
Berkat kuasa Danendra yang memang sangat berpengaruh di beberapa perusahaan membuat Adeline dengan mudahnya mengakses informasi yang dibutuhkan olehnya. Mereka berdua kini sedang berada di dalam lift menuju lantai yang dituju.
"Kamu kenapa bandel sekali, Sayang?" tanya Danendra frustasi.
"Bandel apanya? Apa salahnya jika aku ingin menyusul adikku sendiri?" tanya balik Adeline ketus.
"Tidak ada yang salah. Tapi kenapa tidak menungguku? Bukankah sudah aku bilang, di luar berbahaya untuk kamu?"
"Tidak ada apapun yang terjadi padaku. Aku baik-baik saja! Yang perlu di khawatirkan adalah Ella, dia pasti di jebak oleh orang."
"Kamu ini terlalu polos atau memang naif, Sayang. Aku sampai tidak bisa membedakannya. Grasiella sedang mend*sah kegirangan di dalam sana, dan kamu masih saja membelanya seperti ini." Danendra tentu hanya berani berkata dalam benaknya saja.
"Sekarang memang tidak ada yang terjadi padamu karena anak buahku dengan sigap mengikuti kamu. Jika mereka lengah, aku tidak tahu lagi kalau nanti Rihanna kembali melakukan kejahatan padamu," ujar Danendra pada akhirnya.
"Sudahlah. Tidak perlu membahas tentang ulat bulu itu lagi! Aku sedang cemas dengan keadaan adikku," ucap Adeline yang masih saja mengkhawatirkan adiknya.
"Ini lift kenapa terasa lambat sekali?" gerutu Adeline kesal.
"Kamu yang terlalu memaksa kehendak."
Beberapa saat kemudian lift terbuka ketika mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Mereka segera menuju sebuah kamar yang sudah di informasikan oleh seorang resepsionis. Di tangan Danendra bahkan sudah ada sebuah kartu yang berguna untuk membuka pintu kamar tersebut.
Ketika Adeline berniat untuk mengetuk pintu itu, Danendra dengan sengaja melarang isterinya untuk melakukan hal tersebut.
"Kenapa melarangku?" tanya Adeline kesal.
"Kalau kamu ketuk, kamu tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana," jawab Danendra dengan jelas.
__ADS_1
"Percuma jika kamu tidak melihat kelakuan adikmu itu. Kita sudah sampai disini, harus melihat sendiri adegan gila yang sedang di lakoni oleh si kupu-kupu kesepian itu," batin Danendra tersenyum licik.
"Ya sudah! Cepat buka."
Pintu kamar itu terbuka setelah Danendra mengaksesnya menggunakan kartu yang diberikan oleh petugas hotel. Adeline langsung menerobos masuk tanpa menunggu sang suami. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa seseorang perempuan yang sejak tadi dia khawatirkan itu justru sedang asik bermain di atas tubuh seorang pria asing serta mengeluarkan suara-suara khas orang sedang menikmati percintaan.
Adeline menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang saat ini dia saksikan. Jantungnya terasa berhenti berdetak, dunianya runtuh seketika dan darah dalam otaknya mendidih sempurna saat melihat pemandangan di depan.
"Ella!" teriak Adeline dengan suara lantang.
Sementara Danendra yang baru masuk dengan sigap menutup mata istrinya agar tidak semakin lama ternodai oleh adegan dari kedua iblis berbentuk manusia di atas ranjang sana.
Saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, Grasiella dengan cepat langsung turun dari tubuh pria simpanannya. Dia berusaha menutupi tubuh polosnya menggunakan selimut, sementara pria yang masih dalam keadaan hampir mendapatkan pelepasan itu langsung lemas seketika karena kesenangannya terganggu.
Netra Grasiella membulat seketika saat melihat sang kakak dan iparnya berada di depannya sekarang.
Karena merasa kondisi sudah aman saat kedua pasangan g*la itu sudah menutup tubuh polos mereka menggunakan selimut, Danendra baru membuka mata Adeline yang sempat dia tutupi menggunakan tangan kekarnya.
"Turun, pakai bajumu! Kita pulang sekarang." Untuk pertama kalinya Adeline mengeluarkan titah dengan suara lantang dan penuh aura kepemimpinan.
Begitu sudah mengeluarkan titah tidak terbantahkan itu, Adeline segera membalikkan tubuhnya dan lekas pergi dari tempat terkutuk itu. Danendra dengan setia mengikuti langkah sang istri.
"Ternyata tidak perlu bersusah payah menjebaknya, dia sudah lebih dulu melakukan kesalahan." Danendra membatin sambil mengulas seringai tipis.
Grasiella turun dari ranjang, lalu memungut pakaiannya yang tercecer di lantai dan langsung memakainya. Perempuan itu tidak memperdulikan sang pria yang memintanya untuk tetap berada di tempat itu.
Buru-buru perempuan yang selama ini terkenal polos itu mengejar langkah sang kakak yang sudah lebih dulu turun. Dia bahkan sampai berlari melewati jalur tangga darurat karena lift yang kebetulan penuh.
__ADS_1
"Kakak!" teriak Grasiella mengejar Adeline yang sudah sampai di lobby hotel.
Adeline menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh pada sang adik yang terlihat ketakutan. Jujur melihat wajah itu rasanya dia sangat ingin memeluk perempuan kesayangannya setelah sang ibu, akan tetapi bayangan dia bermain di atas tubuh pria asing dengan suara-suara er*tis yang memenuhi telinganya itu membuat Adeline merasa jijik.
"Kita bahas masalah kita di rumah, Ella. Aku sedang tidak ingin mempermalukan keluarga kita di depan umum."
Adeline bergegas pergi meninggalkan sang adik yang hanya bisa menatap nanar langkah sang kakak yang semakin menjauh darinya.
"Wanita itu pasti akan membuat aku di amuk oleh papa. Bagaimana ini? Aku tidak bisa lagi membela diri jika wanita tua itu sudah mendapatkan buktinya," gumam Grasiella panik.
Dia pun bergegas untuk pulang ke mansion sambil otak liciknya mencari ide yang brilian untuk menyelamatkan diri. Dia tentu saja tidak ingin jika keluarga memandangnya buruk. Citra baik yang selama ini dia bangun bisa hancur lebur tiba-tiba hanya karena ulah seorang Adeline.
Ketika sampai di rumahnya, Ella langsung memasang wajah ketakutan, seakan-akan dia sedang mengalami trauma yang besar atas kejadian yang baru saja di alami olehnya. Apa lagi ketika seluruh keluarga menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Ella, kemari!" titah Antonio dengan nada datar.
"Papa," gumamnya seraya menghambur ke pelukan sang ayah. "Maafin Ella, Pa. Ella hanya korban," lirihnya disertai Isakan.
"Apa maksud kamu mengaku sebagai korban?" tanya Monica yang sedang merasa kecewa atas tingkah laku sang putri kesayangannya.
"Ma, Ella di jebak. Ada yang mengirimkan pesan bahwa Kak Ichad sedang ada di hotel itu. Ella sama sekali tidak tahu jika ada seseorang yang berniat jahat pada Ella," lirihnya beralih pada sang ibu.
"Kamu bilang korban, Ella? Kakak tadi melihat kamu sedang girang sekali bermain di atas tubuh pria asing itu. Tidak mungkin kamu dalam keadaan terpaksa!" bantah Adeline yang kini tidak lagi percaya pada ucapan adiknya.
Grasiella terdiam, sepertinya dia sedang berpikir akan memberikan jawaban apa atas pernyataan sang kakak barusan. Namun, detik berikutnya dia semakin mengeraskan suara tangisannya.
"Ella diberi obat perangs*ng oleh orang itu. Dia pasti suruhan seseorang, dan Ella yakin, kakak adalah dalang dari kejadian nahas yang Ella alami barusan."
__ADS_1
"Ella! Jangan memutar balikkan fakta!" bentak Adeline tidak terima, dia tidak menyangka bahwa sang adik akan tega menuduhnya melakukan hal keji tersebut.