Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Histeris


__ADS_3

Suasana pagi di kamar utama yang ditempati oleh sepasang calon orang tua baru terasa hening. Danendra sedang duduk di atas ranjang dengan memegang ponsel di tangannya. Laki-laki yang masih dalam keadaan Bert*lanjang dada itu sedang menunggu sang istri yang tengah membersihkan diri. 


Tidak lama berselang pintu kamar mandi terbuka. Adeline keluar dari sana masih menggunakan handuk kimono berwarna putih bersih. Baru saja melangkah keluar, tatapan Adeline tertuju pada sang suami yang seperti sedang melamun. 


Adeline memutuskan untuk mendekati sang suami lebih dulu. Langkah demi langkah semakin dekat pada laki-laki muda yang berstatus sebagai suami sahnya itu. Hingga Adeline berada tepat di depannya, Danendra belum juga sadar. Dia masih saja menatap ke depan dengan tatapan mata kosong. 


"Nendra, kamu kenapa, Sayang?" tanya Adeline yang kini sudah tidak kaku saat memanggil suaminya dengan sebutan sayang. 


Laki-laki itu tidak menjawab, tidak juga mengerjap atau merespon dengan tindakan kecil. Adeline semakin heran. Wanita itu ikut memikirkan hal apakah yang mengganggu pikiran suaminya sampai melamun seperti ini. 


"Sayang!" Adeline sedikit meninggikan suara. 


Tetapi Danendra belum juga merespon. Wanita dewasa itu memutuskan untuk menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan sang suami. Perlahan-lahan mendekatkan kedua wajah itu hingga tersisa satu jengkal saja. Namun, kegiatan Adeline sama sekali tidak mengganggu Danendra yang biasanya langsung merespon dengan cepat. 


Adeline menempelkan kedua bibir mereka lalu memberikan sesap*n kecil di bibir tebal suaminya. Barulah saat Adeline melakukan hal itu, Danendra sedikit terkejut. Namun, laki-laki itu tidak mau rugi. Setelah Adeline berusaha untuk melepaskan ciumannya, Danendra dengan cepat menahan tengkuk sang istri. 


Kini Danendra yang memimpin permainan. Laki-laki itu sangat bersemangat untuk mendapat jatah sarapan paginya yang sangat spesial. Dia melakukan itu juga karena ingin sedikit melupakan sejenak masalah yang kembali datang menimpanya. 


Adeline berusaha berontak, wanita itu tidak mau lagi menjadi mangsa empuk suaminya. Laki-laki itu kini semakin perkasa saja. Setiap mereka melakukan ciuman, selalu berakhir dia harus menanggalkan semua pakaiannya. Sayangnya ketika Adeline berontak, Danendra kini melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang istri. Menahan wanita itu agar tidak melakukan pemberontakan. 


Masih dengan kedua bibir yang bertaut kini Danendra melepaskan tangan kanannya yang menahan tengkuk sang istri. Tangan itu kini berpindah ke pinggang ramping istrinya dan dengan cepat menarik tali pengikat handuk yang dikenakan oleh Adeline. 


Benar saja apa yang di sesalkan oleh Adeline. Kini dia harus rela menanggalkan selembar handuk yang menutupi tubuh moleknya itu. Masih pagi-pagi sekali, dia kembali harus merasakan gempuran gempa buatan sang suami. 


Ranjang king size itu harus kembali menerima getaran hebat dan kuat dari sang penguasa yang sedang menikmati indahnya cinta. Ruangan berukuran luas dan mewah itu kembali dipenuhi oleh suara-suara aneh dari sang penghuni. 

__ADS_1


Setelah sekian lama akhirnya kegiatan itu berhenti saat terdengar erangan panjang dari sang penguasa. Saat kegiatan itu selesai, Adeline langsung memasang wajah cemberut. Wanita itu kesal karena harus kembali membersihkan diri setelah berkeringat karena melayani sang suami. 


Danendra terkekeh kecil saat melihat ekspresi wajah istrinya yang melipat bibirnya tanda dia sedang merajuk. "Jangan di monyong-monyongin gitu, Sayang. Nanti aku khilaf lagi," ejek Danendra di sela-sela tawanya. 


"Kamu ini, dari sore sudah menggempurku berapa kali? Kenapa tidak ada puas-puasnya, sih!" rajuk Adeline. 


Danendra menghentikan tawanya lalu meraih jemari sang istri yang masih berada di bawah kungkungannya dan membawa tangan itu untuk ditempelkan ke pipinya. 


 "Aku puas, Sayang. Aku sangat puas dengan pelayanan kamu. Tapi, entah kenapa tubuhmu itu seperti candu untukku. Rasanya semua beban pikiran dan rasa lelahku hilang begitu saja saat kamu melayaniku dengan baik," ujar Danendra jujur. 


"Tapi gara-gara kamu, aku sudah mandi 3 kali dalam satu malam. Kalau aku masuk angin bagaimana?" tanya Adeline masih tetap merajuk. 


"Aku akan mengurus kamu dengan baik." 


"Padahal sudah akan memiliki momongan, tapi … tuan muda masih saja tidak pernah absen mengambil jatanya. Semoga nona selalu sehat dan kuat dalam menghadapi keperkasaan tuan muda," batin Gerry dengan senyum tipis. 


"Kau kenapa senyum-senyum seperti orang gila?" tanya Danendra tanpa sadar diri. 


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya masih teringat dengan film yang saya tonton tadi," jawab Gerry menahan tawa. 


"Wah-wah, hebat sekali kau, yah! Pagi-pagi sudah menonton film. Apakah kau seluang itu sekarang?" tanyanya menyindir. 


"Saya menonton sambil menunggu anda keluar dari kamar, Tuan. Saya bahkan sampai menyelesaikan 3 film karena menunggu anda," jawab Gerry tidak mau disalahkan. 


Danendra mendelik tajam ke arah sang sekretaris saat pria kepercayaannya itu seolah menyalahkan dia. 

__ADS_1


"Wah, kau semakin berani, Get! Kau ingin mengambil cuti panjagmu sekarang?" tanyanya dengan nada mengancam. 


"Tidak, Tuan. Saya masih ingin mengumpulkan dollar untuk masa depan istri dan anak-anak saya kelak." 


"Seperti kau punya niat menikahi perempuan saja!" cibir Danendra yang langsung masuk ke mobilnya. 


Gerry hanya menghela napas berat saat mendapat cibiran dari tuan mudanya. Dia sebenarnya tidak peduli apapun yang diucapkan oleh pria yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi atasannya itu. Hanya tidak menyangka saja bahwa tuan mudanya sekarang sudah tidak sekaku dulu. 


"Kita ke rumah sakit dulu, Ger!" perintah Danendra saat Gerry sudah masuk ke dalam kemudi. 


"Tapi … kita ada agenda meeting dengan client dari Inggris, Tuan. Mereka sudah menunggu kita," ujar Gerry dengan cepat. 


"Kau tidak bisa reschedule meeting itu? Mama baru mengajariku kalau Aunty Nabila sudah sadar." 


"Tidak bisa, Tuan. Mereka tidak mau lagi jika disuruh menunggu. Bagaimana jika kita ke rumah sakit setelah meeting selesai, Tuan?" 


"Ya sudah, mau bagaimana lagi!" 


Mereka akhirnya datang ke kantor untuk meeting bersama client penting. Meskipun segala keputusan kerjasama itu mereka yang menentukan, tetapi Danendra juga tidak mungkin mengecewakan client yang datang dari jauh. Meski dengan berat hati, Danendra tetap melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan. 


Ketika sedang meeting dengan client barunya, ponsel Danendra terus berbunyi. Danendra dengan tidak enak hati meminta izin untuk menerima panggilan tersebut yang sepertinya sangat penting. 


"Ada apa, Ma? Nendra sedang meeting, setelah ini selesai Nendra akan secepatnya datang." 


"Nendra, cepat kemari. Aunty Nabila histeris dan ingin bertemu Adeline. Dia sudah tahu tentang kem*tian tragis kakek Arnold!" 

__ADS_1


__ADS_2