Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Malang Tidak Berbau


__ADS_3

Rihanna dan Adeline berangkat di antar oleh seorang sopir dan dua bodyguard atas perintah Danendra, laki-laki itu hanya mengizinkan sang istri keluar hanya jika bersamanya atau minimal bersama pengawal. 


Adeline terus saja memandang intens sang adik hingga wanita hamil itu sedikit merasa risih. Entah apa yang salah dari dirinya hingga sang kakak enggan melepas pandangan. 


"Kak, apakah ada yang salah dengan penampilanku? Atau make up aku berantakan, yah?" cecarnya seraya memperhatikan penampilannya yang dia rasa biasa saja.


"Enggak ada yang aneh, kok! Kamu lebih cantik dengan penampilan sederhana seperti ini, Ana." 


"Apakah dulu aku tidak cantik, Kak?" 


"Cantik, kamu itu cantik, Ana. Hanya saja penampilan kamu terlalu dewasa untuk usia kamu sekarang," tutur Adeline jujur. 


Lagi-lagi Rihanna merasakan devaju saat mendengar kata itu, sebuah kejujuran yang diucapkan oleh Malik ketika awal pernikahan. Bayang-bayang wajah Malik yang suka sekali mengolok-oloknya berputar-putar bagaikan sebuah film. 


"Ana, kenapa malah bengong?" 


"Ah, tidak apa-apa, Kak. Aku hanya sedang mengingat-ingat penampilanku yang dulu," jawabnya canggung. 


"Jangan diingat-ingat! Nanti kamu ingat sama ulat bulu." 


"Kakak!" rengek Rihanna sambil menutup kedua telinganya. 


Mobil itu seketika dipenuhi dengan tawa kedua saudara satu ibu itu. Sopir yang mengendarai mobil mewah itu sampai ikut tersenyum karena melihat kedekatan nyonya mudanya dengan wanita yang dia ketahui adalah seorang wanita yang pernah memiliki rasa kepada tuan mudanya. 


Mereka pun akhirnya sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Rihanna mengerutkan keningnya saat sang kakak lebih dulu turun. Wanita dewasa itu mengitari mobil dan membukakan pintu untuknya. 


"Ayo, turun!" Adeline mengulurkan tangan kanannya. 


Ragu-ragu Rihanna menerima uluran tangan sang kakak. Dia pun ikut turun, dan Adeline langsung menggandengnya menuju pintu masuk mall besar itu. 


"Mau apa kita ke sini, Kak? Mama bilang kita hanya akan jalan-jalan." 


"Iya, tapi kita belanja pakaian untuk kamu dulu. Kamu kan enggak bawa satupun baju ke mansion. Tidak mungkin kamu pakai baju bekas kakak," jelasnya sambil terus menggandeng sang adik. 


"Em, tapi …." 


"Tidak perlu sungkan, Ana. Kakak juga mau beli sesuatu soalnya," sela Adeline cepat. 


Mereka akhirnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan tersebut. Berkeliling untuk mencari barang-barang yang sekiranya menarik. Sudah beberapa toko pakaian mereka kunjungi. Kedua pengawal yang berjalan di belakang juga sudah mulai kerepotan untuk membawa beberapa bag besar berisi belanjaan kedua wanita yang mereka jaga. 


"Ah, capek juga," keluh Adeline dengan napas memburu. 

__ADS_1


"Kakak terlalu bersemangat, sih!" 


"Kamu pasti capek juga, Ana. Kita mampir jajan dulu, ya, sekalian istirahat." 


"Boleh, Kak. Mau istirahat di mana?" 


"Di sana boleh, deh! Tempat itu tempat langganan aku sama Mama Silvia." Adeline menunjuk sebuah restoran Chinese. 


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di restoran tersebut. Kedua pengawal yang masih setia mengekor ke mana saja sang nyonya muda pergi tetap berdiri dengan memegang banyaknya belanjaan Adeline dan Rihanna. 


Nasi Hainan, ayam panggang, SAPO seafood, serta fuyunghai menjadi pilihan menu mereka kali ini. Sedangkan untuk minuman sendiri mereka memilih untuk hanya minum air mineral saja. Sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan, mereka pun berbincang-bincang. 


"Kakak kenapa?" tanya Rihanna saat melihat wajah sang kakak seperti sedang menahan sesuatu. 


Adeline menyengir kuda saat mendapat pertanyaan itu dari sang adik. Sesuatu di bawah sana sudah tidak sabar untuk segera di keluarkan. 


"Sepertinya kakak harus ke toilet sebentar," jawab Adeline malu-malu. 


"Oh, perlu aku antar?" 


"Tidak. Kamu istirahat saja di sini," tolak Adeline cepat. 


Adeline bergegas bangkit karena sudah tidak dapat menahan cairan di tubuhnya yang segera ingin di buang. Saat wanita itu berjalan, sang pengawal hendak mengikutinya. Adeline terpaksa menghentikan langkahnya sejenak. 


"Kamu mau apa?" tanyanya dengan mimik wajah garang. 


"Menjaga Nyonya," jawab pengawal singkat. 


"Kau gila, yah! Aku mau ke toilet dan masih saja ingin kau ikuti. Tunggu saja di sini, jaga adikku dengan baik!" perintah Adeline tegas. 


"Tapi … tuan–." 


"Kau mau menurut atau kembali ke mobil saja sana!" 


"Baiklah, saya berjaga di sini, Nyonya." Pengawal itu pun akhirnya mengalah. 


Wanita dewasa' itu kembali mengayunkan langkahnya menuju toilet sendirian. Beberapa saat kemudian dia sudah sampai di tempat yang dituju. Adeline segera masuk ke toilet untuk buang air kecil. 


"Ah, lega sekali. Aku harus segera kembali agar Rihanna tidak terlalu lama menunggu!" serunya sambil berjalan. 


Sayangnya Adeline berjalan dengan tangan yang sibuk menyeka sedikit jejak air yang tidak sengaja membasahi celananya. Hingga tanpa diduga tiba-tiba dia tertabrak oleh seseorang. Adeline yang terkejut sampai hampir jatuh jika tidak sigap berpegangan pada dinding. 

__ADS_1


"Maaf-maaf," ujar Adeline belum mengangkat pandangan. 


"Kalau jalan itu pakai mata! Dasar wanita aneh." Seseorang itu justru memaki Adeline dengan kata-kata kasar. 


"Astaga!" pekik Adeline kesal, wanita dewasa itu mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang memaki-maki dirinya. 


"Sayang, kenapa lama sekali?" 


Suara seseorang yang tidak asing di telinga Adeline menyapa pendengarannya. Adeline menatap ke belakang tubuh wanita yang tadi memakinya dengan kata+kata kasar. Kedua netranya membulat seketika begitu melihat siapa yang baru saja datang. 


"Richard," gumamnya lirih.


Laki-laki itu pun tidak kalah terkejutnya dengan Adeline. Dia bahkan sampai menganga tidak percaya saat melihat mantan kekasihnya itu terlihat lebih muda dan cantik dari pada ketika bersamanya dulu. 


"Elin!" pekiknya kaget. 


"Sayang, kamu kenal wanita ini?" tanya wanita itu sambil menunjuk Adeline dengan jemarinya. 


"Oh, jadi seperti ini kelakuan adik iparku? Setelah tidak ada kabar sampai hari kematian adikku tidak pernah muncul, dan sekarang sudah memiliki kekasih baru." 


Adeline yang tidak terima karena wanita di depannya itu memanggil sang mantan kekasih sekaligus suami mendiang adiknya itu dengan sebutan sayang akhirnya mengeluarkan kata-kata pedas. Sungguh, Adeline tidak mengira bahwa laki-laki yang dulu begitu dia cintai ternyata hanya seorang pecundang dan tukang selingkuh. 


"Apa maksudmu? Aku istri Richard, bukan kekasihnya!" Kesal dengan ejekan pedas Adeline, wanita itu mendorong tubuh Adeline dengan keras. 


Dorongan tiba-tiba yang dilakukan oleh wanita itu saat Adeline belum siap membuat Adeline terpelanting ke belakang. Wanita dewasa itu hampir menabrak dinding yang terdapat sebuah besi kecil tajam. 


"Kakak!" pekik Rihanna yang melihat sang kakak hampir menabrak dinding. 


Rihanna berlari dan segera menarik tangan Adeline agar tidak tertabrak dinding di belakang. Namun, malang tidak berbau. Rihanna yang hendak menolong sang kakak, justru mengalami musibah. Kakinya tidak sengaja terpeleset dan akhirnya terjatuh ke lantai. 


"Ana!" pekik Adeline kaget setelah dirinya selamat dari musibah itu. 


"Kak, sakit," lirih Rihanna sambil meremas perutnya. 


Kedua orang pembawa petaka itu masih menatap Adeline dan Rihanna tanpa berniat menolong. Saat Adeline menatap tajam kedua orang itu, barulah mereka pergi dari sana. 


"Sini biar kakak bantu." Adeline berusaha membantu Rihanna untuk bangkit. 


Adeline memapah Rihanna yang terus mengerang kesakitan. Ketika wanita dewasa itu melihat ke bagian belakang tubuh adiknya, dia pun semakin terkejut. Gaun putih pemberiannya terdapat noda darah. 


"Ana, kamu pendarahan!" 

__ADS_1


__ADS_2