Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Ancaman Kembali


__ADS_3

"Bukan itu maksudku, Pa. Keputusan kamu menikahkan Rihanna dengan Malik adalah keputusan paling baik yang pernah kamu ambil. Keputusan kamu yang menyerahkan diri ke polisi dan melarangnya datang lah yang menyiksa anakmu sendiri." Nabila menarik napasnya dalam-dalam, "Aku tahu dia merindukan kamu, Pa," sambung Nabila. 


Rocky terdiam seribu bahasa, Dia sadar, ucapan sang istri memanglah benar. Sejak kecil dia tidak pernah memberikan kebahagiaan dan kehangatan keluarga, sebagai seorang ayah, Rocky juga sadar bahwa dia adalah contoh yang terburuk bagi istri serta anaknya. Namun, sejahat apapun dia, Rihanna tentu saja sangat membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya. 


Nabila paham atas sikap diamnya sang suami. Dia masih menatap lekat sang suami yang kini tatapannya kosong. Sepertinya Rocky tengah sibuk melamun. 


Wanita berparas cantik meski usianya sudah tidak lagi muda itu kini beranjak, lalu berjalan mendekati sang suami yang masih berdiri tegak di depan sana. Nabila memposisikan dirinya berada di belakang tubuh kurus sang suami, kemudian tangannya terulur untuk mendekap laki-laki itu dari belakang. 


Rocky tersadar ketika ada sepasang tangan melingkar di perutnya. Dia bisa merasakan ada kepala yang bersandar di punggung. Seketika Rocky memejamkan matanya, menikmati pelukan hangat yang tidak pernah dia dapatkan selama ini. 


"Kenapa baru sekarang kita bisa sedekat ini, Bil? Kenapa harus sekarang, ketika kita sudah tidak mungkin lagi bisa memperbaiki segalanya?" 


Pertanyaan itu hanya terucap dalam hati Rocky. Pria itu terlalu pengecut untuk menanyakan hal itu kepada wanita tercinta. Wanita yang selama ini dia perlakuan dengan cara yang salah hanya karena kecemburuan tidak mendasar. 


"Jika kamu tidak bisa keluar dari sini dan memperbaiki segalanya bersamaku, tolong jangan batasi anak kita untuk menemui kamu, Pa," pinta Nabila kepada Rocky. 


Rocky menaruh tangan kirinya di atas punggung tangan istrinya, kemudian menggenggamnya lembut,  "Aku hanya tidak ingin Rihanna sedih saat melihat keadaanku di sini, Bil. Aku tahu dia pasti hancur. Itu sebabnya aku memastikan dia hidup bersama orang-orang yang tepat sebelum aku menyerahkan diri kepada pihak berwajib," kata Rocky menjelaskan. 


"Aku tahu, Pa, tapi cobalah mengerti. Biarkan Rihanna mengukir momen indah bersama sosok ayahnya meski hanya sebentar, Pa. Dia berhak mendapatkan itu," ucap Nabila, sambil melepas eratan tangannya di pinggang Rocky. 


Rocky membalik tubuhnya menghadap Nabila, "Tidak ada momen indah di dalam penjara, Bil. Yang ada Rihanna hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika memaksakan diri untuk melihatku seperti ini. Lagi pula, tidak lama lagi aku pasti di eksekusi," balas Rocky yang sudah berpikir realistis. 


Senyum kecut tersungging di bibir wanita malang itu, "Aku tahu sejak dulu kamu memang orang jahat, Rocky. Tapi aku tidak menyangka kamu akan sejahat ini kepada aku dan Rihanna!" seru nabila, dia membalikkan tubuh, kemudian memaksa kedua kaki jenjang itu melangkah untuk meninggalkan pria egois yang sialnya adalah satu-satunya pria yang pernah dicintai olehnya. 


Pria dengan pakaian tahanan itu hanya bisa menatap nanar punggung sang istri yang semakin menjauh darinya. Dia tidak berniat untuk menahan langkah wanita tercinta untuk mendengarkan penjelasan atas isi hatinya. 


"Aku tahu, Bil. Aku pria terjahat yang ada dalam hidup kamu, untuk itu aku hanya ingin melepaskan kamu dan Rihanna dari bayang-bayang tentangku," gumam Rocky. 


"Tuan Rocky, silahkan kembali ke dalam sel tahanan!" perintah polisi yang sedang bertugas. 

__ADS_1


***** 


Nabila terus memaksa langkah kakinya yang terasa begitu berat untuk keluar dari tempat itu. Namun, kekecewaannya pada Rocky membuatnya tidak betah berlama-lama berada di dalam sana. 


Adeline dan Danendra yang sejak awal menunggu Nabila di luar, menatap bingung wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Dari ekspresinya, Danendra tahu tentang kekecewaan yang sedang dirasakan oleh mertuanya. 


Ibu dari Devandra itu berdiri, lalu melangkah cepat mendekati sang ibu yang berjalan gontai ke arahnya. Adeline langsung memegang lengan sang ibu ketika wanita itu seperti akan lirih ke lantai. 


"Mama kenapa?" tanya Adeline khawatir. 


Tidak ada jawaban apapun atas pertanyaannya. Sang ibu masih diam dengan sorot mata kesedihan.


"Ma, apakah pria itu menyakiti hati mama?" tanya Adeline lagi. 


Nabila menoleh dan untuk sejenak menatap putri sulungnya. Dia tahu bahwa sang putri sedang tersulut emosi. 


"Mama tidak apa-apa, Elin. Mama hanya kecewa karena gagal mengubah pendirian suami mama untuk tidak melarang Rihanna menjenguknya," jawab Nabila setelah sekian lama diam saja.


Danendra yang sejak tadi belum mengeluarkan suara dan hanya memperhatikan sepasang ibu dan anak itu kini melangkah mendekat, "Nanti biar Nendra bantu bicarakan sama Om Rocky, Ma. Nendra pastikan Om Rocky akan menuruti permintaan mama," kata Danendra, seketika Adeline tersenyum hangat kepada laki-laki yang sudah memberinya seorang putra itu. 


"Mama tenang, yah! Elin yakin jika Nendra yang bertindak, tidak akan ada yang bisa membantahnya," ucap Adeline yakin. 


"Makasih, Nendra, Elin. Tolong bantu wujudkan keinginan Rihanna, yah! Dia juga berhak mendapatkan momen-momen kebahagiaan bersama papanya," pinta Nabila yang peka dengan keinginan putri bungsunya. 


"Mama tenang saja. Biar itu menjadi urusan Nendra," timpal Danendra. 


"Ayo kita pulang, Ma!" ajak Adeline kepada sang ibu. 


"Baiklah," ujar Nabila pasrah. 

__ADS_1


Mereka bertiga pun pulang ke mansion. Pengawal Danendra siaga mengawal ke mana saja majikannya pergi. Entah kenapa Danendra kembali menyiagakan para anak buahnya, padahal kemarin-kemarin Adeline sudah sedikit lega karena tidak lagi merasa terkekang oleh pengawalan yang ketat. 


Selama dalam perjalanan, Adeline berkali-kali memperhatikan sang suami yang memasang ekspresi siaga. Meski Danendra berusaha tenang, tetapi Adeline peka dengan kegelisahan yang dirasakan oleh suaminya. 


"Ndra, ada apa?" tanya Adeline, Danendra yang sejak tadi memperhatikan spion mobilnya pun seketika menoleh ke samping, tempat di mana sang istri duduk dengan manis. 


"Nggak ada apa-apa," jawabnya diselingi senyum tipis. 


"Kamu kaya orang gelisah gitu, dari tadi tengok spio terus," kata Adeline. 


"Cuma memastikan semua aman, Sayang. Kamu tenang saja," balasnya berusaha bersikap setenang mungkin. 


"Oh," Adeline hanya ber'oh ria, tetapi wanita dewasa itu tidak semudah itu percaya begitu saja. 


Danendra mengambil earphone yang berada di dasbor mobil, kemudian memasangnya di telinga kiri. 


"Semua aman, 'kan?" tanya Danendra kepada seseorang yang dia hubungi. 


'Aman, Tuan.' 


"Lihat mobil belakang, aku curiga mobil hitam itu mengikuti kita!" perintahnya tegas. 


"Benar, 'kan, ada yang tidak beres," batin Adeline, sambil menoleh ke belakang. 


'Baik, Tuan. Anggota kita sudah menyebar untuk memastikan tidak ada hambatan di jalan anda.' 


"Bagus. Jangan sampai kecolongan!" Pria itu kembali melepaskan earphone dari telinganya setelah panggilan berakhir.


"Ada yang mengikuti kita, Ndra?" tanya Nabila tiba-tiba. 

__ADS_1


"Iya, Ma. Papa bilang ada musuh lamanya yang kembali meneror dia, karena tidak berhasil mencelakai papa, kemungkinan mereka akan mengincar keluarga kita." 



__ADS_2