Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Meminta Restu


__ADS_3

Celine menarik tangan Gerry untuk keluar dari ruang rawat ibunya. Dia sangat kesal dengan ucapan pria itu yang tiba-tiba membicarakan tentang pernikahan. Padahal, mereka sama sekali tidak memiliki kedekatan. Jangankan dekat, kenal pun tidak. 


Gerry hanya menurut saat Celine menariknya sampai keluar dari ruang rawat ibu Celine. Saat mereka sudah berada di luar, Celine baru melepaskan tangan Gerry. 


Dia menatap geram pria di hadapannya, "Apa maksud kamu? Kenapa ngomong sembarangan sama ibu?" tanya Celine geram. 


"Aku tidak sembarangan, kok!" 


"Terus kenapa bilang kita akan menikah setelah ibu keluar dari rumah sakit? Kalau ibuku tahu kamu berbohong, dia pasti akan kecewa." 


"Siapa bilang aku berbohong?" tanya Gerry kepada Celine. 


"Hah! Kamu serius?" tanya balik Celine dengan mata membulat sempurna. 


"Aku sudah bilang, aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku, 'kan?" Gerry tidak menjawab pasti, tetapi dari kata-katanya itu mempertegas bahwa dia sangat serius. 


"Aku enggak bisa," tolak Celine tegas. 


Dia berpikir bahwa pria di hadapannya ini adalah seorang pembuat. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba menikah, sedangkan mereka sama sekali belum mengenal pribadi satu sama lainnya. 


"Aku tidak menerima penolakan. Mau atau tidak, kita akan tetap menikah setelah ibumu keluar dari rumah sakit!" Keputusan Gerry sudah bulat, dia tetap akan menikahi Celine secepatnya. 


"Aku bilang tidak, ya tidak. Aku sudah memiliki calon!" seru Celine berbohong. 


Gerry mengulurkan tangannya menggapai dagu Celine. Dia sedikit memegangnya dengan keras. "Kau mau menikah denganku, atau calon suamimu mati ditangan ku?" 


Celine menyentak kasar tangan Gerry dari dagunya. Ancaman pria itu terdengar sangat menakutkan. Namun, Celine pun tidak bisa menerima begitu saja keputusan sepihak Gerry. 


"Terserah, tapi aku tidak mau menikah denganmu." Celine tetap saja menolak, dia berniat pergi meninggalkan Gerry. Namun, Gerry dengan cepat mencekal pergelangan tangan Celine. 


"Menikahlah denganku, akan aku tanggung semua keperluan ibu dan adikmu. Aku akan mencarikan donor ginjal untuk ibumu jika kamu bersedia menikah denganku," ucap Gerry, dari kata-katanya terdengar serius.


Kini Celine mulai tertarik setelah Gerry menawarkan donor ginjal untuk sang ibu. Namun, Celine pun tidak bisa secepat itu mengambil keputusan. Dia juga harus berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu yang amat sangat sensitif itu. 


Celine kembali menyentak tangan Gerry hingga terlepas. Dia bergegas pergi dari sana dengan perasaan yang bercampur aduk. Di sisi lain dia sangat bersyukur jika nantinya sang ibu akan sembuh, tetapi dia pun tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Celine tidak memiliki rasa apapun kepada Gerry. 


Ditinggal begitu saja oleh Celine, Gerry pun akhirnya pergi dari rumah sakit itu. Akan tetapi, sebelum pergi Gerry sempat mengurus deposit untuk biaya perawatan ibu Celine. Sedikit banyak dia sudah tahu tentang kehidupan Celine dari Malik. 


Usai mengurus biaya rumah sakit ibu Celine, Gerry pulang ke apartmentnya. Dia memutuskan untuk beristirahat lebih dulu sebelum nanti kembali disibukkan dengan urusan kantor. 


Selama di apartment, Gerry pun sulit untuk beristirahat. Dia terus terbayang-bayang raut wajah penuh harap ibu Celine. Sedikit rasa bersalah karena sudah memberikan harapan kepada wanita tua itu pun muncul di benaknya. 

__ADS_1


"Aku harus bisa menikahi Celine. Selain untuk membuktikan pada Indira bahwa aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya, aku juga tidak bisa membiarkan ibunya Celine kecewa karenaku," gumam Gerry. 


Gerry kembali mengingat saat sebelum berangkat Ke Indonesia, Indira sempat menemuinya. Perempuan yang sudah tega mengkhianatinya itu datang untuk meminta maaf dan memohon agar Gerry tidak mengakhiri hubungan mereka. 


"Ger, aku mohon. Kembalilah! Aku sudah menyesali perbuatanku," pinta Indira saat itu.


"Apakah dengan penyesalan kamu, dapat menyembuhkan rasa sakit di hatiku, In?" tanya Gerry dengan nada kecewanya. 


"Aku khilaf, Ger. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tapi tolong, jangan putuskan aku," mohonnya dengan tidak tahu diri. 


Perempuan itu berusaha mendekap Gerry. Namun, Gerry dengan cepat menghindar. Pria itu merasa jijik pada perempuan di hadapannya yang sudah tega berkhianat. 


"Jangan pernah sentuh aku dengan tubuh kotormu itu, Indira!" bentak Gerry mulai geram. 


Indira menatap Gerry dengan mimik memelas. Dia berusaha sebaik mungkin memperlihatkan sisi rasa bersalahnya agar Gerry mau menerimanya kembali. 


"Aku mohon, Ger. Kembalilah. Kita mulai semua dari awal," pinta Indira, setetes cairan bening menetes dari sudut mata kanannya. 


Gerry menyeringai, "Aku akan menerima kamu, jika kamu bisa mengembalikan kesucianmu, Indira." 


Kedua netra Indira membulat setelah mendengar persyaratan yang diajukan oleh Gerry. "Kamu sudah gila, yah! Aku tidak mungkin bisa mengembalikan kesucian, Ger. Itu mustahil." 


"Kalau begitu, untukku kembali bersamamu juga mustahil, In. Aku tidak akan pernah sudi kembali pada wanita murah*n sepertimu!" 


Gerry mengepalkan tangannya saat mendengar Indira mengatakan hal itu. Rasanya Gerry sangat ingin menampar wanita di depannya ini. Namun, Gerry tidak melakukan itu karena walau bagaimanapun, dia masih tetap mengingat kenangan indah bersama Indira. 


"Jadi kau berpikir tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki seperti aku?" tanya Gerry, dia mati-matian menahan amarah yang sudah menumpuk di ubun-ubun. 


"Begitulah. Aku yakin tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki tidak jelas seperti kamu. Dan pada saat itu terjadi, kamu akan mengemis padaku agar mau kembali padamu." Dengan percaya dirinya Indira berkata seperti itu. 


"Kita lihat saja nanti. Jika dalam waktu dekat kau tidak menerima undangan pernikahanku, maka aku akan mundur dari jabatanku sebagai tangan kanan Tuan Mudaku," pungkas Gerry tanpa ragu, dia bahkan sampai mempertaruhkan jabatan pentingnya itu. 


Gerry tersadar dari lamunannya tentang pertaruhannya dengan Indira. Dia bangkit dari ranjang besarnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi. 


Dia membasuh wajahnya agar terasa lebih segar. Niatnya untuk beristirahat ternyata gagal total. Gerry keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya. 


Setelah rapi dengan pakaian casualnya, Gerry keluar dari apartemen. Dia perlu menenangkan dirinya agar tidak terus larut dalam lamunan tentang ucapan Indira yang mengatakan asal-usulnya tidak jelas. 


Di perjalanan, Gerry menyempatkan diri mampir ke toko bunga. Dia membeli dua buket bunga tulip. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Gerry pun kembali melanjutkan perjalanan. 


Kini tibalah Gerry di tempat tujuan, Gerry berjalan masuk ke area makam setelah memarkirkan mobilnya. Dia berjalan menuju tengah-tengah makam itu yang merupakan makam seseorang yang sangat dicintainya. 

__ADS_1


Gerry berlutut di sebuah makam bertuliskan nama 'Rebecca Paramitha'. Senyum simpul menghiasi wajah tampan Gerry saat menatap makam yang dipenuhi kelopak bunga mawar itu. Dia menaruh satu buket bunga tulip yang dia beli tadi di atas batu nisan. 


"Hai, Mom," sapa Gerry dengan senyum simpul. 


Gerry meraba batu nisan bertuliskan nama sang ibu yang sudah lama meninggalkan dirinya seorang diri di dunia. Netra sekretaris andalan Danendra itu mengembun saat mengenang masa kecilnya bersama sang ibu. 


"Mom, Gerry minta maaf karena lama tidak berkunjung. Tapi, Mom tidak perlu khawatir, Gerry selalu mendoakan Mom, kok!" 


Pelupuk mata Gerry sudah banjir oleh bulir bening yang berusaha dia tahan agar tidak jatuh. Gerry tidak ingin menangis di atas pusara sang ibu. Pria itu masih ingat dengan jelas saat ibunya berpesan agar dia harus menjadi pria hebat dan tidak boleh cengeng. 


Sekuat apapun Gerry menahan, nyatanya bulir bening itu menetes ke tanah pusara sang ibu. Sadar bahwa dia telah mengecewakan sang ibu dengan menangis di atas makan, Gerry pun menyeka air mata itu dengan tangannya. 


"Maaf, Mom. Gerry hanya lelah, kok! Mom tenang saja, Gerry masih menjadi laki-laki hebat seperti yang Mom bilang dulu."


Gerry kembali memaksa bibirnya untuk tersenyum, meskipun jauh di lubuk hatinya, Gerry ingin menangis, meraung keras agar semua bebannya menghilang. 


"Oh iya, Mom. Gerry sengaja datang karena ingin meminta restu dari mom. Gerry akan melamar calon menantu mom. Semoga dia tidak menolak putra mom yang nakal ini, yah!" kelakar Gerry dengan menahan sesak dihati. 


Dia melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Gerry menghela napas sebelum akhirnya berpamitan kepada makam ibunya. 


"Mom, Gerry pulang dulu, yah! Gerry mau melamar wanita pilihan Tuan Muda untuk menjadi istri Gerry," pamitnya. 


Gerry pun bangkit setelah meminta izin serta berpamitan kepada ibunya. Hatinya yang tadi terbelenggu oleh ucapan dan hinaan Indra kini terasa lebih baik. 


Dia kembali mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Gerry berniat melamar Celine dengan cara yang lebih halus. Dia baru sadar bahwa yang tadi dia lakukan pada Celine sama sekali tidak pantas.


Begitu sampai di rumah sakit, Gerry pun segera berjalan menuju ruang rawat ibu Celine yang kini sudah dipindahkan ke ruang VVIP berkat Gerry. Tadi Celine sempat kebingungan saat suster memindahkan sang ibu ke ruang yang harganya tidak murah itu. Namun, setelah si suster menjelaskan bahwa ada orang yang sudah mengurus semua biaya perawatan sang ibu, Celine baru merasa lega.


Meski si suster tidak menyebutkan nama seseorang yang telah mengurus administrasi perawatan si ibu, Celine dapat menebak bahwa itu adalah ulah Gerry. 


Saat Gerry masuk ke ruang rawat ibu Celine, ketiga orang yang ada di dalam sana tersenyum lembut ke arahnya. Gerry sedikit heran karena tiba-tiba sikap Celine berubah dalam waktu sekejap saja. 


Gerry berjalan menghampiri ibu Celine yang masih duduk bersandar di brankar pasien. Pria itu menyerahkan satu buket bunga tulip yang tadi dia beli kepada ibu Celine. 


"Terima kasih, Nak Gerry," ucap ibu Celine dengan mata berbinar. 


"Sama-sama, Bu," jawab Gerry, sorot matanya masih tertuju pada Celine yang masih saja tersenyum. "Bu, apakah kalian habis menerima undian berhadiah?" tanyanya berbisik. 


Ibu Celine sedikit kebingungan saat Gerry berbisik di telinganya. Namun, saat mengikuti arah pandang Gerry, ibu Celine akhirnya paham. 


"Celine sedang senang, Nak. Katanya kamu habis melamarnya," ucap si ibu membocorkan informasi itu. 

__ADS_1


"Ibu!" tegur Celine malu-malu. 


__ADS_2