Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Nasib Buruk Grasiella


__ADS_3

Atas kuasa yang dimiliki oleh Danendra, akhirnya Adeline lah yang mengurus pemakaman sang ayah. Meski berderai air mata, Adeline berusaha menguatkan hatinya untuk mengiklaskan takdir yang terjadi padanya. 


"Papa, Elin sudah memaafkan semua kesalahan papa. Tenanglah disana, Pa," ucap Adeline di atas pusara mendiang sang ayah. 


"Sayang, ayo kita pulang." Danendra sudah 2x membujuk wanita hamil itu untuk kembali ke mansion. Tetapi Adeline belum juga mau beranjak dari sana. 


Di pemakaman Antonio Abraham hanya di hadiri oleh keluarga terdekat saja. Danendra memang membatasi jumlah petakziah demi keamanan dan kenyamanan istrinya. Grasiella bahkan tidak berani menghadiri acara pemakaman sang ayah. Wanita yang masih belum bisa berjalan dengan sempurna itu memutuskan untuk bersembunyi di kediaman tanpa keluar sedikitpun. 


Janji yang diucapkan oleh Rihanna bahwa perempuan itu akan membantunya menutup kasus nyatanya tidak terbukti. Scandal yang menimpanya bahkan semakin rumit saja sekarang. Beberapa Vidio syur yang melibatkan dirinya bertebaran di akun jejaring sosial. Entah siapa yang menyebarkan, tetapi Grasiella yakin bahwa seseorang itu merupakan salah satu pembela Adeline. 


"Sial, sekarang siapa yang akan menolongku dari kasus ini? Papa sudah meninggal, dan mama tidak memiliki kuasa apapun. Lalu aku harus meminta pertolongan siapa?" monolog Grasiella kebingungan. 


Sedang pusing dengan masalahnya sendiri, Grasiella dikejutkan oleh suara dering ponsel. Richard, sang suami yang menghubunginya. 


"Ada apa?" tanya Grasiella tanpa basa-basi. 


"Kau dimana?" tanya balik Richard. 


"Di rumah papa." Jengkel dengan pengkhianatan Richard yang menikah tanpa seizin darinya, Grasiella pun hanya menjawab seadanya. 


"Tua bangka itu sudah ma*ti, yah! Baguslah. Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menyingkirkannya," ucapnya tanpa rasa bersalah. 


"Tutup mulutmu, b*jingan!" umpat Grasiella tidak terima. 


"Kau jangan galak-galak, Ella. Aku menelepon kamu hanya untuk menawarkan sesuatu," ujarnya dengan santai. 


"Aku tidak butuh apapun dari laki-laki samp*h sepertimu!" bentak Grasiella yang langsung mengakhiri panggilan. 


Tidak lama berselang sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Grasiella yang kebetulan masih memegang ponsel langsung membuka pesan tersebut. 


_Kau benar-benar tidak memerlukan bantuanku? Padahal aku ingin mengajakmu ke Indonesia, agar kamu tidak semakin kehilangan muka di negaramu sendiri,_ begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Richard. 


Grasiella melemparkan ponselnya ke kasur empuknya. Dia yang merasa frustasi dengan keadaan yang semakin memojokkan dirinya pun belum yakin dengan tawaran sang suami itu merupakan jalan terbaik. 


"Tidak-tidak, kalau dia membawaku ke Indonesia dan hanya menjadikanku sebagai pembantu, bagaimana?" gumam Grasiella menggeleng-gelengkan kepalanya. 


Wanita itupun memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mengambil air minum yang kebetulan sudah habis. Ketika sedang menuruni tangga, dia mendengar pembicaraan dua orang yang sedang berbisik-bisik tepat di ujung tangga sana. 


"Siapa yang ngobrol tengah malam begini? Seingatku di rumah ini hanya ada aku dan mama," ujar Grasiella heran. 


Saat sampai di pertengahan anak tangga, Grasiella terkejut karena melihat sang ibu sedang bersama seorang pria asing. Mereka seperti sedang saling merangkul satu sama lain. 


"Mama sama siapa?" tanya Grasiella kepada diri sendiri dengan nada lirih. 

__ADS_1


Wanita itu menajamkan penglihatannya untuk mengetahui siapa seseorang yang sedang bersama dengan sang ibu. 


"Micko, kenapa datang kemari, sih?" tanya Monica kepada pria yang merangkulnya. 


"Aku rindu kamu, Sayang. Aku juga ingin melihat anak-anak kita," jawab si pria seraya memajukan wajahnya seperti akan mencium Monica. 


"Dia bilang apa? Anak-anak kita?" tanya Grasiella lagi tentu saja hanya di dalam hati. 


"Tapi kalau ketahuan bagaimana?" tanya Monica lagi. 


"Ketahuan siapa? Suami sia*lanmu itu sudah m*ti. Sekarang waktunya untuk kita bersama, Sayang." 


Mulut Grasiella menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Laki-laki itu berucap seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama terpisah. 


"Ya sudah, lebih baik kita ke kamar tamu saja. Kalau ke kamarku, aku tidak ingin Grasiella mendengar apa lagi memergoki apa yang akan kita lakukan." 


Grasiella hanya memperhatikan sang ibu yang berjalan dengan saling rangkul bersama pria asing itu masuk ke dalam kamar tamu. Setelah keduanya sudah menutup pintu barulah Grasiella melanjutkan langkahnya untuk mendekat ke ruangan yang dimasuki oleh ibunya. 


Hening, tidak ada suara apapun. Hanya lampu dari dalam yang tiba-tiba padam. Grasiella mengedikkan bahunya lalu berniat untuk segera pergi dari sana. Namun, baru saja dia mengayunkan langkah, tiba-tiba terdengar suara des*han yang berasal dari dalam. 


"Ternyata mama sama saja. Baru tadi pagi papa di makamkan, sekarang sudah merelakan tubuhnya dijajah pria lain." 


Tidak mau ikut campur terlalu jauh dengan urusan sang ibu, Grasiella pun segera pergi dari sana. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya atas ucapan pria yang sekarang sedang menikmati malam bersama ibunya itu. 


"Ah, bodo amat! Papa sudah meninggal ini. Lebih bagus kalau ternyata aku masih memiliki papa lain yang bisa membantuku keluar dari masalahku ini." 


Keesokan harinya Monica keluar dari kamar tamu. Wanita paruh baya itu terkejut karena Grasiella sudah berdiri tegak di samping pintu kamar tersebut. 


"Ella, kamu ngapain?" tanya Monica gugup. 


"Menjadi saksi bisu kucing kawin," sindir Grasiella tanpa takut. 


Wajah Monica tiba-tiba berubah panik saat sang putri membahas perkara yang sedikit terbuka tersebut. 


"Kenapa, Ma? Mama lihat kucing itu juga?" tanya Grasiella masih saja menyindir sang ibu. 


"Ti-tidak!" seru Monica semakin gugup. 


Grasiella melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum menyeringai. "Mama tidak perlu gugup seperti itu. Ella sudah tahu, kok!" 


"Kamu tahu tentang apa?" tanya Monica semakin ketakutan. 


"Laki-laki di dalam sana adalah ayah kandungku bukan?" tanya Grasiella tanpa basa-basi. 

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Ella. Papa kandung kamu ya papa Antonio," jawab Monica menampik tuduhan putrinya. 


"Sudahlah, Ma. Ella sudah membongkar isi kamar pribadi mama. Di sana banyak bukti yang dapat meyakinkan bahwa laki-laki di dalam sana memang papa kandungku," ujar Grasiella semakin berani. 


"Ella, kamu tidak marah?" tanya Monica dengan tatapan menyelidik. 


"Untuk apa marah? Lebih bagus jika seperti itu, artinya Elin masih memiliki tameng untuk berlindung," ujarnya dengan santai. 


Sejak saat itulah Grasiella tahu tentang kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung Antonio. Grasiella sering kali bermanja kepada ayah kandung yang baru dia ketahui itu. 


Awalnya sang ayah kandung memang sangatlah baik dan perhatian padanya. Setiap datang ke rumah, pria itu sering membawakan oleh-oleh untuk anaknya tersebut. Namun, pada suatu hari Grasiella harus menerima kenyataan pahit saat sang ayah mengajaknya untuk berlibur. 


Laki-laki itu bukannya berniat menghabiskan waktu bersamanya sebagai seorang ayah dan anak. Laki-laki yang merupakan selingkuhan ibunya itu justru melakukan perbuatan tercela kepadanya. 


"Jangan, Pa! Ella tidak mau melakukan itu dengan papa kandung Ella sendiri," jerit Grasiella memohon. 


"Tidak ada bedanya melakukan dengan siapa, Ella. Yang terpenting rasanya nikmat, bukan?" 


Grasiella hanya mampu mengeluarkan air mata ketika sang ayah kandung bukan melindunginya dan justru melec*hkannya. Wanita yang masih berada di bawah kungkungan ayahnya itu kini paham bagaimana perasaan Adeline selama ini yang selalu menjadi korban kejahatannya. 


Erangan panjang menjadi tanda berakhirnya kegiatan mengasikkan laki-laki pengecut itu. Sedangkan Grasiella hanya bisa meratapi nasibnya yang harus melayani n*fsu gila ayah kandungnya sendiri. 


Tidak hanya itu saja, Grasiella bahkan harus melayani beberapa teman bej*t sang ayah. Wanita itu tidak di izinkan beristirahat sedikitpun. Bayang-bayang liburan menyenangkan bersama sang ayah, justru berakhir dengan tragis. Dia kembali merasakan tubuhnya di r*dapaksa oleh beberapa pria sekaligus. 


Hingga pada akhirnya Grasiella yang kelelahan karena selalu di perlakuan dengan kasar mengalami pendarahan. Bukannya di larikan ke rumah sakit, sang ayah kandung justru tega meninggalkannya di salah satu hotel tanpa memberitahu siapapun. 


Monica yang kebingungan mencari keberadaan sang putri pun segera menghubungi Zico. Sudah beberapa kali dia menghubungi kekasihnya untuk menanyakan keberadaan mereka. Namun, laki-laki itu seperti hilang ditelan bumi. Nomor ponselnya pun tidak bisa di hubungi. 


"Memangnya dia pergi dengan siapa, Ma?" tanya Zico yang tentu saja membutuhkan penjelasan lebih dulu. 


"Pergi sama teman mama, Zico. Sudah 3 hari mereka belum pulang. Mama khawatir," jawab Monica berbohong. 


"Zico mana bisa melacak keberadaan orang tanpa tahu dia perginya kemana, Ma. Kita harus minta tolong sama suami kak Elin. Dia itu memiliki anak buah yang jago merentas," ujar Zico memberi saran. 


"Mama tidak mau ketemu dia lagi. Menantu apa yang berani mencekik mertuanya sendiri." 


"Kak Nendra enggak mungkin melakukan itu jika bukan karena mama yang berulah. Sekarang ikut Zico untuk bertemu mereka," ajak Zico kepada sang ibu. 


Mau tidak mau monica menuruti ajakan sang putra. Dia tidak ingin terlambat dalam mencari sang putri yang sekarang entah berada di mana. 


Ketika berhadapan dengan Danendra, Monica memang terlihat sangat ketakutan. Apa lagi laki-laki itu menatapnya dengan garang. Beruntung Zico menggenggam erat tangannya untuk sedikit memberikan ketenangan. 


"Jadi kalian datang kemari hanya untuk meminta bantuan?" tanya Danendra dengan suara kurang bersahabat. 

__ADS_1


__ADS_2