
Ketiga orang itu tertawa bersama. Gurauan Malik benar-benar hampir membuat spot jantung untuk Rihanna. Wanita itu hampir berpikir bahwa sang suami hanya terpaksa menikahinya. Namun, ternyata maksud dari ucapan laki-laki tercintanya itu adalah mereka dipersatukan oleh takdir.
"Maklum lah, Pak. Istriku ini adalah perempuan pertama dalam hidupku selain mami," ujar Malik yang direspon oleh Hartawan dengan mengangkat ibu jarinya.
"Tapi kalau perempuannya seperti ini, aku rasa semua laki-laki juga akan merasa beruntung, Malik. Selain cantik juga bisa menjaga diri dari laki-laki lain," puji Hartawan terhadap Rihanna.
"Terima kasih, Pak Hartawan, tapi saya tidak sebaik itu."
"Kata siapa, Sayang? Kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal," sela Malik dengan cepat.
Rihanna tersenyum hangat, hatinya kini berbunga-bunga. Ternyata takdir memang bisa merubah apapun. Dia yang dulu sangat terobsesi pada Danendra, kini justru mendapat laki-laki yang lebih lembut dan bisa memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
"Semoga kalian selalu romantis seperti ini, yah, Malik!"
"Aamiin," balas Rihanna dan Malik kompak.
"Ya sudah. Sekarang aku perkenalkan kalian pada tamu-tamu yang lain," ujar Hartawan.
Hartawan mengambil gelas serta sendok lalu mengetuk perlahan sendok itu ke gelas beberapa kali untuk mengalihkan perhatian para tamu yang terlihat masih berbincang satu sama lain. Mendengar suara itu, para tamu pun memandang ke arah sumber suara.
"Mohon perhatian, saya Hartawan Wirautama mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian yang sudah berkenan hadir di acara saya. Dalam momen ini saya beruntung karena Malik Ibrahim selaku klien terbaik dan terlama di perusahaan saya hadir bersama istrinya, Rihanna Mikayla," ujar Hartawan memperkenalkan sepasang suami istri yang menjadi tamu agungnya.
Sementara itu, para tamu yang lain membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Terlebih lagi mereka yang tadi sempat menggunjing seorang pengusaha kelas kakap seperti Malik. Mereka merasa sudah melakukan kesalahan yang fatal.
"Terima kasih, Pak Hartawan. Saya dan istri merasa tersanjung karena mendapat undangan dari acara Bapak yang sangat mewah dan meriah ini. Untuk kalian, para tamu undangan, saya juga sangat senang bisa memperkenalkan istri tercinta saya kepada kalian." Kata-kata Malik barusan justru membuat mereka semakin gemetar.
"Kami memang belum mengadakan acara resepsi. Kami pernikahan secara sederhana karena terhalang oleh berkas-berkas yang harus di urus lebih dulu. Tapi kalian tenang saja, karena kami beruntung langsung mendapatkan keturunan, maka dari itu kami berencana untuk mengadakan resepsi pada Minggu depan, acara itu sekaligus sebagai perayaan empat bulan kehamilan istri saya," sambung Malik yang membuat Rihanna terkejut, bagaimana tidak terkejut, laki-laki itu belum membicarakan tentang resepsi pernikahan dengannya.
*****
Danendra, Adeline, beserta Devandra kini sedang berada di rumah sederhana yang ditinggali oleh Monica. Wanita yang baru sembuh dari sakit mentalnya itu kini tinggal di sebuah rumah sederhana bersama beberapa asisten rumah tangga dan suster yang merawat Monica.
Adeline dan Zico memang sengaja memindahkan Monica di rumah baru. Mereka tidak ingin ibunya mengingat kenangan tentang Antonio dan Grasiella yang sudah meninggal.
"Kalian nginep kan, Elin?" tanya Monica tiba-tiba.
"Iya, Ma. Kita nginep di sini, kok!"
__ADS_1
"Syukurlah. Mama rindu sama kamu, Elin. Boleh kan malam ini mama tidur sama kamu," ujar Monica, seketika Adeline menatap Danendra yang memasang wajah memelas.
"Iya, nanti Elin tidur sama mama," jawab Adeline yang membuat Danendra langsung lemas.
Monica tersenyum senang. Wanita paruh baya itu menciumi wajah sang cucu yang berada di pangkuannya. Tiba-tiba terdengar suara aneh di sana.
"Suara perut siapa itu?" tanya Adeline.
"Aku lapar, Sayang. Tadi kan belum sempat makan," jawab Danendra dengan senyum tipis.
"Ya sudah kalau gitu aku buatkan makanan untuk kamu dulu," ujar Adeline langsung bangkit.
"Ma, Elin masak bentar, yah!"
"Iya," jawab Monica singkat, wanita paruh baya itu asik menggoda sang cucu.
Setelah Adeline pergi, Danendra menyusul sang istri. Sebelum itu dia sempat menitipkan Monica dan Devan kepada suster yang menjaga mereka.
"Sayang," bisik Danendra melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"Kamu masak aja, aku mau seperti ini."
"Dasar manja," goda Adeline, tetapi dia tetap membiarkan sang suami menempel padanya.
"Sayang," bisik Danendra lagi.
"Kenapa?"
"Kalau kamu tidur bareng mama, terus aku sama siapa?" tanya Danendra dengan suara memelas.
"Sama Devan, lah!"
"Ah. Kalau sama dia aja, terus nanti yang peluk aku siapa?"
"Bantal guling kan bisa," jawab Adeline bergurau.
"Sayang!" Danendra merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Jangan manja, Nendra. Kita nginep di sini karena mau kasih waktu dan perhatian buat mama. Bukan buat numpang bikin anak," tegur Adeline yang mulai kesal.
Wanita itu sedang sibuk membuat makanan, tetapi suaminya justru membuatnya semakin berat saja. Terlebih sikap manjanya itu tidak tahu tempat.
"Terus rencana kita buat punya anak lagi gimana?" tanyanya yang seketika membuat Adeline melepaskan diri dari pelukannya.
"Itu rencana kamu, Ndra. Aku masih ingin mengurus mama agar lekas pulih. Tolong beri aku kesempatan untuk berbakti padanya," pinta Adeline dengan wajah seriusnya.
Danendra diam lalu mengayunkan langkah pergi dari sana. Dia masuk ke kamarnya di rumah sederhana tersebut. Penolakan Adeline seketika membuat moodnya rusak. Entah kenapa sejak mendengar kabar dari sahabatnya yang tinggal di Jepang, dia langsung berkeinginan untuk menambah momongan. Padahal, usia Devandra saja masih sangat kecil.
"Dia pasti merajuk," gumam Adeline dengan gelengan kepala.
Adeline memilih untuk melanjutkan kegiatannya memasak. Saat masakannya sudah siap, barulah dia menyusul Danendra yang dia yakini pasti sedang mengurung diri di kamar.
"Sayang," panggil Adeline ketika ingin membuka pintu kamar, dan ternyata pintunya terkunci.
"Apa?" teriak Danendra dari dalam.
"Buka pintunya!"
"Enggak mau. Kamu urus saja mama, tidak perlu pedulikan aku," tolak Danendra.
"Astaga, bayi besarku sedang merajuk. Baiklah kalau begitu, makanannya aku taruh di sini, yah! Aku mau urus mama dan Devan."
Adeline kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana. Sementara itu, Danendra justru merasa semakin kesal. Istrinya itu bukan malah merayunya, tetapi malah semakin tidak menghiraukan dirinya.
"Dasar tidak peka!" seru Danendra seraya menutup wajahnya menggunakan bantal.
Beberapa saat kemudian kedua mata Danendra terpejam. Laki-laki yang sebenarnya memang sangat lelah karena pekerjaan itu tertidur dengan sendirian membawa rasa kesal terhadap sang istri.
Sedangkan di sisi lainnya, Adeline mengajak Monica untuk masuk ke kamar karena malam semakin larut. Sedangkan Devandra terpaksa tidur bersama suster di kamar yang lain. Sebenarnya Adeline pun tidak kalah kesal dengan sikap Danendra yang semakin manja. Suaminya itu sudah hampir satu bulan selalu mudah merajuk.
Masalah sekecil apapun bisa menjadi besar saat kemauannya tidak terlaksana. Sikap lain Danendra itu sempat membuat Adeline berpikir untuk tinggal sementara di rumah sederhana Monica. Namun, Adeline mengurungkan niatnya saat mengingat bahwa laki-laki itu sangat sabar menghadapinya di awal-awal pernikahan.
Adeline merebahkan dirinya di samping Monica yang sudah tertidur. Beberapa saat kemudian kedua mata Adeline hampir terpejam. Namun, saat kedua mata itu baru terpejam sempurna tiba-tiba terdengar suara tangisan seseorang.
__ADS_1