Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kedatangan Rocky


__ADS_3

"Aku hanya mengambil kunci mobil," jawab Danendra beralasan. 


Laki-laki muda itu membalik tubuhnya menghadap sang istri lalu menunjukkan kunci mobil sport pribadinya. 


"Mau kemana?" tanya Adeline dengan tatapan menyelidik. 


"Katanya kamu sedang ingin sendiri. Ya sudah, aku juga ingin sendiri dulu," ujar Danendra yang langsung pergi meninggalkan sang istri di kamar. 


Ketika sudah berada di luar kamar, Danendra merogoh ponsel yang terletak di saku celananya untuk menghubungi sang asisten. 


"Gerr, datanglah ke markas! Ada sesuatu yang akan aku katakan pada semua anggota." 


Setelah menghubungi asistennya, Danendra keluar dari mansion. Mobil yang dikendarainya berhenti tepat di depan gerbang lalu si penjaga langsung berlari mendekat. Tuan muda di mansion tersebut membuka kaca jendela mobil untuk mengatakan sesuatu kepada sang penjaga. 


"Perketat penjagaan dan jangan sampai lengah! Selalu kabarkan padaku atau papa jika ada sesuatu yang urgent." 


Danendra menginjak pedal gas setelah memastikan penjaga itu mengangguk dan pintu gerbang terbuka untuknya. Mobil itu melesat dengan cepat lalu si penjaga dengan cepat kembali menutup gerbang. 


Danendra mengendarai mobilnya menuju markas ALF untuk menemui anggotanya di sana. Beberapa saat kemudian laki-laki itu sampai bersamaan dengan Gerry yang juga baru sampai di tempat itu. 


Gerry segera keluar dan langsung membukakan pintu mobil sang tuan muda. Danendra keluar dari mobil dan mereka pun berjalan masuk ke markas berdampingan. 


"Tuan muda, apakah sekarang kita sudah bisa beraksi untuk membalas segela perbuatan mereka?" tanya Gerry saat mereka berjalan bersamaan. 


"Belum saatnya, Ger. Aku masih ingin melihat sampai mana mereka akan membuat ulah konyol itu," jawab Danendra tanpa menghentikan langkah. 


"Tapi, Tuan, saya khawatir mereka akan menyakiti nyonya muda." 


"Hal itu tidak akan terjadi selama aku masih hidup. Sekarang, prioritas kita adalah Om Rocky. Dia kemungkinan akan mendatangi mansion untuk mencari Aunty Nabila dan istriku. Kau tahu seperti apa karakter pria tua itu bukan?" 

__ADS_1


"Baik, Tuan muda. Tapi, saya tetap akan mengawasi mereka agar tidak mencelakai nyonya muda." 


"Bagus, awasi mereka. Ingat, selama mereka tidak menyelinap ke mansion, jangan kotori tangan kita dengan darah mereka. Kau tahu, untuk menyingkirkan buah yang sudah busuk, kita tidak perlu repot-repot memetiknya. Biarkan saja dia jatuh sendiri, dan kita akan tertawa puas saat melihat itu terjadi." 


Pembicaraan serius mereka membuat tidak terasa mereka sudah sampai di dalam markas. Setiap anggota langsung berbaris rapi ketika melihat tuan muda serta tangan kanannya berjalan menuju ke arah mereka. 


"Selamat datang, Tuan Muda," sapa para anggota ALF dengan hormat. 


"Semua sudah berkumpul di sini?" tanya Gerry yang mewakili Danendra untuk menertibkan para anggota. 


"Sudah, Tuan. Tidak ada satupun yang tertinggal!" seru seorang anggota yang seperti memiliki posisi lebih tinggi dari yang lain. 


"Baguslah. Tuan muda memiliki tugas untuk kita. Jadi, dengarkan baik-baik!" Ultimatum Gerry kepada puluhan anggota khusus di sana. 


Suasana berubah hening seketika. Semua anggota terlatih ALF diam tanpa kata untuk memberikan waktu untuk tuan muda mereka menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting. 


"Kalian pasti tahu, alasanku mengumpulkan kalian di sini. Tanpa membuang-buang waktu lagi, sebagian dari kalian akan segera berpindah tugas ke mansion Alefosio. Tugas kalian adalah menjaga semua penghuni mansion, terutama istriku."


"Ger, aku juga memiliki tugas untukmu. Segera kirimkan potongan Vidio saat itu pada Antonio! Kita lihat, seperti apa reaksi tua bangka itu saat melihat putri yang selalu dia bangga-banggakan mencoreng wajahnya dengan scandal seperti itu." 


"Segera seperti yang anda perintahkan, Tuan." 


Begitu selesai membagi tugas untuk para anggota ALF dengan teratur dan terencana, Danendra kini segera pulang ke mansion. Meski sedang sedikit ada jarak antar dia dan sang istri tercinta, nyatanya Danendra tidak pernah bisa jauh-jauh dari wanita hamil itu. 


Kendaraan sport mewah berjenis Lamborghini Aventador melesat bagaikan angin kencang yang menyapu jalan raya hingga dedaunan yang gugur ikut terbang melayang di udara. Si pengemudi sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang istri. 


Ketika dia sampai, di sana ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti di depan gerbang. Penjaga gerbang itu segera membuka sebagian gerbang yang akan dilewati oleh mobil sang tuan muda. Danendra terus melajukan mobil hingga sampai di garasi lalu segera turun. Pada saat itu, seorang penjaga mansion berlari mendekat ke arahnya. 


"Tuan, di depan ada Tuan Rocky," ucap si penjaga itu yang langsung membuat Danendra menyipitkan matanya. 

__ADS_1


"Mobil yang ada di depan itu mobilnya?" tanya Danendra seraya menatap ke depan gerbang. 


"Benar, Tuan."


"Dia datang bersama siapa?" tanya Danendra sekali lagi. 


"Sendirian, Tuan. Dia hanya mengatakan ingin bertemu dengan anda," jawab si penjaga dengan jelas dan lugas. 


"Baiklah." 


Danendra diikuti oleh si pengawal berjalan menuju gerbang utama mansion. Laki-laki muda itu memasang sikap waspada dengan tangan yang sudah siap siaga di saku celananya yang terdapat sebuah senjata kesayangannya. 


Rocky yang awalnya menunggu di dalam mobil langsung keluar begitu melihat Danendra datang mendekat. Pria yang sudah hampir mencapai kepala 7 itu berdiri di depan gerbang untuk menunggu Danendra menemuinya. 


Kini kedua laki-laki berbeda generasi itu berdiri berhadap-hadapan hanya terhalang oleh tralis besi gerbang tinggi. Berbeda dengan Danendra yang terlihat waspada, Rocky justru seperti santai saja. Hanya wajahnya memang lain dari biasanya yang angkuh dan congkak saat ini terlihat seperti lesu dan tidak bersemangat sama sekali. 


"Ada apa, Om?" tanya Danendra. 


"Om mau memastikan, apakah istri Om ada di dalam?" tanya balik Rocky yang langsung masuk ke intinya. 


"Sepertinya tanpa bertanya pun anda sudah tahu jawabannya, Om. Aunty Nabila tidak memiliki keluarga selain mamaku," jawab Danendra menohok. 


"Nendra, Om tahu dan sadar kalau selama ini tidak menjadi suami yang baik untuk aunty kamu itu. Tapi walaupun begitu, om masih sah sebagai suaminya." 


"Lalu dimana om selama Aunty Nabila koma? Pernahkah sekali saja anda menemaninya?" tanya Danendra dengan nada tinggi. 


"Tolong Nendra, om ingin bertemu dengan istri om." Rocky bahkan sampai memohon dengan tatapan penuh harap. 


"Aku hanya akan mengizinkan saat Aunty Nabila yang meminta hal itu, om. Jika bukan permintaan langsung darinya, aku tidak akan pernah mengizinkan siapapun menemuinya." 

__ADS_1


Danendra yang merasa pembicaraan itu sudah selesai segera membalik tubuhnya untuk segera pergi dari sana. Meski berjalan dengan langkah tegas, tetapi kewaspadaan Danendra masih sangat besar terhadap seorang pria yang tengah berteriak memohon di depan gerbang mansion. 


"Nendra! Om janji akan bantu menjelaskan segala yang terjadi antara istrimu dan Nabila. Tapi tolong, beri waktu om untuk bertemu dengan wanita yang sudah om sakiti selama puluhan tahun itu!" Teriakan Rocky berhasil menghentikan langkah Danendra yang seketika menoleh ke belakang. 


__ADS_2