
Nabila tersentak kaget saat seseorang memanggil namanya. Dia menoleh ke arah sumber suara dan segera mendekati seseorang yang memanggilnya tadi.
"Kenapa, Sil?" tanya Nabila canggung.
"Kamu yang kenapa? Ngapain ngelamun di depan kamar anak-anak?" tanya balik Silvia dengan telak.
"Em, aku hanya sedang mengingat masa lalu, Sil."
"Tentang Rocky?"
"Kamu memang selalu bisa menebak isi hatiku, Sil. Terima kasih sudah benar-benar menjadi sahabat yang mengerti aku," ucapnya tulus.
"Jangan selalu berterima kasih, Bila. Bukankah sudah sewajarnya seorang sahabat memahami sahabatnya sendiri?"
Nabila mengangguk lalu mendekap tubuh sang sahabat dengan erat. Lewat pelukan itu dia dapat menumpahkan segala rasa yang membebani hati dan jiwa.
Silvia membalas pelukan sang sahabat tak kalah erat. Dia bahkan mengelus lembut punggung Nabila yang sedikit bergetar seperti sedang berusaha menahan tangis. Beberapa saat kemudian Nabila melepaskan pelukan mereka setelah merasa lebih baik.
"Kita bicara di tempat lain saja. Tidak enak kalau sampai mereka mendengar kesedihan kamu, Bila." Silvia menunjuk pintu kamar utama menggunakan isyarat mata.
"Emh, iya, Sil. Lebih baik kita pergi dari sini," jawab Nabila dengan senyum simpul.
Keduanya kompak berjalan menjauh dari tempat semula mereka berdiri. Tidak mau jika anak-anak mereka akan mengetahui kesedihan salah satu orang tuanya membuat mereka memutuskan untuk pergi dari sana.
Mereka memutuskan untuk masuk ke kamar Nabila. Kini kedua wanita paruh baya yang sudah lama bersahabat itu duduk di sebuah sofa panjang.
"Bil, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Silvia memulai pembicaraan.
"Boleh, Sil. Kamu itu sahabatku, tidak mungkin aku bisa menyembunyikan apapun darimu."
Silvia terlihat ragu-ragu untuk bertanya. Dia paham, pertanyaannya kali ini sedikit agak sensitif dan tentunya memiliki privasi yang lebih besar. Namun, dia tidak ingin selamanya hanya bertanya-tanya di dalam hati saja.
"Apakah kamu mencintai Rocky?"
Raut wajah Nabila seketika berubah datar. Dia pun tidak yakin dengan perasaannya kepada laki-laki yang sudah menikahinya puluhan tahun silam. Yang jelas, saat ini dia merasa ikut andil dalam hancurnya rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Kalau kamu keberatan, tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya," ujar Silvia yang paham walau hanya dengan melihat sorot mata sahabatnya saja.
"Menurut kamu, apakah aku bisa mencintai laki-laki yang sudah tega menghabisi nyawa ayahku sendiri, Sil?" tanya Nabila dengan suara lirih.
Pandangannya menundukkan ke bawah untuk menyembunyikan kesedihan yang hinggap di hati. Bagaimana bisa dia mencintai laki-laki yang sangat kejam sehingga tega mengakhiri hidup mertuanya dengan sadis.
Silvia yang peka terhadap perasaan sang sahabat menepuk pelan bahu sahabatnya. Mencoba mengalirkan energi positif agar sahabatnya itu tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
"Coba kamu tanya pada hati kamu, Bil. Apakah kamu membenci Rocky karena telah membunuh Daddy?"
"Tidak, Sil. Aku tidak membencinya, walau bagaimanapun dia adalah ayah Rihanna. Dia ayah kandung putriku," jawab Nabila sambil mengangkat wajahnya dan menatap Silvia.
Nabila tersenyum tipis. Jika dia yang berada di posisi Nabila, mungkin dia pun akan merasakan dilema. Kejadian yang menimpa sang sahabat benar-benar masalah yang rumit. Di satu sisi laki-laki itu adalah ayah dari anaknya, tetapi di sisi yang lain laki-laki itu adalah orang yang merenggut nyawa ayah kandungnya dengan sengaja.
"Aku tahu kamu merindukannya, Bila. Jika kamu ingin menemuinya, aku bersedia mengantarmu ke sana."
*****
Sejak kejadian memalukan itu Rihanna sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Perempuan muda yang kini lebih cantik tanpa polesan make up tebal itu bahkan rela menahan rasa lapar demi menghindari Malik. Padahal, laki-laki itu sudah beberapa kali menyuruhnya untuk makan. Namun, dia sama sekali tidak menjawab.
"Aduh, aku lapar banget. Jam berapa sekarang?"
Rihanna menatap jam dinding di salah satu sudut ruangan yang menunjukkan masih tengah malam. Dia menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya lalu menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Tanpa sadar dia berjalan menuju pintu lalu membukanya dan melangkah keluar dari kamar.
Dia terus berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya dari rasa lapar. Namun, baru saja dia memasuki ruangan tersebut, dia sudah di kejutkan dengan adanya seseorang yang duduk di kursi dengan posisi bersandar dan kedua tangan bersedekap dada.
Rihanna semakin berjalan mendekati seseorang tersebut. Kedua netranya membola saat melihat kedua mata seseorang itu dalam keadaan terpejam.
"Loh, Malik tidur di sini?" tanyanya bergumam.
Perempuan itu menatap meja makan yang berisi dua piring makanan dan dua gelas air putih. Meskipun makanan itu hanyalah makanan sederhana, Rihanna yakin laki-laki itu sendiri yang memasaknya.
"Kalau ini masih ada dua piring, berarti dia juga belum makan. Astaga, Malik. Kenapa malah menungguku, sih?"
Rihanna sebenarnya berniat membangunkan Malik. Namun, rasa malu itu kembali hadir. Akhirnya Rihanna bergegas menuju sebuah kulkas untuk mengambil beberapa camilan serta minuman dingin.
__ADS_1
"Kayla, kamu bangun?"
Suara dari belakang seketika membuat Rihanna terjingkat kaget. Semua camilan yang sudah berada di tangan jatuh berhamburan di lantai. Perempuan itu menoleh ke belakang, Malik terlihat sedang mengucek kedua matanya.
"Kamu lapar, ya?" tanya Malik setelah kedua matanya terbuka sempurna.
"Em … kamu kenapa tidur di sini?" tanya Rihanna mengalihkan perhatian Malik.
"Aku menunggu kamu, Kay. Kamu pasti lapar ya? Biar aku masakkan." Malik bangkit dan berjalan mendekat.
Jantung Rihanna berdetak dengan cepat saat pikirannya tiba-tiba membayangkan kejadian tadi. Entah kenapa Rihanna seperti sedang melihat Malik dalam keadaan polos tadi. Padahal, saat ini Malik tengah memakai pakaian lengkap.
Muncul rona merah di kedua pipi Rihanna ketika pikiran nakal itu menari-nari di otaknya. Tubuh atletis yang di miliki oleh Malik benar-benar seperti menghipnotis dia untuk lagi dan lagi menjadi penikmat pemandangan indah itu.
Rihanna tidak sedang membayangkan bagian bawah tubuh laki-laki itu, melainkan membayangkan dada bidang berbentuk kotak-kotak serta lengan kekar yang begitu sempurna. Perempuan itu yakin, Malik benar-benar menjaga pola makan serta olahraga rutin sehingga mendapatkan hasil yang begitu memuaskan.
Malik berhenti tepat di hadapan Rihanna. Laki-laki itu memasang ekspresi bingung saat melihat rona merah di kedua pipi perempuan cantik di depannya. Malik mengikuti arah pandang Rihanna yang ternyata fokus pada area dadanya.
"Kayla," panggil Malik sambil mengibaskan tangan di depan wajah Rihanna.
Rihanna terlonjak lalu kelabakan saat sadar Malik berada terlalu dekat dengannya. Kedua netranya mengerjap beberapa kali hingga kesadarannya kembali pulih.
"Kamu kenapa?" tanya Malik bingung.
"Tidak. Aku hanya mau mengambil ini." Rihanna berlutut lalu mengambil beberapa camilan yang sempat jatuh berserakan di lantai.
"Kalau kamu lapar, aku bisa masakin."
"Enggak perlu. Aku makan ini saja!"
Rihanna cepat-cepat bangun lalu berlari menuju kamarnya meninggalkan Malik yang masih saja kebingungan. Laki-laki itu masih saja menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat.
"Kayla kenapa, sih? Dia sejak tadi menatap … astaga! Jangan-jangan dia masih memikirkan kejadian tadi sore."
__ADS_1