Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hubby


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju mansion Malik memasang ekspresi kesal. Laki-laki itu mendiamkan sang istri karena wanita itu justru membela sang ibu dari pada dirinya. Malik bahkan melakukan mogok bicara hingga mereka sampai di mansion. 


"Rihanna, akhirnya kamu pulang, Sayang!" pekik Riani dengan perasaan lega setelah melihat menantunya dalam keadaan baik-baik saja. 


Terlampau sayangnya Riani kepada Rihanna, wanita paruh baya itu bahkan memeluk erat tubuh sang menantu. Sementara itu, Malik yang berdiri di samping Rihanna semakin kesal.


Malik berjalan meninggalkan kedua wanita yang sedang berpelukan. Setelah kepergian Malik, Riani melepaskan pelukannya karena takut jika sang menantu kesulitan bernapas akibat dia memeluknya terlalu erat. 


Riani membalik badan untuk melihat Malik yang kini sudah menaiki anak tangga. Wanita itu kembali memandang sang menantu dengan ekspresi bingung. 


"Malik kenapa, Na?" tanya Riani penasaran. 


"Enggak tahu, Mam. Sejak di jalan tadi, dia diam saja," jawab Rihanna sambil mengedikkan bahunya. 


"Sepertinya sedang kesal, padahal seharusnya mami yang kesal padanya. Dia sudah membawa kamu menginap di apartment tanpa izin dari mami," protes Riani kesal dengan sikap sang putra yang lebih dulu mendiamkannya. 


"Malik sedang hobbi menjadi anak kecil, Mam. Rihanna pun sudah biasa jadi korban kekesalan dia," tutur Rihanna bercanda. 


"Dia memang minta di jewer, Na. Sekarang mending kamu istirahat, deh!" perintah Riani menginterupsi. 


"Ya sudah, Rihanna ke kamar dulu, Mam," pamit Rihanna. 


Rihanna berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya. Sedangkan Riani tersenyum senang melihat kesabaran sang menantu. 


"Mami bangga kepada kamu, Na. Kamu sangat mudah untuk diajari. Mami bahkan bisa melihat antusias kamu dalam belajar menjadi muslimah yang baik," puji Riani karena sekarang sudah jarang melihat menantunya memakai pakaian pendek. 


"Mam," panggil Ibrahim seraya menepuk pelan punggung istrinya. 


"Papi, ngagetin aja." 


"Kamu ngelihatin apa?" tanya Ibrahim seraya mengikuti arah pandang sang istri. 


"Rihanna, Pi." 


"Mereka sudah pulang?" 


"Sudah, baru aja pulang," jawab Riani singkat. 


"Oh, terus kamu ngapain berdiri sendirian disini?" 

__ADS_1


"Mami tadi lihatin Rihanna naik tangga, Pi. Siapa tahu dia lari lagi seperti waktu itu," terang Riani yang diangguki kepala oleh Ibrahim. 


"Kamu memang mertua yang baik, Mam. Kamu menjaga dan mendidik Rihanna seperti anak kandung kamu sendiri. Papi lihat Rihanna sudah banyak berubah sekarang," puji Ibrahim yang seketika menciptakan suasana haru. 


"Pi, mami menganggap Rihanna bukan sebagai menantu. Mami menyayanginya lebih dari kasih sayang mami terhadap Malik, bahkan mami tidak akan ragu untuk menghukum Malik jika dia menyakiti Rihanna meski tanpa sengaja sekalipun," pungkas Riani penuh keseriusan. 


Di lantai atas, Rihanna pelan-pelan membuka pintu kamar, dia masih berdiri di ambang pintu. Netranya menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Malik. Namun, dia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sang suami di ruangan itu. 


"Ehem," dehem Malik yang mengejutkan Rihanna. 


Rihanna membalik tubuhnya, ternyata laki-laki tercintanya itu muncul dari belakang. Entah dari mana Rihanna pun tidak tahu. 


"Orang hamil jangan berdiri di pintu!" tegur Malik yang seketika membuat Rihanna menyingkir. 


"Kamu masih marah, Malik?" tanya Rihanna. 


"Kalau aku marah, tidak mungkin aku menegurmu," balas Malik singkat. 


"Tapi dari cara bicara kamu, sepertinya kamu masih kesal padaku!" protes Rihanna memasang wajah sedih. 


"Enggak!" seru Malik seraya berjalan menjauh. 


Rihanna berjalan cepat, saat sudah berhasil menyusul Malik, wanita itu langsung melingkarkan tangannya di perut suaminya. Malik berhenti saat mendapat pelukan tiba-tiba dari istrinya. 


"Hubby? Aku tidak salah dengar, 'kan? Kayla memanggil aku dengan sebutan Hubby?" Pertanyaan itu hanya terucap di dalam batin Malik yang kini bersorak gembira. 


"Kamu panggil aku dengan sebutan apa, Kay?" 


"Em, kamu tidak denger?" tanya Rihanna malu-malu. 


Malik meraba kedua tangan yang masih melingkar erat di perutnya kemudian melepaskan eratan itu dan segera membalik tubuhnya. Kini mereka saling bersitatap tanpa penghalang apapun.


"Dengar, tapi aku ingin memastikan lagi," kata Malik dengan sangat lembut. 


"Em, aku mau ke kamar mandi," ucap Rihanna berusaha menghindar. Namun, Malik juga sigap menahan tangan sang istri.  


"Katakan lagi, Kay," pinta Malik dengan sorot mata penuh harap. 


"Aku malu, Malik." 

__ADS_1


"Malu sama siapa? Di tempat ini hanya ada kita berdua." 


Rihanna belum menuruti permintaan Malik. Sejujurnya dia masih sangat canggung jika harus memiliki panggilan khusus untuk laki-laki itu. Namun, entah kenapa bibirnya tiba-tiba mengeluarkan kata sebutan tadi. 


"Aku mohon, Kay. Aku ingin mendengarnya lagi," bujuk Malik pantang berputus asa. 


"Hubby," gumam Rihanna malu-malu, wanita itu langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. 


Kini hati Malik berbunga-bunga setelah sekian lamanya akhirnya dia mendapatkan panggilan khusus dari istrinya. Malik tidak ragu untuk menunjukkan rasa bahagianya kepada Rihanna dengan cara memeluk serta menghujani wajah Rihanna dengan kecupan. 


"Terima kasih, Hunny," ucap Malik dengan raut wajah berseri-seri. 


"Em, aku mau ke kamar mandi dulu, Malik." Rihanna yang merasa sangat malu dan gugup, memutuskan untuk menghindari Malik lebih dulu. 


"Baiklah, hati-hati. Atau kamu mau aku antar?" Malik dengan jahilnya menggoda sang istri yang terlihat gugup. 


"Enggak, Malik. Aku bisa sendiri," tolak Rihanna cepat, wanita hamil itu bergegas ke kamar mandi. 


Malik bersorak gembira, dia bahkan mengangkat kedua tangannya ke udara lalu meraupkannya ke wajah tampan itu. Meski sangat bahagia, Malik tidak lupa bersyukur kepada Tuhan kepercayaannya. 


"Terima kasih, Ya Allah. Kau memang maha membolak-balikkan hati, yang awalnya Kayla menolakku, kini dia justru menunjukkan rasa cintanya padaku." 


"Semua karena usaha keras kamu, Malik." 


Ibrahim muncul dari balik pintu, Malik bahkan terkejut dengan kedatangan sang ayah secara tiba-tiba. Biasanya ayahnya itu enggan untuk masuk ke kamar milik Malik. 


"Papi," gumam Malik sedikit malu karena ketahuan sedang bersorak gembira seperti orang kehilangan akal.


"Benar kan yang selama ini papi bilang? Jika kamu menginginkan sesuatu yang menurut kamu sulit untuk dijangkau, maka mintalah lewat Allah. Dia maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya," tutur Ibrahim yang tentu saja disetujui oleh Malik. 


"Iya, Pi. Sekarang aku merasakan sendiri buktinya," balas Malik tanpa ragu. 


"Jangan senang dulu, karena apa yang terjadi sekarang juga merupakan hasil doa dan usaha mami. Mami lah yang banyak memberikan pelajaran berharga untuk Rihanna, Malik. Berterima kasihlah padanya!" perintah Ibrahim tegas. 


 "Iya, Pi. Sekarang mami dimana?" tanya Malik yang berniat untuk menemui sang ibu. 


"Di taman belakang, mami sedang menyiapkan hukuman untuk anak nakal sepertimu," goda Ibrahim dengan nada yang terdengar serius. 


Malik hanya bisa menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba saja kerongkongannya terasa seperti menelan biji kedondong yang amat menyakitkan. 

__ADS_1


"Sana temui mami sebelum mami kamu berubah menjadi singa lapar yang siap memangsa buruannya!" 



__ADS_2