Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Janji Gerry Dan Celine (Tamat)


__ADS_3

"Maaf, In. Tapi aku tidak bisa," tolak Gerry dengan tegas. 


Seketika Indira meneteskan air matanya. Ternyata sebenci itulah Gerry pada dirinya. Padahal, dulu laki-laki itu sangat mencintai dirinya. 


Sementara itu, Celine langsung menoleh saat mendengar suaminya menolak permintaan wanita cantik di hadapan mereka. Celine sempat berpikir akan kalah dari wanita yang merupakan mantan kekasih suaminya itu. 


"Aku tahu, kamu pasti jijik dengan tubuhku, 'kan?" tanya Indira dengan suara bergetar. 


"Alasan utamanya bukan itu, In. Tapi sekarang aku sudah beristri, dan aku harus menjaga hati istriku," balas Gerry seraya menatap Celine yang berada di sampingnya, tangan kanan Gerry menggapai tangan kiri Celine dan menggenggamnya erat. 


Apa yang diucapkan oleh Gerry berhasil menghangatkan hati Celine. Dia yang sempat berburuk sangka, kini bisa bernapas lega. Meski mereka belum saling mencintai, tetapi akan sangat tidak adil jika di antara mereka ada yang tidak bisa menghargai satu sama lain. 


"Baik. Sekarang aku sudah kalah, Ger. Tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di sini," ucap Indira pasrah. 


Mau dipaksa pun Gerry tidak akan pernah mau kembali padanya. Hal yang saat ini bisa dilakukan oleh Indira hanyalah belajar menerima takdir cinta mereka yang tidak mungkin bisa bersatu. 


"Maaf, In. Semoga kamu juga akan menerima kebahagiaan kamu sendiri," ucap Gerry memberikan doa tulus untuk mantan kekasihnya itu. 

__ADS_1


Indira mengangguk, senyum getir menghiasi wajah cantiknya itu. Kini, dia mulai melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali menoleh pada sepasang pengantin baru yang juga sedang menatapnya. 


"Tolong jaga Gerry dengan baik. Jangan sia-siakan ketulusan hatinya," ucap Indira sebelum akhirnya berlalu pergi. 


Acara pun kembali dilanjutkan. Namun, Gerry yang sudah basah oleh tumpahan jus akibat perbuatan Indira, berpamitan untuk mengganti pakaian lebih dulu. 


Setelah selesai, dia kembali ke tempat berlangsungnya acara. Menikmati waktu bersama para rekan dan kerabat yang datang di acara bahagia tersebut. 


Semakin malam acara itu semakin meriah. Gerry dan Celine terlihat begitu bahagia meski pernikahan mereka belum dilandasi oleh cinta. Keduanya sempat membuat komitmen untuk saling terbuka satu sama lain. Mereka juga sudah bertekad akan belajar mencintai dari hati. 


Begitu acara selesai mereka pun kembali ke kamar pengantin yang sudah dihias dengan sangat indah. Para tamu undangan pun telah kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan keluarga serta atasan mereka. 


Di dalam kamar mewah sebuah hotel ternama Celine dan Gerry sedang duduk di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar merah. Keduanya duduk di sisi yang berbeda dengan posisi memunggungi satu sama lain. 


"Cel, karena kita baru saja ingin mengenal satu sama lain. Jadi, aku tidak akan memaksa kamu untuk melayaniku. Kita akan mulai semuanya dari tahap awal dulu," kata Gerry yang peka terhadap kegelisahan Celine saat ini. 


"Kamu enggak marah kalau aku belum siap melakukan itu?" tanya Celine memastikan, dia sedikit menoleh ke arah di mana Gerry duduk. 

__ADS_1


"Kita menikah bukan hanya untuk itu, Cel. Aku juga bukan tipe orang yang pemaksa. Kita akan melakukan itu jika kita berdua sudah sama-sama siap." 


"Em. Terima kasih, Ger. Kalau begitu aku mandi dulu, ya," pamit Celine yang sudah sedikit lega dari rasa gelisahnya tadi. 


"Iya," jawabnya singkat. 


Celine bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu, Gerry merebahkan diri di ranjang king size yang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Dia menatap langit-langit plafon. Namun, bayangan ekspresi kecewa Indira kembali muncul di pikiran. 


"Maaf, In. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti kamu. Kamu yang membuatku memilih jalan ini. Jika saja kamu tidak berselingkuh, kita pasti sedang bahagia mempersiapkan pernikahan. Tapi, janjiku padamu terkalahkan oleh janjiku pada Tuhan, aku sudah berjanji akan mencintai dan menjaga Celine dengan tulus. Semoga saja kamu juga dapat kebahagiaan yang lain, In." Gerry tanpa sadar berkata seperti itu dengan suara yang cukup keras. 


Celine yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi pun tidak sengaja mendengar ucapan Gerry. Kini, hati Celine sedikit bimbang. Dia tidak yakin akan bisa merebut hati Gerry. Namun, di sisi lain Celine pun lega, karena Gerry begitu teguh pada janjinya kepada sang pencipta. 


"Aku akan berjuang dengan keras untuk mengisi hati kamu dengan kebahagiaan, Ger. Aku berjanji akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu mulai malam ini. Kita rajut masa depan kita berdua." Janji Celine pada dirinya sendiri. 


Begitulah akhir cerita Gairah Perawan Tua. Tiga pasang suami istri yang kini akan merajut kebagian mereka dengan kesetiaan dan saling mengerti satu sama lain. Danendra yang tengah berusaha memberikan adik untuk Devan, Malik yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ayah siaga untuk bayi dalam kandungan istrinya, dan Gerry yang masih harus belajar mencintai istrinya dengan tulus. 


Terima kasih sudah setia mengikuti kisah ini. Kita jumpa di novelku berikutnya. Mohon dukungan untuk karya-karya terbaruku, yah! Saranghae.

__ADS_1


__ADS_2