Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Meminta maaf


__ADS_3

Semua orang terkejut saat Rihanna keluar dari balik pilar. Mereka terbangun dari duduknya. Acara sarapan hari ini mungkin akan gagal akibat pembahasan tentang Rihanna dan kedatangan wanita itu secara tiba-tiba. Rasa terkejut itu lebih besar dirasakan oleh Danendra karena wanita yang pernah terobsesi padanya itu muncul dari arah dalam mansion. Tidak mau ada kejadian buruk kepada istrinya, Danendra memberikan Devandra kepada Silvia. 


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Danendra yang langsung bergegas melindungi istrinya. 


Rihanna tidak menjawab, begitu juga dengan Nabila. Namun, suasana terlihat semakin tegang saat Rihanna justru mengayunkan langkahnya mendekati Adeline. 


Raut wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Entah apa yang akan dilakukan olehnya, Danendra belum dapat membaca situasi. Yang jelas saat ini dia harus melindungi istrinya. 


"Jangan coba-coba mendekati istriku, RI! Aku tidak akan memaafkan kamu jika berani melukainya lagi!" ancam Danendra tegas. 


Rihanna terus maju dengan tatapan mengarah pada Adeline yang kini tertutup tubuh Danendra. Wajah yang sejak awal datar itu kini perlahan-lahan mulai berubah. Ada embun yang mengganjal di kelopak mata Rihanna. 


Tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Danendra, Rihanna tidak menyerang Adeline. Wanita hamil itu justru duduk bersimpuh di depan Danendra dan Adeline. 


"Kak, maafkan kejahatanku dulu. Aku sungguh menyesal," mohonnya bersungguh-sungguh. 


Adeline yang tidak tega segera menyingkirkan tubuh sang suami yang menghalanginya. Dia ikut berlutut di depan sang adik. Kedua tangannya terulur memegang kedua bahu Rihanna dan berusaha membantunya untuk berdiri. Namun, Rihanna masih kekeh untuk bersimpuh. 


"Bangun, Rihanna!" gertak Adeline dengan suara lirih.


"Sayang! Jangan terlalu dekat." 

__ADS_1


"Diam, Nendra. Dia adikku," ujar Adeline yang mulai luluh. 


Karena Rihanna masih saja bertahan di posisinya dan Adeline merasa tidak kuat untuk menarik wanita hamil itu berdiri akhirnya Adeline menarik Rihanna ke dalam pelukannya. Kedua kakak beradik yang sejak bayi tidak pernah mengenal satu sama lain itu saling berpelukan. 


Suasana yang tadinya tegang dan mencekam kini berubah haru seketika. Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang berasal dari kedua wanita berbeda usia itu. Nabila langsung meringsek masuk ke dalam pelukan itu. Ketiganya berpelukan dan saling melepas semua beban di hati. 


Kejahatan apapun yang pernah dilakukan oleh adiknya itu, Adeline sudah memaafkan. Terlebih mereka memang tidak pernah tahu bahwa mereka ternyata memiliki ikatan yang tidak mungkin bisa terputus oleh apapun. 


"Maafin aku, Kak. Aku sudah banyak melakukan kejahatan pada kamu," lirihnya penuh sesal. 


"Tidak, Rihanna. Aku sudah memaafkan kamu. Terlepas semua yang sudah kamu lakukan, kakak iklas." 


"Semoga kalian bisa saling menyayangi, Sayang. Mama bahagia sekali," ujar Nabila penuh syukur. 


Meskipun Adeline dan yang lain sudah percaya jika Rihanna sudah berubah, tidak dengan Alefosio dan Danendra. Mereka masih menaruh curiga pada wanita yang tiba-tiba berubah sikap tersebut. Padahal saat di rumah sakit, dia pernah menolak kehadiran Adeline di sana. 


*****


Malik terpaksa harus berdiam diri di rumah karena kakinya sedang terkilir dan bengkak. Walau tubuhnya di rumah, tetapi otaknya tetap harus bekerja. Sebagai seorang pimpinan perusahaan, dia tidak mungkin lalai menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Namun, hati tidak pernah bisa bohong. Malik tetap saja tidak bisa melepas bayang-bayang sang istri dari hatinya. 


"Kayla, ku mohon kembalilah. Aku sungguh merindukan kamu," lirih Malik mengacak rambutnya yang memang sudah kusut. 

__ADS_1


Lagi-lagi ketukan di pintu mengalihkan pandangan Malik. Laki-laki itu sudah dapat menebak bahwa sang ibu yang kembali datang. Namun, saat pintu terbuka reflek Malik membulatkan matanya. 


"Lo ngapain ke sini?" tanya Malik seraya menutup laptopnya. 


Seseorang yang baru saja datang itu melangkah masuk dengan ekspresi datar. Tanpa menjawab pertanyaan Malik, dia menjatuhkan diri di sebuah sofa empuk dengan tangan direntangkan dan kaki di naikkan ke atas meja. 


"Kau sama sekali tidak merasa bersalah, yah! Membiarkan istrimu mengganggu rumah tanggaku." 


"Apa maksudmu?" 


"Rihanna sekarang tinggal di mansionku. Kau sebagai suami sama sekali tidak becus, Malik. Harusnya kau bisa menahannya untuk tetap tinggal bersamamu!" seru Danendra lantang. 


Malik tertawa hambar saat mendapat cacian dari saudranya. Ya, dia pun merasa bahwa sebagai suami dia sama sekali tidak berguna. Dia tidak bisa menahan sang istri untuk tetap bersamanya. 


"Kau sudah gila, Malik? Istrimu tidak di rumah, tapi kau masih bisa tertawa!" maki Danendra kesal. 


Kedatangannya ke mansion Ibrahim adalah untuk menyuruh Malik agar menjemput Rihanna, akan tetapi saudaranya itu seakan-akan tidak memiliki semangat untuk mempertahankan rumah tangganya. 


"Aku harus bagaimana, Ndra? Dia tidak mencintaiku. Dia mencintaimu!" teriak Malik dengan nada sendu. 


"Lalu kalau dia mencintai gue, Lo bakal nyerah gitu aja? Payah, Lo! Ternyata cuma bisa nanem benih doang tapi ga bisa luluhin sahamnya! Gue kira lo pengusaha sukses berkat kecerdasan, ternyata BulShit." 

__ADS_1


"Ini perasaan, bukan bisnis, Nendra!" bentak Malik tidak terima. 


__ADS_2