
Danendra tersenyum puas saat melihat sang istri berani mendebat wanita yang ada di sampingnya itu. Sudah sejak lama dia sangat ingin menendang jauh-jauh wanita tanpa urat malu sepertinya. Namun, karena hubungan baik antara dua keluarga membuatnya tidak ingin berbuat sesuka hati.
"Jika kamu tidak rela, singkirkan saja ulat bulunya dari daun muda kesayanganmu, Sayang. Aku tidak keberatan sama sekali," jawab Nendra mengerlingkan sebelah mata.
"Kalau begitu, nanti aku beli pestisida dulu, atau sekalian Sian*da saja, yah?" tanya Adeline dengan suara yang sengaja dia keraskan sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya seperti sedang berpikir.
Si wanita yang terus menempel pada Nendra itu semakin menatap tajam ke arah Adeline. Namun, Adeline hanya tersenyum meremehkan ke arah si wanita yang dia beri julukan ulat bulu itu.
Amarah sudah membumbung tinggi di jiwa si wanita dengan pakaian seksi berwarna merah terang itu. Meski tubuhnya juga tidak kalah sintal dari Adeline, nyatanya tidak membuat Nendra mengalihkan pandangannya dari sang istri.
Kesal karena tidak dipedulikan oleh si pria, wanita itu dengan berani menangkup wajah si pria dan memaksa si pria agar mau menatapnya. "Nendra, aku sudah jauh-jauh pulang dari Paris, kenapa kamu tidak mau menatapku?" rengeknya dengan manja yang justru membuat si pria merasa jijik.
"Untuk apa aku menatap wanita lain, jika aku sudah memiliki istri sesempurna dia?" tanyanya seraya memalingkan wajah.
Si wanita akhirnya terdiam saat mendengar ucapan dari pria yang sudah terang-terangan membandingkan dirinya dengan perempuan yang baru hadir di kehidupan si pria.
"Maaf ulat bulu, tapi kamu bukan lawan yang seimbang untukku. Lebih baik cari pria yang masih lajang sana!" Dengan sengaja Adeline semakin memancing amarah si wanita.
Benar saja, saat mendengar ucapan Adeline yang berani memerintah dirinya, wanita itu langsung berdiri masih dengan tatapan yang sama bahkan kali ini seperti sedang ingin menelan bulat-bulat mangsanya.
"Dasar j*lang! Beraninya kau menikah dengan calon suami orang!" bentak si wanita dengan suara lantang.
Adeline melepas pisau serta garpu yang dia gunakan untuk menyantap steak dan berniat bangun untuk memberi wanita itu pelajaran karena sudah berani menghinanya dengan kata-kata tidak pantas. Namun, dia mengurungkan niatnya saat melihat suaminya sudah lebih dulu bangun.
Danendra langsung ikut bangkit saat mendengar si wanita berani membentak istrinya dengan kata-kata kasar. Pria itu mencekal pergelangan tangan si wanita dan mencengkram kuat-kuat hingga si wanita merintih kesakitan.
__ADS_1
"Sakit, Nendra!" pekik si wanita dengan mata berkaca-kaca.
"Berani sekali lagi kau menghina istriku dengan kata-kata kotor dari mulutmu itu, aku pasti akan memberimu pelajaran, Rihanna! Jaga batasanmu sebelum kau menyesal." Nendra menyentak kasar pergelangan tangan Rihanna yang sudah memerah akibat ulahnya.
Nendra langsung berjalan dan menarik sang istri untuk segera pergi dari sana. "Ayo kembali ke kamar. Aku sudah tidak mood lagi untuk makan," ajaknya dengan wajah kesal.
Adeline menurut tanpa memberikan perlawanan karena melihat sang suami yang sepertinya benar-benar sedang kesetanan. Perempuan itu tidak berani mengeluarkan kata-kata apapun, hanya diam mengikuti kemana sang suami membawanya.
Sementara itu, si wanita hanya bisa menatap kepergian sang pria yang lebih memilih perempuan baru di kehidupannya dari pada dia yang sudah lama memiliki rasa terhadap pria tersebut.
"Lihat saja, Nen. Aku akan merebut kamu, cepat atau lambat. Perempuan jal*ng itu tidak pantas menggantikan posisiku!" gumamnya penuh dendam.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar hotel, Nendra segera membuka pintu tersebut dan membawa sang istri masuk. Rasa kesalnya pada Rihanna sudah tidak dapat di tolerir lagi. Jika tidak berada di tempat umum, sepertinya dia akan memberikan hadiah setimpal untuk wanita grasak-grusuk sepertinya.
"Nendra, kamu marah padaku?" tanya Adeline memberanikan diri, karena saat memperhatikan wajah suaminya itu masih dikuasai amarah.
Adeline tentu saja menggeleng. Dia sama sekali tidak merasa memiliki salah. Sikapnya tadi tidak melawan sang suami, hanya berusaha melindungi apa yang sudah resmi menjadi haknya saja. Hal yang wajar di lakukan oleh seorang istri pada umumnya, meski di antara keduanya belum ada sedikitpun rasa cinta.
"Kalau begitu tidak perlu bertanya. Jikapun kamu bersalah, aku hanya tidak terima jika ada seseorang yang berani merendahkan harga diri istriku," jawabnya seraya kembali fokus pada ponselnya.
"Terus kamu mau ngapain?" tanyanya heran karena sang suami justru sibuk dengan benda canggih itu.
"Menyuruh Gerry membereskan ulat bulu tadi," jawabnya singkat.
Adeline tertawa puas dalam hatinya. Ternyata sang suami malah ikut-ikutan memanggil wanita ganjen tadi dengan sebutan ulat bulu. Namun, dia masih memiliki sedikit pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Hanya saja masih terlalu malu untuk bertanya pada sang suami.
__ADS_1
"Hallo! Gerry. Bagaimana bisa kau kecolongan. Aku sudah bilang jangan ada yang berani mengacaukan hari-hari bahagiaku dengan Adel. Kenapa tiba-tiba ada ulat bulu yang mengganggu kami?" Tanpa basa-basi Nendra menyampaikan keluhannya pada sang sekretaris, akan tetapi keluhan itu sedikit membuat Gerry justru kebingungan.
"Kalian di hotel kenapa bisa ada ulat bulu, Tuan?" Gerry justru bertanya karena tidak paham dengan maksud keluhan sang tuan muda.
"Maksudku bukan ulat bulu yang berwarna hijau atau hitam. Tapi merah," ucap Nendra yang semakin ambigu.
Adeline sampai tertawa cekikikan saat mendengar ucapan-ucapan sang suami yang semakin melantur kemana-mana. Namun, detik berikutnya dia langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke arah sang suami yang sedang berdiri.
"Suami kurang kerjaan! Beraninya menyamakan aku dengan ulat bulu kegatelan itu!" bentak Adeline yang akhirnya emosi, karena dia sendiri juga mengenakan baju dengan warna yang sama dengan yang disebut oleh suaminya.
"Apa, Sayang? Kenapa kamu aneh sekali, sih!"
Karena di lempar bantal oleh istrinya, Nendra menoleh dengan raut wajah bingung. Apa lagi bentakan istrinya itu yang tiba-tiba memarahinya. Sementara itu, di seberang sana Gerry tanpa sadar mentertawakan sang tuan muda. Dia sempat mendengar makian istri bosnya tadi.
"Kau tidak lihat, bajuku berwarna merah, dan kau menyebut ulat bulu merah! Apa maksudnya?" Adeline menatap penuh amarah sang suami.
"Jadi maksudnya ulat bulu itu adalah Nona Elin," batin Gerry sampai terpingkal-pingkal.
"Astaga! Ternyata aku memang tidak cocok jadi seorang pelawak. Beruntung ini di dalam kamar, kalau sampai tampil di tv aku pasti sudah di lempar tomat busuk oleh penonton!" gerutu Nendra saat sadar dengan kesalahannya.
"Gerry! Jangan berani menertawakan aku, yah! Segera eksekusi Rihanna sekarang juga."
"Jadi ulat bulunya Nona Elin atau Nona Rihanna, Tuan?" tanya Gerry yang berniat menggoda tuan mudanya.
"Kau mau m*ti, yah!" bentak Nendra yang langsung melemparkan ponselnya hingga membentur dinding.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai, Nendra. Kau masih berhutang penjelasan padaku tentang si ulat bulu."