Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kecemburuan Adeline


__ADS_3

Adeline langsung melarikan diri ke kamarnya untuk mengganti pakaian yang lebih layak. Wanita hamil itu kembali keluar setelah memastikan penampilannya tidak akan merugikan siapapun terutama diri sendiri tentunya. 


Ketika sampai di dapur ternyata sang mertua sudah menunggunya di sana. Wanita paruh baya itu sudah mengatakan bahwa dia akan membantu sang menantu untuk memasak makanan kesukaan Danendra. 


"Sudah, Ma. Biarkan aku saja," ucap Adeline yang merasa tidak enak karena sang mertua yang kini lebih sibuk memasak. 


"Elin, kamu sedang hamil, Sayang. Kamu tidak boleh terlalu lelah," ujar Silvia menasehatinya. 


"Terima kasih, Ma. Mama sudah sangat menyayangi Elin. Elin beruntung sekali karena mendapat mertua seperti mama," ungkap Elin penuh syukur. Wanita hamil itu memeluk sang mertua dari belakang. 


Jika orang yang melihatnya tidak akan pernah menyangka bahwa keduanya hanya seorang mertua dan menantu. Setiap orang akan mengganggap mereka adalah sepasang ibu dan anak yang begitu kompak. 


"Nah, sudah selesai. Nendra pasti suka, apalagi ini di buat oleh istri tercintanya." Silvia memuji sang menantu, padahal sejak tadi dialah yang lebih banyak bekerja. 


Satu potong Hot dog, Apple pie, Tater tots, serta Buffalo chicken wings kesukaan Danendra sudah tersaji di sebuah wadah bekal khusus yang sudah ditata dengan rapi. 


"Mama bisa saja," jawab Adeline malu-malu. 


"Ya sudah, sana mandi dulu." 


Adeline segera membersihkan tubuhnya serta berdandan simple. Dia sekarang hanya menggunakan dress panjang serta jaket denim. Sepasang flatshoes juga menghiasi kaki mulusnya. Tidak ketinggalan sebuah tas berukuran kecil juga tersampir indah di bahunya yang tertutup. 


Setelah selesai bersiap-siap Adeline pun segera turun. Dia bergegas mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh dia dan sang mertua tadi. 


"Ma, Elin berangkat dulu yah." Adeline mencium pipi kiri ibunya saat berpamitan. 


"Hati-hati, Sayang. Semua pengawal sudah siap mengantar nyonya muda menemui pangerannya," gurau Silvia menggoda sang menantu. 


Adeline hanya menanggapi guyonan sang mertua dengan tawa riang. Ini adalah pertama kalinya dia keluar sendiri tanpa Danendra. Meski demikian, pengawalan tidak kalah ketat dengan saat dia pergi bersama suaminya itu. 


"Padahal cuma mau ke kantor, tapi pengawalannya bagaikan ratu negara yang memiliki jabatan tinggi saja." Adeline menggeleng saat sudah berada di dalam mobil. 

__ADS_1


Iring-iringan mobil yang mengawal Adeline sudah berjalan menuju kantor sang tuan muda. Mereka benar-benar menjaga ketat sang nyonya muda. Apa lagi di dalam perut sang nyonya muda terdapat keturunan yang nanti akan menjadi penerus keluarga Alefosio. 


Hampir satu jam menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor megah dengan logo huruf ALF tersebut. Gerry membuka pintu mobil untuk nyonya mudanya saat melihat kedatangan wanita yang sangat berpengaruh itu. 


"Selamat datang, Nyonya," sapa Gerry dengan ramah. 


"Hem, suamiku dimana, Gerr?" tanya Adeline tanpa basa-basi. Wanita hamil itu bahkan tidak menghiraukan sapaan sang sekretaris pribadi suaminya. 


Mereka berjalan berdampingan, beberapa pengawal khusus tetap mengikuti dari belakang untuk memastikan keamanan sang nyonya muda serta calon tuan muda mereka nantinya. 


"Tuan muda sedang meeting dengan client dari Inggris, Nyonya." 


Adeline menghentikan langkah lalu sejenak menatap heran pada orang kepercayaan Danendra tersebut. "Bukannya Nendra meeting dengan client dari Inggris pagi tadi? Kenapa sampai sekarang belum selesai?" tanya Adeline heran. 


"Mereka datang terlambat, Nyonya," jawab Gerry jujur. 


"Client seperti itu masih dipertahankan. Dia bahkan sampai tega meninggalkan aku yang sedang tidur. Memangnya dia kekurangan uang sampai mengorbankan aku demi mereka yang tidak bisa menghargai waktu?" tanya Adeline menggerutu dengan suara begitu lirih. 


"Anda akan semakin menggerutu saat tahu seperti apa client yang sedang berada di ruang meeting bersama tuan muda, Nyonya." Tentu saja ucapan itu hanya dapat diucap dalam hati.  


Adeline masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan setelah Gerry mempersilahkan dia untuk masuk. Masih dengan sebuah wadah bekal yang di tenteng di tangan kanannya. Gerry memperhatikan apa yang di bawa oleh sang nyonya muda sampai repot-repot datang ke kantor siang terik begini. 


"Nona membawa apa?" tanya Gerry penasaran. 


"Bawa makanan lah! Masa bawa racun." Suasana hati Adeline tiba-tiba memburuk saat mengetahui bahwa client yang semalam di bicarakan oleh sang suami datang terlambat. 


"Bawa racun pun kalau Nyonya yang bawa, saya yakin tuan muda akan dengan senang hati memakannya," timpal Gerry menyindir. 


"Besok, aku bawakan racun untukmu, Gerr. Tidak tahu orang sedang kesal, nyerocos terus dari tadi." 


Seketika Gerry terdiam setelah mendapat ancaman dari nyonya mudanya. Bukan apa-apa, Gerry hanya takut jika suasana hati sang nyonya semakin memburuk akan berimbas pada tuan mudanya. 

__ADS_1


"Aku mau langsung ke ruang meeting. Penasaran seperti apa client penting yang sampai merebut waktuku dan calon anakku untuk bersama ayahnya." 


"Sepertinya akan ada perang dunia kelima ini," gumam Gerry seraya menggaruk keningnya pelan. 


Pintu lift terbuka ketika mereka sudah sampai di lantai tertinggi gedung tersebut. Adeline melangkah dengan anggun tetapi tidak dengan raut wajahnya. Jika biasanya wanita itu akan tersenyum ketika bertemu orang-orang, kini dia hanya melipat bibirnya tanda sedang badmood. 


"Silahkan, Nyo–," belum selesai Gerry mempersilahkan, Adeline sudah lebih dulu menyerobot masuk. 


Danendra langsung bangun saat melihat kedatangan istrinya. Laki-laki muda itu sedikit panik saat melihat ekspresi kesal Adeline. Belum lagi tatapan mata wanita hamil itu menghunus ke arah sang client yang duduk di kursi sampingnya dengan pakaian yang sedikit terbuka di bagian paha. 


"Sayang," sapa Danendra yang langsung mendekat. 


"Bagus ya, meeting dari pagi sampai sekarang belum juga selesai." Sorot mata Adeline seakan-akan dapat membelah tubuh Danendra sekarang juga. "Oh, ini client yang datang terlambat itu, Gerr?" tanya Adeline yang kini beralih pada sekretaris Danendra. 


"Benar, Nyonya." 


Perempuan yang merupakan client perusahaan ALF itu langsung berdiri ketika mendapat sindiran dari wanita yang baru masuk ke ruangan itu. 


"Maaf, Tuan. Bisakah bersikap profesional. Jangan campurkan urusan pribadi dengan urusan kantor," ujarnya dengan ekspresi wajah meremehkan Adeline. 


"Em–," 


"Maaf, Nona. Anda bicara soal profesionalitas, sementara anda sendiri tidak menyadari kesalahan anda. Jika anda merasa diri anda adalah seorang perempuan profesional, saya rasa tangan anda tidak mungkin gatal sampai berani memegang tangan suami orang." 


Danendra hanya menggeleng serta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Istrinya ini memang wanita elegan yang jika marah tidak pernah bermain kasar menggunakan tangan. Wanita hamil itu hanya akan menjatuhkan mental lawannya dengan kata-kata menohok. 


Sebenarnya sejak tadi tidak ada yang aneh dari perempuan yang merupakan rekan kerjanya itu. Entah kenapa tiba-tiba pada detik-detik terakhir perempuan itu sempat berusaha memegang tangannya. Beruntung dia sigap menghindar, jadi itu tidak mungkin membuat Adeline salah paham. 


Sikap Adeline sekarang menurut Danendra hanya sebuah bentuk usaha seorang istri untuk menjauhkan pelakor dari rumah tangganya. Meski dia pun percaya bahwa Adeline tidak mungkin mengira dia akan tergoda oleh wanita-wanita lain di luar sana. 


"Maaf, Tuan. Saya rasa sampai disini saja meeting kita hari ini. Kita bisa lanjutkan lain waktu," ujar si perempuan yang merasa sudah kalah telak dari wanita berperut buncit tersebut. 

__ADS_1


"Sayang sekali karena saya tidak akan membiarkan perusahaan saya bekerja sama dengan wanita seperti anda, Nona. Lebih baik jangan pernah injakan kaki kotor anda di tempat ini lagi," timpal Adeline dengan berani mengambil keputusan tanpa meminta izin dari Danendra. 


__ADS_2