
Begitu selesai makan malam yang diwarnai dengan perdebatan kecil antara Silvia dan Danendra, mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Adeline sesekali melirik sang suami yang duduk di sampingnya, akan tetapi matanya fokus pada laptop di pangkuannya.
"Nendra, memangnya di rumah juga harus tetap bekerja?" tanya Adeline yang sebenarnya jenuh.
"Aku ini pimpinan perusahaan, Sayang. Kalau aku hanya berleha-leha saja, bagaimana perusahaan bisa maju? Walaupun bos, tapi pekerjaanku tidak kalah banyak dari mereka para bawahanku," jawab Danendra masih tetap fokus pada file-file yang berada di benda canggih miliknya.
"Dia bilang mau mengajak aku keluar, tapi sekarang malah lupa dengan janjinya." Adeline menggerutu kesal.
Wanita dewasa itu kini bangkit dan berniat untuk segera naik ke atas ranjang. Namun, tangan sang suami sigap menahannya.
"Mau kemana?" tanya Danendra yang kini mengalihkan pandangan ke arah sang istri.
"Tidur!" Adeline menjawab ketus.
Dia langsung menyentak lengannya hingga tangan sang suami terlepasnya. Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju ranjang dengan wajah yang kusut.
"Tidak boleh tidur. Kamu tadi bilang mau memberikan jatah vitamin malam untukku," ujarnya mengingatkan sang istri.
"Enggak jadi. Aku mau tidur, capek!" bantah Adeline dengan berani.
__ADS_1
Danendra segera menutup laptop miliknya lalu bergegas menyusul sang istri yang sudah masuk ke dalam selimut tebal. Wanita dewasa itu bahkan menutup seluruh tubuh hingga kepala agar sang suami tidak bisa melakukan apapun padanya.
"Hei, kau memangnya bisa bernapas kalau membungkus seluruh tubuh dengan selimut?" tanya Danendra berkacak pinggang di samping ranjang.
"Terserah!"
Danendra menyeringai licik saat melihat tingkah kekanak-kanakan sang istri. Wanita yang biasanya bersikap keras kepala itu kini berubah menjadi gadis manja yang seakan ingin di perhatikan.
"Kamu mau mengajakku bermain, yah!"
Danendra menarik sedikit demi sedikit selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dia sengaja melakukan itu agar Adeline semakin gugup. Benar saja, di dalam selimut itu Adeline mati-matian mempertahankan selimutnya.
Melihat sang suami lengah karena menerima panggilan, Adeline buru-buru merebut kembali selimut tebal itu untuk menyembunyikan dirinya lagi.
"Baiklah. Tunggu aku disana!"
"Dia mau kemana?" gumam Adeline penasaran.
Setelah menerima panggilan Danendra seakan melupakan sang istri yang kembali bersembunyi di balik selimut tebal itu. Tanpa mengucap kata apapun pria itu bergegas pergi dari sana. Meninggalkan sang istri yang kini penasaran mau kemana sang suami buru-buru pergi.
__ADS_1
"Nendra!" panggil Adeline lantang, drama merajuknya sudah kalah oleh rasa penasarannya.
Panggilan itu membuat langkah Danendra terhenti, padahal dia sudah membuka pintu kamar. Namun, kembali dia tutup agar perbincangan apapun yang mereka lakukan tidak terdengar oleh orang luar.
"Mau kemana?" tanya Adeline yang buru-buru mendekat.
"Keluar sebentar. Aku ada keperluan mendesak!"
"Tidak boleh keluar! Aku tidak mengizinkan kamu keluar."
"Adel, aku ada urusan penting!"
"Memangnya sekarang aku tidak kalah penting?"
Adeline benar-benar berani mendebat Danendra tanpa ragu. Sebagai seorang istri, dia juga masih terpikirkan dengan ucapan mertuanya tadi yang belum selesai. Adeline curiga bahwa suaminya keluar untuk jajan di rumah bordil.
"Aku hanya keluar sebentar, Adel." Danendra frustasi karena istrinya itu kembali ke mode keras kepala.
"Kau boleh pergi, asalkan aku ikut!"
__ADS_1