
Mansion Alefosio kini semakin ramai dengan seiring berjalannya waktu. Devandra kini sudah berusia empat bulan. Bayi mungil kesayangan Danendra itu kini sudah mulai bisa membalikkan tubuhnya dari telentang ke tengkurap atau sebaliknya. Tidak hanya itu, Devandra juga sudah mulai aktif mengoceh.
Bayi itu sering kali menirukan apa yang didengarnya seperti saat ini, Adeline sedang menemaninya di atas ranjang. Wanita dewasa itu memegang sebuah mainan berbentuk kerincingan untuk mengambil perhatian Devandra.
Setiap kali sang ibu membunyikan kerincingan itu, Devan selalu meresponnya dengan mencoba meraih benda tersebut dari sang ibu. Bibirnya terus tersenyum saat sang ibu menggodanya.
"Ooo, Devan lagi main, yah!"
"Oooo," ocehnya berusaha menirukan ucapan sang ibu.
Adeline tertawa senang ketika melihat respon sang putra. Wanita itu masih asik menemani putranya hingga melupakan sesuatu yang tidak kalah penting. Saat sedang bermain dengan Devan, ponsel miliknya berdering. Namun, Adeline tidak menghiraukannya.
*****
Di tempat yang berbeda, seseorang sedang menggerutu kesal. Sudah sekian lama dia menunggu, tetapi orang yang ditunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Adel kemana, sih? Tumben tidak mengangkat telepon dariku!"
Berkali-kali Danendra mencoba menghubungi ponsel sang istri. Namun, tidak juga mendapat jawaban. Mood Danendra seketika memburuk. Tempat romantis yang ada di sekelilingnya sama sekali tidak dapat menghibur laki-laki itu.
"Dia pasti melupakan hari spesial kita!" teriaknya seraya melempar botol anggur di hadapannya.
Meja yang sudah terhias dengan indah. Satu lilin cantik menyala di bagian tengah meja. Di sekelilingnya juga sudah tersedia beberapa perintilan khas dinner romantis. Sayangnya itu semua kini seolah tidak berguna.
Seseorang yang menjadi tamu spesial tidak datang ke tempat itu untuk merayakan hari spesial mereka. Danendra bangun dari posisinya. Laki-laki itu membalikkan meja di depannya hanya menggunakan satu tangan.
Meja yang sudah terhias rapi itu berubah berantakan dalam sekejap. Kekuatan Danendra begitu besar hingga membuat tempat itu bagaikan tersapu angin. Terlebih lagi laki-laki itu melakukannya dalam keadaan emosi.
"Kamu keterlaluan, Adel. Sudah berjam-jam aku menunggumu di sini, tapi kau sama sekali tidak berniat datang atau hanya sekedar mengabariku jika kau memang tidak bisa datang!"
Kecewa, sakit hati, serta marah bercampur menjadi satu. Danendra berlalu dari tempat yang sudah dia persiapkan untuk menikmati waktu dan momen berdua dengan istrinya itu. Semua gagal total karena Adeline tidak datang ataupun sekedar mengangkat telepon dari suaminya.
__ADS_1
Danendra tidak pulang ke mansion. Laki-laki yang kini tidak memiliki apapun setelah menyerahkan segalanya kepada istri dan anaknya itu memutuskan untuk datang ke apartemen sang sekretaris.
"Bos!" seru Gerry terkejut.
Laki-laki yang menjabat sebagai sekretaris Danendra itu kebingungan saat sang bos malah berada di tempatnya. Padahal, dia saja baru pulang setelah memastikan semua rencana kejutan untuk nyonya mudanya sudah sempurna. Hanya saja ada satu yang luput dari pengawasan Gerry, yakni memastikan kedatangan nyonya mudanya di tempat yang sudah disediakan.
"Awas!" bentak Danendra sambil menyingkirkan tubuh sekretarisnya yang menghalangi pintu.
Setelah Gerry menyingkir, Danendra segera masuk ke dalam unit apartment sang sekretaris. Rasa kecewanya membuat laki-laki itu bersikap seperti anak-anak. Selain tidak pulang ke mansion, dia juga mematikan daya ponselnya agar Adeline tidak dapat mengubunginya.
Danendra berjalan menuju sofa ruang tamu apartemen tersebut lalu menjatuhkan diri di sana. Gerry hanya bisa menatap bingung atasannya. Untuk bertanya pun rasanya tidak mungkin. Dari wajahnya saja laki-laki itu terlihat sedang tersulut emosi.
"Ger, kalau Adel menghubungimu dan bertanya tentang keberadaanku, bilang saja aku pergi ke luar negeri."
"Loh, kenapa harus berbohong, Bos?"
"Aku sedang tidak ingin berdebat. Kau turuti saja perintahku!"
"Baiklah."
"Memangnya tingkah seseorang yang sudah beristri memang aneh seperti ini, ya?" monolognya pada diri sendiri.
Benar saja, tidak lama setelah Danendra tertidur. Ponsel Gerry berdering. Tertera nama nyonya mudanya di layar ponsel. Tanpa membuang waktu, Gerry menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Nyonya," sapanya sopan.
"Gerr, apa suamiku bersamamu?" tanya Adeline dengan nada cemas.
Jelas saja wanita dewasa itu cemas. Suaminya kini tidak bisa dihubungi. Padahal satu jam yang lalu laki-laki itu masih menghubunginya.
"Ti-dak, Nyonya. Tuan Nendra sedang dalam perjalanan ke luar negeri," jawabnya terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Keluar negeri? Tapi kenapa dia tidak izin dulu padaku?" tanya Adeline kini dengan nada tinggi.
Dari suaranya, Gerry dapat memastikan bahwa nyonya mudanya itu mulai tersulut emosi. Namun, untuk mengatakan yang sebenarnya pun, Gerry tidak mungkin berani. Bisa-bisa Danendra mencabut seluruh fasilitas yang diberikan kepada kekasihnya jika sampai dia membantah perintah bosnya itu.
"Maaf, Nyonya. Tapi Tuan buru-buru. Ada sesuatu yang harus segera di urus," jawab Gerry berkelit.
"Memang sepenting apa sampai dia meninggalkanku saat hari anniversary pernikahan? Sepertinya Tuan mudamu itu sudah bosan menjabat sebagai CEO, Gerr. Aku yakin, dia ingin jadi gembel."
Adeline sengaja mengatakan hal itu untuk menakut-nakuti Gerry. Wanita dewasa itu sudah paham dengan karakter suaminya yang terkadang bertingkah layaknya bocah. Benar saja, setelah Adeline mengatakan hal itu, Gerry terdengar seperti seseorang yang gugup.
"Kau masih mau berbohong, Gerr? Kau takut pada Nendra tapi tidak takut padaku? Sepertinya kau sudah lupa bahwa harta Nendra kini sudah beralih atas namaku." Adeline memberondong Gerry dengan kata-kata telak.
Gerry semakin panik setelah mendengar kata-kata telak sang nyonya muda. Jika bosnya saja dapat dijadikan gembel dalam sekejap, bagaimana dengan nasibnya yang hanya seorang sekretaris.
"Tidak, Nyonya. Saya tidak berani," ujarnya gugup.
"Katakan padaku, di mana Nendra sekarang?"
"Di apartemen saya, Nyonya."
"Jemput aku ke sana sekarang!"
"Baik, Nyonya."
*****
Keesokan harinya Danendra baru terbangun dari tidurnya. Laki-laki itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Semalaman tidur di sofa membuat seluruh tubuhnya terasa pegal. Kini Danendra mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk bersandar. Dia masih mengucek matanya yang belum terbuka sempurna.
"Sudah puas tidur di luar negeri?"
Suara itu seketika membuat Danendra terlonjak kaget. Dalam sekejap matanya yang tadi masih merasakan kantuk langsung terbuka sempurna. Suara yang tidak asing ditelinga menyapa dengan nada mengejek.
__ADS_1
Danendra menoleh ke belakang. Di sana seorang wanita sedang berkacak pinggang dengan tatapan elangnya. Seketika bulu-bulu halus di tubuhnya meremang seperti baru saja bertemu makhluk astral.
"Adel!" pekiknya dengan senyum terpaksa.