
Keadaan di mansion Alefosio tidak berbeda jauh dari apa yang terjadi di mansion Ibrahim. Nabila sangat terkejut dan merasa terpukul setelah tahu bahwa Rocky menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib. Meski bagaimanapun juga laki-laki itu masih sah sebagai suaminya.
"Mama yang sabar. Om Rocky melakukan ini mungkin sudah menimang keputusan ini dengan matang."
"Ma, sudah sewajarnya laki-laki itu bertanggung jawab atas kejahatannya. Dia sudah menghilangkan nyawa kakek serta ayah istriku," timpal Danendra untuk menyadarkan Nabila.
"Nendra!" tegur Adeline seraya mendelik tajam.
"Aku bicara apa adanya, Sayang. Dia adalah penyebab kematian kakek dan papamu," papar laki-laki yang tampaknya masih menyimpan dendam kepada Rocky.
"Sudah, Elin. Jangan berdebat! Apa yang dikatakan suamimu itu memang benar," pungkas Nabila seraya bangkit dan melenggang pergi.
"Kamu semakin lama semakin banyak omong, Nendra. Mulutmu sudah persis dengan ibu-ibu kompleks!"
Adeline beranjak lalu mengejar sang ibu. Wanita dewasa itu tahu perasaan sang ibu yang mulai luluh karena sikap Rocky yang akhir-akhir ini banyak perubahan.
"Mama, boleh Elin masuk?" tanya Adeline dari luar pintu kamar.
"Masuk, Elin."
Setelah mendapat persetujuan dari sang ibu, Adeline pun masuk ke kamar. Wanita dewasa itu menghampiri sang ibu yang duduk di atas ranjang dengan tangan memegang sebuah bingkai foto.
Adeline menjatuhkan bokongnya di samping sang ibu. Menatap lekat-lekat foto yang berada di dalam bingkai berukir bunga. Adeline tersenyum, tangannya terangkat membelai lembut pundak sang ibu.
"Itu foto pernikahan mama?" tanyanya kepada Nabila.
"Iya. Ini foto pernikahan mama dengan papa Rihanna. Saat itu, mama sama sekali tidak mencintai laki-laki ini." Nabila menunjuk wajah tampan Rocky.
Mendengar curhatan sang ibu membuat Adeline tertawa hambar. Kisahnya tidak jauh beda, hanya yang membedakan kisah mereka adalah sikap Danendra yang tidak pernah menyakitinya. Seperti yang dilakukan Rocky pada Nabila.
"Elin juga sama, Ma. Saat menikah dulu, Elin sama sekali tidak mencintai papanya Devan," akunya tanpa malu.
"Kisah ini juga terjadi pada Rihanna, dia harus merasakan pernikahan tanpa cinta dengan pria asing." Nabila teringat dengan nasib putri bungsunya.
"Setidaknya suami Rihanna tidak segila suami Elin, Ma. Mama tahu, kenapa sampai kami bisa menikah?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Nendra dulu mengancamku, sampai papa, mama Monica, dan Zico pun menjadi korban dari keegoisannya." Adeline mengenang saat-saat di mana sang suami menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
"Dia memang sedikit gila, Elin," ujar Nabila yang akhirnya bisa tersenyum.
"Dia bukan sedikit gila, Mam. Dia itu benar-benar gila," tekan Adeline seraya menggeleng kecil.
Inilah tujuan Adeline membahas tentang awal pernikahannya dengan Danendra. Demi menghibur sang ibu yang kini sedang bersedih. Sedikit banyak, Adeline sudah dapat mengetahui isi hati sang ibu.
Candaan Adeline tampaknya berhasil. Mereka tertawa bersama saat membayangkan bagaimana sikap dan kegilaan yang dilakukan oleh Danendra pada saat itu.
"Mama mau bertemu dengan Om Rocky?" tanya Adeline setelah mereka berhenti tertawa.
"Mama belum siap, Elin. Mama tidak mau dia tahu jika mama menangisinya," jawab Nabila jujur.
"Baiklah. Tapi kapanpun mama ingin menemuinya, Elin siap untuk mengantar mama."
"Terima kasih, Sayang."
Keduanya berpelukan begitu erat. Adeline bahkan mengelus-elus punggung sang ibu untuk menenangkan perasaan wanita yang sudah melahirkannya.
Rengekan Rihanna akhirnya membuat Malik mengalah. Laki-laki itu sesekali melirik sang istri yang duduk dengan gelisah di kursi samping kemudi. Malik memberanikan diri untuk menggapai tangan istrinya yang terasa sangat dingin.
"Kayla, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tunjukan pada papamu bahwa setelah ini kamu tetap akan bahagia. Kasihan dia jika harus memikirkan perasaan kamu," ujarnya menginterupsi.
"Iya, Malik."
Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, perasaan Rihanna sudah tidak karuan. Wanita itu bingung harus senang atau bersedih. Di satu sisi dia senang karena sang ayah masih hidup, akan tetapi di sisi lain dia juga sedih karena sang ayah pasti akan mendapatkan hukuman yang berat.
Mobil berhenti saat sudah sampai di parkiran kantor polisi. Keduanya keluar dari mobil bersama-sama. Malik mengulurkan tangannya untuk menggandeng Rihanna. Namun, wanita hamil itu hanya memandang tangan sang suami yang mengambang di udara.
Tidak mendapat respon baik dari Rihanna akhirnya Malik kembali menurunkan tangannya. Malu, itulah yang saat ini dirasakan oleh Malik. Tetapi nasihat-nasihat dari sang ibu kembali mengalun di telinganya membuat laki-laki itu merasa lebih kuat.
"Perjuangan kamu masih sangat panjang, Malik." Laki-laki itu membatin menyemangati diri.
__ADS_1
Sebenarnya Rihanna juga ingin sekali menggenggam tangan Malik untuk menguatkannya, akan tetapi rasa canggung dan malu membuatnya urung menerima uluran tangan sang suami.
Pada akhirnya mereka berjalan berdampingan masuk ke kantor polisi. Sesekali Malik menoleh pada Rihanna. Tersenyum lembut agar wanita itu juga ikut tersenyum. Malik benar-benar merasa hancur ketika melihat wanita tercinta murung seperti saat ini.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu petugas jaga di kantor itu.
"Kami ingin menemui ayah kami, Tuan."
"Atas nama siapa?" tanya si petugas kepolisian.
"Rocky, tersangka yang semalam menyerahkan diri."
"Baiklah. Silahkan tunggu di ruang yang sudah tersedia. Kami akan memangilkannya untuk kalian," ujar sang petugas.
Malik dan Rihanna duduk di satu kursi panjang. Jari-jemari Rihanna saling bertaut sebagai pelampiasan rasa gugup. Wanita hamil itu tadi sangat ingin bertemu dengan sang ayah. Namun, saat ini justru ragu. Dia tidak yakin bahwa tidak akan ada air mata yang berjatuhan nanti.
"Malik, ayo kita pulang!" ajaknya seraya bangkit.
"Kenapa, kamu belum siap bertemu papa?" tanya Malik yang saat ini tiba-tiba begitu peka.
Rihanna mengangguk cepat. Memang itulah yang saat ini dirasakan olehnya. Saat bertemu dengan papanya nanti, hal apakah yang harus dia tanyakan. Apa saja yang perlu dia ungkapkan. Rihanna sama sekali tidak terpikirkan tadi.
"Tidak apa-apa, Kayla. Duduklah! Ada aku di sini," ujarnya dengan sangat lembut.
"Tapi … aku–."
"Duduk, Sayang." Malik menarik Rihanna hingga terduduk di pangkuannya.
Laki-laki itu sengaja melakukan hal tersebut karena melihat kedatangan seorang pria yang ingin mereka temui. Pria paruh baya itu berjalan gontai mendekati anak serta menantunya.
"Rihanna," panggil Rocky dengan nada sangat pelan.
"Papa!" pekik Rihanna yang langsung bangkit dari pangkuan sang suami.
Wanita hamil itu berlari mendekati sang ayah. Dia bahkan lupa dengan keadaannya yang tengah mengandung hingga berani berlari demi menghampiri pria paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa basa-basi Rihanna mendekap erat tubuh kekar sang ayah.
__ADS_1
Rocky tidak membalas pelukan sang putri. Pria paruh baya itu hanya menatap sang menantu dengan raut wajah sendu. Dia kecewa karena menantunya itu datang membawa sang putri yang saat ini sedang ingin dia hindari.
"Papa ke mana saja selama ini, Pa? Rihanna pikir papa sudah meninggalkan Rihanna sendirian."