Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Dua Hari Menghilang


__ADS_3

Gerry berjalan dengan langkah besarnya. Raut wajahnya yang tadi secerah mentari kini murung bak langit yang tertutup awan hitam. 


Dia terus berjalan keluar dari apartemen menuju tempat parkir. Masuk ke dalam mobil miliknya. Saat berada di dalam, Gerry melampiaskan emosinya dengan memukul stir mobilnya sekeras mungkin. 


Tidak hanya itu saja, Gerry bahkan berkali-kali membenturkan kepalanya di setir mobil. Kali ini Gerry merasa hidupnya telah dihancurkan oleh seseorang yang selama ini begitu dia sayangi. 


"Hah!" teriaknya lantang, "Aku benar-benar tidak menyangka. Aku bisa mengurus segalanya tentang tuan muda. Tapi, untuk diriku sendiri, aku justru gagal." 


Ya, seperti yang dikatakan oleh Indira. Gerry kini menyalahkan dirinya sendiri atas hancurnya rajutan kasih bersama wanita tercinta. 


Dia merasa gagal karena tidak mengawasi Indira dengan baik. Selama ini, dia berkali-kali menawarkan pada kekasihnya itu agar dikawal oleh anak buahnya. Namun, sang kekasih terus saja menolak dengan alasan tidak ingin dikekang. Rupanya, inilah alasan sebenarnya, Indira bukan tidak ingin dikekang, tetapi dia ingin lebih bebas menghabiskan waktu bersama orang lain. 


"Aku gagal, In. Aku terlalu mempercayai kamu sampai aku tidak menaruh sedikitpun curiga atas semua penolakan kamu terhadap pengawalan yang aku tawarkan. Sekarang, aku harus menanggung sendiri kehancuran ini," gumam Gerry, mata pria itu sudah memerah karena amarahnya yang membumbung tinggi. 


Gerry segera tancap gas keluar dari area apartemen. Dia mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan sebagai pelampiasan rasa sakit. Gerry tidak ubahnya seorang yang sedang menantang maut. 


Jalanan padat itu mampu dilalui oleh Gerry dengan mudahnya. Dia berkendara seperti sedang berada di sebuah sirkuit balap yang bisa dia gunakan seenak jidatnya. 


Dia terus memaju kuda besinya melewati kendaraan-kendaraan lain yang terpaksa berhenti akibat ulahnya. Namun, saat dia sedang asik berpacu dengan mobil mewahnya itu, ponsel di saku celana berdering.


Gerry mengambilnya, lalu melirik siapa yang menghubunginya. Saat ada nama 'Indira' yang tertera di layar ponsel, Gerry melemparkan benda itu hingga membentur dasbor dan jatuh ke bawah dengan posisi terlentang. 


"Pengkhianatan!" maki Gerry dengan amarahnya. 


Dia kembali fokus pada jalanan di depan. Namun, ponsel itu kembali berdering. Terlihat nama tuan muda yang menghubunginya. Gerry buru-buru berusaha mengambil ponsel tersebut, tetapi dalam keadaan sedang menyetir. 


Gerry menunduk dan segera meraih ponselnya. Saat pandangannya kambali ke jalanan di depan, seseorang tiba-tiba muncul di depan sana. Gerry yang terkejut langsung banting setir dan mobil pun hilang kendali. "Sial!" makinya saat mobilnya sulit dikendalikan. 


Kendaraan yang dikendarai oleh Gerry berhenti setelah menabrak pohon besar di tepi jalan. Kepala Gerry terbentur stir mobilnya cukup keras. Terlebih lagi, dia tidak menggunakan seatbelt. 


Akibat benturan keras itu Gerry pun hilang kesadaran. Sementara itu, seseorang yang hampir tertabrak oleh Gerry pun segera menghampiri mobil yang hampir menambraknya tadi. Dia berusaha membuka pintu mobil dan mendapati si pengendara dalam keadaan tidak sadarkan diri.  


"Tuan, bangun!" seru seseorang itu, "Mati enggak, ya?" tanyanya bergumam. 


Dia memeriksa nadi di pergelangan tangan si korban kecelakaan yang ternyata masih berdenyut, "Ah, masih hidup. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit." 


*****


Dua hari sudah Gerry tidak bisa dihubungi. Danendra sudah kelabakan karena kesulitan mengurus semuanya sendiri. Biasanya semua urusannya di tangani oleh sang sekretaris. Namun, dua hari yang lalu setelah dia membebaskan Gerry dari tugas menjaga keluarganya, tiba-tiba Gerry menghilang tanpa jejak. 


"Sebenarnya kau ke mana, sih, Ger?" tanya Danendra bergumam. 


Pria itu berkali-kali mencoba menghubungi sang sekretaris. Namun, hasilnya nihil. Gerry masih belum bisa dihubungi. 

__ADS_1


"Sayang, kenapa?" tanya Adeline yang datang dari arah belakang. 


Danendra menoleh dan menunjukkan ponselnya, "Ini, loh, Sayang. Gerry udah dua hari ngilang," adu Danendra kepada istrinya. 


"Paling sibuk pacaran, Sayang," jawab Adeline seraya menaruh secangkir kopi di depan suaminya. 


Danendra terpaksa kerja lembur di rumah karena tidak ada yang membantunya bekerja. Biasanya masalah mengurus presentasi adalah tugas Gerry. Namun, saat ini dia harus mengurusnya seorang diri. 


"Nggak mungkin pacaran sampai matikan ponsel berhari-hari, Sayang. Biasanya dia selalu siap siaga saat aku membutuhkan," timpal Danendra. 


Adeline mendaratkan bokongnya di sofa yang sama dengan sang suami. Dia mengelus bahu sang suami yang terlihat begitu panik. 


"Ya sudah. Kalau kamu khawatir, besok suruh anggota ALF untuk mencarinya," saran dari Adeline. 


"Itu masalahnya, Sayang. Gerry tidak suka jika urusan pribadinya dicampuri oleh anggota lain. Dia sudah berjanji padaku akan selalu ada setiap aku membutuhkan tanpa harus dicari oleh mereka," ungkap Danendra jujur. 


"Tapi sekarang posisinya lain, Sayang. Dia sudah dua hari tidak ada kabar, 'kan? Kamu sudah coba cari di apartment?" tanya Adeline.


"Iya," jawabnya singkat. 


"Di sana enggak ada?" 


"Enggak, Sayang!" 


*****


Seseorang baru saja membuka mata setelah dua hari dia tidak sadarkan diri. Ketika kelopak matanya terbuka, dia melihat langit-langit plafon berwarna putih. Pandangannya berkeliling, ruangan itu kental dengan nuansa putih. 


Dia mengangkat tangannya untuk memijat pelipisnya yang sedikit terasa nyeri. Seketika dia terkejut saat melihat jarum infus tertancap di punggung tangannya. Dahinya pun terbalut oleh perban. 


"Aku di rumah sakit?" monolog pria itu. 


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Dia buru-buru menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang wanita asing dengan penampilan aneh. 


"Kau sudah sadar?" tanya wanita itu sambil berjalan mendekat. 


"Kau siapa?" tanya balik si pria. 


"Aku orang yang hampir kamu tabrak dua hari lalu," jawabnya singkat dan jelas. 


"Hah! Dua hari?" tanyanya dengan nada memekik. 


"Iya, dua hari," jawabnya polos. 

__ADS_1


"Yang benar saja. Kalau aku hampir menambrak kamu dua hari yang lalu, terus sudah berapa lama aku di sini?" 


"Ya dua hari, Tuan," jawab si wanita lagi. 


"Astaga!" pekik Gerry, dia langsung bangkit dari posisi berbaringnya. 


"Hei, jangan bangun dulu!" tegur si wanita, dia menahan Gerry yang hendak mencabut jarum infus dari punggung tangannya. 


"Jangan halangi aku, wanita aneh!" pekik Gerry, "Ini semua karenamu!" makinya dengan suara tinggi. 


Gerry menyentak kasar tangan wanita itu hingga terlepas, lalu mencabut paksa jarum infus. Dia segera beranjak turun dari brankar dan berlalu dari sana. Teriakan si wanita sama sekali tidak ditanggapi oleh Gerry. 


"Hei, tuan. Jangan kabur!" teriaknya. Namun, Gerry terus saja melangkah pergi. 


"Dasar cowok nyebelin!" maki si wanita, dia terus mengikuti si pria. Namun, langkahnya dihentikan oleh seorang suster yang mengenalinya. 


"Nona, urus administrasi dulu!" 


"Sebentar, Sus. Saya mau kejar orangnya dulu," timpal si wanita, ketika dia menatap ke arah luar, ternyata si pria sudah naik ke dalam taksi. 


Wanita itu masih berusaha mengejar, tetapi semua sia-sia karena taksi itu sudah terlalu jauh. Dia hanya mampu merutuki sikap menyebalkan si pria. 


"Harus aku bayar dengan apa administrasi rumah sakitnya?" tanyanya bingung, "Ah, sepertinya aku menyimpan dompet cowok nyebelin itu." Si wanita pun mengambil dompet milik Gerry yang dia simpan di dalam tas ranselnya.


Dian membuka dompet kulit berwarna cokelat milik si pria untuk memeriksa apakah ada uang di dalam sana. Namun, kakinya lemas saat melihat sendiri di dalam dompet itu tidak ada uang cash. 


"Ada black card seperti milik Tuan Malik, tapi aku mana tahu nomor pin-nya," keluh si wanita. 


Dia melangkah gontai menuju tempat resepsionis untuk mengurus administrasi pria menyebalkan itu karena seorang suster terus mengikutinya. Mau tidak mau, wanita itu terpaksa memakai uang pribadinya demi membayar biaya perawatan seorang pria asing yang dia tolong. 


"Berapa yang harus saya bayar, Sus?" tanya si wanita. 


"Sebentar, saya periksa dulu, Nona." 


Wanita itu menunggu dengan perasaan kesal yang membuncah. Dalam hatinya dia merutuki sikap kurang ajar si pria yang dia tolong itu. 


"Nona, totalnya satu juta dolar," ucap si petugas. 


"Hah! Satu juta dolar?" tanyanya dengan mata membulat sempurna. 


"Benar, Nona." 


Raut wajah wanita itu terlihat sangat tertekan. Bagaimana tidak. Uang sebesar itu bisa dia gunakan untuk membayar sewa tempat tinggalnya selama satu bulan. 

__ADS_1


"Mati aku!" 


__ADS_2