Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Calon Orang Miskin


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Kehamilan Adeline sudah memasuki trimester ketiga. Tidak ada keluhan apapun terkait kehamilan wanita itu. Dia sama sekali tidak mengalami masa ngidam makanan ataupun melakukan hal aneh-aneh selain sikapnya saja yang semakin manja dan sering kali merajuk saat Danendra lebih sibuk mengurus perusahaan. 


Sepertinya saat ini. Wanita itu tengah duduk di atas kasur empuk dengan bibir yang terkatup rapat. Sorot matanya mengikuti kemanapun sang suami melangkah. Laki-laki itu terlihat sedang sibuk memilih pakaian kantornya. Hari ini Danendra harus terbang ke negara lain demi meninjau perkembangan cabang perusahaannya. 


"Nendra!" 


"Iya, Sayang." 


Laki-laki muda itu masih sibuk memakai kemejanya. Sedangkan bagian bawah hanya terbungkus handuk putih yang menutupi area sensitifnya. 


"Memangnya harus kamu sendiri yang terbang ke sana?" tanya Adeline sambil menatap suaminya yang kini mulai memakai celana panjang. 


"Iya, Sayang." 


"Terus gunanya Gerry apa kalau harus kamu sendiri yang turun tangan?" 


"Iya, Sayang." 


"Iya Sayang terus. Tapi dari tadi malah sibuk pakai ini dan itu. Buat lihat aku aja kamu enggak punya waktu." 


Semakin merasa kesal, Adeline membaringkan tubuhnya lalu menutup rapat-rapat seluruh tubuh dengan selimut tebalnya. 


Danendra yang sudah selesai mengenakan pakaian kerjanya menggeleng melihat tingkah sang istri yang semakin manja saja. Dia bergegas mendekati wanita yang masih mengandung benih keturunannya itu. Duduk di samping Adeline seraya berusaha membuka selimut yang membungkus seluruh tubuh sang istri. 


"Sayang," panggil Danendra saat tidak berhasil membuka selimut itu. 


Adeline tidak menjawab. Samar-samar terdengar suara tangisan lirih. Danendra paham, istrinya itu sedang menangis. Laki-laki itu menyentuh bahu Adeline yang tertutup selimut lalu mengelusnya penuh kasih. 


"Aku hanya pergi sebentar. Kenapa kamu sesedih ini, sih?" tanya Danendra lembut. 


"Ka-mu selalu mementingkan pekerjaan." 


Danendra menghela napas berat. Selalu saja berulang seperti ini. Setiap dia harus pergi mengurus pekerjaan, istrinya itu selalu uring-uringan tidak jelas. 


"Kamu tahu tidak …." 

__ADS_1


"Enggak tahu dan enggak mau tahu." 


"Astaga, Sayang. Aku ini calon orang miskin sebentar lagi," ujar Danendra frustasi. 


Mendengar itu Adeline langsung membuka selimutnya. Membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah sang suami. 


"Maksud kamu?" tanya Adeline dengan kedua alis bertaut. 


"Ya, setelah dia lahir, semua aset atas namaku akan segera berganti namanya." Danendra membelai penuh sayang perut buncit sang istri. 


"Bercandamu enggak lucu." 


Dengan terpaksa Adeline membiarkan Danendra pergi ke luar negeri demi mengurus bisnisnya di sana. Laki-laki itu pergi sendirian tanpa di temani oleh siapapun. 


Sudah 3 hari Danendra jauh darinya membuat Adeline merasa jenuh dan kesepian. Meskipun mereka sering kali berkomunikasi lewat panggilan Vidio untuk melepas rindu, nyatanya tidak bisa mengurangi sedikitpun rasa rindu itu.


"Baru 3 hari dia jauh dariku, tapi rasanya aku sudah sangat merindukan semua perlakuan lembut dan belaian tangannya. Ternyata seperti inilah rasanya pasangan yang menjalani Long Distance Relationship. Semua tidaklah mudah di lalui tanpa kehadiran satu sama lain." 


Kali ini Adeline benar-benar merasakan betapa hidupnya sangat bergantung pada laki-laki yang lebih muda darinya itu. Dia baru menyadari bahwa kehadiran laki-laki slengean itu sangat berarti dalam kehidupannya sekarang. 


Bayi di dalam kandungan itu seakan mengetahui perasaan sang ibu. Dia bergerak dengan sangat kuat membuat Adeline tertawa senang. Bayi yang sudah mendekati hari perkiraan lahir itu sekarang menjadi pelipur lara sang ibu yang hanya mampu meratap saat tidak ada seorangpun yang melihatnya. 


"Sabar yah, kalau ayah pulang nanti, kamu bebas melakukan apapun padanya." Adeline mengelus perut besarnya. 


Sementara itu, di negara lain Danendra baru saja selesai meninjau perkembangan pembangunan gedung cabang perusahaannya di Brasil. Laki-laki itu menginap di sebuah hotel mewah. Merasa sangat penat, Danendra bergegas menuju kamarnya untuk segera beristirahat. 


"Kak Nendra!" 


Suara yang tidak asing memanggil namanya. Danendra yang sudah membuka pintu kamarnya menoleh. Rihanna berdiri di belakang dengan raut wajah bahagia. 


Melihat seseorang yang dulu begitu dekat dengannya, Danendra menghela napas panjang. Tubuhnya sudah sangat lelah dan membutuhkan istirahat. Tetapi ada seseorang yang akan merecokinya. 


Danendra berniat menghindari Rihanna dengan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamar. Namun, Rihanna tiba-tiba memegang pergelangan tangannya. 


"Lepas, Ri." 

__ADS_1


"Kak, aku hanya ingin menyapa dan meminta maaf padamu." 


"Tidak perlu. Sudah aku bilang, jika kita bertemu bersikaplah seolah-olah kita tidak pernah mengenal." 


Danendra menyentak kasar tangan Rihanna lalu melenggang masuk dan menutup serta mengunci pintu kamarnya. 


Lagi-lagi kecewa atas penolakan Danendra Rihanna hanya tersenyum kecut. "Sebenci inikah kamu sekarang, Kak?" 


Rihanna pergi meninggalkan tempat itu saat sadar bahwa perjuangannya memang sia-sia. Benar yang dikatakan oleh ayahnya. Cinta tidak bisa dipaksakan. Jika tetap memaksanya untuk berada di genggaman hanya akan semakin menyakiti batinnya. 


Danendra menggerutu kesal di dalam kamar luas itu. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Rihanna di tempat ini. Dia yakin bahwa Rihanna memata-matai seluruh kegiatannya. 


"Kenapa kamu tidak bisa menerima kenyataan, Rihanna? Aku adalah kakak iparmu. Seharusnya kau berhenti mengejar obsesimu itu." 


Laki-laki itu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak seperti biasa Danendra langsung mengistirahatkan tubuh lelahnya tanpa memusingkan apapun lagi. Padahal biasanya Danendra selalu menghubungi istrinya lebih dulu sebelum tidur untuk memastikan keadaan sang istri baik-baik saja. 


Ketika Danendra sudah nyenyak dalam tidurnya. Ponsel yang berada di atas nakas berdering. Suara berisik yang berulang kali itu sama sekali tidak membuat tidur Danendra terusik. Rasa lelah yang mendera membuatnya tidur seperti orang m*ti. 


Di negara yang berbeda Silvia, ibu Danendra itu sedang mondar-mandir dengan bibir yang terus saja mengumpati sang putra. Di tangannya memegang ponsel yang berkali-kali terus berusaha menghubungi calon ayah itu. 


"Ini bocah kemana, sih? Di telepon nggak diangkat. Spam chatku juga tidak dibaca." 


"Sil, sudahlah. Mungkin Nendra sedang sibuk. Sekarang kita fokus pada Elin saja," ujar Nabila yang berusaha menenangkan sang sahabat. 


"Mana bisa begitu, Bila. Elin sedang berjuang di dalam sana sendirian. Suaminya malah enggak tahu kemana." 


Nabila memegang bahu sahabatnya untuk menghadap ke arahnya. Dia memandang wajah wanita yang sedang panik itu. "Aku senang karena anakku mendapatkan mertua sebaik dan sepeduli kamu, Sil. Tapi kamu juga harus bisa tenang. Doakan saja semoga Elin dapat melalui ini dengan lancar. Ada dokter yang menanganinya," tutur Nabila dengan lembut. 


"Awas saja jika nanti dia pulang. Akan aku buat dia miskin semiskin miskinnya. Aku sudah bilang, jangan tinggalkan istri yang sedang hamil besar. Malah dia tetap nekat meninggalkan Elin bertandang ke negara orang. Dia kira aku kekurangan harta," racaunya dengan ekspresi geram. 


Bersambung. 


        *******


__ADS_1


__ADS_2