Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Saran Papa Ale


__ADS_3

Meskipun merasa keberatan dengan keputusan sepihak sang ibu, akan tetapi pria berparas tampan itu tidak berkesempatan untuk memberikan penawaran. Keputusan sang ibu memang ada benarnya, jika untuk pertama kalinya saja Rihanna sudah berani menculik adeline, tidak menutup kemungkinan gadis itu akan kembali melakukan aksi nekatnya. 


Akhirnya Danendra kembali ke kamarnya dengan mood yang sedikit kacau. Gara-gara ulah Rihanna, kini dia yang menjadi korban. Niatnya untuk menghabiskan waktu berdua dengan sang istri terpaksa di batalkan. 


Adeline yang sedang membaca sebuah majalah sedikit dikejutkan dengan kedatangan sang suami yang memasang wajah lesu. Wanita dewasa itu segera menaruh kembali majalah di tangannya ke atas nakas. 


"Kamu kenapa, Nen?" tanya Adeline yang sedikit bingung. 


"Mama …." 


"Mama kenapa?" tanya Adeline belum juga paham. 


"Dia membatalkan rencana bulan madu kita, Adel. Aku jadi kehilangan waktu untuk menggempur kamu habis-habisan," ujarnya tanpa beban.


"Hanya karena itu?" tanya Adeline tidak habis pikir. 


"Kamu bilang hanya karena itu?" tanya balik Danendra dengan wajah kesal. 


"Astaga. Dasar berondong mes*m. Memangnya kamu tidak bisa melakukan itu hanya di kamar saja? Kalau hanya untuk melakukan adegan menggerahkan itu, aku rasa tidak perlu jauh-jauh pergi honeymoon!" 


Danendra buru-buru mendekat dan menjatuhkan diri di ruang kosong sebelah sang istri. Raut wajahnya langsung berubah sumringah bagaikan mendapatkan undian bernilai jutaan dolar. 


"Kamu tidak keberatan jika kita hanya melakukan itu di rumah?" tanya Danendra dengan gembira. 

__ADS_1


"Kalau yang kamu maksud honeymoon adalah melakukan kegiatan itu, ya tidak perlu jauh-jauh. Di kamar juga tidak masalah," jawab Adeline datar. 


"Memang kamu tidak keberatan?" 


"Kalau kau terus yang di atas ya memang berat," jawab Adeline polos. 


"Astaga, Sayang. Kau ini polos sekali," saking gemasnya Danendra mencubit hidung mancung sang istri singkat. "Maksudnya memang kamu tidak ingin suasana yang berbeda?" tanya Danendra menjelaskan. 


"Aku inginnya honeymoon kita itu jalan-jalan, menikmati waktu berdua di luar. Misalnya di pantai, hiking, atau ke puncak. Kalau hanya menghabiskan waktu dengan menabur benih, tidak perlu sampai seperti itu. Nendra, kita menikah tanpa berpacaran, aku masih butuh menyesuaikan diri dengan kehadiran kamu. Jadi maaf jika nantinya aku tidak sesuai dengan keinginan kamu," jelas Adeline menyampaikan pemikirannya. 


Danendra tersenyum lembut saat mendengar penjelasan dari Adeline. Pria itu mengangguk mengerti atas pemikiran sang istri kali ini. Mereka memang lebih membutuhkan waktu agar lebih dekat, bukan justru mengejar kegiatan yang satu itu. Meskipun itu juga penting dalam hubungan suami istri. 


"Kamu memang istri yang baik, Adel. Aku tidak salah memilih kamu untuk menjadi pendampingku," ujar Danendra memuji sang istri. 


Karena malam semakin larut, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Adeline terpaksa membersihkan dirinya dengan bantuan Danendra karena pria itu bersikeras bahwa dia tengah sakit, padahal dia hanya mengalami luka lebam sedikit saja. 


"Takdir memang terkadang tidak seperti yang kita inginkan, Nendra. Tapi dengan Tuhan mengirimkan kamu untukku saat hatiku hancur oleh kenyataan, itu sudah lebih dari cukup sebagai pembuktian bahwa Tuhan sangat baik padaku," gumam Adeline seraya membelai lembut puncak kepala sang suami. 


Tidur Danendra sedikit terganggu karena ulah Adeline barusan. Pria itu sedikit bergerak untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sang istri, lalu tangannya melingkar memeluk tubuh istrinya. 


"Teruslah menjadi Danendra, berondong jagung daun muda kesayanganku. Jangan pernah mematahkan hatiku, Nendra." 


Setelah itu, Adeline kembali melanjutkan tidurnya. Mengarungi mimpi indah yang selalu dia dambakan sejak dulu, yaitu bertemu dengan kakek serta neneknya yang dulu begitu menyayanginya sejak kecil. 

__ADS_1


Fajar telah kembali menyapa setiap insan yang akan melakukan aktivitasnya. Adeline masih terlelap ketika Danendra membuka matanya. Pria berparas tampan itu mengecup lembut bibir sang istri sebelum turun dari ranjang. Setelah memberikan kecupan selamat pagi untuk istrinya yang masih saja pulas dalam mimpinya itu, Danendra segera turun dan membersihkan dirinya. 


Pria bertubuh kekar dengan kemeja putih serta jas hitam yang membuatnya semakin terlihat mempesona itu turun ke bawah seorang diri. Dia sengaja membiarkan sang istri beristirahat di kamarnya. Kejadian semalam cukup mengagetkan untuk Adeline pastinya, dan Nendra sadar betul tentang hal itu. 


"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Danendra yang langsung mengambil posisinya untuk sarapan pagi. 


"Selamat pagi, tumben kamu turun sendiri, Nendra. Dimana istrimu?" tanya sang ayah yang sampai menghentikan aktifitas sarapannya. 


"Mama belum cerita, Pa?" tanya balik Danendra. 


"Bagaimana mau cerita, papamu pulang sudah hampir fajar, Nendra." Silvia menyela pembicaraan. 


"Memangnya ada apa, Ma?" tanya sang suami kepada istrinya. 


"Adeline semalam di culik oleh suruhan Rihanna, Pa. Wanita itu benar-benar berbeda dengan ibunya yang polos dan pendiam, dia sendiri bersikap seperti seorang perempuan mur*han!" Silvia menjawab dengan emosi, entah kenapa mendengar menantu yang sempat dia tolak di celakai, membuatnya tidak terima. 


"Bagaimana bisa, Nendra? Memangnya kamu tidak memberikan pengawalan untuk istri kamu?" tanya si ayah sedikit terkejut. 


"Bukan begitu, Pa. Justru Nendra sendiri yang kecolongan," sela Silvia menyalahkan sang putra. 


Ayah kandung Danendra itu berdecak lalu menggeleng kepalanya. "Kalau begitu, lebih baik ajarkan Adeline beladiri, agar dia tidak harus bergantung pada suami lengah sepertimu, Nendra. Papa kecewa dengan cara kamu menjaganya," tutur sang ayah yang mengungkapkan isi hatinya. 


Kepala keluarga Alefosio itu memang sangat menjaga dengan baik martabat dan keamanan istrinya. Meski usianya tidak muda lagi, dia tidak pernah sekalipun membiarkan istrinya itu merasa sakit, tubuh ataupun hatinya karena itu adalah pantangan untuk seorang kepala rumah tangga baginya. 

__ADS_1


"Tapi, Pa. Adel tidak terbiasa dengan kehidupan keras seperti kita," ucap Danendra yang tidak langsung menyetujui saran sang ayah. 


"Maka ajarkan padanya. Walau bagaimanapun dia sudah menjadi bagian dari kita, Nendra. Musuh bisa datang dari mana saja, bahkan dari orang-orang yang selama ini kita percaya," jelas sang ayah memberi pengertian kepada putranya. 


__ADS_2