
Semua orang yang berada di sana berusaha menahan tawa ketika melihat ekspresi kesakitan dan makian Silvia kepada Danendra, tidak terkecuali Alefosio. Danendra sendiri reflek meraih tangan sang ibu dan mengusapnya berkali-kali.
"Makanya mama jangan suka asal gampar aja. Danendra itu rupanya aja orang, kalau dipegang kaya patung batu yang di formalin."
"Papa, hobi ya ngehina anak sendiri," protes Danendra kesal.
"Lha, mama kamu sendiri yang bilang kamu balok kayu, ya papa ralat biar bener, lah!"
"Terserah!" sungut Danendra semakin kesal, laki-laki itu melepaskan tangan sang ibu yang tadi dia usap.
"Dih! Ngambek. Kamu enggak pantes ngambek, Nendra. Kami datang juga mau bikin perhitungan sama kamu!" Silvia mencekal pergelangan tangan sang putra ketika melihat pergerakan anaknya itu yang berniat pergi.
"Lepas dulu, Ma. Aku mau ke toilet," ucap Danendra beralasan.
"Di dalam kan ada toilet, kenapa malah mau ke toilet luar?" tanya Nabila menyahut.
"Enggak apa-apa, Ma. Aku cuma mau cari udara segar aja, kok!"
"Tadi mau cari toilet, sekarang mau cari udara segar. Alasan kamu banyak sekali. Bilang aja mau menghindari amukan mama," ucap Alefosio santai.
Danendra melirik sang ayah dengan raut wajah kesal, "Papa jangan jadi bahan bakar, deh! Udah tahu mama ngamuk, malah bercanda."
"Mama kan ngamuknya sama kamu, bukan sama papa. Jadi, enggak ada ruginya buat papa," balasnya tanpa beban.
"Udah-udah! Kalian kenapa malah berantem? Mama lagi cemas sama keadaan menantu mama, tahu!" seru Silvia melerai perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Adel udah baik-baik aja, Ma. Dia udah dapat donor darah dari Mama Nabila," jawab Danendra dengan cepat.
"Syukurlah. Tapi, bagaimana bisa Adeline sampai tertusuk, Nendra?"
"Ini semua gara-gara musuh lama papa! Makanya aku mau ungsiin kalian ke pulau pribadi kita. Eh malah nyasar ke sini," ucapnya semakin lirih pada kata-kata terakhir.
"Mana mungkin kita bisa pergi sejauh itu kalau kita enggak tahu gimana keadaan menantu kita, Ndra. Mama lebih baik berhadapan dengan musuh lama papamu dari pada harus ninggalin menantu mama."
Nabila seketika menghambur ke pelukan sahabatnya. Dia sangat bersyukur karena sang sahabat begitu menyayangi putri sulungnya itu.
"Makasih, Sil. Kamu udah sayang banget sama Elin," ujarnya penuh haru.
"Kamu enggak perlu bilang makasih, Bil. Elin itu sudah aku anggap anakku sendiri," balasnya tulus.
__ADS_1
"Udah, yah! Aku mau keluar dulu bentar." Danendra melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Ketiga orang berusia senja itu menggeleng pelan seraya menatap Danendra yang semakin menjauh. Mereka saling pandang, lalu mengedikkan bahunya bersamaan.
"Paling berantem sama Elin, dia kan laki-laki keras kepala," celetuk Alefosio.
"Tidak sadar diri. Danendra seperti itu karena meniru sikap kamu, Pa," balas Silvia cepat.
"Mama jangan mulai, yah!"
"Udah, debatnya nanti saja. Kita temui Elin dulu, yuk!" ajak Nabila kepada besannya.
"Ayo!"
Mereka pun masuk ke ruang rawat Adeline. Ketika pintu terbuka, Adeline langsung melihat ke arah pintu.
"Mama, Papa!" seru Adeline, dia merasa lega saat melihat yang datang adalah ibu serta kedua mertuanya.
"Sayang!" Dua wanita terkasih Adeline itu berlari menghampiri Adeline yang sedang duduk bersandar di brankar pasien.
Nabila berdiri di sisi kanan, sedang Silvia di sisi kiri. Alefosio sendiri berada di hadapan sang menantu. Raut wajah ketiga orang itu begitu kentara bahwa mereka sedang khawatir.
"Yakin kamu baik-baik saja, Lin?" tanya Alefosio memastikan.
"Iya, Pa. Elin baik-baik saja," jawabnya mantap.
"Kamu jangan bohong, Elin. Mama tahu, pasti sakit, 'kan?" tanya Silvia, dia yang terlihat begitu khawatir.
Adeline mengulas senyum tipis, "Sakit sedikit, sih, Ma."
"Jangan bohong, Elin. Kamu pikir, papa tidak pernah merasakan sakitnya tertusuk pisau?"
"He-he-he, kalian emang enggak bisa di bohongi, pek banget sama apa yang aku rasain," ucap Adeline kalah.
Terdengar dering ponsel yang ternyata berasal dari tas milik Nabila. Wanita paruh baya itu buru-buru mengambil ponsel miliknya.
"Hallo, Sayang," sapa Nabila dengan lembut.
'Ma, Rihanna dengar dari Malik, katanya Kak Elin tertusuk, memangnya benar?' tanya Rihanna tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kakak kamu tertusuk."
'Sekarang di rumah sakit biasa, 'kan?"
"Iya. Di ruang VVIP 1," jawab Nabila.
'Aku ke sana sekarang," ucap Rihanna.
"Jangan! Ini sudah malam, Sayang. Besok saja, biar di jemput sama sekretaris Danendra," larang Nabila dengan cepat.
'Tapi, Ma, aku khawatir sama kakak.'
"Mama tahu, tapi keadaan kamu juga sedang hamil, tidak baik keluar malam-malam. Lebih baik kamu jaga kesehatan kamu," tegur Nabila.
"Ma, itu Rihanna, 'kan?" tanya Adeline tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak dan dijawab anggukan oleh Nabila.
"Biar Elin yang bicara sama dia," pinta Adeline, masih dengan berbisik-bisik.
Nabila menyetujui permintaan Adeline, dia memberikan ponselnya pada sang putri sulung. Tanpa basa-basi, Adeline langsung menerima benda pipih yang menjadi alat komunikasi itu.
"Dek, ini kakak," ucap Adeline setelah menempelkan ponsel Nabila ke telinganya.
'Kakak, gimana keadaan kakak? Aku ke sana sekarang, yah!' seru Rihanna begitu mendengar suara sang kakak.
"Kamu jangan bandel, deh, Dek! Kakak baik-baik aja, kok!"
'Tapi, Kak –'
"Udah, jaga aja kesehatan kamu dan calon ponakan kakak. Jangan bandel, inget, di badan kamu itu ada makhluk kecil yang masih sangat rentan," potong adeline menasehati sang adik.
'Ya udah, deh! Aku ke sana besok aja. Tapi, kakak harus jelasin kenapa bisa kakak sampai tertusuk? Kakak punya musuh?'
"Apa, sih! Kakak ini orang baik, mana mungkin punya musuh!" sungut Adeline tidak terima.
'Ya terus, gimana bisa ketusuk, Kak?'
"Kakak halangin orang yang mau tusuk Nendra dari belakang," jawabnya singkat, padat, dan sangat jelas. Namun, jawaban itu membuat Rihanna membulatkan matanya.
'Kakak udah gila, yah? Kakak jadiin diri sebagai tameng buat Kak Nendra, emang kakak ngerasa punya nyawa berapa?' tanya Rihanna, nadanya meninggi layaknya orang yang sedang terkejut.
__ADS_1