Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Nabila langsung memukul pelan lengan Danendra karena ucapan sang menantu pertamanya itu terlalu frontal. Meskipun wanita itu pun tahu bagaimana sifat Danendra saat bersama orang-orang terdekat memang sedikit slengean. 


"Kenapa, Ma? Tenang saja. Dia tidak mungkin marah." 


"Iya mama tahu, tapi becandaan kamu itu keterlaluan, Nendra!" sungut Nabila merasa tidak enak kepada menantu barunya. 


Walau bagaimanapun Nabila sudah sering kali menghadapi Danendra bahkan sejak kecil. Jadi, wanita itu sudah tidak segan lagi jika menasehati suami dari putri sulungnya. 


"Ma-af, Ma. Malik masih sedikit canggung," akunya kepada sang mertua setelah mencium punggung tangan Nabila. 


"Tidak apa-apa. Oh, jadi nama kamu Malik, yah?" tanya Nabila sambil tersenyum hangat. 


"Iya, Ma."


"Udah duduk dulu, deh, Ma. Nendra capek," keluh laki-laki tampan kesayangan Adeline itu. 


"Iya-iya. Kamu sudah pesan makan malam untuk kita, 'kan?" 


Ketiga orang itu duduk dengan posisi Malik dan Nabila saling berhadapan. Sedangkan Danendra duduk tepat di samping sang mertua dengan kaki menyilang. Khas Danendra yang suka sekali mengintimidasi seseorang dengan gesture tubuhnya yang kekar dan berwibawa. 


"Buat apa pesan. Biarkan saja Malik yang pesan. Dia kan anggota baru Keluarga kita, jadi sudah sepantasnya dia mentraktir kita, Ma." 


"Iya, Ma. Biar Malik saja yang pesan," timpal Malik dengan mimik wajah canggungnya. 


"Tidak perlu, Malik. Danendra pasti sudah memesan makanan untuk kita!" larang Nabila dengan cepat. 


"Mama tidak asik. Sudahlah, Nendra keluar dulu." 


Danendra dengan santainya keluar dari ruangan itu, meninggalkan sang mertua dan saudara yang sekarang menjadi iparnya. Sebenarnya Danendra memang sengaja memberi ruang untuk mereka saling bercerita satu sama lain tentang Rihanna. 


Meskipun demikian Danendra tetap memantau keduanya melalui kamera pengintai. Laki-laki itu juga penasaran dengan apa yang akan menjadi pembahasan mereka nanti. 

__ADS_1


Benar saja setelah kepergian Danendra, Malik mulai membuka pembicaraan. Rasa canggung itu juga perlahan-lahan sirna dari raut wajah tampan itu. Danendra paham, mungkin saudaranya itu sudah tahu tentang obsesi Rihanna kepada dirinya. 


"Malik sekarang paham, dari mana asal wajah cantik Kayla. Itu pasti menurun dari mama," puji Malik kepada sang mertua. 


"Kamu bisa saja, Malik. Jadi kamu memanggil Rihanna dengan panggilan Kayla?" 


Malik mengangguk malu. Entah kenapa, sejak tahu nama perempuan yang kini menjadi istrinya itu, Malik lebih tertarik untuk memanggilnya dengan sebutan Kayla. Mungkin dia merasa nama itu lebih cocok untuk Rihanna yang sekarang. 


"Malik, mama mohon jaga Rihanna dengan baik, yah! Mama sudah tidak bisa mendekatinya lagi seperti dulu," pinta Nabila memohon. 


"Kenapa begitu, Ma?" tanya Malik heran. 


"Dia membenci mama karena mengira mama lebih sayang kepada kakaknya. Padahal, rasa sayang mama pada mereka itu sama besarnya," jelas Nabila dengan suara lirih dan sorot mata berkaca-kaca. 


"Maaf, Ma. Kakaknya Kayla itu maksudnya istri Danendra?" tanyanya memastikan. 


"Iya. Istri Danendra itu anak pertama mama yang terpaksa diasingkan oleh kakeknya di sebuah panti asuhan karena ancaman papanya Rihanna," ungkap Nabila yang kembali mengenang ketika sang ayah mengakui perbuatan jahatnya. 


Malik mengangguk mengerti. Sedikit banyak Rocky juga sudah mengakui perbuatannya tersebut. Suami Rihanna itu hanya ingin memastikan bahwa semua yang dijelaskan oleh ayah kandung Rihanna adalah kebenaran. 


*****


Di apartemennya Rihanna tengah mondar-mandir di depan pintu. Berkali-kali dia melirik jam dinding yang terus berdetak. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Namun, suaminya belum juga pulang. 


Rihanna mengira Malik benar-benar belum pulang dari kantor. Padahal, laki-laki itu sempat kembali ke apartment sebelum pergi menemui Danendra. 


"Dia ke mana, sih?" tanyanya menggerutu. 


Wanita muda itu berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan diri di sana. Beberapa saat menunggu, Malik belum juga kembali. Rihanna yang merasa pegal akhirnya merebahkan dirinya di sofa empuk itu. Menunggu sang suami pulang bekerja, pikir Rihanna. 


Lama-kelamaan rasa kantuk mendera Indra penglihatannya. Tanpa sadar kedua mata Rihanna perlahan-lahan terpejam. Rihanna larut ke dalam mimpi indahnya. 

__ADS_1


Pukul sepuluh malam Malik baru saja sampai di apartment. Pembahasan dengan mertua serta iparnya cukup memakan waktu lama. Untuk berpamitan lebih dulu pun rasanya Malik tidak enak hati. 


Laki-laki itu membuka pintu apartemen lalu berjalan pelan masuk. Netranya tidak sengaja melihat sepasang kaki yang menjuntai dari sofa ruang tamu. Malik pun berjalan dengan sangat pelan untuk memeriksa siapa yang tidur di tempat itu. Apakah memang manusia ataukah sejenis dedemit nyasar. 


"Siapa yang tidur di sofa? Tidak mungkin Kayla tidur di sini." Belum selesai dengan ucapannya, Malik terkejut saat melihat sang istri yang tertidur di sana. 


"Kayla. Ngapain dia tidur di sini?" 


Malik berlutut di depan sang istri. Tangan kanannya terangkat dan hendak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Namun, urung dia lakukan karena takut mengganggu tidur nyenyak Rihanna. 


"Tidak mungkin kamu menungguku sampai tertidur di sofa, Kayla." 


Senyum manis terbit di wajah tampan itu saat memperhatikan wajah cantik sang istri yang tertidur pulas. Netranya menyusuri setiap inci wajah wanita tercinta hingga berhenti tepat di bibir merah muda alami sang istri. 


"Cantik," puji Malik atas kecantikan alami istrinya. 


Malik benar-benar tidak habis pikir, untuk apa Rihanna berdandan secara berlebihan sebelum mereka bertemu. Masih jelas di ingatan Malik, bagaimana make up dan penampilan sang istri yang justru terlihat sangat jauh dari kata cocok. 


Tanpa sadar Malik mendekatkan wajah tampannya pada wajah tenang istrinya. Bibirnya pun tiba-tiba lancang mencuri kecupan di bibir manis Rihanna. Saat sadar barulah Malik sedikit menjauhkan diri. Namun, apa yang baru saja dia lakukan sepertinya tidak mengganggu tidur Rihanna. Wanita itu masih saja terlelap dengan sangat tenang. 


"Kamu tidur atau pingsan, Sayang?" tanyanya disertai kekehan. 


Malik cepat-cepat menutup mulutnya saat menyadari panggilan yang baru saja dia sematkan kepada Rihanna. Jika wanita itu sampai mendengarnya pasti akan mengamuk tidak terima. 


Tidak ingin mengganggu tidur sang istri, Malik beranjak. Laki-laki itu masuk ke kamar pribadi Rihanna untuk mengambil sesuatu. Ketika keluar dari ruangan itu, ternyata Malik membawa selimut tebal. Dia berjalan mendekat ke tempat sang istri lalu menyelimuti tubuh istrinya itu agar tidak kedinginan. 


"Selamat beristirahat, Sa-yang," bisik Malik seraya menundukkan sedikit tubuhnya. 


Malik hendak bangkit dan bergegas pergi dari tempat itu. Namun, saat dia berniat mengayunkan langkahnya, tiba-tiba pergelangan tangan kirinya ditahan oleh seseorang. 


Terkejut, Malik menoleh ke arah pergelangan tangannya. Ternyata Rihanna yang melakukan hal tersebut. Hanya saja wanita itu masih saja memejamkan matanya. 

__ADS_1


Pelan-pelan Malik berusaha melepaskan pegangan sang istri. Namun, ucapan Rihanna seketika membuatnya terpaku dengan hati yang terasa sangat sesak. 


"Kak Nendra, jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintai kamu, Kak!" 


__ADS_2