Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Rasa Sesal Queen


__ADS_3

Berbeda dengan kehidupan Adeline yang kini semakin terlihat sempurna. Zico, seorang pria yang dulu hanya tahu tentang menghabiskan uang dari orang tuanya kini mau tidak mau harus menggantikan posisi sang ayah sebagai pimpinan perusahaan setelah sang kakak memberikan wewenang kepadanya. 


Meskipun pernah mengenyam pendidikan di bidang management bisnis, tetapi pria yang baru saja menyandang predikat ayah itu hanya tahu tentang teori saja. Untuk pengalaman masih benar-benar nol besar. 


Zico mengusap wajahnya kasar saat merasa beban yang berada di pundaknya kali ini begitu berat. Bukan hanya mendadak harus memiliki tanggung jawab besar, akan tetapi perusahaan juga sedang di ambang kehancuran setelah kepergian sang ayah. 


"Pa, sekarang Zico baru sadar. Ucapan papa dulu memang benar. Seharusnya Zico mau belajar memimpin perusahaan dengan baik dari papa. Maafin Zico, Pa. Zico benar-benar menyesal," gumamnya seraya menatap sebuah bingkai foto berukuran besar yang terpajang di dinding ruangan tersebut. 


Suara pintu yang diketuk dari luar membuat Zico kaget. Pria itu merapikan kemejanya yang sedikit lusuh saat ini. 


"Masuk." 


Seorang wanita masuk setelah membuka pintu ruang kerja Zico. Wanita itu melangkah dengan anggun mendekati pemimpin perusahaan yang baru. 


"Selamat siang, Tuan. Saya datang kemari untuk melaporkan tentang perkembangan proyek yang berada di kota A." 


Wanita itu menjelaskan kepada Zico tentang proyek yang hampir selesai di kerjakan. Proyek yang sempat terbengkalai setelah kepergian Antonio beberapa bulan yang lalu. 


Zico mengangguk mengerti saat si sekretaris menjelaskan beberapa poin-poin penting yang memang harus lebih diperhatikan. 


"Bagus kalau memang semua berjalan sesuai rencana awal papa. Saya sendiri masih perlu banyak belajar," ucap Zico yang tentu saja dimaklumi oleh sang sekretaris. 


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." 


Wanita yang merupakan bekas sekretaris Antonio itu meninggalkan ruangan pemilik perusahaan. Setelah kepergian wanita itu, Zico menghela napas berat. 


"Sepertinya aku lebih baik menjadi seorang pelayan dari pada menjadi seorang pemimpin perusahaan. Selain tanggung jawabnya yang besar, aku juga benar-benar tidak memiliki pengalaman apapun." 


Pria muda itu menjatuhkan kepalanya di atas meja kerja lalu sedikit membenturkannya pelan beberapa kali. Ternyata seperti inilah yang selama ini dilakukan sang ayah. Menjadi seorang pemimpin bukan hanya sekedar ongkang-ongkang kaki lalu berhasil begitu saja. 


Semua butuh perjuangan yang tidak main-main dan tanggung jawab yang besar. Pantas saja jika sang ayah sempat depresi ketika kantornya yang dulu kebakaran dan tidak tersisa sedikitpun aset yang selama ini diperjuangkan. 

__ADS_1


"Aku harus meminta tolong Kak Nendra agar mau mengajariku tentang dunia bisnis. Jika aku hanya modal nekat saja seperti ini, bagaimana bisa memajukan perusahaan papa?" 


Pria muda itupun memutuskan untuk pulang lebih awal. Sejak kehadiran malaikat kecil di kehidupannya itu, rasanya Zico tidak ingin jauh terlalu lama dari bayi berjenis kelam*n perempuan itu. 


Saat sampai di mansion mertuanya pria itu langsung disambut oleh suara tangisan bayi yang begitu melengking bahkan sebelum dia masuk. Zico hafal itulah suara tangis putri pertamanya. Begitu masuk ke ruang tamu ternyata sang istri tengah memangku sang putri yang masih menangis. 


"Zifanya, kenapa menangis?" tanya Zico saat sudah berada di hadapan Queen. 


"Enggak tahu, dia nangis terus, Co." 


Zico mengambil alih bayi itu dari pangkuan sang istri. Anehnya tangisan Zifanya langsung lenyap begitu saja ketika tubuhnya menempel dengan tangan sang ayah. 


"Loh, kok langsung diem. Padahal dia udah nangis berjam-jam Loh, Co." 


"Mungkin dia rindu padaku, Queen." 


"Aku sebenarnya juga merasa sepi setelah kamu sibuk mengurus perusahaan papa kamu, Co. Aku lebih suka kamu dirumah saja," ungkap Queen yang merasa lebih butuh perhatian dari pria itu. 


Tangan kanan Zico terulur membelai lembut pipi istrinya. Dia tersenyum hangat demi menyembunyikan perasaan bingungnya saat ini. 


"Apa gunanya mendengarkan ucapan-ucapan orang di luar sana? Selama aku masih bisa hidup tenang bersama kamu dan Fanya, aku rasa itu sudah lebih dari cukup." 


"Sabar ya, Queen. Biarkan aku berjuang dulu, tolong berikan aku dukungan dan dorongan agar aku bisa sukses dan membahagiakan kalian dengan kerja kerasku sendiri," ujar Zico dengan lembut. 


Semenjak Queen mengetahui bahwa Zico sama sekali tidak melakukan apapun yang dituduhkan oleh ayahnya, wanita itu bertekad akan selalu mempercayai suami yang sudah memberikannya satu buah hati tersebut. 


"Baiklah, kalau begitu aku siapkan air hangat dulu untuk kamu mandi. Tolong jaga Fanya, ya." 


"Tidak perlu, Queen. Biar nanti aku siapkan sendiri. Sekarang aku mau main bersama putriku dulu,"  tolak Zico. 


Pria muda itu membawa sang putri yang terus menerus menatapnya dengan senyum. Bayi berusia beberapa Minggu itu seakan menjadi obat pelepas penat untuk sang ayah. Terbukti rasa stres yang sejak tadi menguasai Zico kini lenyap tanpa jejak. 

__ADS_1


Queen menatap penuh rasa syukur sang suami yang begitu mencintai putrinya. Meskipun masih berusia muda, nyatanya Zico bisa menjalani tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan suami yang baik. Kekurangan pria itu hanya satu, dia memang belum terbiasa bekerja seperti kebanyakan pria lain. 


"Tuhan, tolong jangan pisahkan aku dan dia lagi. Biarkan kami hidup bersama selamanya," ucap Queen menatap sang suami yang sudah berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan membawa putri mereka. 


Perempuan muda yang akhirnya menyadari kesalahannya karena sudah menyia-nyiakan suami seperti Zico yang selalu menuruti apapun permintaannya itu pun menyusul sang suami yang sudah lebih dulu sampai di kamar mereka. 


Ketika Zico masih berdiri membelakanginya, Queen mengayunkan kakinya mendekati sang suami. Kedua tangan mungil itu melingkar di perut sang suami, dia juga menyandarkan kepalanya di punggung Zico yang lebih tinggi darinya. 


"Terima kasih sudah menjadi ayah yang baik untuk Fanya, Co. Semoga kita tetap bisa bersama dalam suka maupun duka hingga maut yang memisahkan kita," bisik Queen yang tanpa sadar meneteskan air mata. 


Wanita itu belum bisa melupakan perlakuan-perlakuan buruk yang dia lakukan selama ini kepada Zico. Hanya karena hasutan sang ayah yang mengatakan bahwa Zico hanya mencintai hartanya saja membuat Queen sempat membenci pria yang sudah bertanggung jawab atas kecerobohan yang dia lakukan. 


Dulu ketika mereka membuat surat kontrak perjanjian tidak ada tuntutan tentang tanggung jawab jika pihak pertama tiba-tiba hamil. Namun, Zico dengan berani mengambil keputusan untuk mempertahankan janin yang bahkan dia sendiri pernah berniat menggug*rkannya.  


"Kamu kenapa tiba-tiba ngomongin itu, sih? Kenapa tiba-tiba mellow begini?" tanya Zico heran. 


Tidak biasanya sang istri tiba-tiba manja dan mengatakan tentang kebersamaan dan bahkan sampai membawa-bawa maut sebagai perbincangan mereka. 


"Aku hanya merasa sangat buruk, Zico. Aku pernah menghina bahkan Mel*cehkan harga diri kamu sebagai laki-laki. Maaf," ujarnya dengan lirih. 


Zico memegang tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya lalu membalikkan tubuhnya hingga berhadapan. Meski dia juga sedang menggendong Zifanya, tampaknya Zico sama sekali tidak merasa kesulitan. 


"Dengarkan aku, Queen. Masa lalu biarlah berlalu, tidak perlu kita ingat-ingat bahkan mengungkitnya kembali. Aku sudah memutuskan untuk kembali memperbaiki hubungan kita, itu artinya aku sudah tidak menyimpan rasa sakit hati ataupun dendam kepada kamu ataupun keluarga kamu. Bagiku bisa hidup bersama kamu dan Fanya adalah hal yang terindah." Zico melabuhkan kecupan singkat di kening istrinya itu. 


"Jangan menangis lagi, atau aku akan menghukum kamu." 


Queen menyeka jejak air mata yang tumpah di pipinya menggunakan jemarinya. Wanita itu membalas kecupan sang suami dengan mencium sekilas bibir Zico meski harus sedikit berjinjit. 


"Kalau hukuman kamu itu hanya membuatku tidak berkutik di atas ranjang, aku mau selalu mendapatkan hukuman itu." 


"Dasar, ratu m*sum," cibir Zico bergurau. 

__ADS_1


"Aku kan hanya m*sum sama kamu." Queen melipat bibirnya kesal karena cibiran sang suami. 


Zico kembali memeluk istrinya meski tidak begitu erat karena ada bayi diantara mereka. "Iya-iya, nanti setelah kamu selesai. Aku pasti akan membuat kamu tidak berkutik di atas saja dengan gaya apapun yang kamu mau." 


__ADS_2