
Malik membalik badannya dan mengulurkan tangan kanan kepada Rihanna, wanita hamil itu segera menerima uluran tangan sang suami lalu mengecup punggung tangan laki-laki tercinta. Di luar dugaan, Malik menarik pelan kepala sang istri untuk dikecup bagian keningnya.
Sungguh perlakuan romantis yang dilakukan oleh Malik dapat melelehkan hati Rihanna yang kini berdebar lebih cepat. Meskipun Malik sudah sering melakukan itu, tetapi Rihanna masih saja merasakan getaran yang membuat pipinya memerah.
Malik sedikit menjauhkan diri dari Rihanna setelah memberikan kecupan singkat dikening wanita tercintanya. Keduanya sama-sama mengulas senyum hangat satu sama lain.
"Hunny, cuaca sedang cerah, banyak bintang berkelip di langit malam ini. Kita nikmati berdua sambil minum teh di balkon, yuk!" ajak Malik setelah selesai merapikan peralatan sholat mereka.
"Boleh, aku bikin teh hangatnya dulu," jawab Rihanna yang langsung ditahan oleh Malik.
"Biar pelayan yang buatin dan antarkan ke sini, kita tunggu di balkon saja."
"Em, ya sudah," balas Rihanna pasrah.
"Kamu ke balkon duluan, aku mau ke bawah bentar."
Rihanna menuruti perintah sang suami. Wanita hamil itu segera berjalan menuju balkon kamar. Ketika baru saja keluar, Rihanna terpana dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya sendiri.
Apa yang dikatakan oleh Malik memang nyata terjadi. Langit luas diterangi oleh bulan dan bintang yang begitu mempesona. Cukup lama Rihanna menikmati keindahan malam ini. Hingga Malik kembali pun Rihanna sama sekali tidak menyadarinya.
"Hunny," bisik Malik setelah melingkarkan tangan kekarnya diperut buncit istrinya, dagu Malik bertumpu pada bahu Rihanna.
"Hubby!" pekik Rihanna terkejut saat tiba-tiba ada sepasang tangan yang memeluknya, dia menoleh dan seketika pipinya menempel pada bibir sang suami.
Rihanna gugup, wanita itu segera menatap lurus ke depan lagi. Namun, bagaikan sengaja ingin membuat Rihanna melayang, Malik kembali membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kamu cantik, Hunny," puji Malik dengan nada sensual.
Jantung Rihanna kembali berdetak dengan cepat. Pipinya pun memerah bak kepiting rebus karena tersipu. Lagi-lagi Malik sengaja melempar bom asmara yang semakin menjerat Rihanna ke dalam genggaman cinta seorang Malik.
"K-ka-mu mu-ji a-ku pasti a-da mau-nya, ya?" tanya Rihanna terbata.
"Loh, enggak baik berpikir buruk tentang suami kamu, Hunny!" tegur Malik.
"Ma-af," balas Rihanna dengan cepat.
"Enggak apa-apa, lupakan saja!" Malik menatap ke atas langit. "Masya'allah, langitnya indah, ya?"
"Iya, Hubby. Sungguh indah ciptaan Allah," puji Rihanna dengan suara lembutnya.
"Seperti kamu, Hunny." Lagi-lagi Malik melempar pujian kepada istrinya.
__ADS_1
"Kamu bisa saja, Hubby," balas Rihanna tersipu malu.
Malik tersenyum lalu membalik perlahan badan berisi sang istri. Rihanna membalas senyuman hangat suaminya. Wanita itu sedikit terkejut saat sang suami tiba-tiba berlutut di depannya. Laki-laki itu meraba perut buncit sang istri penuh kasih.
"Anak daddy sedang apa di dalam perut mommy? Kamu kangen Daddy, yah?" tanya Malik berceloteh.
Seketika sebuah pukulan manja dilayangkan oleh Rihanna di bahu suaminya. Malik hanya terkekeh saat mendapat pukulan lembut itu.
"Dia kangen daddy-nya, Hunny," ujar Malik belum juga menyerah.
"Hubby!" tegur Rihanna, pipinya semakin merona.
"Iya-iya, Hunny. Aku cuma mau tanya sama dia, kok!"
"Tanya apa?"
"Anak daddy tidak pengen sesuatu gitu?"
"Pengen sesuatu?"
"Iya, sesuatu yang sangat kamu pengen saat ini, Hunny," jelas Malik.
"Ada, aku lagi pengen ngelakuin sesuatu," kata Rihanna setelah berpikir sedikit lama.
"Aku pengen ngemall bareng mami," ujar Rihanna, seketika Malik langsung kehilangan semangat.
"Kok bareng mami, yang daddy-nya dia itu aku, Hunny!" protes Malik merasa cemburu pada ibunya.
Laki-laki bertubuh tinggi itu berdiri dengan raut wajah kesal. Sebagai calon ayah, Malik pun merasa ingin merasakan bagaimana rasanya menghadapi ngidamnya sang istri. Namun, wanita tercintanya itu justru ingin sang ibu yang menemaninya.
"Ya gimana, memang pengennya gitu. Kalau enggak boleh juga enggak apa-apa, kok!"
Malik memandang wajah sang istri yang sedikit murung. Sepertinya keinginan itu memang berasal dari calon keturunannya.
"Kamu bener cuma mau sama mami?" tanya Malik untuk memastikan.
"Iya, pengennya cuma sama mami," jawab Rihanna yakin.
"Pengen ngemall kapan?" tanya Malik lagi.
"Sekarang," jawab Rihanna tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"Yah! Jangan malam-malam, dong!" larang Malik.
"Aku tadi udah bilang, kalau enggak boleh ya enggak apa-apa," balas Rihanna datar, wajahnya masih terlihat murung.
Langit cerah malam ini sama sekali tidak berpengaruh bagi Malik jika sang istri justru kesal. Laki-laki itu pun terpaksa mengizinkan istrinya untuk pergi bersama ibunya.
"Iya udah, deh! Boleh. Tapi aku tanya mami dulu," ucap Malik yang seketika menciptakan lengkungan indah dibibir seksi istrinya.
"Kamu serius, Malik?" tanya Rihanna memastikan.
Panggilan barusan membuat kedua mata Malik melotot. Rihanna pun tersenyum. "Hubby," sela Rihanna meralat panggilannya kepada Malik.
"Kamu siap-siap dulu, biar aku panggilkan mami," ucap Malik sedikit lesu.
"Okey, makasih, Hubby." Rihanna yang terlampau gembira tidak sadar mengecup singkat pipi suaminya, saat sadar Rihanna langsung melarikan diri ke dalam.
Kecupan yang dilakukan dengan perintah dan kecupan yang didapat berlandaskan inisiatif pasangan tentu saja berbeda. Kini wajah tampan Malik langsung berseri, hatinya bagai dipenuhi oleh bunga-bunga.
Malik turun ke lantai dasar untuk menemui sang ibu yang kemungkinan sedang berada di ruang santai. Tebakan Malik memang benar, Riani sedang berbincang dengan Ibrahim seraya menonton televisi.
"Mami," panggil Malik setelah duduk di sofa tunggal.
"Kenapa? Wajahmu seperti orang yang sedang jatuh cinta, Malik," ujar sang ibu yang semakin membuat Malik kesal.
"Jatuh cinta apa? Malik lagi kesal, Mi," kata Malik menjelaskan apa yang sedang dirasakan olehnya.
"Kesal kenapa? Banyak kerjaan di kantor?" tanya Ibrahim menyela.
"Menantu kalian tuh, masa Malik tanya ngidam apa? Malah jawabnya pengen ngemall bareng mami," terang Malik yang seketika mengundang gelak tawa dari kedua orang tuanya.
"Wah-wah-wah, sepertinya penerus papi lebih manja pada mami, Pi. Mungkin dia tahu kalau daddy-nya sering ngelarang mommy-nya kali," kelakar Riani yang seketika direspon Malik dengan mendengus kesal.
"Tidak sadar diri, mami tuh yang kang atur. Aku sama Kayla mau babymoon ke Indonesia aja enggak dikasih izin!" protes Malik yang malah mengungkit perkara itu.
"Heh! Mami melarang karena mami peduli, yah! Kalau kamu melarang kan karena cemburu. Beda konteksnya," terang Riani tidak mau kalah.
"Dih! Sama aja. Ujung-ujungnya ngelarang juga!"
"Udah-udah! Kalian sama aja. Mami mending langsung turuti deh mau cucu mami itu. Malik juga jangan mendebat mami, nanti kamu dikutuk jadi kucing garong," ujar Ibrahim melerai perdebatan sang istri dan anaknya.
"Papi enggak banget, deh! Masa jaman sekarang masih aja ngomongin kutukan. Itu mitos, tahu!"
__ADS_1