
Seketika Adeline merasa tegang. Terlebih lagi ketika dia kembali menoleh ke belakang. Salah satu mobil yang dikendarai pengawal sang suami berhenti dengan posisi melintang di tengah jalan.
"Tidak usah tengok ke belakang, Sayang. Kamu tenang saja, ada para pengawal yang akan memastikan keamanan kita," kata Danendra, tangannya dia letakkan di atas punggung tangan sang istri, lalu mengelusnya dengan lembut.
"Tapi aku … takut, Ndra. Bagaimana kalau mereka gagal?" tanya Adeline dengan raut wajah khawatir.
Meskipun sudah menikah dengan seorang ketua klan mafia selama satu tahun lebih, nyatanya Adeline masih belum terbiasa dengan kerasnya kehidupan kelompok tersebut.
Lain dengan Adeline, Nabila terlihat lebih tenang. Berpuluh tahun lamanya dia menjadi istri seorang mafia bengis seperti Rocky tentu saja membuat Nabila sudah terbiasa hidup dalam ancaman.
"Kalau kamu masih merasa belum aman, aku akan hubungi Gerry untuk mengurus masalah ini." Pria berparas tampan itu kembali mengambil earphone miliknya.
Adeline mengangguk setuju, "Mungkin itu lebih baik, Ndra. Di antara banyaknya anak buah kamu, aku hanya bisa percaya padanya."
'Hallo, Gerr, kau di mana?"
'Di kantor, Tuan. Ada apa?'
"Datang ke jalan Rose sekarang juga!"
'Apa ada masalah, Tuan?'
"Aku diserang!"
:Baik. Saya segera ke sana.'
Danendra memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa basa-basi apapun. Usai menghubungi sang tangan kanan, pria itu kembali fokus pada setir mobil di hadapannya. Dia menginjak pedal gas semakin dalam hingga mobil melesat bagaikan angin yang menyapu daratan.
__ADS_1
"Gimana, Ndra?" tanya Adeline, dia masih terlihat gelisah dan ketakutan.
"Gerry sedang meluncur ke sini. Kamu jangan tegang seperti itu, Sayang. Kita pasti baik-baik saja."
"Kamu yakin kita akan baik-baik saja, Ndra?" tanyanya lagi, dari raut wajahnya Adeline sama sekali tidak yakin dengan ucapan suaminya.
"Elin, tidak perlu ragu. Danendra sudah berkecimpung di dunia gelap sejak usianya masih remaja. Dia pasti bisa mengatasi permasalahan ini," sahut Nabila, wanita baya itu mengerti akan keraguan sang putri.
"Mama tidak takut jika mereka melukai kita?" tanyanya, sambil menatap sang ibu yang duduk di kursi belakang.
"Kamu lupa kalau suami mama juga orang seperti Danendra. Dia bahkan lebih bengis dari suamimu. Musuhnya pun lebih banyak karena dia sering kali menghabisi musuhnya tanpa belas kasih yang akhirnya, justru membuat balas dendam tidak berkesudahan."
"Jadi mama tidak takut?"
"Sebenarnya, takut tapi mama berusaha menyembunyikannya rasa takut itu di hadapan para musuh. Jika musuh melihat kita takut, dia akan semakin menjahati kita tanpa ragu," jawab Nabila dengan seutas senyum di bibirnya.
"Dengar kan, Sayang? Jangan perlihatkan rasa takutmu kepada siapapun, jadilah istriku yang pemberani seperti biasa."
"Itu mobil Gerry, Ndra!" seru Adeline dengan suara nyaring.
Pria itu seketika menatap ke mana arah yang ditunjuk oleh sang istri. Benar saja, di depan sana mobil sang tangan kanan sedang melaju ke arahnya.
"Kamu pulang ke mansion di antar Gerry dulu, yah! Aku mau pastikan orang-orang tadi benar musuh lama papa apa bukan."
Adeline dengan cepat menggeleng, dia tentu tidak setuju dengan apa yang diperintahkan oleh Danendra. Sebagai istri, dia khawatir jika suaminya tidak selamat saat bertarung dengan musuh.
"Sebentar saja, Sayang. Aku harus memastikannya sendiri," bujuk Danendra, tetapi Adeline masih tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Ndra!"
"Elin, biarkan suamimu melakukan tugasnya. Dia pemimpin klan ALF, tanggung jawabnya sangat besar terhadap para bawahannya. Jika dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, bagaimana dia bisa memimpin semua anggota lain?"
Nabila ikut membantu sang menantu untuk membujuk Adeline. Wanita dewasa itu tetap belum juga menyetujui gagasannya. Sementara itu, ketika Danendra kembali melirik mobil di belakang, terlihat seseorang di sisi belakang mobil mengeluarkan sebuah pistol.
"Apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi, mereka sudah berhasil mengalahkan para pengawalku."
Di sisi lain, Gerry pun curiga dengan mobil yang biasa digunakan oleh pengawal tuan mudanya, ada seseorang yang diam-diam sedang membidik ke arah mobil sang tuan muda.
"Tuan muda dalam bahaya!" seru Gerry, dia sigap meraih pistol miliknya yang berada di dalam dasbor mobil.
Tanpa ragu, Gerry mengarahkan pistol miliknya ke arah ban mobil milik klan ALF yang dicurigai olehnya, lalu menarik pelatuk hingga timah panas meluncur begitu saja ke arah ban depan mobil yang dicurigai oleh Gerry.
Mobil yang sedang dalam keadaan melaju kencang itu tiba-tiba hilang kendali setelah ban depannya meletus. Percikan api keluar dari besi velg yang bergesekan langsung dengan aspal jalan.
"Argh, sial!" teriak si pengemudi, sambil berusaha mengatur kendali mobil.
"Bagaimana bisa ada yang menembak ban mobil ini dari depan?"
"Kau terlalu lama! Sudah aku bilang tembak, kau sama sekali tidak mendengarkan aku!"
Mobil itu berhenti setelah menabrak pembatas jalan. Para penumpang mobil pun saling beradu argument karena gagal mencelakai sasarannya. Mereka saling menyalahkan sebab takut jika di amuk oleh pimpinannya.
"Tuan, bawa pergi Nyonya muda dari sini. Biar ini menjadi urusanku!" Gerry berteriak ketika kedua mobil itu saling bersimpangan.
"Gerr, biar aku saja. Kau antar pulang nyonya muda dan mertuaku!" Danendra tidak kalah berteriak kencang.
__ADS_1
"Aku enggak mau pulang kalau enggak bareng sama kamu!" seru Adeline tiba-tiba.