
Seorang wanita berjalan mengendap-endap di sebuah rumah mewah. Matanya memantau ke segala penjuru, memastikan bahwa dia akan aman dan tidak terpergok pulang ke rumah tengah malam.
"Semoga saja semua orang sudah tidur. Aku tidak ingin mereka curiga karena aku pulang tengah malam," gumamnya seraya berjalan pelan-pelan.
Wanita itu sebenarnya sudah keluar dari hotel sejak sore, tetapi karena dia merasakan kesakitan luar biasa di bagian intinya akhirnya dia memutuskan untuk memeriksakan diri di rumah sakit. Itu sebabnya dia sampai di rumah pada tengah malam.
Ruangan yang semula gelap tiba-tiba terang karena lampu menyala total. Langkah wanita itu seketika terhenti saat mendengar suara tepukan tangan dari arah belakang. Panik, dia segera memutar tubuhnya. Rasa terkejutnya semakin besar saat melihat seorang pria menatapnya dengan sorot mata penuh amarah.
"Kak Ichad, kamu sudah kembali?" tanyanya dengan nada gugup sambil berjalan mendekat.
"Dari mana saja kamu? Mencari kehangatan di ranjang tetangga?" tuduhnya kepada sang istri.
Grasiella menggeleng sebagai jawaban. "Ella baru saja dari rumah sakit, Kak. Ella merasa tidak enak badan," jawabnya sambil melepas tas yang tersampir di bahu lalu mencari obat yang diberikan oleh dokter tadi.
Richard memicingkan matanya dengan tatapan menyelidik. Dia sama sekali tidak mempercayai ucapan sang istri barusan, apa lagi setelah mendapatkan kiriman Vidio panas yang berisi wanita itu.
"Kamu tidak sedang membohongiku, 'kan?" tanyanya dengan sorot mata menajam.
__ADS_1
"A-aku tidak bohong, Kak," elaknya seraya menabrakkan diri di dada suaminya. "Ella rindu, Kak." Tangannya dengan nakal membelai lembut dada suaminya.
Dasar suami istri yang gila akan olahraga berkeringat itu, mereka akhirnya berbaikan dengan cara memadu kasih di atas ranjang. Meskipun Grasiella masih merasakan sakit di bagian inti tubuhnya, dan mendapatkan saran agar tidak melakukan penyatuan selama pengobatan, nyatanya Grasiella hanya mampu membujuk Ricardo dengan sentuhan serta kehangatannya saja.
Suara des*han memenuhi kamar mewah milik Grasiella. Wanita itu hanya pasrah ketika sang suami menggempurnya hebat sambil menahan rasa sakit dengan menggenggam erat ujung seprei yang sudah berantakan.
Sementara itu, Richard sedikit merasa ada yang aneh. Istrinya itu biasanya melakukan perlawanan ketika melayaninya, tetapi saat ini wanita itu justru terlihat seperti sedang menahan sakit. Namun, dasarnya Richard sama sekali tidak peduli, dia tetap melanjutkan kegiatannya.
Pria yang usianya terpaut sepuluh tahun dari sang istri itu ambruk setelah mendapatkan pelepasan untuk kedua kalinya. Napasnya masih berkejaran karena terlalu lama melakukan kegiatan yang sebenarnya melelahkan tersebut. Keringat mengucur deras di seluruh tubuh, akan tetapi sama sekali tidak mengganggu pria dengan sebutan kumbang girang dari Danendra.
"Sial, kenapa rasanya semakin sakit saja, sih!" Grasiella buru-buru turun dari ranjang untuk mengambil obatnya.
"Ayo kita berobat, Ella. Mama khawatir ada yang salah dengan syaraf kamu," ajak Monica membujuk Grasiella, yang hanya mendapat penolakan dari anak kesayangannya itu.
"Ella baik-baik saja, Ma. Ella hanya butuh istirahat saja," elaknya setiap kali sang ibu dan ayahnya mengajaknya untuk berobat.
Sedangkan Richard, suami Grasiella itu justru kembali menghilang. Entah kemana perginya pria itu, keluarga Antonio malas untuk mencarinya.
__ADS_1
Karena sakit Grasiella sudah sampai berhari-hari tidak kunjung membaik, akhirnya wanita itu terpaksa melakukan aktifitas menggunakan kursi roda. Hingga saat ini, kedua kakinya benar-benar tidak bisa di gerakkan sama sekali.
Keadaan itu pada akhirnya sampai di pendengaran Adeline. Wanita yang masih saja menyayangi adiknya itu memohon pada sang suami untuk menjenguk sang adik. Namun, Danendra dengan tegas menolak.
"Kamu lebih baik fokus pada diri kamu sendiri, Sayang. Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu menemui mereka, kecuali Zico!"
"Tapi, Nendra, adikku pasti butuh dukungan dariku." Adeline kekeh tetap merayu suaminya.
"Kalau kamu memaksa, aku juga akan menuntut kamu untuk segera memberikan aku keturunan, Adel! Ingat, yah! Syarat dari mama tidak bisa kita anggap enteng."
Wanita dewasa itu selalu kalah jika sang suami sudah membahas perkara kehamilan, karena hingga hampir satu bulan ini dia belum juga yakin bahwa dia akan mampu menyanggupi syarat dari sang mertua.
"Dari pada memikirkan mereka, lebih baik kamu fokus pada diri kamu sendiri, Adel. Bangkit dan berjuanglah! Mana janjimu yang pernah bilang hanya akan menangis satu hari? Nyatanya sampai sekarang aku masih sering melihatmu menangis diam-diam."
Adeline diam tidak bergeming, ucapan sang suami memang benar. Nyatanya sampai saat ini dia belum juga dapat berdamai dengan takdirnya yang sangat menyedihkan. Keluarga yang dulu selalu dia banggakan, ternyata mereka bukan siapa-siapa, dan lebih parahnya lagi mereka sekarang sudah membuangnya jauh tanpa mau menoleh.
"Kamu benar, Nendra. Aku harusnya bangkit, bukannya semakin lemah seperti ini." Adeline beberapa kali sampai memukul kepalanya agar tidak lagi memikirkan tentang keluarga yang sudah membuangnya itu.
__ADS_1
"Cukup, Adel! Kau bisa membun*h dirimu sendiri jika seperti ini!" bentak Danendra sambil menghalangi kegiatan nekat istrinya.