
Beberapa tamu ada yang terkejut saat mendengar si mempelai wanita memanggil seorang pria yang mereka ketahui merupakan seorang narapidana dengan sebutan 'papa'. Beberapa di antara mereka banyak yang merasa asing dengan wajah Rihanna yang kini berubah drastis hingga sulit mengenalinya.
"Oh, jadi istri Tuan Malik adalah anak seorang napi kasus pembunuhan mertuanya sendiri," bisik seorang tamu.
"Iya, aku tidak menyangka. Setahuku Tuan Rocky hanya memiliki satu putri yang gayanya aneh itu. Tidak tahunya ada putri yang anggun seperti istri Tuan Malik," bisik yang lainnya.
"Herannya Tuan Malik tidak malu mengundang mertua sepertinya di acara penting seperti ini. Apa dia tidak malu?"
"Hem, harusnya, sih, malu. Tapi entahlah!"
Bisik-bisik para tamu itu tentu saja terdengar oleh Rocky. Kini rasa bersalahnya terhadap sang putri kian dalam. Sebagai seorang ayah, dia merasa sudah mencoreng wajah putrinya dengan aibnya.
Sementara itu, Rihanna yang juga mendengar bisikan-bisikan para tamu tidak terlalu mengambil hati. Yang dipikirkan olehnya saat ini adalah perasaan ayahnya yang pasti terluka karena digunjing oleh tamu-tamu di acara anaknya sendiri.
"Yang seharusnya malu adalah kalian. Di acara orang tapi tidak ada sopan santun. Beruntung kalian adalah tamu Malik dan Om Baim. Jika kalian tamuku, sudah aku tendang keluar dari acara ini." Danendra akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Sayang!" Adeline berusaha menahan sang suami yang mulai terpancing emosi.
Seketika ruangan itu hening setelah mendapat ancaman dari Danendra. Siapa orang yang tidak mengenal tuan muda keluarga Alefosio. Pria arogan yang sering berbuat semaunya sendiri.
Rocky masih menatap lekat putrinya dengan perasaan campur aduk. Antara senang, sedih, dan lega. Semua bercampur menjadi satu.
"Hadirin sekalian, pria di depan saya ini adalah mertua saya. Dia orang yang berjasa besar atas pernikahan kami. Jika kalian tadi berpikir bahwa apakah aku malu karena mengundang seorang narapidana pembunuhan di acara penting kami, jawabannya adalah tidak. Walau bagaimanapun, dia adalah ayah istri saya. Dia berhak untuk menyaksikan sendiri hari bahagia kami." Malik mengulurkan tangan kepada Rihanna, wanita itu mengerti dan langsung bangkit menghampiri suaminya, "Lagi pula saya bangga terhadap ayah mertua saya, dia berani mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri kepada pihak berwajib. Padahal, semua keluarga melarang dia untuk melakukan hal itu," sambung Malik.
Ucapan Malik barusan membuat Rihanna terharu. Dia tidak menyangka bahwa sang suami akan benar-benar bisa menerima kekurangannya.
"Hubby, terima kasih," ucap Rihanna tulus, dia langsung mendekap erat sang suami.
"Sama-sama, Hunny." Malik melerai pelukan, "Tapi kejutan ini bukan sepenuhnya dariku. Semua ini adalah rencana kakakmu," ujarnya meluruskan.
Kini Rihanna menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca. Malik yang peka, menuntun sang istri turun dari pelaminan. Mereka berjalan perlahan-lahan, Adeline langsung berlari menghampiri adiknya itu dan menggandengnya.
"Kamu bahagia, 'kan, Dek?" tanya Adeline memastikan.
"Aku sangat bahagia, Kak." Rihanna kini menggenggam tangan kakaknya, "Terima kasih," ujarnya tulus.
Usai berada di jarak yang dekat dengan Rocky, Rihanna menghentikan langkahnya. Dia kembali menatap sang kakak yang berada di sampingnya.
"Bagaimana bisa papa ada di sini, Kak?" tanyanya penasaran.
"Sudah jangan dipikirkan. Nendra yang mengurus semuanya sampai Om Rocky diizinkan keluar sebentar," jawabnya.
Rihanna kembali mengayunkan langkah kakinya semakin dekat dengan laki-laki yang begitu dia rindukan. Tanpa aba-aba Rihanna langsung mendekap tubuh kurus Rocky setelah melepaskan diri dari pegangan Malik dan Adeline. Setetes cairan bening lolos dari sudut matanya dan membasahi pakaian Rocky.
Dia merasa amat bahagia karena sang ayah dapat hadir di acara bersejarahnya. Bibirnya Kelu, tak dapat mengucapkan apapun. Yang dia inginkan saat ini adalah memeluk ayahnya ini selama mungkin.
Rocky mendorong pelan bahu Rihanna agar melerai pelukan mereka, "Nak, jangan menangis!"
__ADS_1
Rihanna menggeleng pelan, bibirnya masih enggan bersuara. Tangis pun tidak bisa dia tahan lagi. Dia menangis tanpa suara. Rocky yang melihat itu buru-buru menghapus jejak air mata sang putri sebelum air mata itu merusak kecantikan putrinya.
"Jangan menangis, Sayang! Papa mohon. Papa datang ke sini untuk menyaksikan kamu bahagia, bukan untuk melihat kamu menangis."
"Pa, Rihanna bahagia sekali. Akhirnya, papa bisa datang ke acaraku," ungkap Rihanna, bibirnya bergetar menahan tangis.
"Rihanna, maafkan semua kesalahan papa, ya. Selama ini papa tidak bisa menjadi papa yang baik untuk kamu," kata Rocky dengan perasaan bersalah.
"Papa jangan bilang seperti itu! Rihanna bangga memiliki papa di hidup Rihanna, kok!"
Nabila sendiri hanya bisa menjadi penonton. Dia ikut merasa bahagia sekaligus sedih disaat yang bersamaan. Dia lega karena sang suami bisa hadir di acara penting anak mereka. Namun, Nabila juga tahu bahwa diluar sana ada beberapa anggota kepolisian yang sudah menunggu suaminya untuk dibawa kembali ke rumah tahanan.
Danendra melihat jam tangannya, lalu membuang napas kasar. Sebenarnya dia tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan adik iparnya. Namun, sudah perjanjian bahwa Rocky hanya boleh keluar sebentar saja. Bahkan pihak berwajib ikut mengawal mereka hingga sampai di depan mansion.
"Rii, maaf, tapi Om Rocky harus segera kembali ke rutan. Polisi sudah menunggu di luar," timpal Danendra dengan terpaksa.
Rihanna menatap keluar mansion, di sana memang ada beberapa polisi yang berjaga. Kini rasa bahagia itu harus tercabut secepat ini.
"Tidak bisakah menuggu sebentar lagi, Kak?"
"Sayangnya tidak bisa, Rii. Ini sudah kesepakatan dengan pihak berwajib. Kita tidak bisa melanggarnya," jawab Danendra.
"Sayang, jaga diri kamu baik-baik, ya. Papa pamit dulu. Kamu tenang saja, mulai sekarang papa tidak akan membatasi kamu kapanpun kamu merindukan papa, kamu boleh datang berkunjung."
Meski berat, tetapi Rihanna harus rela melepas sang ayah kembali ke tempatnya lagi. Padahal, rasa rindunya pun belum sepenuhnya terobati.
Tamu undangan yang sempat julid pada pemilik acara kini justru ikut larut dalam kesedihan. Melihat bagaimana seorang anak harus berpisah dengan orang tuanya saat haru bahagia. Sungguh menyedihkan sekali.
*****
Gaun pengantin yang tadi dipakai oleh Rihanna sudah terlepas dari tubuhnya, berganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk dikenakan olehnya yang sedang berbadan dua.
Rihanna terlihat sedang termenung sendirian di atas ranjang tidur. Meski tadi dibuat bahagia dengan kedatangan sang ayah. Namun, Rihanna tetaplah sedih karena cinta pertamanya itu harus kembali menjalani hidup di penjara. Rasa sedih itu semakin terasa kala Rihanna kembali mengingat hukuman apa yang telah menanti sang ayah.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Rihanna. Dia menatap ke arah pintu, di sana sang suami tengah berdiri dengan membawa segelas susu rasa coklat.
Malik menyunggingkan senyum hangat saat melihat sang istri menatapnya. Dia segera masuk, lalu menutup pintu kamar mereka.
"Hunny belum tidur?" tanyanya seraya mengulurkan segelas susu pada istrinya, "Minum susu dulu!" perintahnya.
Rihanna pun menerima segelas susu pemberian suaminya, kemudian meneguknya hingga tandas. Malik sigap mengambil kembali gelas yang telah kosong sebelum istrinya itu turun dari ranjang.
"Terima kasih," ucapnya tulus.
"Hunny, jangan selalu bilang terima kasih. Ini sudah tugasku sebagai suami, kok!"
"Iya, Hubby," jawab Rihanna menurut.
__ADS_1
Malik menaruh gelas kosong di atas nakas, lalu mendaratkan bokongnya disebelah sang istri duduk. Dia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang terlihat lelah.
"Kamu capek, Hunny?"
"Sedikit, Hubby."
"Ya sudah. Istirahat saja dulu!"
"Iya, tapi … temani aku tidur, yah!"
"Temani tidur atau mau di –"
"Aku capek, Hubby," potong Rihanna yang paham ke mana arah bicara suaminya.
Suara gelak tawa terdengar. Entah kenapa belakangan ini Malik seperti hobi mengerjai istrinya yang ternyata lebih polos dari dugaannya itu.
"Iya-iya, aku temani tidur. Tapi kalau udah tidur … aku enggak jamin, yah!"
"Hubby!" seru Rihanna merengek.
"Ha-ha, iya, aku janji enggak ngapa-ngapain, kok!"
"Ya sudah, sini." Rihanna menepuk ruang kosong di sampingnya.
Ingin selalu melihat istrinya itu bahagia, Malik pun menurut. Dia berpindah tempat ke sisi yang ditepuk oleh sang istri.
Saat malik sudah duduk bersandar di kepala ranjang, Rihanna menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang suami. Wanita hamil itu menarik pelan tangan suaminya, lalu menaruhnya di atas kepala.
"Oh, mau di giniin," ucap Malik seraya membelai Surai hitam sang istri.
Malik dengan sabar membelai lembut rambut istrinya penuh kasih. Dia bahkan bercerita tentang kisah para Rasul atas permintaan Rihanna. Hampir sepuluh menit Malik melakukan hal itu, terlihat kelopak mata Rihanna mulai terpejam.
"Selamat beristirahat, Hunny," bisik Malik, kemudian mengecup kening istrinya tiga kali.
*****
Beralih pada sepasang suami istri yang sedang dalam perjalanan pulang ke mansionnya. Adeline bersikeras meminta untuk pulang bersama ibunya. Namun, Danendra pun tidak mau kalah. Dia ingin istrinya kembali ke mansion bersamanya.
"Kamu yakin kalau semua sudah aman?" tany Adeline pada akhirnya.
"Aman, Sayang. Mereka tidak akan mengganggu kita lagi," jawab Danendra yakin. Apa
"Memangnya masalah antara kalian sudah selesai?" tanyanya lagi, Adeline hanya ingin memastikan agar dia tidak lagi ketakutan terus menerus.
"Belum, sih," jawab Danendra disertai cengiran kuda.
"Kalau begitu, artinya semua belum aman, Nendra. Mereka pasti akan kembali berulah!"
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Mereka tidak akan pernah mengganggu kita lagi," katanya sedikit ragu-ragu, tetapi untuk merayu sang istri dia tentu harus terlihat yakin.
"Tapi aku, kok, … enggak yakin sama ucapan kamu barusan." Adeline menatap curiga suaminya, "Kamu enggak takut kalau aku mati ditangan musuh kamu?"