
Beruntungnya kejadian itu terjadi ketika para tamu undangan sudah pulang, hanya ada para kerabat yang akhirnya terpaksa menyaksikan aksi mengejutkan dari kedua orang tua mempelai pria.
Mereka menatap si mempelai perempuan dengan pandangan berbeda-beda. Ada yang merasa kasihan karena nasib Adeline, ada juga yang menertawakan dalam hati atas kemalangan si mempelai perempuan.
Adeline mati-matian menahan rasa malu dan sedihnya atas apa yang baru saja terjadi. Meskipun Danendra bergerak cepat dalam mengatasi kejadian tidak terduga itu. Namun, tetap saja hal itu terasa sangat menyakitkan untuk Adeline.
Kini Adeline sudah diamankan ke dalam kamar hotel yang terhias indah khas malam pertama. Danendra menatap sedih sang istri yang diam saja. Kamar indah ini bagaikan tidak ada gunanya. Istrinya itu pasti masih terpukul atas penolakan kedua orang tuanya.
"Adel," panggilnya dengan normal.
"Tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Adeline tanpa mengalihkan pandangan yang terus menunduk.
"Aku tidak mungkin meninggalkan istriku sendiri. Apa lagi ini malam pertama kita," jawab Nendra yang berhasil membuat Adeline menoleh.
"Dalam kondisi seperti ini kamu masih memikirkan perkara malam pertama? Setidak pedulikah kamu dengan perasaanku?" tanya Adeline dengan mata yang sudah mengembun.
Tanpa aba-aba Nendra langsung menarik sang istri hingga jatuh ke pelukannya. Tangan kirinya dia gunakan untuk menahan lengan istrinya agar tidak melakukan pemberontakan, sementara tangan kanannya mengelus lembut punggung sang istri.
"Jangan salah paham dulu, aku hanya ingin menemanimu, Sayang. Menangislah jika kamu memang ingin menangis." Pria itu menatap sang istri yang masih saja menunduk, tangan kirinya kini berpindah untuk mengangkat wajah istrinya. "Tapi setelah malam ini, aku tidak akan mengizinkan kamu menangis karena siapapun!"
Adeline menatap dalam-dalam kedalam bola mata sang suami. Mencari kebohongan disana, akan tetapi dia merasa sang suami berujar dengan penuh ketulusan.
"Maaf," ujarnya tulus dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Seharusnya aku tidak meminta mereka untuk datang."
"Ini memang salahmu. Jika kau tahu mereka tidak mengizinkan dan memberikan restu, kenapa kau bersikeras menikahiku?"
"Karena aku mencintaimu, Adeline Griselda. Hanya kau satu-satunya perempuan yang membuatku begitu ingin memilikimu," ungkapnya dengan jujur.
__ADS_1
Adeline menggeleng dengan air mata yang akhirnya luruh dari kedua sudut matanya. "Itu bukan cinta, Nendra. Itu hanya obsesimu!" bentak Adeline yang tidak habis pikir dengan pemikiran si pria.
Sebelah sudut bibir Nendra terangkat. "Apapun itu namanya. Yang jelas aku ingin memilikimu selamanya. Selama aku masih bisa bernapas, kau tidak akan pernah aku lepaskan!"
"Kau memang g*la, kau sudah benar-benar g*la."
"Terserah! Kau mau mengatakan apa. Yang jelas sampai kapanpun kau tetap milikku!"
"Apa yang kau lihat dariku, Nendra? Aku hanyalah seorang peraw*n tua. Masih banyak gadis muda diluar sana," tutur Adeline dengan suara bergetar.
"Aku memandangmu berbeda, Adel. Kau satu-satunya wanita yang tidak tertarik dengan pesonaku, tidak kalah oleh hartaku. Jika aku tidak melakukan hal-hal diluar batas mungkin kau belum bisa aku miliki, 'kan?" lirihnya dengan tersenyum kecut.
Adeline terdiam, memang seperti itulah kenyataannya. Selama ini dia memang tidak pernah tertarik pada pria manapun, karena dalam hatinya masih terpaku dengan satu nama. Hingga saat ini bahkan perasaan itu belum hilang sepenuhnya, meski untuk sekarang rasa sayang itu sudah bercampur rasa dendam.
"Sudahlah. Kita lupakan malam ini, jangan terlalu terbebani oleh kejadian tadi. Aku bisa mengatasi agar kejadian itu tidak tersebar luas. Sekarang kamu bersihkan diri dulu, aku harus mengurus sesuatu." Nendra akhirnya meninggalkan sang istri sendirian di kamar hotel.
Setelah kepergian sang suami, Adeline menyeka air matanya. Ya mungkin ucapan berondong jagung itu memang ada benarnya. Kita tidak perlu terbebani dengan masalah tidak penting seperti itu. Dia bergegas masuk ke kamar mandi setelah berhasil melepaskan gaun panjangnya.
Begitu selesai Adeline memakai lingerie merah menyala miliknya lalu masuk ke selimut hangat. Dia memutuskan untuk beristirahat tanpa menunggu sang suami.
Saat Nendra kembali ke kamar hotel, ternyata sang istri sudah terlelap. Pria muda itu menatap sang istri penuh cinta. Wajah polos tanpa polesan make up tebal itu terlihat semakin mempesona. Baru kali ini dia bisa merasakan jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.
"Tenanglah, Sayang. Aku akan membayar semua sesuai dengan apa yang pantas kamu dapatkan." Pria itu mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Keesokan harinya, Adeline yang masih terlelap tiba-tiba merasa terganggu saat tubuhnya seperti tertindih sesuatu. Meski kelopak matanya masih terasa lengket, dia memaksa untuk membuka mata. Seketika perempuan itu terkejut saat ada kepala yang menimpa dadanya. Dengan segera dan sekuat tenaga adeline bangun dari posisinya yang langsung membuat kepala itu terjatuh di kasur. Hingga si pemilik kepala itu juga ikut terbangun.
"Ada apa, sih!"
__ADS_1
Adeline menutup area dada yang terbuka menggunakan kedua tangannya. Sorot matanya menatap tajam pria yang sudah berani menggunakan dadanya sebagai bantal.
"Kau melakukan apa?" bentak Adeline penuh amarah.
"Apa, aku hanya tidur. Kenapa sampai membanting kepalaku seperti itu?" tanyanya balik tanpa rasa bersalah, pria itu mengucek kedua kelopak matanya.
"Tidur kenapa harus menggunakan d*daku sebagai bantal?"
"Nyaman, Sayang. Aku jarang bisa tertidur dengan pulas jika tidak mengonsumsi obat tidur. Tapi, semalam tidurku nyenyak sekali," ungkapnya tanpa rasa malu.
Mata Adeline mendelik tajam. "Kau benar-benar tidak malu, bertingkah seperti bayi."
"Aku bahkan belum membukanya, apalagi menyes*pnya seperti bayi."
"Dasar suami g*la!" kesal, Adeline melempar bantal ke wajah tidak berdosa itu.
Dengan langkah seribu Adeline segera kabur ke kamar mandi. Bahaya jika di teruskan, suaminya itu bagaikan predator yang tengah mengincarnya sebagai mangsa empuk.
"Sayang, kenapa lari? Aku masih ingin tidur seperti tadi." Nendra berteriak seraya menjatuhkan diri ke kasur empuknya.
"G*la! Aku pasti habis jika terus-terusan hanya berdua dengannya. Dia itu kenapa segila itu, sih!" rutuk Adeline seraya memijat pelipisnya.
Gedoran di pintu membuat Adeline terlonjak kaget. Perempuan itu mengelus lembut dad*nya yang berdebar. "Ada apa lagi, sih!" teriak Adeline dari dalam.
"Aku mau menggunakan hadiah dari adikmu, Sayang. Cepat keluarlah!"
Adeline keluar sudah bersih dan wangi, perempuan itu menatap bingung sang suami yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Hadiah apa?" tanyanya heran.
"Per*ngsang. Padahal tanpa benda ini aku juga bisa membawamu terbang ke angkasa, atau kau mau meminumnya?"