
Usai dari pemakaman Antonio dan Grasiella, Adeline dan Danendra kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit jiwa untuk menjenguk Monica, ibu tiri Adeline yang selama ini kerap berlaku tidak adil. Namun, sekalipun Adeline tidak pernah menaruh dendam atas rasa sakit yang ditorehkan oleh wanita paruh baya itu.
"Di dalam sana nanti, kamu tidak boleh terlalu jauh dari pengawasanku, Adel. Tempat itu terlalu berbahaya untuk kamu," ujar Danendra memperingati.
"Iya, Sayang," jawab Adeline singkat.
Meski sudah pergi dari pemakaman orang tua serta adiknya itu, Adeline masih tampak sedih. Kedua netranya masih berair walau tidak sebanyak ketika di tempat peristirahatan terakhir orang-orang tersayang.
"Sayang, sebenarnya aku sangat benci air mata kesedihan yang keluar dari kedua mata indahmu itu. Aku tidak rela ada orang yang membuat kamu menangis karena sedih. Jadi tolong, jangan menangis lagi."
Adeline buru-buru menghapus jejak air mata di wajahnya setelah mendengar ucapan ketidaksukaan sang suami. Dia paham, jika Danendra sudah berkata seperti itu, itu artinya dia tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi.
"Aku tidak menangis, Sayang. Aku justru bahagia, karena sebentar lagi bisa bertemu dengan mama," elak Adeline memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit jiwa tempat di mana Monica menjalani perawatan. Adeline keluar dari mobil setelah Danendra membukakan pintu dan langsung menggandengnya dengan erat, seakan tidak ingin ada jarak sedikitpun antara mereka.
"Sayang, malu."
"Diamlah!"
Danendra mendelik ke arah sang istri untuk membuat wanita dewasa itu bungkam. Tempat yang sedang mereka kunjungi ini bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat. Di tempat itu penuh dengan orang-orang yang menderita gangguan jiwa.
Mereka berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Monica dengan di antar oleh seorang perawat. Danendra sama sekali tidak memberi celah untuk Adeline bergerak dengan bebas.
"Ini kamar ibu Monica. Silahkan jika ingin menjenguknya," ucap sang perawat.
Adeline langsung memejamkan matanya saat melihat kondisi Monica. Wanita paruh baya yang dulu selalu berpenampilan cantik dan menarik itu sudah tergantikan dengan seorang wanita paruh baya yang acak-acakan.
Wanita dewasa itu menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi pasokan oksigen di paru-parunya. Keadaan sang ibu memang sangat miris. Wanita paruh baya yang dia anggap sebagai ibu kandungnya meski tidak pernah bersikap adil itu sedang berbicara dengan sebuah boneka berbentuk anak perempuan di pangkuannya.
"Ella, sekarang waktunya makan. Mama suapin kamu, yah." Monica berlakon seperti sedang merawat seorang bayi.
__ADS_1
"Sus, kalian merawat mamaku dengan baik, 'kan?" tanya Adeline tanpa melepas pandangan dari sang ibu.
"Kami merawat setiap pasien sesuai dengan kebutuhan mereka dan dengan standar yang ditetapkan oleh para ahli. Untuk kasus Ibu Monica, dia memang lebih sering mengamuk setiap saat, Nona. Kami pun kesulitan ketika dia sedang mengamuk," jelas sang perawat di samping Adeline.
"Apakah tidak ada kemajuan sama sekali selama mama saya dirawat di tempat ini?"
"Pengobatan itu tidak mungkin terlihat dalam waktu dekat, Nona. Semua butuh proses. Terlebih lagi ibu anda seperti menolak setiap pengobatan yang kami berikan. Batinnya sangat terguncang hebat setelah melihat sendiri bagaimana putrinya mengakhiri hidup."
Adeline mengangguk mengerti. Kematian Grasiella yang begitu tragis tentu saja bagaikan pukulan hebat untuk Monica. Selama ini dia selalu memanjakan putrinya itu dengan apapun asalkan Grasiella merasa senang.
"Tapi masih ada harapan untuk mama saya sembuh kan, Sus?" tanya Adeline yang akhirnya menatap perawat itu.
"Kami akan berusaha sebisa mungkin agar pasien bisa sembuh, Nona. Anda harus lebih tegar dalam menghadapi situasi ini," jawab sang perawat dengan jelas.
"Apakah saya boleh masuk ke dalam sana, Sus?" tanya Adeline penuh harap.
"Tidak!" seru Danendra yang melarang sang istri masuk.
"Aku bilang tidak ya tidak. Kau jangan menentangku, Adel."
Tanpa sadar Danendra membentak sang istri di depan perawat yang menangani Monica. Adeline tentu saja diam setelah mendapat bentakan tidak terduga itu. Bukan dia marah karena bentakannya, tetapi di tempat apa dan di depan siapa suaminya itu membentaknya.
Tidak terima dengan bentakan Danendra, Adeline menyentak kasar tangan sang suami yang memegangnya dengan erat hingga terlepas. Dia membalik tubuhnya dan bergegas pergi dari sana tanpa mengucap sepatah katapun.
"Sus, tolong jaga dia. Berikan pengobatan terbaik agar dia cepat pulih!" perintah Danendra sebelum melangkah pergi mengejar sang istri.
Langkah besar Danendra akhirnya berhasil mengejar Adeline yang ternyata sudah memberhentikan taksi. Wanita itu hendak masuk ke dalam sebuah taksi, beruntung Danendra dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.
"Sayang, jangan marah-marah."
"Siapa yang marah-marah? Bukannya kamu yang membentak ku di dalam sana!" seru Adeline tidak terima.
__ADS_1
Danendra menghela napas berat. "Oke, aku yang salah. Aku minta maaf," ucapnya mengalah.
"Tidak perlu. Aku sama sekali tidak butuh kata maaf dari seseorang yang tega mempermalukan istrinya di depan wanita lain."
Adeline tetap bersikeras untuk masuk ke taksi yang dia berhentikan. Namun, sopir taksi itu langsung melajukan kendaraannya saat mendapat tatapan mengintimidasi dari Danendra.
"Kau benar-benar menyebalkan, Nendra! Aku benci kamu." Adeline memukul pelan dada suaminya berkali-kali.
"Okey, kamu boleh marah. Tapi setelah kita sampai di rumah. Jangan merajuk di luar seperti ini, Sayang. Di mana pun terlalu berbahaya untuk kamu," tukas Danendra kembali mengingatkan sang istri.
Dengan perasaan kesal akhirnya Adeline masuk ke mobil. Namun, wanita dewasa itu bukan masuk ke kursi penumpang dan justru masuk ke kursi samping kemudi. Tempat di mana seharusnya seorang bodyguard duduk.
"Keluar!" perintah Danendra kepada sopirnya.
Adeline sempat melarang sopir itu untuk turun, tetapi sopir itu lebih takut pada Danendra, sang pemimpin. Sopir itu pun turun dari kursi kemudi dan membiarkan bosnya untuk mengemudikan mobilnya sendiri.
Melihat sang suami masuk ke kursi kemudi adeline berniat keluar. Akan tetapi, Danendra tidak kalah pintar. Laki-laki itu mengunci semua pintu secara otomatis.
"Kau benar-benar menyebalkan!" seru Adeline ketika kalah dari suaminya.
Senyum kemenangan terbit di bibir tebal Danendra. Laki-laki itu menarik turunkan alisnya untuk mengejek sang istri. Melihat reaksi suaminya yang seperti sedang menghinanya, Adeline memberikan pelototan mata kepada berondong jagung yang sialnya adalah laki-laki tercintanya.
"Lihat saja besok. Aku akan menurunkan jabatanmu di bawah Gerry!"
Adeline memberikan ancaman yang tidak main-main kepada suaminya. Wanita dewasa itu bisa berpuas hati karena semua aset keluarga Alefosio sudah berpindah atas namanya.
"Kau mengancamku, Sayang?" tanya Danendra pura-pura tidak takut sama sekali.
"Aku tidak mengancam. Kita lihat saja besok!"
Adeline menyilangkan tangannya di atas dada dengan ekspresi wajah congkak. Semua keputusan mengenai perusahaan memang sudah di bawah pengawasannya. Selain memiliki surat-surat yang sah, Adeline juga boleh berbangga diri karena selalu mendapat pembelaan dari kedua mertuanya.
__ADS_1