
"Jadi, Bos kenal dia?" tanya Celine memastikan.
"Iya. Dia sudah sepuluh tahun menjadi sekretaris sepupuku, jadi sudah seperti keluarga. Biar aku kembalikan dompet ini," kata Malik.
"Hah! Jangan, Bos!" larang Celine yang langsung merebut dompet Gerry dari tangan Malik.
"Kenapa jangan?" tanya Malik yang seketika menaruh curiga.
Celine sedikit gelagapan untuk menjawab pertanyaan sang atasan, "Em, biar-kan saja dia mencari sendiri dompetnya, Bos," ucap Celine pada akhirnya.
Malik menerbitkan senyum tipisnya, lalu meraih kembali dompet milik sekretaris sepupunya itu, "Celine, perbuatan kamu menolong dia itu sudah bagus. Aku bahkan bangga padamu. Tapi, jangan kotori kebaikan kamu hanya karena amarah sesaat. Itu hanya akan menyesatkan diri kamu sendiri," kata Malik menasehati Celine.
"Tapi dia … sudah keterlaluan, Bos," timpal Celine.
"Mungkin saja dia tidak berniat kabur dari sana. Dia itu orang kepercayaan Danendra. Saya tahu dengan pasti bahwa dia orang yang dapat dipercaya dan tidak mungkin kabur dari tanggung jawabnya," katanya lagi.
Celine pun terdiam. Dia sedang memikirkan ucapan bosnya yang memang ada benarnya. Jika memang laki-laki itu bisa mengemban tugasnya sebagai seorang sekretaris orang penting seperti sepupu sang bos selama sepuluh tahun, itu artinya laki-laki itu benar-benar bisa dipercaya.
Diamnya Celine dianggap sebagai pertanda bahwa tangan kanannya itu menyetujui perkataannya, "Boleh kan jika saya kembalikan pada pemiliknya?" tanyanya meminta persetujuan.
"Em, baiklah, Tuan. Saya setuju dengan niat baik anda," ucap Celine mengalah.
"Aku tidak pernah salah pilih, Cel. Semua karyawanku adalah orang baik, dan kini kamu membuktikannya," puji Malik kepada sekretarisnya.
Celine hanya menanggapi pujian Malik dengan senyum tipis. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia masih belum mengikhlaskan dompet itu dikembalikan pada pemiliknya. Dia masih ingin membuat pelajaran dengan si pemilik yang sudah sangat menyebalkan itu.
"Nah, sudah sampai di kantor" katanya setelah mereka berada di halaman perusahaan Malik.
Keduanya turun bersamaan, kemudian masuk ke dalam gedung megah itu. Mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan.
*****
Setelah istirahat makan siang Malik mendatangi Gerry di kantor Danendra, sekaligus ada sesuatu yang perlu dia bicarakan dengan sepupunya itu. Karena di tempat itu banyak yang sudah mengenali siapa Malik, dia dengan leluasa masuk ke ruangan Danendra tanpa izin siapapun.
"Malik!" seru Danendra terkejut.
Si tamu tidak diundang nyelonong masuk tanpa memperdulikan reaksi dari si pemilik tempat, "Kenapa melotot gitu?" tanyanya. Dia pun mendudukkan dirinya di kursi yang berada di hadapan Danendra, "Kaya lihat hantu aja," cibir Malik dengan raut mengejek.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Danendra kesal.
"Main, lah," jawabnya santai.
Danendra merotasikan kedua bola matanya, "Gue enggak ada waktu buat main-main, Malik!" serunya, dia tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Sok sibuk, kamu, Ndra!" Malik dengan iseng menutup berkas yang sedang diperiksa oleh sepupunya.
Mendengar cibiran serta sikap kurang ajar Malik, Danendra hanya mendengus kesal, "Kau tidak ada pekerjaan lain memangnya?" tanya Danendra seraya melemparkan bolpoin miliknya yang langsung ditangkap oleh Malik.
Berhasil membuat sepupunya kesal Malik pun tertawa, "Iya-iya, aku ke sini ingin bertemu sekretarismu itu, Ndra!" Pada akhirnya, Malik menyampaikan niat awalnya datang ke tempat itu.
"Kalau mau bertemu Gerry, ngapain dateng ke ruangan gue, Beg*?" Nada bicara Danendra sudah naik satu oktaf.
"Ya sekalian aku ada perlu juga sama kamu," jawabnya santai.
Danendra menyandarkan punggungnya di kursi kerja miliknya. Tatapan matanya memicing guna memperhatikan sang sepupu yang datang tanpa memberi kabar.
"Lo ada perlu apa sama gue dan Gerry?"
"Sabar, nanti juga aku kasih tahu, kok!" Malik menaruh kembali bolpoin milik Danendra di meja, "Panggil dulu sekretarismu itu, Ndra!" perintahnya.
"Cih! Berani banget lo memerintah gue," cibirnya, tetapi dia tetap menghubungi Gerry melalui intercom.
"Gee, ke ruanganku sekarang!"
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda,' jawab Gerry menurut.
"Tunggu aja, dia lagi jalan ke sini," ucapnya pada Malik.
"Oke, aku tunggu," timpal Malik.
Tidak menunggu waktu lama Gerry pun datang. Pria kepercayaan Danendra itu mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan sang tuan muda.
Gerry melangkah menghampiri Tuan mudanya. Dia sedikit bingung saat melihat ada Malik di sana. Namun, Gerry tidak memperdulikan itu.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Gerry kepada Danendra.
Danendra menunjuk Malik menggunakan anggukan kepalanya, "Malik mencarimu, Ger. Tanya saja padanya Ada perlu apa."
Kini Gerry menatap sepupu tuan mudanya yang duduk tepat di hadapan sang tuan muda, "Ada perlu apa mencari saya, Tuan Malik?"tanyanya bingung.
Malik mengeluarkan sesuatu dari balik jas kerjanya, lalu mengulurkannya pada Gerry. Pria itu sedikit terkejut saat melihat dompetnya ada di sepupu sekaligus ipar sang tuan muda.
"Dompet saya. Anda dapat dompet saya dari mana, Tuan?" tanyanya masih dengan ekspresi terkejut.
Gerry sama sekali tidak menyadari bahwa dompet itu telah hilang darinya. Meski sempat mencari barang tersebut. Namun, Gerry berfikir mungkin dompet tersebut tertinggal di dalam mobil yang menjadi saksi bisu kecelakaan beberapa hari yang lalu.
"Dari sekretarisku, dia bilang menolong pemilik dompet ini saat kecelakaan beberapa hari yang lalu. Dia membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit. Sayangnya, orang itu justru kabur dari rumah sakit," ungkap Malik kepada Gerry.
Seketika Gerry mengingat tentang wanita aneh yang menjadi pemicu dirinya kecelakaan. Jika bukan karena ingin menghindari wanita itu agar tidak terluka mungkin dirinya pun tidak akan celaka.
"Jadi cewek aneh itu sekretaris anda?" tanya Gerry seraya menerima dompet miliknya dari Malik.
"Cewek aneh?" tanya Danendra dan Malik serempak.
"Iya aneh. Masa cewek penampilannya gitu. Saya tidak menyangka kalau dia bekerja sebagai seorang sekretaris. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia seorang asisten pribadi dari pemilik perusahaan besar." Gerry mengoceh mengeluarkan unek-uneknya.
"Maksud kamu?" tanya Malik heran.
"Kenapa kau mencelanya, padahal dia sudah baik menolongmu, loh! Setidaknya jika tidak ingin memberikan imbalan bilang terima kasih padanya. Jangan malah kabur!" tegur Danendra.
"Maaf, Tuan. Saya hanya kesal saja. Jika bukan karena dia menyeberang jalan sembarangan, Saya tidak mungkin kecelakaan," sahut Gerry tetap kekeh bahwa dirinya tidak bersalah.
"Terserah padamu lah. Tapi jika aku bertemu dia, aku yang akan meminta maaf padanya atas kesalahanmu."
"Jangan, Tuan!" larang Gerry tidak setuju.
"Kenapa?"
"Anda orang terhormat, untuk apa meminta maaf pada orang lain demi saya?" Gerry sedikit bergumam, tetapi Danendra masih bisa mendengarnya.
"Kalau begitu kau yang harus meminta maaf padanya. Ini keputusanku, tidak bisa diganggu gugat!" peringat Danendra tegas.
"Baiklah," balasnya lesu, dia tidak mungkin berdebat dengan tuan mudanya.
"Ya sudah. Kau boleh keluar," ucap Danendra disertai kibasan tangannya.
"Baik. Saya permisi, Tuan," pamit Gerry sopan.
Usai kepergian Gerry dari ruangan itu kini tinggal Danendra dan Malik yang saling berhadapan. Danendra hendak melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Namun, kembali di hentikan oleh Malik.
"Apa lagi, sih?" tanya Danendra disertai decakan kesal.
"Aku masih perlu bicara," jawab Malik.
"Memangnya sejak tadi lo enggak bicara?" tanyanya menyindir.
"Ini serius, Ndra!" pekik Malik yang mulai terpancing.
__ADS_1
"Iya-iya. Ada apa?" Danendra memasang ekspresi serius, kedua netranya pun memperhatikan raut wajah Malik.
"Rencana liburan ke Indonesia, gimana?" tanya Malik yang kembali mengungkit rencana mereka tiga bulan yang lalu.
"Kita ada rencana itu, ya?" tanya Danendra yang memang lupa dengan rencana itu.
"Ish! Kau tidak asik sekali, Ndra. Ayolah, mumpung kandungan istriku juga sudah aman," bujuk Malik.
"Enggak mau ah, nanti dimarahin mamimu lagi," tolak Danendra.
"Aku udah konsultasi ke dokter, katanya boleh-boleh aja. Mami juga udah aku tanyain, dia bilang terserah Kayla. Kita mau berangkat Minggu ini, kalau mau ikut, ayo!" Malik sangat bersemangat untuk membujuk sepupunya.
"Gue tanya istri gue dulu, deh! Nanti gue kabarin," jawab Danendra yang tidak mau mengambil keputusan sepihak.
"Okelah, aku pulang dulu. Nanti jangan lupa kabarin, yah!"
Danendra hanya mengangguk. Malik pun berlalu dari sana. Dia buru-buru kembali ke kantor karena masih memiliki banyak pekerjaan.
*****
Malam harinya Danendra baru saja pulang dari kantor. Dia sengaja lembur agar pekerjaannya tidak berantakan jika nanti hasil pembicaraannya dengan sang istri adalah mereka fiks ikut liburan bersama dengan Malik dan Rihanna.
Adeline sendiri sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer setelah dia keramas. Dia yang sedang fokus dikejutkan oleh sepasang tangan yang melingkar di perut ratanya.
Dia tersenyum lembut saat sang suami menyandarkan kepala di bahunya. Buru-buru dia menaruh alat yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya tadi di atas meja rias.
"Sayang," panggil Danendra dengan nada manja.
"Iya, kenapa? Capek?" tanya Adeline seraya mengelus rahang suaminya yang masih menyandarkan kepala di bahunya.
"Bukan. Aku mau ngomong penting sama kamu," ujarnya.
"Ngomong tentang apa?" tanya Adeline mulai penasaran.
"Malik tadi datang ke kantor kita," ucapnya menggantung.
"Terus?"
"Dia mau ajak kita liburan ke Indonesia."
"Hah! Bukannya mertua Rihanna melarang mereka liburan ke sana?"
"Itu dulu. Saat kandungan Rihanna masih lemah. Sekarang kan enggak," timpalnya.
"Kamu yakin?"
"Malik bilang, mereka sudah konsultasi ke dokter."
"Tapi, kenapa harus Indonesia?"
"Memangnya kenapa? Kamu enggak mau ke sana karena gagal jadi orang sana, yah?"
"Bukan itu. Aku cuma khawatir sama kandungan Rihanna aja, kok!"
"Kan nanti bisa bawa dokter pribadi, Sayag," bujuk Danendra.
"Devan gimana?" tanya Adeline mencari alasan lain.
"Devan ikut sama kita lah!"
"Kamu serius?"
"Lebih dari serius malah," ujarnya seraya mengeratkan pelukan, "Aku pengen kita honeymoon biar Devan cepet jadi kakak," bisiknya di telinga Adeline.
__ADS_1