Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hilangnya Kepercayaan Diri Adeline


__ADS_3

Adeline sudah dipindahkan ke ruang perawatan setelah mendapatkan penanganan serius oleh dokter. Wanita dewasa itu sedang duduk bersandar pada bantal. Raut wajahnya terlihat lega, meskipun tatapan suaminya itu terlihat datar tanpa ekspresi.


Laki-laki tercintanya sedang duduk bersandar di sebuah kursi dengan posisi menyilang kaki. Kedua tangannya bersedekap dada. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam. Persis menggambarkan seorang CEO congkak yang sedang berusaha mengintimidasi lawan tanpa mengeluarkan suara. 


Sepertinya, sebentar lagi akan ada persidangan sebab perbuatannya tadi. Namun, semua tidak dipusingkan oleh Adeline kala melihat sang suami sehat tanpa kurang suatu apapun. Hanya saja ada bekas darah yang lumayan banyak di kemeja putih yang dikenakan Danendra. 


Adeline mengulas senyum tipis agar mencairkan suasana yang terasa tegang. Namun, Danendra sama sekali tidak membalas senyum manis istrinya. Hatinya saat ini sedang terbakar amarah karena perbuatan nekat sang istri yang hampir membuatnya mati mendadak. 


"Kau tidak perlu senyum-senyum seperti itu. Mau semanis apapun senyumanmu, tidak akan mempan untuk saat ini!" sungut Danendra saat sang istri terus saja tersenyum, seperti tidak terjadi apapun padanya.


Seketika senyum di wajah Adeline pudar setelah mendapat perkataan yang cukup kasar itu, "Kamu itu aneh, Ndra. Istri senyum, malah dimarahi. Memangnya aku harus nangis, gitu?" 


 "Aku tidak pernah melarangmu tersenyum, tapi harusnya kamu sadar sedang di posisi apa kamu saat ini. Kamu sama sekali tidak merasa salah karena melakukan kesalahan fatal tadi," kata Danendra dengan nada cukup tinggi. 


Sikap Danendra saat ini bukanlah karena dia marah pada adeline, tetapi dia sedang marah pada dirinya sendiri. Sebagai seorang suami, Danendra merasa telah gagal melindungi sang istri hingga membuat wanita tercintanya itu merasakan sakitnya luka tusukan. 


"Kesalahan fatal kamu bilang? Menurutku itu hanya usahaku untuk melindungi suamiku saja." 


"Kamu merasa hebat sampai mau melindungiku? Biar aku perjelas kepadamu, Ak tidak butuh dilindungi, Adel!" bentaknya kasar, Adeline bahkan sampai memejamkan kedua mata. 


Laki-laki yang sedang kehilangan kendali itu beranjak dari duduknya, berjalan memunggungi Adeline seraya berkacak pinggang. Dia terlihat berkali-kali berusaha menahan emosinya dengan menghela napas. 


Melihat sang istri yang sampai memejamkan mata membuat Danendra sadar bahwa apa yang dia katakan barusan sudah keterlaluan. Dia meraup wajahnya kasar, kemudian berbalik menghadap sang istri. Namun, Adeline langsung memalingkan wajahnya. 


Danendra membuang napas panjang, lalu berjalan perlahan mendekati sang istri yang sepertinya tersinggung dengan ucapannya tadi. Dia tahu, Adeline pasti sakit hati akibat dia menyentaknya dengan ucapan yang kasar. 


Usai berada di samping brankar sang istri, Danendra meraih tangan Adeline. Sayangnya, Adeline justru menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman sang suami. 

__ADS_1


"Maaf, Sayang." Danendra menatap sang istri yang masih enggan menoleh kepadanya. 


"Aku tahu, kamu memang tidak butuh dilindungi, Ndra. Kamu laki-laki hebat, pemimpin mafia yang pasti kuat. Mana mungkin kamu membutuhkan perlindungan dari wanita lemah sepertiku," ucap Adeline, dari suaranya yang bergetar, bisa dipastikan wanita dewasa itu sedang berusaha menahan sakit di hati. 


"Bukan begitu, Sayang. Sungguh, aku tidak pernah menganggap kamu lemah. Kamu adalah wanita hebat yang aku cintai," kata Danendra, tetapi sama sekali tidak membuat Adeline menoleh. 


"Aku ini istrimu, Ndra. Selemah apapun aku, jika aku melihat kamu dalam bahaya, aku tidak akan ragu untuk mengorbankan diri demi keselamatan kamu. Aku juga yakin, jika kamu yang berada di posisiku, kamu juga akan melakukan hal yang sama." 


Istrinya menjawab semua ucapannya, tetapi dengan posisi enggan menatap ke arahnya. Danendra merasa hal itu sangatlah menyakitkan. Jika boleh memilih, dia lebih baik ditembak dengan lima peluru sekaligus dari pada mendapat sikap acuh sang istri. 


Laki-laki bertubuh tegap itu berjalan cepat ke sisi lain brankar untuk melihat wajah istrinya. Akan tetapi, Adeline tidak kalah cepat berpaling ke arah lain lagi sebelum Danendra mencapai tujuannya. 


Helaan napas panjang terdengar sebelum Akhirnya Danendra berusaha memeluk Adeline dari samping. Pelukan erat Danendra membuat Adeline berontak dengan sekuat tenaga, meski perih akibat luka di punggungnya belum juga hilang.


"Sakit, Ndra!" bentak Adeline ketika pelukan itu semakin erat saja. 


Seketika Adeline menoleh, bibirnya berkedut. Rasanya ingin sekali mengamuk laki-laki di depannya ini. 


"Kamu bilang itu hal konyol, Ndra? Aku tanpa ragu menjadikan diriku sebagai tame–"


Ucapan Adeline terpotong saat Danendra tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir Adeline. Wanita dewasa itu kehilangan kata-kata saat sang suami tercinta membungkam mulutnya dengan ciuman. 


Hanya ciuman singkat yang diberikan Danendra. Setelah itu, dia mengusap bibir pucat sang istri menggunakan ibu jarinya. 


"Terima kasih, Sayang. Sekarang, aku sudah tidak lagi memiliki alasan untuk meragukan perasaan kamu. Selain menyelamatkan aku dari tusukan bedebah sialan itu, kamu juga membuktikan besarnya cintamu untukku." 


"Ndra, tolong keluar sebentar. Aku sedang ingin sendiri," pinta Adeline, dia malu karena Danendra membahas perasaannya saat ini. 

__ADS_1


Sebagai seorang wanita yang sudah terlalu matang, Adeline merasa sudah tidak pantas untuk membahas perkara cinta. Yang menjadi prioritasnya saat ini adalah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya. 


"Kenapa, Sayang? Apa ucapanku barusan salah?" tanya Danendra dengan ekspresi bingung. 


"Kamu enggak salah, aku hanya sedang ingin sendirian. Tolong keluar sebentar," mohon Adeline, dia menundukkan wajahnya. 


"Baiklah, aku keluar. Jika kamu perlu apa-apa, aku menunggu di luar," ucap Danendra mengalah. 


Ketika mendengar suara tapak kaki yang semakin menjauh, Adeline baru mengangkat pandangan. Dia menatap sang suami dengan perasaan campur aduk. Tidak munafik, dia pun merasa bahagia karena akhirnya laki-laki yang usianya terpaut jauh darinya itu memahami perasaannya selama ini. Namun, dia pun merasa malu karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Terkadang, Adeline pun merasa tidak pantas mendapatkan suami sesempurna Danendra. 


"Maaf, Ndra. Aku jarang sekali memperlihatkan rasaku terhadap kamu. Aku merasa sangat tidak pantas mendapat suami sempurna yang mampu menerimaku apa adanya," gumam Adeline sendu. 


Akhir-akhir ini, Adeline sering kali merasa kurang percaya diri. Dia selalu merasa bahwa dia tidak mampu memberikan kebahagiaan untuk suaminya. Entah perasaan apa yang sebenarnya mengganggu pikiran serta hatinya. Namun, yang jelas kepercayaan diri Adeline semakin pudar. 


Sementara itu, Danendra baru saja keluar dari ruang rawat sang istri. Dia sedikit terkejut saat melihat kedua orangtua serta putranya berada di hadapannya saat ini. 


"Mama, Papa. Kalian, kok, di sini?" 


"Anak kurang aj*r! Kau mau menyembunyikan keadaan menantuku dariku, yah!"


Tamparan keras mendarat di pipi Danendra. Namun, bukannya Danendra yang kesakitan, justru orang yang menamparlah yang mengaduh kesakitan. 


"Aw, sakit … itu pipi apa balok kayu, sih, Ndra? Kenapa keras banget?"  


Mampir juga ke karya Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti, judul Suamiku Seorang Mafia : Zombie The Series.


__ADS_1


__ADS_2