Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Aku Ingin Bebas


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Adeline keluar dari mansion besar keluarga Alefosio. Dia bahkan lupa untuk sekedar berpamitan kepada orang-orang di mansion itu. Beruntung saja ada beberapa pengawal yang melihat sang nyonya muda berjalan dengan terburu-buru. 


"Nyonya mau kemana?" tanya si pengawal yang langsung mendekat. 


"Saya harus ke rumah orang tua saya. Ada masalah urgent," jawab Adeline dengan wajah paniknya. 


"Anda sudah meminta izin dari tuan muda? Saya tidak bisa membuka gerbang jika anda tidak mendapatkan izin darinya," jelas si penjaga yang sudah di wanti-wanti oleh Danendra untuk lebih berhati-hati dalam mengawasi Adeline. 


"Saya tidak sempat. Nanti saja saya telfon saat di jalan," jawab Adeline yang masih saja bandel. 


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa membuka gerbang mansion tanpa alasan yang jelas dan perintah langsung dari tuan muda," tolak di pengawal yang tidak ingin melakukan kesalahan. 


Frustasi karena pengawal ini menghalanginya terus, Adeline langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang suami. Namun, hingga beberapa kali panggilan, sang suami tidak juga mengangkat telepon darinya. 


"Tidak diangkat," ujar Adeline sambil memperlihatkan ponselnya tersebut. 


"Lebih baik anda tunggu sampai tuan muda memberikan izin. Saya tidak akan pernah membuka gerbang ini dengan alasan apapun jika bukan perintah dari tuan muda," jelasnya tetap tidak mau melakukan kesalahan. 


Dengan sangat terpaksa, Adeline kembali masuk ke mansion besar itu. Inilah yang membuatnya dulu tidak menginginkan menjadi seorang nyonya muda, karena hidupnya pasti akan terkekang oleh aturan-aturan yang tidak semudah itu dilanggar. 


Silvia baru saja turun dari lantai atas, tepatnya dari kamar yang juga berada di lantai yang sama dengan Adeline dan Danendra. Wanita paruh baya itu menautkan kedua alisnya saat melihat sang menantu sedang mondar-mandir di ruang tamu dengan penampilan casual dan ada sebuah tas yang tersampir di bahunya. 


Penasaran, Silvia memutuskan untuk mendekati sang menantu yang kelihatannya sedang dalam keadaan panik. 


"Elin," tegur Silvia yang langsung membuat Adeline menoleh seketika. 


"Mama," sapa Adeline yang kini berhenti mondar-mandir di tempat itu. 


"Kamu kenapa?" tanya Silvia sedikit bingung.


Ekspresi cemas dari Adeline tentu saja dapat terbaca dengan jelas oleh Silvia. Wanita beranak satu itu memiliki rasa peka terhadap lingkungan maupun mimik wajah seseorang. 

__ADS_1


"Ma, Adikku hilang. Aku harus segera pergi ke rumah papa, tapi pengawal di depan mencegahku. Dia bilang aku harus mendapatkan izin dari Nendra lebih dulu," jelas Adeline tanpa menutupi apapun. 


"Kalau begitu telepon saja suamimu. Dia memang berpesan pada semua orang di mansion ini untuk menjaga kamu," jawab wanita paruh baya itu. 


"Masalahnya, Nendra tidak mau mengangkat telepon dariku, Mam." 


"Coba telepon Gerry," usul Silvia dengan cepat. 


Raut wajah Adeline sedikit berangsur normal, setidaknya usul dari sang mertua bisa membantunya keluar dari masalah ini. 


"Elin coba hubungi Gerry lebih dulu, Mam. Terima kasih sarannya." 


Disisi lain, Danendra baru saja keluar dari ruang meeting, di belakangnya Gerry setia mengikuti sambil membawa beberapa berkas penting perusahaan. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Pria kepercayaan Danendra itu segera merogoh ponsel yang berada di saku jasnya. 


"Hallo, Nyonya, ada apa?" 


Ucapan Gerry langsung menghentikan langkah Danendra. Pria itu penasaran, siapa yang menghubungi sekretarisnya itu di waktu bekerja. Danendra membalik tubuhnya menghadap ke arah sang sekretaris. 


Setelah namanya disebut oleh sekretarisnya, Danendra langsung mengambil alih ponsel Gerry karena tahu bahwa yang menghubungi sekretarisnya itu adalah Adeline. 


"Sayang, maaf. Aku baru selesai meeting. Kenapa tidak telepon ke ponselku saja?" 


"Aku sudah lelah menelepon kamu, Nendra. Hampir seratus kali aku melakukan itu, tapi kamu tidak sekalipun mengangkatnya," jawab Adeline ketus. 


"Ha? Sejak tadi ponselku tidak berdering, Sayang." Pria itu merogoh kantong yang biasa untuk menaruh benda canggihnya tersebut, akan tetapi tidak menemukan apapun di sana. "Ponselku mana, yah?" gumam Danendra sambil memeriksa semua kantong di pakaiannya. 


"Mungkin tertinggal di ruangan anda, Tuan. Bukankah tadi anda buru-buru saat ke ruang meeting? Mungkin anda lupa membawanya," sela Gerry menjawab. 


"Ah iya, pasti ketinggalan, Sayang. Kamu ada apa? Tumben telepon jam segini, kamu kangen, yah?" tuduhnya dengan rasa percaya diri setinggi gunung Everest. 


Adeline merotasikan kedua bola matanya jengah. Suaminya ini sudah kumat dengan sifat slengeannya, dan saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meladeninya. "Ella hilang, Nendra. Aku harus segera ke rumah papa, tapi pengawalmu malah menahanku!" 

__ADS_1


"Anak sebesar itu bisa hilang? Memang ada yang mau menculik wanita sepertinya?" tanya Danendra yang justru bergurau. 


"Nendra! Aku tahu, Grasiella memang anak yang polos, tapi tidak seharusnya kamu mencelanya seperti itu. Walau bagaimanapun dia adalah adikku!" bentak Adeline tidak terima.


"Kamu tahunya dia polos. Padahal dia rela di polosi oleh beragam jenis laki-laki yang bersedia mengukungnya," batin Danendra sambil tersenyum geli. 


"Iya-iya, Maaf. Aku pulang sekarang! Kamu tunggu sebentar." 


Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Danendra langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Dia memberikan ponsel milik sang sekretaris serta meminta kontak mobil dari sekretarisnya itu. 


"Ada apa, Tuan?" tanya Gerry yang sedikit penasaran. 


"Biasalah, si kupu-kupu kesepian itu membuat ulah. Rumah mertuaku sedang mengadakan drama penculikan, padahal aku yakin yang dikira sedang diculik sedang mend*sah di hotel." 


Danendra langsung pergi meninggalkan Gerry. Sebenarnya pria itu sangatlah malas untuk ikut campur permasalahan keluarga toxic tersebut. Namun, istrinya itu yang terlihat gaul ternyata justru lebih polos dari pada anak balita. 


Wanita dewasa itu terlalu mudah di bohongi oleh orang-orang di sekitarnya. Entah memang dia bodoh, atau memang terlalu menyayangi keluarga hingga bersikap seolah-olah dia adalah orang bodoh. 


Beberapa saat kemudian, Danendra sudah sampai di mansion. Pengawal yang melihat mobil milik tuan mudanya mendekat langsung membukakan gerbang. Pria yang bertugas menjaga mansion itu juga dengan cepat mengejar sang atasan. 


"Tuan, tadi nyonya muda memaksa keluar. Tapi saya melarangnya seperti perintah anda," lapor si pengawal kepada Danendra setelah membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya itu. 


"Aku sudah tahu. Makanya aku cepat kembali. Kau tidak perlu menutup gerbang karena aku akan pergi lagi," jawab Danendra yang bergegas masuk ke mansion. 


Danendra cepat-cepat melangkah masuk dan langsung memeluk sang istri yang terlihat masih memasang ekspresi tegang. "Kamu kenapa?" tanya Danendra sambil berusaha mencium tengkuk sang istri. 


"Aku mengkhawatirkan adikku, Nendra. Kamu jahat sekali malah mengurungku di tempat ini." bentak Adeline sambil mendorong tubuh suaminya menjauh. 


"Hey, Sayang! Tenanglah. Aku sudah memerintahkan beberapa orangmu untuk mencari adikmu. Kenapa kamu jadi kasar seperti ini, sih?" 


"Aku tidak suka di perlakukan bagai burung dalam sangkar, Nendra. Meskipun sangkar itu terbuat dari emas, berlian, ataupun permata sekalipun. Aku ingin bebas!" seru Adeline dengan nada tinggi. 

__ADS_1


__ADS_2