Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Akhir Cinta Gerry


__ADS_3

"Tenanglah, Sayang. Gerry akan memperketat penjagaan terhadap kamu dan Devan," timpal Danendra setelah sekian lama terdiam. 


"Sepercaya itukah kamu kepada Gerry, Ndra?" tanya Adeline dengan alis bertaut. 


"Dia orang terpercayaku, Sayang. Apapun itu, aku tidak pernah ragu kepadanya," ucap Danendra yakin. 


"Ya sudah kalau memang itu keputusan yang menurut kamu terbaik," pungkas Adeline mengalah. 


Sejak hari itu, Gerry semakin disibukkan dengan urusan keluarga tuan mudanya. Tidak jarang dia ikut turun tangan untuk menjaga istri serta anak sang tuan muda. 


Dia bahkan sampai mengesampingkan urusan pribadinya demi terus melaksanakan tugas dari Danendra. Berbulan-bulan lamanya Gerry hidup seperti itu. Dia seperti kehilangan privasi demi menjaga keselamatan keluarga Alefosio. Tidak hanya itu, Gerry bahkan sampai ikut tinggal di mansion tuan besarnya. 


Sampai pada bulan ketiga, Gerry baru bisa sedikit menghela napas. Nyatanya memang sudah tidak ada gangguan apapun yang datang pada keluarga itu. Danendra juga sudah memberikan kebebasan untuk tangan kanannya itu agar dapat mengurus dirinya sendiri. 


"Terima kasih, Gerr. Kau sudah siaga menjaga keluargaku. Kesetiaanmu pada keluarga kami tidak pernah bisa diragukan lagi. Sekarang, pergilah! Sudah saatnya kau mengurus kehidupan pribadimu." 


"Sama-sama, Tuan Muda. Itu sudah tugas saya sebagai tangan kanan anda," jawab Gerry lugas. 


"Ya sudah, sepertinya kau sudah tidak sabar ingin menemui pujaan hatimu, 'kan? tanyanya menggoda, "Pergilah, semoga kau juga bisa mengejar kebahagiaanmu sendiri," sambung Danendra. 


"Baik, Tuan Muda. Saya permisi," pamit Gerry dengan sopan. 


Gerry pun berlalu pergi dari sana. Meninggalkan sang tuan muda yang menatap bangga padanya. 


Dia masuk mobilnya, lalu menghela napas lega, "Akhirnya tugasku selesai juga. Sekarang aku bisa menemui Indira. Sudah lama sekali aku tidak menemuinya," gumam Gerry, seulas senyum tipis tersungging di bibirnya yang sedikit tebal. 


Dia sudah tidak sabar ingin bertemu sang kekasih yang sudah lama dia abaikan demi tugas dari tuan mudanya.  Gerry segera mengemudikan mobilnya keluar dari mansion besar Alefosio.


Sepanjang jalan menuju apartemen sang kekasih, raut wajah Gerry terlihat sumringah. Senyum lebar tidak pernah pudar dari wajahnya yang tampan. Dia sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan spesial untuk kekasih tercinta. 


Kini sampailah Gerry di apartemen yang menjadi tempat tinggal kekasihnya. Dia menghentikan laju mobilnya di tempat parkir, tangannya meraih dasbor mobil dan membukanya. 


Gerry mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru dari sana. Lagi-lagi dia tersenyum saat membayangkan seperti apa reaksi sang kekasih. 


"Semoga ini adalah langkah awal hubungan kita, In. Aku ingin setelah ini bisa hidup bersamamu hingga tua," gumam Gerry seraya menatap sebuah cincin berlian yang dia siapkan untuk wanita tercinta. 


Dia pun bergegas keluar dari mobil setelah mengantongi kotak cincin berwarna biru, lalu melangkah masuk ke apartment. Saat baru saja masuk, resepsionis yang memang mengenal dirinya pun menyapa. 


"Tuan Gerry, sudah lama tidak terlihat. Saya kira sudah tidak sama Nona Indira lagi," sapa si resepsionis dengan name tag 'Rissa'. 


Gerry hanya tersenyum, dia enggan menanggapi sapaan Rissa dengan mengobrol. Dia sangat paham bahwa Rissa ini tipe orang yang suka sekali bergosip. Gerry pun berlalu meninggalkan Rissa yang tersenyum sinis. 


"Mentang-mentang sekretaris Tuan Muda Danendra, dia bersikap sombong dan angkuh. Kita lihat saja nanti, apakah dia akan masih bersikap seperti itu?" 


Pria dengan setelan pakaian kantor itu terus berjalan masuk ke dalam lift. Dia menekan tombol angka tiga, lalu lift membawanya naik dan berhenti di lantai yang dituju olehnya. 


Dia bergegas keluar dari lift, lalu kembali menganyunkan langkahnya menuju unit apartment sang kekasih. Langkah besarnya berhenti saat sampai di depan pintu apartemen yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu sejarah percintaannya. 

__ADS_1


Gerry menekan kode yang dia buat saat membeli unit apartemen itu yang sengaja dia jadikan sebagai tempat tinggal sementara untuk Indira. Namun, kode itu tidak berhasil membuat pintu unit terbuka. 


"Kenapa enggak bisa?" tanyanya bergumam, "Tapi bener, kok, kodenya. Kode ini aku sendiri yang membuatnya," lanjut Gerry dengan perasaan heran. Dia mencoba membukanya hingga tiga kali, tetapi hasilnya nihil. 


"Tidak mungkin Indira menggantinya tanpa sepengetahuanku. Jangan-jangan ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Gerry menerka-nerka, perasaannya tiba-tiba tidak enak saja. 


Buru-buru Gerry mengambil ponselnya, lalu berusaha meretas sistem. Tidak membuang waktu lama pintu unit sudah bisa dibuka setelah Gerry mengeluarkan kemahirannya. Dia meretas hanya bermodal sebuah ponsel pintar. 


Dia mengayunkan langkah masuk dengan pelan dan hati-hati. Sikap waspadanya kini ada di taraf tertinggi. Gerry khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Indira. 


Gerry terus masuk melewati ruang tamu, dia hendak memeriksa kamar Indira. Ketika sampai di depan pintu ruangan sang kekasih, langkah Gerry terhenti. Dia mendengar suara-suara yang tidak lazim dari ruangan tersebut. 


Dengan cepat Gerry membuka kamar Indira. Namun, kenyataan pahit lah yang dia dapatkan. Di ranjang besar itu, Indira sedang berada di atas tubuh seorang laki-laki. Keduanya bahkan sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi. 


Pakaian berserakan di lantai, selimut dan bantal pun sudah tidak berada di tempatnya. Saking asiknya kedua orang yang tengah bergairah di atas ranjang besar itu sama sekali tidak menyadari bahwa kini di ambang pintu, ada seorang pria lain yang tengah berdiri dengan tatapan kosong. 


Cukup lama Gerry menyaksikan sang kekasih tengah memompa dengan semangat. Suara desa*han dari kedua makhluk itu memenuhi telinga Gerry. Pria itu sengaja menikmati suara-suara serta momen menyakitkan itu, agar rasa cintanya terhadap si wanita gugur tanpa sisa. 


Gerry memejamkan matanya sejenak seraya menarik napas panjang guna sedikit mengurangi rasa sesak di hati. Begitu merasa keadaannya sudah lebih baik, Gerry kembali membuka kedua kelopak matanya. 


Bersamaan dengan itu, Indira dan laki-laki asing itu hendak bertukar posisi. Pada saat itulah, si wanita tidak tahu diri itu melihat keberadaan Gerry yang masih berdiri di atas pintu kamar. 


Indira buru-buru mendorong tubuh laki-laki yang tadi hendak menggempurnya, "Gerry!" serunya, dia segera turun dari ranjang, lalu meraih sebuah handuk kimono yang teronggok di lantai, kemudian berlari menghampiri sang pacar. 


"Sayang, kamu sudah lama di sini?" tanyanya dengan raut bingung.


Dari nada bicara gerry, terdengar tegar. Meski bisa dipastikan hatinya remuk redam. Pria itu benar-benar mahir dalam mengendalikan diri. 


"Aku bisa jelaskan, Sayang," timpal Indira dengan nada gugup. 


"Jelaskan tentang apa?" tanya Gerry pura-pura tidak paham, "Lebih baik kamu lanjutkan dulu. Dia masih menunggumu," sambung Gerry, sekilas dia menatap jiji pada tubuh perempuan yang beberapa menit lalu masih sangat dicintainya. 


"Sayang," rengek Indira, dia berusaha menahan tangan Gerry saat laki-laki itu hendak mundur. 


Gerry menghela napas dan membuangnya kasar, "In, lebih baik kamu selesaikan dulu apa yang membuat dirimu senang." 


"Aku sudah selesai!" sahut Indira. Wajah wanita itu mulai memerah. 


"Kalau begitu kemasi barang-barangmu. Pergilah bersamanya!" perintah Gerry masih dengan nada rendah. 


"Enggak, aku enggak akan pergi dari sini!" tolak Indira dengan cepat. 


"In, tolong jangan uji kesabaranku. Aku masih memberikan ampunan kepadamu. Jadi, jangan melampaui batas," pinta Gerry, nadanya sudah sedikit lebih tinggi. 


"Enggak. Aku enggak akan pergi. Aku pacar kamu, Gerry!" jerit Indira dengan tidak tahu malu. 


Gerry menatap Indira dan laki-laki bermuka tebal itu bergantian, senyum sinis terbit dari kedua sudut bibir sekretaris Danendra. Namun, saat Indira berusaha memeluknya, Gerry dengan cepat mendorong tubuh sang kekasih hingga mundur beberapa langkah. 

__ADS_1


"Jangan pernah sentuh aku dengan tubuh kotormu itu, Indira!" bentak Gerry yang mulai kulit mengontrol diri. 


"Hei, Bung. Jangan kasar sama wanita!" sungut laki-laki yang kini berniat turun dari ranjang. 


"Kau tidak perlu ikut campur! Dasar laki-laki brengsek." Gerry memaki laki-laki itu. 


"Gerr, aku bisa jelaskan. Jangan emosi dulu," tegur Indira, dia kembali melangkah maju. 


"Tidak perlu menjelaskan apapun, In. Perbuatan kamu dengan laki-laki itu sudah menjelaskan semuanya." Gerry mengeluarkan pistol miliknya, lalu membidik area betis laki-laki yang sudah merebut kebahagiaannya. 


"Arg!" jerit laki-laki itu. 


"Vikram!" teriak Indira saat melihat kaki lawan duel ranjangnya tadi ditembus timah panas. 


"Urus saja dia! Aku mau besok tempat ini sudah kosong." Gerry memberi peringatan pada kekasihnya itu sebelum berlalu dari sana. 


Bukannya mengurus Vikram yang masih meraung kesakitan, Indira lebih memilih mengejar Gerry yang mulai pergi meninggalkannya. 


"Gerry! Dengarkan aku dulu. Kamu jangan bersikap seolah-olah semua ini adalah salahku!" teriak Indira agar Gerry menghentikan langkahnya. 


Benar saja, Gerry kini berhenti. Dia membalik tubuhnya menghadap wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama hampir tujuh tahun lamanya. 


"Apa maksudmu, In? Kau mau menyalahkan aku atas kesalahan yang kamu lakukan?" tanya Gerry dengan mimik wajah kecewa. 


Di sini, Gerry lah yang tersakiti. Namun, Indira dengan tidak tahu malunya justru menyalahkan Gerry atas perbuatan kotornya bersama laki-laki lain. Sungguh, kekecewaan itu terasa menjadi berkali-kali lipat untuk Gerry. 


"Jelas. Semua ini memang salah kamu, Gerry. Kamu yang tidak pernah ada untukku. Kamu yang lebih memilih tuan mudamu itu dari pada aku. Kamu juga yang selalu menolak saat aku mengajakmu bercinta!" Keluar sudah semua isi hati Indira selama ini. 


Gerry meludah ke samping kirinya, dia benar-benar semakin jijik melihat Indira – wanita yang pernah dicintai dengan tulus. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Indira akan sepicik ini. 


"Kau ikut menyalahkan tuan muda, In?" tanya Gerry, kepalanya menggeleng cepat, "Kau tahu semua yang aku miliki adalah pemberian darinya. Apartemen, mobil, hartaku, sampai jatah bulananmu pun tuan mudaku yang menanggungnya. Kau tahu, tuan muda bahkan sedang membuatkan kita rumah masa depan," lanjut Gerry, suaranya sudah menggelegar. Dia tidak terima karena Indira ikut menyeret nama Danendra. 


Indira terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Dia sedang syok mendengar pernyataan Gerry tentang rumah masa depan itu. Indira merasa bodoh karena mengkhianati pria di depannya ini. 


"Tentang bercinta, aku mati-matian menolak hal itu. Padahal, sebenarnya aku pun menginginkannya, In. Tapi, aku menahannya karena aku ingin menjagamu dengan baik. Aku tidak ingin merusak kamu sebelum kita resmi menjadi pasangan yang resmi." Gerry mengungkap alasan yang selama ini tidak pernah dia katakan pada Indira. 


"Alasan kamu terlalu klise, Gerr. Di jaman ini, di kota ini bercinta dengan seseorang yang dikasihi sudah biasa, 'kan?" kelit Indira. 


"Kamu berpikir seperti itu?" tanyanya dengan dahi berkerut, "Aku justru berpikir agar kamu tidak sama seperti mereka. Aku menganggapmu spesial, Indira Hutama!" bentak Gerry, dia melemparkan kotak kecil berwarna biru itu ke hadapan Indira.  


Wanita itu kembali terdiam saat melihat Gerry membentaknya dengan nada bergetar. Dia sadar, laki-laki yang menjadi kekasihnya bertahun-tahun itu sangat kecewa padanya. Namun, semua tidak mungkin bisa dia ubah seperti dulu lagi. 


"Sudahlah, lebih baik kita berpisah. Aku minta kosongkan tempat ini sebelum aku kembali datang kemari," mohon Gerry, dia kembali membalikkan tubuhnya dan berlalu dari tempat itu. 


Indira berniat mengejar Gerry, tetapi kakinya tidak sengaja menendang sesuatu. Pada akhirnya, dia menghampiri barang yang sempat tertendang olehnya tadi. Indira pelan-pelan membuka kotak itu, saat netranya melihat apa yang ada di dalamnya, Indira pun terpaku. 


"Cincin berlian, apakah Gerry sebenarnya akan melamarku?" gumam Indira dengan mata berkaca-kaca. 

__ADS_1


__ADS_2