
Sekembalinya Danendra dari apartemen sang sekretaris yang hanya bersebelahan dengan apartemen miliknya, pria itu sedikit terkejut karena mendapati tempat itu kosong. Dia mencari sang istri ke setiap sudut ruangan, akan tetapi tidak menemukannya. Hingga akhirnya dia tanpa permisi masuk ke kamar Adeline untuk mencari perempuan dewasa itu.
Danendra mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar, kamar mandi bahkan balkon juga tidak luput dari pencariannya. Pria itu bertolak pinggang ketika sama sekali tidak menemukan keberadaan sang istri tercinta.
"Dia kemana yah?" gumamnya dengan tangan kiri mengusap kasar wajah tampannya. "Jangan-jangan dia beneran pergi ke bar lagi," pekik Danendra yang kini teringat dengan ancaman Adeline.
Pria itu segera membalikkan tubuh, berniat akan mencari sang istri di tempat usahanya. Namun, si tampan bertubuh tegap itu terlonjak kaget saat orang yang dicari berada tepat di belakangnya.
"Sayang," lirih Danendra dengan wajah berseri-seri karena ternyata sang istri tidak meninggalkannya.
Sementara itu, Adeline justru menatap aneh sang suami yang tiba-tiba masuk hingga berada di balkon kamarnya. "Kamu ngapain di kamarku, Nendra? Sedang mencariku?" tanya Adeline penasaran.
Si suami pun gelagapan saat mendapat pertanyaan dari istrinya tersebut. Tidak mungkin dia menjawab jujur bahwa tengah mencarinya. Namun, untuk berbohong, alasan apa yang tepat dan tidak membuat sang istri curiga.
"Aku lapar, Sayang. Mau ajak kamu keluar untuk makan," ujar Danendra beralasan, akan tetapi justru membuat sang istri menatap penuh selidik padanya.
"Bukankah kamu dari luar? Kenapa tidak makan sekalian?"
"Aku sudah bilang mau mengajakmu, kenapa masih bertanya?"
Ada saja akal bulus dari daun muda itu untuk menjawab segala pertanyaan sang istri. Adeline yang memang sudah malas untuk berdebat memilih untuk menyudahi introgasinya.
"Tinggal jujur saja apa susahnya?" gumam Adeline seraya melenggang pergi meninggalkan sang suami.
Langkah Adeline terhenti saat tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang. Perempuan dewasa itu membiarkan sang suami memeluknya dengan erat. Walau bagaimanapun dia berhak atas diri, tubuh, serta kehidupannya sekalipun.
Tidak mendapatkan penolakan dari sang istri, membuat Danendra mengambil kesempatan dengan menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Dia bahkan beberapa kali memberikan kecupan sayang di sana, kali ini benar-benar bukan karena n*fsu sama sekali.
"Iya, aku mencarimu, Sayang. Aku takut kamu pergi," bisiknya tepat di telinga sang istri.
Adeline hanya merotasikan kedua bola matanya. "Bagaimana bisa aku pergi, kamu tidak lihat koperku bahkan masih bertengger di tempatnya tanpa berpindah satu jengkalpun."
__ADS_1
Senyum malu-malu tercetak di wajah pria tampan itu, jika ada orang lain yang melihatnya pasti tidak akan percaya bahwa itu adalah Danendra Alefosio, penguasa bisnis terbesar.
"Aku terlalu panik sampai tidak memperhatikan itu, Sayang. Maaf, aku sudah mengira kamu akan pergi meninggalkanku," tutur Danendra mengakui perasaannya saat ini.
"Ya sudah, katanya kamu lapar. Aku akan buatkan sesuatu untuk kamu," ujar Adeline seraya berniat melepaskan pelukan erat sang suami.
Danendra masih menahan tangan yang melingkar di pinggang ramping sang istri, belum rela untuk melepaskannya. "Bukankah tadi kamu bilang bahan makanan sudah habis?"
"Aku barusan keluar untuk membelinya. Dari pada semakin larut dan akhirnya harus tidur dengan kondisi kelaparan," jawab Adeline sambil kembali berusaha melepaskan pelukan Danendra.
Si suami berdecih saat mendengar jawaban istrinya. "Kamu kira aku semiskin itu sampai tidak bisa membuat istriku kenyang? Aku bahkan bisa membeli supermarket beserta isinya jika kamu mau," ujarnya sombong memamerkan kekayaannya.
"Ya-ya-ya, aku percaya, tapi lepaskan dulu. Aku mau memasak makanan untuk makan malam kita," ujar Adeline mengalah.
"Baiklah, kamu perlu bantuan tidak?" tawar Danendra yang langsung melepaskan pelukan.
"Tidak perlu! Sekarang kamu mandi saja," jawab Adeline memerintah.
"Nendra, badanmu bau sekali. Aku tidak akan selera makan jika ada bau tidak sedap," ejek Adeline seraya menutup hidungnya.
Danendra melipat bibirnya tanda tidak terima dengan ejekan sang istri. "Hanya kamu yang berani mengejekku seperti ini, Sayang. Menyebalkan sekali," keluhnya dengan wajah tidak bersemangat, akan tetapi tetap melakukan hal yang diperintahkan oleh Adeline.
Kedua sudut bibir Adeline terangkat hingga membentuk lengkungan indah disana, sayang Danendra tidak melihat senyuman yang terulas di wajah cantik istrinya itu tanpa terpaksa. Entah kenapa, mulai detik ini Adeline justru menganggap sikap sang suami itu lucu dan menggemaskan.
"Kalau sampai orang-orang di luar sana tahu tentang sikap kekanak-kanakan kamu ini, aku jamin mereka pasti heboh, Nendra." Adeline menggeleng-gelengkan kepalanya disertai senyum ceria.
Setelah Nendra keluar dari kamarnya, Adeline kini berkutat dengan beberapa bahan makanan di dapur. Perempuan dewasa itu memutuskan untuk membuat omelette serta menanak nasi agar tidak semakin membuang waktu, lagi pula dia memang tidak terlalu mahir dalam hal perdapuran.
Bersamaan dengan makanan itu matang, Nendra keluar sudah lebih segar dari yang tadi. Sebenarnya tanpa dia mandi pun tubuhnya sudah sangat wangi. Hanya saja Adeline tidak ingin sang suami nantinya beristirahat masih dengan keadaan banyak debu yang menempel di tubuhnya.
"Sayang, masak apa?" tanya Nendra yang menjatuhkan bok*ngnya di kursi. "Wah, sepertinya enak," puji sang suami kepada istrinya.
__ADS_1
"Maaf Nendra, aku tidak terlalu bisa memasak. Jadi kita makan apa yang ada saja, ya?"
"Kamu ini kenapa, Adel. Mau makan apapun asal bersamamu pasti rasanya enak. Apa lagi ini kamu sendiri yang memasaknya," tutur Danendra dengan tulus.
Sementara Adeline hanya tertawa kecil saat mendengar gombalan sang suami. "Kamu jangan merayuku, Daun muda."
"Bisakah panggil dengan berondong jagung saja? Aku tidak mau jadi daun muda, nanti di lalap si ulat bulu jelek itu lagi."
Adeline sampai tertawa cekikikan saat mendengar permintaan beserta alasan yang diberikan oleh suaminya itu. "Baiklah. Sekarang kita makan dulu, nanti keburu dingin."
Mereka akhirnya makan dalam diam. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut sepasang pengantin baru itu. Setelah makanan itu sudah berpindah ke lambung keduanya barulah kembali berbincang. Momen indah sepasang pengantin yang tanpa menjalani hubungan kekasih itu adalah saling mengenal satu sama lain setelah pernikahan.
"Nendra, soal tadi siang aku minta maaf," tutur Adeline dengan rasa bersalahnya.
Danendra mengulas senyum hangat. "Tidak apa-apa, aku tahu itu semua karena hormon kamu sedang buruk. Tadi aku sudah searching di internet tentang apa saja yang perlu diperhatikan oleh seorang suami terhadap istrinya," jawab Danendra sama sekali tidak terlihat keterpaksaan di raut wajahnya.
"Kamu sampai melakukan itu? Untukku?" tanya Adeline dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Tentu saja, Adel. Kamu adalah permataku, jadi akan aku lakukan apapun untuk membuat kamu nyaman membersamaiku," jawabnya tulus.
Pria itu bangkit lalu berjalan mendekati sang istri. Dia kembali memeluk tubuh yang sudah menjadi candu untuknya itu, berusaha mengalirkan ketulusan yang dia miliki untuk sang istri. "Berjanjilah, dalam keadaan apapun jangan pernah tinggalkan aku, Sayang."
Adeline menoleh dan mendongak untuk menatap wajah tampan sang suami yang dinikahi secara terpaksa. Pria yang berhasil mendapatkannya meski dengan cara di luar nalar manusia normal.
"Aku tidak mau berjanji, Nendra. Aku hanya takut … jika hatiku kembali terpatahkan oleh takdir. Tapi aku akan berusaha untuk tetap bersamamu selama kamu tidak menduakan aku," jawab Adeline dengan nada sedikit bergetar.
Perempuan dewasa itu kembali teringat dengan pengkhianatan yang dilakukan sang mantan kekasih. Pria yang tega mematahkan hatinya dengan menikahi orang terdekat Adeline sendiri.
"Aku semakin yakin, ada yang tidak beres dengan masa lalumu, Adel, dan aku tidak akan pernah tinggal diam jika ada seekor lalat pun yang menyakiti kamu."
__ADS_1