Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hasil DNA


__ADS_3

"Elin. Kau semakin berani kurang ajar pada orang tuamu sekarang!" Monica menajamkan tatapannya, bermaksud untuk menakuti Adeline. "Apakah ini yang kamu dapatkan setelah menjadi anggota keluarga terpandang?" tanyanya yang kini beralih menatap sinis ke arah Danendra. 


Adeline bukannya marah, wanita hamil kesayangan Danendra itu justru tertawa elegan. "Saya sudah bukan Adeline yang dulu, Nyonya. Saya bukan seonggok sampah yang tidak berguna lagi! Di tempat ini, saya mendapatkan apa yang sudah sepantasnya menjadi milikku." 


Antonio semakin ketakutan ketika melihat Adeline yang sekarang memang jauh berbeda dengan Adeline yang dulu. Apa lagi saat ini wanita hamil itu sudah memiliki power setelah resmi menjadi anggota keluarga Alefosio. 


"Kamu jangan asal fitnah, Elin. Saya tidak pernah menghancurkan kehidupan seseorang tanpa alasan." 


Adeline, Silvia dan Nabila berdiri diam di samping Danendra. Sedangkan suami sah Adeline itu menyeringai penuh dendam. 


"Jadi, bisa anda jelaskan pada saya tentang alasan anda menghancurkan kehidupan wanita di samping istri tercinta saya itu?" tanya Danendra sambil menatap wajah Antonio yang semakin pucat. 


"Ini maksud kalian apa, sih? Papa jelasin ke mama, Pa!" seru Monica yang semakin kebingungan. 


"Ma-ma eng-gak usah dengerin omongan mereka. Mereka hanya memfitnah papa, Ma." 


"Kalau memang saya hanya memfitnah anda, seharusnya anda bisa menjelaskan apa yang sedang kami tuduhkan, Tuan Antonio." Danendra bangun, lalu menuntun Nabila untuk duduk di tempatnya duduk tadi. 


"Wanita itu, apakah benar dia wanita yang aku perk*sa dulu?" batin Antonio memberanikan diri mencuri pandang. 


"Anda sudah ingat dengan kejadian itu, Tuan? Kejadian dimana anda merenggut kesucian seorang remaja dengan paksa dan di tempat yang tidak seharusnya." Adeline semakin menekan Antonio dengan perkataannya agar pria itu mau mengakui kebejatannya. 


"Elin. Kamu menuduh papa kamu sendiri melakukan hal kotor seperti itu!" bentak Monica tidak terima. Wajah wanita itu sudah merah padam karena emosi atas tuduhan yang dilontarkan oleh Adeline. 


"Saya menuduh papa saya sendiri, kenapa anda bisa tahu jika pria yang duduk di samping anda itu adalah papa kandung saya sendiri, Nyonya?" 


"Apa maksud kamu, Elin?" tanya Antonio tidak percaya. 

__ADS_1


"Anda pasti tidak menyangka, 'kan? Kalau bayi yang diangkat sebagai cucu oleh kedua orang tua anda adalah anak yang tidak pernah anda harapkan." Danendra melemparkan sebuah amplop coklat ke hadapan Antonio. 


Tangan Antonio terulur untuk mengambil amplop tersebut meski sedikit gemeter. Dia takut jika apa yang sedang mereka ungkapkan ini memang adalah sebuah kebenaran. Jika memang terjadi, apakah dia tidak akan memiliki penyesalan yang amat dalam. 


Perlahan-lahan Antonio membuka amplop yang dilemparkan oleh Danendra lalu memaksa diri untuk membuka kertas yang sepertinya berasal dari sebuah rumah sakit ternama, terbukti dari sampel yang terdapat di halaman depan bertuliskan sebuah rumah sakit terkenal di negara itu. 


Kedua netra Antonio memanas seketika ketika membawa satu persatu huruf dan angka yang terdapat di surat tersebut. Tiba-tiba hatinya terasa perih saat kedua bola mata itu menangkap hasil akhir tes DNA menunjukkan bahwa dia memang adalah ayah biologis dari Adeline. 


Antonio tidak bisa berkata-kata lagi. Laki-laki itu langsung bangkit, Monica yang bermaksud menghalangi Antonio yang seperti ingin mendekat ke arah Adeline pun menjadi sasaran sentakan tangan dari Antonio. Pria itu tetap memaksa diri untuk berjalan meski langkahnya terasa semakin berat. 


"Papa, stop! Kamu mau kemana?" tanya Monica setelah membaca sendiri kertas  yang sempat terjatuh dari tangan sang suami. 


Suara Monica sama sekali tidak dihiraukan oleh Antonio. Pria itu terjatuh ke lantai, meski begitu dia tetap memaksa diri untuk mendekat ke arah sang putri berdiri dengan posisi merangkak. Tatapannya penuh penyesalan saat mengingat slide-slide perlakuan buruk dan tidak adilnya kepada sang putri pertama. 


Danendra, Silvia, bahkan Nabila hanya diam memperhatikan Antonio yang merangkak ke arah Adeline. Nabila yang awalnya tidak berani menatap laki-laki yang pernah melec*hkannya itu memberanikan diri untuk melihat apa yang dilakukan oleh pria itu. 


"Stop. Jangan dekati saya!" bentak Adeline yang kini mundur. 


"Maafin papa, Elin." Air mata mengalir dari kedua sudut mata Antonio. 


Pria paruh baya itu begitu menyesali perbuatannya selama ini. Dia sudah jahat kepada darah dagingnya sendiri, bahkan dimulai dari sebelum sang putri menjadi zigot di rahim seorang gadis remaja. 


Antonio semakin dekat tetapi Adeline tetap berjalan mundur. Hingga Danendra menahan wanita hamil itu dengan mencekal pergelangan tangannya. Pria penguasa itu menggeleng dengan seulas senyum tipis di bibir. 


"Tidak apa-apa, Sayang. Biarkan saja dia melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Disini ada aku, tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti kamu." 


Adeline yang masih merasakan sakit hati karena perbuatan Antonio yang sudah tega mel*cehkan sang ibu membuat wanita hamil itu enggan menuruti ucapan suaminya. Dia tetap berusaha menghindar dari pria yang sedang meratapi penyesalan tersebut. 

__ADS_1


"Papa, kembali kesini! Jangan rusak harga diri papa dengan meminta maaf pada anak tidak tahu diri sepertinya!" bentak Monica yang kini mulai terpancing amarah. 


Dia memang tidak terima dengan kebenaran yang baru saja dia ketahui. Namun, dia lebih tidak terima saat melihat sikap Adeline yang terkesan jual mahal. 


"Berani sekali anda memaki istri saya! Sepertinya anda sudah tidak sayang pada ny*wa anda, yah!" gertak Danendra tidak terima dengan ucapan Monica. 


Antonio berusaha bangkit agar lebih mudah untuk mengejar sang putri. Namun, kakinya terasa sangat lemah bahkan hanya untuk menopang beban tubuhnya sendiri. Penyesalan itu begitu besar membuat nyawanya seperti lepas dari raga. 


"Stop! Berhenti. Saya bilang berhenti! Percuma anda meminta maaf pada saya, jika kesalahan terbesar anda adalah kepada wanita yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan ku." 


Ternyata yang membuat Adeline membenci Antonio bukanlah karena sikap Antonio kepadanya selama ini. Adeline lebih tidak terima ketika mendengar semua cerita yang sudah diungkapkan oleh Nabila. Sebagai seorang perempuan, Adeline dapat merasakan kesulitan dan sesakit apa ibu kandungnya itu pada saat terjadinya kejadian yang merusak segala impiannya. 


Antonio baru sadar setelah mendengar jeritan Adeline yang menyebut wanita yang sudah melahirkannya. Pria itu kini beralih pada wanita yang duduk di sofa ditemani oleh sang besan. 


Tatapannya membingkai wajah ayu wanita yang pernah dia rusak puluhan tahun silam. Wanita itu langsung menundukkan wajah ketika Antonio seperti akan beralih mendekat ke arahnya. 


"Saya rasa anda tidak perlu mendekati mertua saya, Tuan. Luka batin yang anda berikan belum juga sembuh." Danendra memperingati Antonio masih dengan bahasa formal. 


Antonio tersadar atas kesalahan terbesarnya kepada wanita yang merupakan ibu kandung putri sulungnya. Pria itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendekat. Dia justru menjatuhkan kepalanya ke lantai, bersujud memohon ampun kepada wanita yang sudah menjadi korban kebejatannya ketika masih menjadi seorang pemabuk dulu. 


"Saya minta maaf," lirih Antonio dengan penuh sesal. 


Monica bangkit dari duduknya, sejak tadi dia menahan diri untuk tidak ikut campur. Namun, lama kelamaan suaminya itu justru mencoreng muka sendiri dengan bersimpuh di hadapan orang-orang yang sejak tadi menyudutkan mereka. 


Dia berjalan menghampiri sang suami lalu tangan kanannya menarik suaminya agar segera bangkit dari posisi bersimpuhnya. Sayang, bukannya bangkit, Antonio justru menyentak kasar tangannya yang berusaha membantunya untuk bangun. 


"Diamlah Monic! Jangan mencampuri urusanku!" bentak Antonio tanpa mau mengubah posisinya. 

__ADS_1


__ADS_2