Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Rekaman


__ADS_3

Silvia menemui Nabila, sang sahabat yang menghubunginya dan menangis histeris. Entah masalah apa yang sedang terjadi padanya, akan tetapi sebagai seorang sahabat tentunya membuat Silvia ingin berada di samping sahabatnya itu apa lagi dalam keadaan seperti ini. 


"Kamu kenapa menangis, Bila? Coba ceritakan padaku." Silvia memeluk sang sahabat yang masih menangis terisak. 


"Sil, a-pa k-a-mu ingat, dengan kejadian yang terjadi tiga puluh limat tahun silam?" tanyanya kepada Silvia dengan suara yang terputus-putus. 


"Kejadian tiga puluh lima tahun yang lalu?" Silvia terlihat berpikir. "Ah, tentang kehamilan di luar pernikahan kamu dulu?" tanyanya memastikan. 


Nabila mengangguk, masih dengan air mata yang membasahi pipinya. Wajahnya yang ayu kini sudah terlihat sangat memerah karena terlalu lama menangis. 


"Ada apa dengan kejadian itu?" tanya Silvia penasaran. 


Selama ini Nabila tidak pernah sekalipun mengungkit masalah itu. Namun, sekarang tiba-tiba wanita yang usianya lebih tua dua tahun darinya itu membahas perkara itu dengan berderai air mata. 


"Daddy membohongiku, Sil. Daddy jahat padaku," ujarnya semakin terisak. 


Silvia akhirnya melerai pelukan, dia memegang bahu sang sahabat, menatap ke dalam bola mata sahabatnya yang dipenuhi oleh air mata. Tangannya mengelus pundak sahabatnya itu agar lebih tenang. 


"Bila, tenanglah sedikit. Ceritakan padaku secara perlahan! Jangan sambil menangis terus, aku jadi kebingungan." 


Beberapa saat mereka sama-sama diam, Silvia masih membiarkan dang sahabat mengendalikan emosinya saat ini. Kesedihan jika di biarkan menguasai juga tidak baik untuknya. 


"Sudah tenang?" tanya Silvia saat Nabila terlihat sudah menghentikan air matanya, meski dari mulut masih terdengar suara sesegukan. 


"Sudah, Sil. Terima kasih," jawabnya berusaha agar tidak menangis lagi. 


"Sekarang ceritakan padaku, ada apa sebenarnya?" 


"Daddy jahat padaku, Sil. Dia membohongiku selama ini," ujarnya mengulangi perkataan tadi. 


"Maksud kamu membohongi bagaimana?" tanya Silvia yang semakin kebingungan. 

__ADS_1


"Anakku … dia tidak meninggal, Sil. Dia dibuang oleh Daddy," jelas Nabila yang tentu membuat Silvia terkejut. 


"Bagaimana bisa, Bila? Aku melihat sendiri anakmu di makamkan," bantah Silvia yang menyaksikan pemakaman putra sang sahabat yang meninggal usai di lahirkan. 


"Aku tidak tahu, Sil. Tapi sekarang Daddy menyuruhku mencarinya. Dia merasa bersalah pada anakku," jawab Nabila yang saat ini merasa hancur. 


"Apakah Daddy kamu memberikan informasi yang jelas, dia membuang putramu dimana?" tanya Silvia menuntut. 


Gelengan kepala Nabila membuat Silvia lemas. Jika tidak di berikan informasi, lalu dari mana mereka bisa mencari tahu keberadaan anak tersebut. Sementara kejadiannya sudah berlalu selama puluhan tahun. 


"Daddy hanya bilang, anakku memiliki tanda lahir di bagian pangkal paha belakangnya saja, Sil. Bagaimana cara aku mencarinya tanpa melibatkan suamiku?" tanya Nabila frustasi. 


"Ya ampun, bagaimana caranya jika tanda lahirnya saja berada di tempat yang sulit di jangkau mata. Mana ada seorang pria yang mau memakai celana pendek ketika di luar tanpa tujuan." 


"Anakku bukan pria, Sil. Dia wanita!" 


"Dia wanita? Bagaimana bisa, dulu kamu melahirkan anak laki-laki, Bila!" 


"Aku tidak menyangka jika Daddymu akan berbuat seperti ini, Bila. Dia bukan hanya kejam, tapi tidak berperasaan!" 


"Aku harus bagaimana, Sil? Daddy menyuruhku mencarinya tanpa melibatkan suamiku, karena Daddy khawatir suamiku justru akan membun*hnya." 


Tangan Silvia mengulur lalu meraih tangan sang sahabat dan menggenggamnya erat. Sahabatnya yang kini dalam keadaan kebingungan, wanita itu pasti merasa gamang untuk melakukan pencarian tanpa melibatkan suaminya yang kejam. 


"Kamu tenang saja, aku akan meminta bantuan suamiku. Jangan pernah membahas tentang ini pada suami ataupun anak kamu, Bila. Mereka sama kejamnya, aku tidak ingin jika mereka menyakiti anak pertama kamu," tutur Silvia mengintrupsi. 


Sementara itu, di kamar hotel Kedua insan telah melakukan pertempuran sengit di atas ranjang dengan kedua mata si wanita tertutup rapat, kedua tangannya juga terikat erat. 


Grasiella ingin berteriak saat seseorang di belakang tubuhnya memompa dengan kasar seraya menepuk kuat-kuat gunung belakang yang otomatis mengikuti irama pompaan si pria. Namun, wanita itu teringat dengan kesediaannya melakukan hal tersebut pada di pria.


Akhirnya Grasiella berusaha mengubah teriakan kesakitannya dengan suara d*sahan sebagai bukti bahwa dia juga menikmati permainan tersebut. 

__ADS_1


"Arg! Sial. Sakit sekali. Tapi aku tidak mungkin menghentikan kesenangan Nendra, dia yang akan membantuku untuk menghancurkan Elin sehancur-hancurnya," batin Grasiella yang tidak mau mengecewakan pria yang tengah melakukan kegiatan Bermandi keringat di belakang sana. 


"Nendra, kamu kenapa kuat sekali? Aku bahkan sudah keluar tiga kali," keluh Grasiella yang sebenarnya sudah kelelahan. 


Seseorang di belakang tidak menjawab, justru semakin bersemangat menggempur lawannya tanpa ampun. Saking lamanya mereka berhubungan, Grasiella sampai kehilangan kesadaran akibat terlalu lelah dan tubuhnya terasa remuk. 


Hampir sore harinya Grasiella baru saja tersadar. Wanita itu melenguh panjang sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pertempuran semalam benar-benar membuatnya lelah dan merasakan kesakitan di seluruh tubuh, tidak terkecuali bagian intinya. 


"Astaga, Nendra. Tega sekali meninggalkan aku dalam keadaan tidak memakai apapun, bahkan tidak menutup tubuh polosku menggunakan selimut." Grasiella menggerutu kesal. 


Sebenarnya dia merasa di rugikan atas pertempuran semalam, akan tetapi tekadnya untuk menghancurkan Adeline lah yang membuat dia memilih menerima gempuran gila-gilaan dari Danendra. 


"Jam berapa ini?" gumam Grasiella, tangannya mengulur mengambil ponsel yang berada di tas yang tergeletak di nakas. "Gila, aku tidur atau m*ti? Dari semalam sampai sore hari." 


Akhirnya karena takut jika orang-orang di rumah mencarinya, Grasiella memaksa tubuhnya yang masih terasa remuk untuk turun dari ranjang. Wanita itu mati-matian menahan rasa sakit di bagian inti lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 


Wanita bersuami itu membiarkan tubuhnya berada di bawah guyuran air shower yang deras. Jika biasanya dia lebih suka berendam, berbeda dengan saat ini karena dia tidak ingin kelakuannya kembali di ketahui oleh orang-orang terdekatnya. 


Grasiella yang sudah selesai membersihkan dirinya, kini keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang berasal dari wardrobe hotel. Wanita itu memunguti satu persatu pakaian miliknya lalu bergegas memakainya. 


"Aku harus secepatnya pulang!" seru Grasiella buru-buru, ketika dia hendak mengambil tasnya tanpa sengaja dia menjatuhkan sesuatu dari sana. 


Pelan-pelan dia mengambil benda tersebut, benda yang seperti kamera pengintai. Dia membolak-balikkan benda tersebut hingga yakin bahwa itu benar-benar kamera. 


"Untuk apa dia merekam aktifitas semalam?" monolog Grasiella keheranan. 


Tidak berselang lama ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk ke sana. Dengan cepat Grasiella memeriksa pesan tersebut. 


Hai, Sayang, terima kasih sudah memberikanku Service terbaikmu. Kau sudah bangun, yah? Kau juga pasti sudah menemukan kamera itu. Aku sengaja merekam kegiatan kita agar menjadi dokumentasi tambahan untuk koleksimu. 


Isi pesan itu sedikit membuat Grasiella heran, maksud dari koleksi itu apa. Sedangkan selama ini dia sama sekali tidak pernah mengabadikan momen-momen percintaannya dengan setiap pria yang sama-sama butuh kehangatan. 

__ADS_1


"Apa mungkin Nendra ingin aku menghadiahkannya untuk Elin? Pasti akan seru jika wanita itu tahu, suaminya sudah bermain gila denganku," ujarnya disertai seringai licik. 


__ADS_2