Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Lingerie


__ADS_3

"Kau sudah gila ya, Kak? Menyuruhku memakai pakaian seperti itu? Bukannya tergoda, yang ada Malik akan mentertawakan aku." Rihanna tidak habis pikir karena kakaknya itu menyuruh dia untuk memakai lingerie. 


Membayangkan tubuhnya terbalut pakaian minim berenda itu membuatnya bergidik. Jika itu terjadi pada Rihanna yang dulu, mungkin dia tidak akan berpikir dua kali untuk memakai pakaian seksi tersebut. Namun, sekarang keadaan sudah berbeda. 


Malik, suaminya itu sama sekali tidak tertarik jika dia mengenakan pakaian mini ataupun pakaian yang berbentuk serta warna yang berlebihan. Pada awal pertemuan mereka pun, Malik bahkan pernah mengoloknya hanya karena penampilan yang disebut aneh oleh laki-laki itu. 


"Loh, apa salahnya? Rata-rata suami akan senang jika istrinya tampak seksi di depannya," ujar Adeline karena memang suaminya selalu bergairah saat dia mengenakan pakaian keramat itu. 


"Tidak semua suami suka, Kak. Suamiku itu berbeda dari orang-orang pada umumnya," jawab Rihanna yang mulai paham dengan karakter suaminya. 


Adeline hanya manggut-manggut saja karena jujur dia pun belum pernah dekat dengan laki-laki lain. Yang dia tahu hanyalah suaminya yang memang sejak awal begitu. 


"Lalu kamu mau menghangatkan Malik dengan apa?" tanya Adeline penasaran. 


"Entah. Mungkin aku akan memulai dengan sikapku lebih dulu, Kak. Masalah ranjang, semoga akan ikut membaik dengan berjalannya waktu," ujarnya mantap. 


"Ya sudah kalau begitu. Tapi simpan lingerie ini! Siapa tahu kapan-kapan kamu membutuhkannya." 


Rihanna menurut, wanita hamil itu menerima barang pemberian sang kakak lalu segera menyimpannya di lemari. Setelah itu mereka melanjutkan obrolan mereka yang entah sudah menghabiskan waktu berapa lama. 


Ketika waktunya makan siang tiba, seorang pelayan memanggil kedua wanita itu. Semua orang yang yang berada di mansion itu sudah menunggu kedatangan kakak beradik yang asik sendiri di dalam kamar. 


Keduanya turun dan segera melangkah menuju ruang makan. Mereka masih saja bergurau sepanjang jalan menuju tempat tujuan. Kedatangan mereka membuat setiap orang yang ada di meja makan menatap mereka dengan ekspresi berbeda-beda. 


Rihanna dan Adeline saling pandang saat melihat semua orang menatap ke arah mereka. Keduanya kompak mengedikkan bahunya saat tidak menemukan jawaban atas rasa heran mereka. 


"Kalian kenapa menatap kita seperti itu? Ada yang salah?" 


Kelima orang yang duduk di depan meja makan kompak menggelengkan kepala. Namun, tidak serta merta membuat kedua kakak beradik itu percaya begitu saja. Keduanya mengambil posisi duduk di samping suaminya masing-masing. 

__ADS_1


Karena anggota keluarga sudah lengkap mereka pun segera menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh para koki handal. Semua orang di tempat itu makan dengan keadaan hening, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara.


Adeline menatap sang adik yang duduk tepat di hadapannya. Wanita hamil itu makan hingga habis tanpa gangguan apapun. Tidak seperti dirinya yang pernah mengalami susah makan saat awal kehamilan. 


"Ana, kau memang lapar atau kerasukan?" tanya Adeline tiba-tiba. 


Semuanya kompak menoleh kearah Rihanna. Wanita hamil itu menatap satu persatu keluarga yang menatap ke arahnya. 


"Apa? Rihanna baik-baik saja," ujarnya yakin. 


"Maksudnya kerasukan bagaimana, Sayang?" Kini Danendra yang bertanya karena penasaran dengan pertanyaan istrinya. 


"Ya itu." Adeline menunjuk sang adik dengan dagunya, "Dia makan seperti orang rakus. Padahal dia sedang hamil, Ndra! Kau ingat saat awal kehamilan aku mabok dan tidak doyan makan, 'kan?" 


Mereka yang sempat kaget dengan pertanyaan Adeline kini menghela napas panjang. Wanita beranak satu itu terkadang memiliki pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menggegerkan. 


"Iya, Tante. Kenapa Rihanna seperti tidak terganggu dengan makanan yang masuk ke mulutnya?" 


Kelakuan sang kakak tentu saja membuat Rihanna kesal. Hanya karena dia makan dengan lahap, kakaknya itu sampai mengoloknya dengan kata mengerikan itu. Sedangkan Riani sendiri menarik napas dalam setelah mendapat pertanyaan dari kakak menantunya tersebut. 


"Keadaan setiap ibu hamil itu berbeda-beda, Elin. Tidak semua bisa di sama ratakan. Dulu saat mama hamil kamu dan Rihanna pun berbeda," jawab Nabila dengan lembut. 


Wanita paruh baya itu memutuskan untuk menjelaskan pada putrinya tentang keadaan setiap wanita hamil yang memang tidak semua sama. Satu orang dengan beberapa kehamilan saja terkadang memiliki ngidam yang berbeda-beda, apa lagi jika berbeda orang. 


"Oh, jadi saat dulu hamil aku dan Rihanna, mama lebih kerepotan saat hamil siapa? Pasti Rihanna, ya? Dia kan semenyebalkan itu." 


Mendengar olokan sang kakak, Rihanna langsung menendang kaki kakaknya yang memang berhadapan dengan kakinya. Namun, ternyata Rihanna salah sasaran. Bukannya Adeline yang terkena tendangannya, melainkan Danendra.


Beruntungnya Danendra sama sekali tidak membahas perkara itu. Laki-laki yang saat ini menjadi kakak iparnya itu hanya menatapnya sekilas dengan mata elangnya yang menunjukkan ketidaksukaan. Rihanna hanya tersenyum kikuk sebelum Danendra membuang muka ke arah Adeline. 

__ADS_1


"Ah, gila! Kenapa seceroboh ini, sih?" gerutunya dalam hati. 


Nabila tidak menjawab pertanyaan terakhir Adeline. Wanita paruh baya itu kini berganti ekspresi sedih, terkenang dengan masa lalunya saat hamil dulu. Jika kebanyakan wanita akan dimanja oleh pasangan ketika hamil, itu tidak terjadi padanya. Saat kehamilan pertama maupun kedua, dia sama-sama tidak mendapat perhatian dari siapapun. 


Danendra yang peka dengan perubahan ekspresi sang mertua dan dia juga mengetahui setiap kesulitan yang terjadi pada mertuanya itu pun mengalihkan pembicaraan. Sementara itu, Adeline sama sekali belum sadar bahwa pertanyaannya membuat sang ibu bersedih. 


"Malik, kau kapan akan sembuh?" tanya Danendra kepada saudaranya yang sejak tadi hanya diam saja. 


"Entahlah, memangnya kenapa?" tanya balik Malik yang kemudian meneguk segelas air putih. 


"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja. Kau tidak berencana membawa istrimu baby moon?" tanyanya tanpa filter. 


Air putih yang sedang di teguk oleh Malik seketika menyembur keluar saat Malik terkejut dengan pertanyaan Danendra. Calon ayah muda itu sampai terbatuk berkali-kali, beruntung Rihanna dengan sigap menepuk pelan punggung sang suami. 


"Apa untungnya kau menanyakan hal itu, Ndra!" pekik Malik setelah merasa lebih baik. 


"Tidak ada. Hanya saja kita bisa melakukannya bersama. Kau babymoon, dan aku honeymoon." Danendra tanpa rasa malu mengatakan itu. 


Kini tidak hanya Malik yang terbatuk. Namun, semua orang yang berada di tempat itu, tidak terkecuali Adeline. Padahal mereka tidak sedang meminum ataupun makan sesuatu. 


"Tidak tahu malu! Kau ini sudah beranak dan malah ingin melakukan honeymoon." Malik mencibir Danendra yang bertingkah bagaikan pengantin baru. 


"Memangnya kenapa? Dulu aku tidak sempat melakukan honeymoon gara-gara istrimu. Jadi sekarang apa salahnya aku ingin mengajak istriku tercinta untuk menikmati bulan madu," ujarnya tanpa basa-basi. 


Rihanna yang sadar atas kesalahannya dulu hanya bisa menundukkan kepala. Malu, itulah yang saat ini selalu menghantui pikiran wanita hamil muda itu. Melihat perubahan sikap Rihanna yang langsung menyembunyikan wajahnya, Malik pun menatap tajam Danendra. 


"Kau sepertinya sangat hobi menyalahkan istriku, Nendra. Tidak bisakah melupakan masa lalu kalian yang buruk?" 


"Sudahlah, Malik. Jangan terlalu emosi. Semua itu memang kesalahanku," tegur Rihanna yang tidak ingin terjadi keributan. 

__ADS_1


__ADS_2