
Sekembalinya dari rumah sakit, Adeline masih saja mendiamkan Danendra. Wanita itu masih saja kesal karena perbuatan sang suami yang menguji kesabaran. Laki-laki itu masih sempat-sempatnya berdebat meski dalam keadaan genting.
Adeline sebagai istrinya pun merasa malu dan tidak enak hati. Namun, suaminya itu tidak kunjung sadar akan kesalahannya. Seperti saat ini, laki-laki yang telah memberinya putra mungil yang begitu tampan itu masih saja bertanya alasan sang istri mendiamkannya.
"Aku salah apa, sih, Sayang? Kamu ini kenapa jadi sering merajuk tidak jelas." Danendra justru berkata seolah-olah istrinya lah yang bersalah.
"Aku sudah bosan, Nendra. Kamu ini selalu saja bersikap semena-mena. Tidak bisakah menjaga harga diri kita di hadapan orang lain sedikit saja?"
"Astaga, Sayang! Kamu masih saja membahas perkara Malik? Dia itu saudaraku, dia pasti tahu bagaimana watakku sejak kecil," ujarnya seraya mengekori Adeline yang tengah mengambil pakaian ganti di lemari.
"Aku bisa mewajarkan jika kamu melakukan itu di saat keadaan baik-baik saja. Tapi lihat tadi! Malik sedang mencemaskan istrinya, dan kamu malah terus saja melawak seperti badut."
Wanita dewasa yang kini tubuhnya semakin sintal sejak menyusui sang buah hati itu membalik tubuhnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Danendra masih terus mengekor hingga pintu kamar mandi di tutup secara kasar oleh sang istri.
"Sayang, kamu berani menghinaku, yah! Lancang sekali menyamakan aku dengan badut." Danendra yang tidak terima menggedor pintu kamar mandi.
Ocehan serta gedoran pintu yang dilakukan oleh Danendra tidak dipedulikan oleh Adeline. Wanita itu segera membersihkan diri dari keringat serta kuman-kuman yang menempel di tubuh maupun pakaiannya. Mengingat mereka baru saja dari rumah sakit, tentu saja Adeline tidak ingin nantinya ada virus yang menyerang putranya jika dia tidak segera bersih-bersih.
"Sayang, keluar! Aku tidak terima kamu menyamakan aku dengan badut, yah!"
Danendra masih terus mengoceh di depan pintu kamar mandi. Punggungnya bersandar di pintu yang memisahkan dirinya dan sang istri. Ketika pintu itu terbuka, Danendra hampir saja terjungkal ke belakang. Beruntung laki-laki itu sigap menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri.
"Ini pintu, bukan sandaran."
"Aku tahu. Tapi sandaranku sedang merajuk, jadi aku bersandar di pintu saja," jawabnya santai.
__ADS_1
Adeline menyingkirkan paksa tubuh sang suami yang menghalanginya jalan. Dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi ketika di rumah sakit, Adeline berlalu menuju ranjang. Danendra terus saja mengekori sang istri sampai wanita itu merasa jengah.
"Kamu bisa diam tidak, sih?" tanya Adeline jengkel.
"Sebelum kamu berhenti merajuk, aku tidak akan diam."
"Mandi sana!" perintahnya untuk menghindari suami keras kepala itu.
Wanita beranak satu itu masih berdiri di samping ranjang. Tangannya menggapai tas branded miliknya lalu segera mengambil ponsel. Namun, Danendra merebut paksa benda tersebut sebelum Adeline sempat memainkan benda tersebut.
"Apa, sih?"
"Cium dulu, baru aku mandi."
Laki-laki gagah perkasa itu mendengus kesal seraya mengacak kasar rambutnya sendiri. Danendra mengayunkan langkah besarnya menuju kamar mandi. Meskipun kesal, dia tetap menuruti perintah sang istri. Bisa hancur malamnya nanti jika dia sampai membuat sang istri semakin marah.
Bukan hanya tidak bisa bermanja-manja kepada wanita dewasa yang semakin cantik itu saja, dia bahkan terancam tidak dapat menyentuh buah hatinya jika tidak segera melakukan apa yang diperintahkan.
Setelah Danendra masuk ke kamar mandi, Adeline segera menghubungi seseorang yang beberapa hari ini dia rindukan. Baru dering pertama, tetapi panggilan sudah terhubung.
"Hallo,"
" …."
"Besok kalau ada waktu datanglah. Aku rindu–."
__ADS_1
"Kau merindukan siapa?"
Bisikan di telinganya seketika membuat adeline terkejut. Terlebih saat dia melihat ke bawah, sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya dengan erat. Seseorang yang berada di belakang tubuhnya juga mengendus area tengkuk hingga punggungnya yang sedikit terbuka.
Perbuatan seseorang yang begitu dihafal oleh Adeline itu membuat bulu-bulu halus di tubuhnya meremang. Adeline memejamkan kelopak matanya saat seseorang itu mengecup tengkuknya.
Suara des*han lolos begitu dari bibir seksi Adeline. Seseorang yang berada di seberang telepon pun tidak sengaja mendengar de*ahan lirih yang berasal dari suara sang kakak. Tidak ingin semakin mendengar suara-suara khas percintaan itu, Zico memutuskan untuk mengakhiri panggilan.
"Sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku," bisik Danendra lagi.
Kedua mata yang sempat terpejam itu langsung terbuka sempurna. Adeline baru sadar bahwa dia sedang menelepon sang adik. Wanita dewasa itu pun panik bukan kepalang. Segera dia periksa ponselnya yang ternyata sudah dalam keadaan tidak sedang dalam panggilan.
Adeline langsung melepaskan lingkaran tangan Danendra di pinggangnya. Wanita itu semakin menatap jengkel pada sang suami. Lagi-lagi dia dibuat malu oleh perbuatan sang suami yang sering kali tidak memikirkan dampak dan akibat dari kelakuannya.
"Kamu ini menyebalkan sekali! Zico pasti mendengar suara anehku tadi."
Omelan Adeline barusan seperti jawaban atas pertanyaannya tadi. Sudah mengetahui bahwa yang tadi dihubungi sang istri adalah Zico, Danendra tanpa rasa bersalah melenggang pergi meninggalkan Adeline yang masih komat-kamit menggerutu seperti orang tidak waras.
"Makanya jangan membuatku cemburu, Sayang. Kau ini milikku, jadi tidak akan aku biarkan kamu merindukan siapapun." Danendra menjawab santai sambil membuka lemari baju.
"Memang dasarnya kamu ini menjengkelkan. Dosa apa aku di masa lalu sampai memiliki suami nyebelin kaya kamu!"
Lagi-lagi dibuat jengkel oleh kelakuan sang suami, Adeline memutuskan untuk keluar dari kamar. Wanita itu tidak memperdulikan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Adel!" teriak Danendra saat sang istri tetap saja keluar dan mengacuhkannya.
__ADS_1