
Pada akhirnya mereka pergi ke pusat perbelanjaan ternama di kota itu. Seperti permintaan Rihanna tadi yang meminta untuk jalan-jalan berdua saja dengan ibu mertuanya.
Keduanya kini sedang mengelilingi mall. Satu persatu toko didatangi oleh Rihanna untuk mencari sesuatu. Namun, wanita hamil itu tidak mengatakan apa barang yang dicari olehnya.
Sudah hampir dua jam mereka hanya keluar masuk toko busana. Riani sampai terheran karena menantunya itu belum juga membeli satupun barang.
Khawatir jika menantunya kelelahan. Riani pun akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi benaknya.
"Rihanna, kamu ini sebenarnya mau cari apa?" tanya Riani penasaran.
"Mami, Rihanna mau cari itu, Mam," jawab Rihanna ambigu.
"Itu apa maksud kamu, Sayang?" tanya Riani bingung.
"Em, apa ya namanya," ucap Rihanna lirih.
"Sudah, mendingan kita istirahat dulu. Kamu udah muterin mall ini dua jam, loh! Kasihan baby yang ada di perut kamu," ujar Riani yang sebenarnya juga sedikit lelah.
Mereka memutuskan beristirahat di sebuah stand penjual minuman. Keduanya duduk berhadapan seraya mengusir rasa haus yang sejak tadi melanda.
"Rihanna, kamu sebenarnya ngajak mama ke mall mau beli apa, sih?" tanya Riani seraya mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Em, aku mau beli yang seperti mami pakai itu," jawab Rihanna dengan suara lirih.
"Yang mami pakai, Memangnya apa? Baju? Tas? Atau –"
"Itu yang ada di … maaf, kepala mami," terang Rihanna yang seketika membuat Riani melotot.
"Ini?" tanya Riani seraya menyentuh kerudung miliknya.
"Iya, Mam."
Riani menutup mulutnya, ucapan sang menantu yang tiba-tiba tentu saja membuatnya terkejut.
"Kenapa, Mam?" tanya Rihanna bingung melihat ekspresi mertuanya.
"Enggak apa-apa, kamu mau beli hijab, Sayang?" tanya Riani lagi untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya, Mam, aku pengen banget pakai yang seperti mami pakai itu," jawab Rihanna yang tentu membuat Riani merasa bangga.
"Kamu serius mau pakai hijab, Sayang? Mau belajar menutup aurat kamu?" tanyanya memastikan.
memangnya tidak boleh?" tanya balik Rihanna, mengira bahwa sang mertua tidak akan mengizinkan.
"Boleh, Sayang. Boleh banget, kok!" seru Riani cepat.
"Tapi dari tadi Rihanna cari enggak ketemu," kata Rihanna sedikit putus asa.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, nanti mami anterin ke tempat langganan mami," balas Riani.
*****
Usai membeli barang yang diinginkan oleh Rihanna, mereka pun pulang. Mereka sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ponsel milik Rihanna berdering. Wanita hamil itu segera mengambilkan ponselnya yang berada di dalam tas.
"Siapa, Sayang?" tanya Riani.
Rihanna menoleh. "Malik, Mam," jawabnya singkat.
Riani menggelengkan kepala pelan dengan bibir tersenyum tipis. "Dia pasti mau introgasi kamu karena belum pulang. Udah enggak usah diangkat! Kita juga udah hampir sampai," ujar Riani yang tentu dituruti oleh menantunya.
"Iya, Mam." Rihanna menolak panggilan dari Malik lalu kembali memasukkan benda canggih itu ke dalam tas.
"Mami senang, Na. Akhirnya ada juga perempuan yang berhasil merebut hati Malik. Sejak dulu, dia sama sekali tidak pernah mau dekat dengan perempuan. Mami dengar dia cerita tentang perempuan hanya ketika dulu dia menolong seorang gadis di danau yang ternyata gadis itu adalah kamu, dan ketika bertemu kamu di pantai saja. Mami pernah mengira bahwa Malik memiliki kelainan, makanya pas dia cerita tentang kamu, mami langsung gerak cepat."
"Jadi Rihanna adalah perempuan kedua yang dicintai Malik, ya, Mam?"
"Loh, kok kedua?"
"Yang pertama kan Mami," kata Rihanna dengan senyum manisnya.
"Kamu bisa saja, Na."
"Malik pernah bilang, Mi. Cinta pertama seorang anak adalah kepada ibunya, jadi Rihanna yakin, cinta pertama Malik adalah mami," terang Rihanna.
"Itu kelakuan suami kamu, Na," ucap Riani menahan gelak tawa.
"Anak mami itu," balas Rihanna.
"Anak papi, tahu!"
Malik berlari ketika melihat mobil sang ibu berhenti di halaman. Dia segera menghampiri sang istri yang sejak tadi dikhawatirkan olehnya.
"Hunny!" pekik Malik, dia memeluk erat-erat tubuh berisi sang istri setelah wanita itu keluar dari mobil.
"Jangan lebay, Malik! Kaya orang enggak ketemu satu tahun saja," tegur Riani dengan sindiran.
"Lepas, Malik! Aku susah bernapas," ujar Rihanna sedikit mendorong tubuh suaminya menjauh.
"Tuh kan, kamu kecapean pasti. Harusnya tadi kamu sama aku aja."
"Eh, Malik. Kamu mau bilang mami enggak becus jagain menantu mami?" Riani berkacak pinggang dengan sorot mata kesal. "Mami seribu kali lebih baik dalam menjaga Rihanna dari pada kamu, Malik. Jangan asal ngomong aja!"
"Aku kan enggak bilang gitu, ngapain mami marah-marah."
"Dari ucapan kamu tadi, kamu mau nyalahin mami, loh!"
__ADS_1
Rihanna yang tidak ingin keadaan semakin memanas segera menghampiri ibu mertuanya. "Udah ayo masuk, Mi!" ajak Rihanna seraya menggandeng lengan sang mertua.
"Belanjaan kamu udah diambil?" tanya Riani yang mendadak berubah ekspresi.
"Belum, Mam," jawabnya dengan lengkungan tipis di bibirnya.
"Biar mami ambilkan," balas Riani segera mengambil barang belanjaan sang menantu.
"Ini bawa!" perintah Riani seraya memberikan goodybag kepada Malik.
"Ayo, Sayang!" ajak Riani yang langsung menggandeng menantunya masuk ke mansion.
Malik tersenyum senang saat melihat kedekatan sang ibu dan istrinya. Tidak semua laki-laki berhasil membuat kedua wanita tercinta bisa akur seperti itu. Malik tentu merasa beruntung karena sang ibu bisa menyayangi istrinya dengan tulus.
"Mereka lebih pantas dikatakan sebagai anak dan ibu dari pada menantu dan mertua. Aku yang anak kandung tapi seperti anak tiri sejak kehadiran Kayla dalam hidup kami. Mami sangat menyayangi Kayla lebih dari mami menyayangi aku," gumam Malik terharu.
Laki-laki berparas tampan itu segera menyusul kedua wanita tercinta. Mereka ternyata sudah naik ke lantai atas. Malik bergegas menaiki tangga untuk mengejar langkah sang istri.
"Kamu langsung istirahat, Sayang. Mami enggak mau kamu kelelahan nanti," ujar Riani saat sudah mengantar sang menantu ke kamarnya.
"Iya, Mam. Rihanna langsung istirahat, kok!"
"Mami tenang saja, ada Malik yang akan menjaga Kayla," timpal Malik, tangannya merangkul mesra bahu sang istri.
"Cih! Mami malah khawatir karena Rihanna sekamar sama kamu," balas Riani dengan ekspresi sinis. Namun, semua itu hanya gurauan semata.
"Hm. Mami mending langsung balik ke kamar. Kasihan dari tadi papi nungguin."
"Papi enggak seposesif kamu, yah!"
"Lihat aja sana, papi pasti lagi pegang foto mami sambil nangis," kelakar Malik menggoda ibunya.
"Malik!" tegur Rihanna saat menganggap gurauan Malik sudah keterlaluan.
"Kaya gitu lah suami kamu, Na. Mami sudah tidak kaget lagi. Mami balik kamar dulu," kata Riani yang langsung melenggang pergi dari sana.
"Bilang aja khawatir sama papi. Mau lihat papi lagi nangis!" teriak Malik masih saja menggoda ibunya.
"Malik!" seru Rihanna, cubitan maut dihadiahkan kepada sang suami.
"Aduh! Sakit, Hunny," keluh Malik seraya mengelus-elus bekas cubitan istrinya.
"Salah kamu sendiri. Jadi orang ngeselin banget!"
"Maaf, deh! Ngomong-ngomong kamu ke mall beli apa?" tanya Malik seraya membuka salah satu goodybag berisi belanjaan istrinya.
"Jangan lihat dulu!" larang Rihanna sambil merebut semua barang-barang belanjaan miliknya.
__ADS_1