Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Belum Pulang


__ADS_3

Seketika kedua mata Adeline terbuka lebar saat meyakini bahwa suara tangisan itu adalah tangisan sang ibu sambung. Wanita paruh baya itu terduduk di lantai dingin, tangannya menggenggam kuat-kuat selimut yang juga ikut berada di lantai. 


"Mama!" pekik Adeline langsung turun dari tempat tidurnya kemudian bergegas menghampiri Monica. 


Monica masih saja menangis, bibir yang sedikit menghitam itu terus mengucap satu nama seseorang yang tidak mungkin bisa kembali ke dunia. Mendengar sang ibu memanggil nama sang adik, Adeline pun menatap sendu sang ibu yang masih menangis histeris. 


"Mama kenapa?" tanya Adeline lembut seraya memeluk erat tubuh ringkih monica. 


"Ella mana, Elin? Mama kangen dia." 


Adeline terdiam, wanita itu bingung untuk menjawab pertanyaan sang ibu yang tiba-tiba menanyakan keberadaan Grasiella. Dokter pernah mewanti-wanti agar mereka menyembunyikan hal yang menjadi pemicu Monica terkena gangguan jiwa. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, itu akan memperparah keadaan Monica jika ibunya itu belum bisa berdamai dengan kenyataan. 


"Elin! Cepat panggilkan Ella. Mama tadi mimpi Ella meminta tolong pada mama." 


"Ma, mama tenang dulu. Ella pasti sedang istirahat sekarang. Jangan ganggu dia dulu, ma. Sebaiknya mama juga istirahat dulu," tutur Adeline lembut, tangannya semakin erat memeluk wanita yang begitu dia sayangi. 


"Enggak! Mama pengen ketemu Ella, Lin. Cepat panggilkan adikmu!" bentak Monica bersikukuh dengan keinginannya. 


Di kamarnya, Danendra terbangun saat samar-samar mendengar suara seseorang yang berbicara dengan nada tinggi lalu di susul dengan suara tangisan lagi. Laki-laki bertubuh tinggi besar itu pun turun dari ranjang lalu berjalan keluar kamar. 


Suara dari dua orang wanita semakin jelas terdengar. Danendra semakin mempercepat langkah saat pendengarannya menangkap suara bentakan yang dia yakini adalah sang mertua yang sedang membentak istrinya. 


Danendra buru-buru membuka kamar mertuanya. Dilihatnya sang istri dan mertuanya sedang duduk di lantai. Monica tetap dengan pendiriannya untuk bertemu dengan Grasiella, sedangkan Adeline terus berusaha menenangkan sang ibu. 


Kesal karena Adeline menolak permintaannya, Monica mendorong tubuh anaknya itu hingga kepala belakang Adeline terantuk meja kayu. Seketika Danendra berlari menghampiri sang istri. 


"Kamu baik-baik aja, Sayang?" tanya Danendra seraya memegang lengan Adeline. 


Monica menatap garang kedua orang di tempat itu. Sorot matanya terlihat marah, mungkin karena keinginannya tidak dituruti jadi Monica kembali lepas kendali. 


"Aku baik-baik saja. Nendra, tolong ambilkan obat mama. Kita tidak bisa membiarkan mama terus begitu. Aku takut nanti mama kabur!" 

__ADS_1


Danendra mengangguk lalu berlari menuju tempat dimana obat-obatan mertuanya tersimpan dengan rapi. Laki-laki itu segera mengambil apa yang diperlukan oleh mertuanya dan langsung menghampiri Monica yang masih duduk sambil  meraung-raung di lantai. Kedua tangannya menjambak kasar rambutnya sendiri.  


"Astaga, nyonya!" pekik seorang suster yang biasa menjaga Monica. 


"Kamu cepat menyingkir, jaga Devan dengan baik. Mama biar kami yang urus!" perintah Adeline kepada si suster. 


Sebuah suntikan berada di tangan Danendra. Laki-laki itu segera menyuntikkan obat penenang di lengan Monica, meski dengan susah payah.


Beberapa saat kemudian Monica terlihat lemas, dan berakhir hilang kesadaran. Kebetulan Danendra masih memegang erat tubuh mertuanya itu, jadi laki-laki itu pun segera membawa tubuh tidak berdaya Monica ke atas ranjang. 


Adeline pun ikut bangun dan memakaikan selimut untuk Monica. Sepasang suami istri itu saling pandang. Raut wajah Adeline masih terlihat tegang, sedangkan Danendra menghela napas lega. 


"Bagaimana bisa mama kumat lagi, Sayang?" tanya Danendra sambil memandang wajah mertuanya yang kini tidak sadarkan diri. 


"Aku enggak tahu, tapi mama tadi maksa buat ketemu Ella. Mungkin mama mimpiin Ella," jawab Adeline. 


"Astaga. Inilah yang aku khawatirkan jika mama di rawat di rumah. Kita bukan ahlinya, Sayang." 


"Terlepas bagaimana sikap mama dulu, dia adalah orang yang pernah merawatku saat kecil. Meskipun tidak setulus dia merawat Ella dan Zico," sambung Adeline yang kembali teringat dengan masa kecilnya. 


*****


Rihanna dan Malik sedang dalam perjalanan pulang ke mansion setelah selesai menghadiri acara Hartawan. Keduanya semakin terlihat mesra setelah Malik mengenalkan Rihanna kepada para tamu lain yang juga menghadiri acara itu. 


Pipi Rihanna masih memerah karena tersipu. Malik benar-benar memperkenalkan dirinya pada semua orang yang tadi sempat mencibir mereka hingga orang-orang itu tidak bisa mengeluarkan suara bahkan untuk membuka mulutnya sekalipun mereka kesulitan. 


"Kay," panggil Malik saat Rihanna terus memandang keluar. 


Rihanna menoleh kearah Malik,"Kenapa, Malik?" 


"Kamu bahagia, 'kan?" tanya Malik memastikan. 

__ADS_1


"Sangat. Kamu bisa menutup mulut mereka yang tadi menggunjing kita dengan kata-kata tidak pantas dengan cara yang elegan." 


"Kita tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan, Kay. Justru kita akan terlihat lebih baik karena tidak melayani kedzaliman mereka," ujar Malik bijak. 


"Kamu memang terbaik," puji Rihanna. 


Mereka menghabiskan waktu dalam perjalanan dengan obrolan-obrolan ringan. Malam yang semakin larut membuat Rihanna menguap. Malik yang melihat itu pun menarik pelan kepala istrinya untuk bersandar di bahu kokohnya. 


"Malik," tegur Rihanna yang merasa risih karena keberadaan sang sopir. 


"Tidak apa-apa, kita tidak melakukan hal-hal di luar batas. Hanya seperti ini saja," tutur Malik lembut. 


Rihanna mengangguk dan tidak mengubah posisi. Kepalanya bersandar di bahu Malik. Beberapa saat kemudian Rihanna sudah jatuh ke alam mimpi. Malik tersenyum saat melihat wajah lelah istrinya yang tertidur di bahunya. 


"Maaf, Kay. Gara-gara acara tadi, kamu sampai kelelahan," gumam Malik lirih. 


"Kita mampir ke apartment saja, Pak.  Kasihan istri saya jika tidur dengan posisi seperti ini terlalu lama," ucap Malik memberi arahan, Apartemen Malik memang lebih dekat dari tempat berlangsungnya acara.


"Baik, Tuan." 


Beberapa saat kemudian mereka sampai di apartment. Malik menggendong sang istri keluar dari mobil kemudian membawanya masuk ke unit apartment miliknya. 


Malik membaringkan tubuh istrinya yang tertidur lelap di ranjang. Pria itu kemudian mengambil kemeja miliknya di lemari. Perlahan-lahan Malik melepaskan pakaian yang dipakai oleh Rihanna dan menggantinya dengan kemejanya. Dia tidak ingin istrinya tidur masih mengenakan pakaian kotor. Begitu selesai, Malik tidak lupa juga memakaikan selimut untuk menghangatkan tubuh sang istri. 


Pria itu kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai dengan ritual sebelum tidurnya, Malik ikut mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit terasa lelah.


Malam semakin terasa dingin, Rihanna semakin menggeser tubuhnya untuk mencari kehangatan. Wanita hamil itu masuk ke dalam dekapan sang suami, menjadikan dada suaminya berbagai bantal ternyaman. 


Sementara itu, Riani yang berada di mansion sedang kebingungan. Wanita paruh baya yang masih cantik dengan balutan hijab yang menutupi rambut panjangnya mondar-mandir di ruang tamu. Beberapa kali Riani menatap pintu mansion yang masih terbuka. Tangannya berkali-kali mengotak-atik ponsel untuk menghubungi sang putra dan menantunya yang hingga saat ini belum juga kembali. Namun, kedua nomor itu sulit untuk di hubungi. 


"Sebenarnya mereka kemana? Jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk pada Rihanna." 

__ADS_1


__ADS_2