, tidak menyangka bahwa pendamping hidupnya adalah berondong kekanak-kanakan seperti Danendra. Dia juga heran, bagaimana bisa pria sepertinya bisa di kenal dengan sikap dingin dan tak tersentuh. Padahal aslinya slengean dan sembrono. 


Adeline memutuskan untuk duduk di ruang tamu sambil menunggu sang suami yang tengah berganti pakaian. Perempuan itu bersedekap dada serta menyandarkan punggungnya pada sofa. 


"Mimpi apa aku sampai berjodoh dengan laki-laki yang jauh dari kriteriaku selama ini." 


"Memang kriteria suamimu seperti apa?" 

__ADS_1


__ADS_2