
Bagaikan di siram air garam di luka yang kembali menganga. Perih, pedih, sakit dan sama sekali tidak pernah ada di bayangan seorang Adeline. Saat ini, dia kembali harus merasakan di langkahi oleh adiknya sendiri. Lagi dan lagi harus menerima kenyataan pahit, baru beberapa bulan yang lalu hatinya di hancurkan berkeping-keping akibat pernikahan adik perempuannya, hari ini dia harus mengikhlaskan dirinya kembali menjadi olokan para tamu undangan.
Adeline tersenyum lembut ketika sang adik menatapnya sekilas. Zico dan Queen tengah berjalan menuju pelaminan megah. Mereka nampak serasi, Zico yang tampan dan gagah menggunakan setelan tuxedo berwarna putih, dan Queen yang semakin cantik dengan gaun putih tanpa lengan yang memiliki ekor panjang menjuntai serta sebuah mahkota kecil yang tersemat di rambut panjangnya. Gaun itu nampak sangat indah ketika si pengantin berjalan dengan langkah anggun.
Sementara itu, puluhan pasang mata menatap padanya dengan tatapan meremehkan. Seakan-akan dia adalah sampah dunia yang tersisihkan dan tidak di pedulikan. Adeline hanya mampu menulikan pendengarannya agar tidak semakin sakit ketika mendengar gunjingan setiap orang padanya.
"Kamu kuat, El. Lihatlah, adikmu bahagia di pelaminan itu!" Adeline menatap sang adik yang tengah berada di atas pelaminan, menyalami tamu undangan yang hadir.
Zico nampak bahagia meski sesekali tetap mengalihkan pandangannya pada sang kakak yang terpaksa di langkahi. Raut wajahnya juga menampakkan kekhawatiran. Mungkin pemuda itu juga merasa menyesal atas apa yang terjadi saat ini.
Ketika Adeline sedang duduk sendirian meratapi nasibnya yang menyedihkan, seseorang tiba-tiba datang menghampiri. Perempuan bergaun Hitam selutut itu sama sekali tidak memperdulikan seseorang yang tanpa permisi langsung duduk di sampingnya.
"Wah, terjadi lagi, El. Kau di langkahi oleh adikmu lagi. Sungguh menyedihkan sekali nasibmu," ujarnya mengolok Adeline, arah pandang mereka sama tertuju pada sepasang pengantin di atas pelaminan.
Adeline tersenyum tipis serta menggelengkan kepala pelan. "Bukan urusanmu! Lebih baik kau pikirkan saja nasibmu sendiri," jawabnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku." Tunjuknya pada diri sendiri. "Memangnya aku kenapa? Bukankah hidupku sempurna."
__ADS_1
Adeline yang sedang memegang gelas berisi minuman seketika mengalihkan pandangannya untuk sejenak menatap seseorang yang duduk di samping. "Kau bilang sempurna? Apakah dengan cara menikahi adikku, kau merasa hebat?" tanyanya dengan mata memicing.
"Tentu saja! Dia jauh lebih hebat darimu." Seseorang itu merebut gelas dari tangan Adeline lalu tanpa malu meneguk minuman milik si lawan bicaranya.
"Jika kau sadar tentang itu, lalu untuk apa kau menghampiriku? Temani saja adikku. Jangan sampai membuatnya curiga!" Adeline berdiri dengan niat untuk menyingkir, akan tetapi si pria dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.
"Duduk!" perintahnya tanpa menatap si perempuan.
"Lepas!" bentak Adeline dengan suara lirih.
"Jangan melewati batasmu, Rich. Aku tidak segan membongkar kebusukanmu sekarang juga!" ancam Adeline penuh amarah.
"Bongkar saja, El. Aku tidak keberatan jika kehilangan adikmu, asal setelah itu Kau mau kembali padaku." Pria itu dengan berani menatap Adeline serta memberikan kerlingan nakal.
"Cih! Lebih baik kau mengurung dirimu di kamar dari pada meracau tidak jelas. Jika tidak bisa minum, jangan sok belagak meminum alkohol." Kali ini Adeline benar-benar pergi meninggalkan pria yang terlihat mabuk itu.
Merasa semakin tidak nyaman berada di situasi ini, Adeline memutuskan untuk naik ke atas pelaminan. Perempuan itu menemui sang adik yang tengah duduk berdampingan dengan istrinya.
__ADS_1
"Zico, Queen. Kakak pamit dulu, yah! Selamat berbahagia," pamit Adeline kepada sang adik.
"Kenapa buru-buru, Kak? Acaranya masih panjang, loh! Kita juga belum lempar bucket bunga," ujar Queen tanpa berpikir panjang.
Mendengar ucapan dari istri adiknya itu, Adeline tersenyum canggung. Ucapan itu bukan hanya pertanyaan, akan tetapi juga bermuatan sindiran. Entah si pengantin perempuan itu sadar atau tidak bahwa ucapannya telah melukai perasaan sang kakak ipar.
"Tidak apa, Queen. Kakak masih ada urusan di bar. Barusan pegawai kakak mengabari kalau ada sedikit insiden kecil," jawab Adeline.
"Jika itu hanya insiden kecil, kenapa harus kakak yang mengurus? Bukankah masih ada para pegawai. Lagi pula bar kakak kan bukan bar kecil, aku rasa disana pasti ada orang kepercayaan kakak, 'kan?"
"Queen, Kak Elin itu pekerja keras. Dia selalu ingin semuanya berjalan sesuai dengan semestinya. Jadi biarkan saja," timpal Zico yang tahu dengan ketidaknyamanan sang kakak.
"Ah, iya. Kakak terlalu perfeksionis makanya sampai sekarang masih melajang, yah!" Dengan kurang ajarnya Queen menyerang kakak iparnya dengan kata-kata tidak pantas.
"Jaga bicaramu, Queen, atau aku akan meninggalkanmu disini sendirian!" bentak Zico yang merasa ucapan sang istri sudah kelewat batas.
Bersambung…
__ADS_1