
Zico sedikit terkejut dengan ungkapan hati sang kakak. Namun, adik Adeline itu bingung untuk menanggapi kabar yang memiliki sisi baik dan buruknya tersebut.
"Kak Elin tenang dulu. Semua pasti ada alasannya, Kak. Mungkin saja Kakak itu bukan dibuang, melainkan hilang karena diculik seseorang. Kita coba pelan-pelan pahami masalah ini dengan tenang dan tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa bukti apapun," ujar Zico yang berusaha membuat sang kakak tidak terlalu bersedih.
Adeline menggeleng cepat karena tidak setuju dengan ucapan Zico yang hanya terdengar seperti ingin menampik kenyataan yang sebenarnya. "Jika memang kakak hilang diculik, kenapa mereka tidak mencariku? Aku tahu, Zico. Mereka membuang kakak karena mereka tidak mengharapkan kakak!" seru Adeline yakin.
"Kak, Zico tahu kakak sedang terpukul. Tapi kakak tidak bisa secepat itu menyimpulkan sesuatu. Kenapa kakak bersikap tidak adil kepada papa dan ibu kandung kakak? Bukankah selama ini kakak selalu berpositif thinking ketika papa menyakiti kakak?"
"Mereka tentu saja berbeda, Zico. Setidaknya papa merawatku sejak kecil!" seru Adeline tetap pada pendiriannya.
"Kak, jangan sampai kakak menyesal karena pemikiran kakak saat ini. Zico memang ingin kakak mengubah karakter kakak yang terlalu mudah memaafkan seseorang, tetapi Zico juga tidak ingin kakak memiliki sifat angkuh dan picik seperti ini. Kakak bahkan belum bertanya alasan kakak terpisah dari ibu kandung kakak." Zico benar-benar merasa kakaknya ini bukanlah kakaknya yang dulu.
Adeline terdiam saat sang adik menilainya menjadi seseorang yang picik dan angkuh. Sungguh bukanlah karakternya sejak dulu. Apakah yang dikatakan oleh Zico memang benar, bahwa dia sudah bukan dia yang dulu.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Zico datang kemari karena permintaan Ella," ujar Zico yang sebenarnya kecewa dengan sikap Adeline.
"Ella, untuk apa dia meminta kamu datang kemari?" tanya Adeline heran.
Zico mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya lalu memberikannya kepada sang kakak. "Dia menitipkan ini untuk kakak. Dia bilang ini adalah permintaan maaf dia padamu, Kak. Maaf kalau Zico tidak bisa lama, Zico masih ada kerjaan."
Zico memutuskan untuk segera pamit pergi. Selain kecewa dengan sikap sang kakak, Zico juga memang harus segera bekerja. Dia sudah mandiri sekarang, tidak lagi bergantung pada orang tua, ataupun saudara, apa lagi istrinya.
Zico keluar dari kamar utama, meninggalkan sang kakak yang hanya mampu menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandangan. Saat sampai di lantai dasar, Zico sempat berpamitan kepada kakak iparnya.
"Tumben buru-buru. Memangnya kalian sudah selesai melepas rindu seperti biasa?" tanya Danendra menyindir.
"Zico takut mengganggu istirahat Kak Elin, Kak. Dia kan sedang hamil," jawab Zico yang menutupi kebenaran.
"Oh, baiklah. Tapi, apa kakak kamu tidak cerita sesuatu?" tanya Danendra penasaran. Siapa tahu Adeline curhat kepada sang adik tentang ibu kandungnya itu.
__ADS_1
"Tidak ada, Kak. Saat aku datang tadi, Kak Elin sedang istirahat di kamar," bohong Zico pada kakak iparnya.
Danendra mengangguk paham. "Kalau begitu hati-hati di jalan," ujarnya menasehati sang adik ipar.
Zico pun pergi dari mansion utama keluarga Alefosio. Pikirannya masih tertuju pada ucapan-ucapan sang kakak yang terus-menerus meyakini bahwa dia memang dibuang oleh ibu kandungnya.
Sepeninggal Zico, Adeline yang penasaran dengan isi kotak titipan dari Grasiella segera membuka kotak tersebut. Saat kotak terbuka, tampak sebuah topi rajut yang terlihat sangat indah. Adeline meraih benda tersebut untuk melihat lebih jelas barang pemberian sang adik yang katanya ingin meminta maaf.
Pada saat yang bersamaan tiba-tiba sesuatu terjatuh dari topi rajut yang saat ini berada di tangan Adeline. Kedua mata Adeline tertuju pada benda yang terjatuh itu lalu menunduk dan mengambil benda tersebut.
"Tespeck, Milik siapa?" tanya Adeline dengan bergumam.
Adeline membalik tespeck tersebut untuk mengetahui hasil dari benda tersebut. Wanita hamil itu membulatkan matanya saat melihat adanya dua garis di sebuah alat pengecek kehamilan itu.
"Ella hamil? Syukurlah kalau begitu. Mungkin ini yang membuat dia ingin mengubah sifatnya dan memperbaiki hubungan kita," gumam Adeline dengan ekspresi bahagia.
"Sayang," panggil Danendra masih dengan jarak yang cukup jauh.
Merasa terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya, Adeline segera menyembunyikan benda yang dipegang di balik punggungnya. Wajahnya tiba-tiba berubah tegang saat melihat Danendra berdiri di jarak aman.
"Kamu ngapain masuk ke sini? Aku sedang tidak ingin diganggu!" seru Adeline yang masih kesal.
Wanita itu kesal karena ternyata sang suami sudah tahu siapakah orang tua kandungnya. Namun, sama sekali tidak berniat memberitahu jika saja tidak Nabila sendiri yang mengakui perihal hubungan mereka.
"Aku mengkhawatirkan calon anakku, Sayang. Tadi kamu membawa dia berlari. Aku takut jika dia merasa tidak nyaman, makanya aku kemari," jawab Danendra yang kembali akan mengayunkan kakinya mendekat.
"Dia baik-baik saja. Lebih baik kamu jaga saja wanita jahat itu. Aku sedang ingin menyendiri!" perintah Adeline yang langsung menghentikan niat Danendra yang hendak mendekatinya.
Sebenarnya Danendra khawatir jika meninggalkan istrinya sendirian. Namun, jika dia memaksa untuk tetap berada di sana, Adeline pasti akan lebih marah padanya. Pada akhirnya Danendra memutuskan untuk menuruti perintah sang istri.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau kamu memerlukan sesuatu, telepon saja. Aku ada di ruang kerjaku," ucap Danendra sebelum melangkah pergi.
Setelah kepergian Danendra, Adeline kembali mengambil hadiah yang dikirim oleh Grasiella. Wanita hamil itu merasa bahagia karena ternyata mereka hamil di saat yang bersamaan. Dia menyimpan hadiah itu di laci nakas samping tempat tidurnya.
"Lebih baik aku membersihkan diri agar merasa lebih segar. Aku tidak mau kesedihan ini akan memberi dampak buruk untuk bayiku," ujar Adeline seraya berjalan menuju kamar mandi.
Saat Adeline masuk ke kamar mandi, Danendra yang masih merasa khawatir pun kembali masuk untuk memeriksa sang istri. Pada saat bersamaan tiba-tiba ponsel Adeline berdenting, menandakan sebuah pesan masuk.
Danendra melangkah mendekati ponsel yang tergeletak di atas nakas lalu meraih benda canggih milik istrinya itu. Merasa penasaran karena yang mengirimi pesan kepada sang istri adalah Grasiella, seorang wanita yang dia beri julukan ular betina.
'Kak, hadiahku sudah kamu terima, 'kan?' pesan yang dikirim oleh Grasiella membuat Danendra penasaran.
"Ular betina itu mengirim hadiah apa pada istriku?" monolog Danendra masih memegang ponsel itu.
Tidak lama kemudian, ponsel itu kembali berdenting. Sebuah pesan Kembali masuk yang otomatis langsung terbaca oleh Danendra yang masih memegang benda canggih itu.
'Selamat, Kak. Kita sama-sama hamil di saat yang bersamaan, dan dari benih orang yang sama.' Pesan kedua yang dikirim Grasiella tentu saja membuat Danendra terkejut.
"Sejak kapan aku menanam saham di perusahaan abal-abal itu. Mimpimu terlalu tinggi, Ular betina!"
Danendra dengan cepat menghapus kedua pesan berisi fitnah untuknya tersebut dari ponsel sang istri. Dia bukannya takut jika dinyatakan bersalah, tetapi dia memikirkan keadaan Adeline yang sedang mengandung benih keturunannya. Berita buruk seperti itu mungkin akan mempengaruhi kesehatan wanita hamil serta janin di rahimnya.
"Jangan berharap kau bisa berbuat sesuka hati, Ular betina!" seru Danendra dengan senyum liciknya.
"Kamu sedang apa di sini? Sudah aku bilang jangan ganggu aku. Kenapa kau susah sekali untuk menuruti permintaanku, sih!"
Suara dari belakang membuat Danendra mematung di tempatnya. Laki-laki itu dengan cepat menaruh ponsel yang masih berada di tangannya itu agar sang istri tidak melihat bahwa dia baru saja menyentuh dan membuka barang pribadi istrinya.
"Nendra!" bentak Adeline saat sang suami masih saja memunggunginya.
__ADS_1